Prie GS

menjual-diri-prie-gs

sumber foto: akun twitter Prie GS

Saya pertama kali mengenal namanya sekitar tahun 2003 atau 2004. Saat itu saya masih bekerja sebagai jurnalis di Iran Broadcasting, Teheran. Seorang karyawati asal Malaysia hobi sekali membaca tulisan-tulisan Prie GS (di media online) dan menyimpannya di folder khusus. Saya membacanya sekilas, tapi waktu itu saya masih belum punya ketertarikan pada tulisan-tulisan motivatif, pengembangan karakter, dan sejenisnya.

Di Facebook, sejak sekitar setahun terakhir, saya follow akun beliau, tapi juga masih belum terlalu tertarik. Sampai akhirnya, dua bulan yang lalu, terbuka kesempatan untuk mengikuti pelatihan Next Level Public Speaking Clinic bersama Prie GS dan Prasetya M. Brata. Waktu tepat ketika saya memang merasa perlu menimba ilmu di bidang ini. Salah satu syarat ikut pelatihan adalah membaca buku Prie GS, “Menjual Diri”.

Saya pun membeli dan membacanya, dan merasa wow banget. Di buku itu dijelaskan bahwa untuk  menjadi pembicara (speaker) diperlukan intelektualitas, kecerdasan emosional, dan spiritualitas. Sekilas terlihat klise. Tapi cara Prie menjelaskan 3 unsur itu, benar-benar lain dari yang lain, karena dia hadir sepenuhnya dalam buku itu, menceritakan hal-hal yang dialaminya selama ini, sehingga pembaca (saya) berkali-kali tersentak dan berpikir, “Benar juga ya?” Ini benar-benar a must read book, menurut saya.

Continue reading

[Video] Jangan Biarkan Anak-Anak Teradikalisasi

cover3aPada November 2014, wartawan BBC, Mark Lowen, menemui seorang remaja usia 13 tahun yang sedang dalam masa persiapan bergabung dengan ISIS di Turki selatan. Dia ingin dipanggil sebagai “Abu Hattab”. Ia bergabung dengan kelompok jihad Syam al-Islam. Dia dididik hal ihwal syariah dan belajar menggunakan senjata, dan dengan bangga menunjukkan gambar ia membidik dengan senapan mesin.

Sekarang ia menghabiskan hari-harinya dengan selalu terhubung secara online, menonton video jihad dan chatting di Facebook dengan para petarung ISIS. Dalam beberapa pekan, katanya, dia akan pergi ke kubu ISIS di Raqqa di Suriah untuk menjadi seorang prajurit jihad belia.

Menurut laporan Human Rights Watch para prajurit bocah itu digunakan sebagai pelaku bom bunuh diri dan penembak jitu. [1]

Jurnalis independen, Vanessa Beeley, pada September 2016 mengunjungi korban bom bunuh diri di kawasan Al Qaa, Suriah. Si korban bernama Jean Houri. Pada 27 Juni 2016, terjadi aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh 4 orang. Jean berlari untuk membantu seorang korban akibat ledakan si pengebom ke-3, yang membuat kaki kirinya terluka. Tapi kemudian, si pengebom yang ke-4 meledakkan dirinya, sehingga kaki kanan Jean pun hancur. Para pengebom bunuh diri itu masih remaja. Mereka terlihat dalam pengaruh obat bius, salah satunya bahkan sudah dihujani lebih dari 50 peluru [oleh aparat], tapi mampu terus berjalan dan mampu meledakkan dirinya. [2]

Continue reading

LDM

love2LDM, Long Distance Marriage, terpaksa kami jalani tiga minggu ini. Pasalnya, kan Rana magang di Bekasi, di sebuah perusahaan film dokumenter. Senin subuh, di Akang berangkat bersama Rana. Pulang, Jumat malam banget. Sabtu, biasanya saya ke kampus. Jadi, ada waktu buat ngobrol hanya Sabtu malam dan Minggu. Pekan pertama, fine. Kedua, ok. Sekarang, ketiga, mulai mewek. I don’t like it, at all. Meskipun lega, akhir pekan ini Rana selesai magang, tapi Sabtu-Minggu-nya si Akang mau keluar Jawa. Apa? Hiks. Sungguh saya sangat berempati pada ibu-ibu yang dengan penuh kesabaran mampu menjalani LDM, atau bahkan hidup sebagai single parent, semoga Allah selalu melimpahi kalian dengan segala bantuan dan keberkahan.

Dan hari Ahad kemarin (13/11), rasanya banyak sekali hal buruk yang terjadi, meski kemudian saya sadari, Allah telah melindungi kami.

Continue reading

Tumbal

wikileaksIni cerita horor. Begini, pembantu saya (kerja 3x sepekan) cerita soal bibinya yang baru meninggal sepekan yang lalu. Tak lama setelah meninggal, saudaranya (sepertinya sepupu) yang tinggal tak jauh, masih bertetangga, malah beli mobil baru. Selama ini, orang itu sudah punya mobil dan membangun rumah, padahal tidak bekerja sama sekali. Uang dari mana?

Sudah menjadi rahasia umum, kata pembantu saya ini, orang-orang bisa mendapatkan uang dengan memberikan tumbal kepada ‘sesuatu’. Kata pembantu saya, dia melihat sendiri beberapa orang di kampungnya (yang bertetangga dengan kompleks kami) mendapat uang berlimpah padahal tidak bekerja apa-apa. Dia bahkan menyebut orang-orang di kompleks kami yang dicurigai melakukan praktik serupa. Indikatornya: ada anggota keluarga atau orang yang terkait, meninggal  mendadak.

Continue reading

Sehari Kemarin (2)

gs1

sumber foto: grup WA

Sehari kemarin, saya ngebolang lagi sendirian di Jakarta. It’s a kind of me-time, meski kata si Akang saya tuh terlalu banyak me-time-nya, haha.

Tujuan utama sebenarnya nonton pagelaran teater Gatotkaca Stress di gedung Usmar Ismail. Acaranya jam 19.00, tapi saya berangkat dari rumah jam 10-an, dianter si Akang dan anak-anak ke tol, tempat naik bis Primajasa. Mereka mau lanjut cari sepatu dan makan siang.

Jam 11-an, bis meluncur ke suatu tujuan, lalu saya turun di suatu tempat, lalu naik ojek ke suatu tempat, untuk ketemuan dengan seseorang. Haish, rahasia-rahasiaan begini yak. Masalahnya ini sensi sih, terkait pilkada di Jakarta. Hahaha, saya mau bikin penelitian kecil-kecilan, buat diri sendiri, membuktikan bagaimana media mendistorsi informasi.  Kesimpulan yang saya dapat, eh bener, ada media sialan yang mendistorsi berita. Udah gitu aja ya ceritanya. Mungkin suatu saat ditulis lengkapnya, kalau perlu.

Jam 17.45-an saya cari ojek lagi, meluncur ke Usmar Ismail. Wah, jam segitu macetnya… Untung si abang ojek lincah banget. Saya nyampe jam 18.15. Cepet-cepet nukerin e-tiket dengan tiket beneran, dapat goodie bag n voucher jutaan rupiah (potongan harga kalau ikut  berbagai pelatihan dari para coach n trainer), buku Inspiring Moms (ini khusus untuk yang beli tiket kelas Yudistira dan Arjuna) dan sebotol kopi. Lalu, buru-buru ke mushola untuk sholat.

Continue reading

Berburu Buku Sampai Eneg

obral1

menunggu jam 9

Sejarahnya dimulai Senin lalu. Pagi-pagi, Kirana kami antar ke travel, untuk menuju tempat magangnya, di sebuah perusahaan film dokumenter. Lalu, kami menuju Jl Caringin 74, untuk mendatangi obral buku di gudang Gramedia. Reza sudah seneng banget, bakal beli buku. Dia memang suka bilang “buku itu sahabatku, Ma…” dan toko buku memang tempat favoritnya.

Jalanan Bandung pagi itu masih lengang, jadi dalam waktu singkat kami sudah sampai di Caringin. Baru jam 7, tapi kami sudah bawa laptop, siap menghabiskan waktu sampai jam 9 (saat obral dibuka) dengan mengetik. Sementara Reza juga sudah siap dengan buku bacaan dan dvd-nya. Saat akan parkir, seseorang memberi info, “Bu, baru dibuka jam 11! Pagi ini ada gubernur mau datang!”

What?? Saya benar-benar kesal. Ini hari terakhir obral. Ngapain pula gubernur datang dan melarang rakyat biasa masuk sampai jam 11?? Menunggu sampai jam 11 terlalu lama. Lagipula, nomer antrian masuk tidak boleh diambil sekarang, harus tunggu jam 11. Kacau deh. Terpaksa kami putuskan pulang. Reza langsung menangis. Saya yang super bad mood, tidak bisa apa-apa. Akhirnya si Akang yang membujuk Reza, menjanjikan akan ke toko Gramedia esok hari. “Ga apa-apa, papa ada uang kok, Reza boleh beli buku meski harganya tidak obral,” bujuk si Akang.

Continue reading

Review “A Monster Calls”: Manusia yang Kompleks

monster-callsKemarin saya nonton “A Monster Call”, berdua saja dengan anak saya, Reza. Film ini untuk remaja, Reza baru 10 tahun. Tapi saya pikir, kemampuan berpikir Reza sudah melampaui umurnya dan dia memang suka ‘berpikir’ (merenung). Beruntungnya, film ini seolah memang dibuat untuk para perenung, yang mau berlama-lama memikirkan bahwa dunia ini tidak hitam putih, bahkan dalam satu objek pun ada kontradiksi, ada ke-kompleks-an.

Di dalamnya, ada seorang monster yang menceritakan 3 kisah kepada seorang anak bernama Conor. Kisahnya out of the box semua. Saya ceritakan yang pertama dan kedua saja (sisanya nonton sendiri). Kisah pertama, seorang raja menikah dengan seorang penyihir. Tak lama kemudian, si raja meninggal. Semua mengira si penyihirlah yang meracuni raja, termasuk si pangeran. Si penyihir pun menjadi Ratu, penguasa kerajaan. Anak si raja, yang sudah remaja, di saat yang sama jatuh cinta kepada seorang anak petani. Si Ratu, karena ingin terus berkuasa, meminta sang pangeran menikahinya. Sang pangeran menolak, lalu kabur bersama kekasihnya. Keesokan harinya, sang kekasih meninggal. Sang pangeran pun menggalang massa untuk memberontak kepada Ratu. Rakyat yang marah pada Ratu yang membunuh anak petani, menjadi pasukan yang sangat tangguh. Pemberontakan berhasil, sang pangeran pun menjadi Raja, hidup panjang umur, dan dicintai rakyatnya.

Continue reading