Jepang 1996

Tulisan di FB 20 Oktober 2013

Bangun dini hari untuk menyiapkan sebuah tulisan ringan tentang pengalaman toleransi beragama. Eh, malah keasyikan membaca kembali catatan perjalanan saya ke Jepang dulu tahun 1996. Waktu itu belum musim nulis blog (warnet aja jarang banget), jadilah saya nulis di diary. Ternyata waktu itu untuk pertama kali dalam hidup saya, ketemu dengan orang-orang yang dengan cueknya menyatakan diri atheis. Pertama kalinya pula bertemu dengan orang Yahudi-Israel, yang jualan souvenir di sebuah stasiun bis. Pertama kalinya menerima kuliah dari seorang Father/Romo (padahal saya ambil mata kuliah ekonomi). Pertama kalinya masuk ke kampus yang gerbangnya ada tanda Salib besar dan setiap pagi disambut seorang pendeta (sang pendeta selalu berdiri dekat pintu setiap pagi, memberi salam kepada setiap mahasiswa yang datang). Pertama kalinya ketemu orang beragama Shinto. Lalu ada kejadian, angin bertiup kencang, seorang teman prp saya yang atheis secara refleks merangkul pundak saya, menjaga agar jilbab saya nggak terbang.

Dan yang bikin saya senyum-senyum adalah bagian curhat, ketika saya sakit hati sama seorang mahasiswa yang kebetulan muslim. Saya menulis, “Heran, kok yang baik ke aku malah XXX dan YYY, padahal mereka ini Nasrani.”

Well, that was me. Sebelumnya, hidup saya memang cenderung homogen, teman saya muslim semua. Ketika mahasiswa, saya dengan patuhnya ikut pengajian yang mendoktrin saya bahwa non-Muslim adalah musuh besar kaum Muslim. Ayat “tidak akan ridho Yahudi dan Nasrani sebelum kamu mengikuti agama mereka” adalah yang paling sering diulang. Tak heran waktu itu saya jadi takjub mendapati ada Nasrani atau atheis yang baik. Kalau sekarang keheranan saya malah sebaliknya. Saat saya dibully habis-habisan di dunia maya oleh sesama muslim, saya mendapati kenyataan bahwa sesama muslim itu bisa juga jadi musuh yang kejam; ikhwan-akhwat yang tadinya terlihat alim dan baik hati, dengan entengnya di depan umum (atau di inbox, berdasarkan laporan banyak teman lainnya) mengata-ngatai saya, bahkan ada ustadz yang di blognya menyerukan serangan fisik ke saya. Wow.

Lalu ada kejadian ekstrim, saat saya kesulitan menemukan tempat untuk sholat. Teman Jepang saya menyarankan untuk sholat di kapel (ruang ibadah umat Nasrani) di basement kampus. Dia berlogika, “Tuhan yang kamu sembah sama aja kan? Jadi, apa salahnya kamu sholat di sini?” Teman Jepang saya ini atheis. Dan karena kepepet, kuatir waktu dzuhur habis, saya memang nekad sholat di dalam kapel itu, dengan membelakangi patung Yesus (soalnya ga tau arah kiblat kemana). Sholat yang sama sekali ga khusyuk, karena kuatir salah/dosa.

Pengalaman singkat itu membuka wawasan saya, bahwa dunia ini memang warna-warni, dan usaha untuk membuatnya satu warna memang terasa jadi sangat absurd.

[Sharing] Kiat Sukses Akademik

Ini tulisan di FB saya 26 September 2013. Mungkin ada manfaatnya bila diupload ulang.

Dua hari yll saya diminta ngisi talkshow di radio, menggantikan seorang narasumber tetap yang tentu saja lebih keren 🙂 Tema yang diberikan ke saya, ‘Kiat Sukses Akademik’.

Yang saya jelaskan, sukses dalam berbagai pekerjaan (termasuk juga akademik) akan dicapai oleh pribadi yang independen. Nah, supaya jadi independen, seseorang perlu memiliki 3 kebiasaan, yaitu proaktif, mulai dari ‘tujuan’, dan meletakkan prioritas dengan benar.

Proaktif adalah lawan dari reaktif. Manusia yg reaktif adalah manusia yang responnya bisa diduga. Kalau dihina akan marah atau minder; kalau dosen ngajarnya ga bisa dipahami, akan dijadikannya justifikasi atas ketidakmampuannya memahami pelajaran; kalau miskin akan menyerah dan putus sekolah. Sebaliknya, manusia proaktif responnya tidak diduga karena dia mampu mencari respon2 kreatif. Saat dihina, dia akan mikir dulu, introspeksi, lalu cari respon yg menguntungkan dirinya (misal: belajar lebih keras supaya yg menghinanya gigit jari, atau kalau perlu tuntut si penghina ke pengadilan supaya dapat uang ganti rugi, hehe). Saat dosen ga bisa dipahami, cari teman diskusi, cari buku, pelajari sendiri, dll. Saat ga ada uang buat bayar sekolah, cari beasiswa, kerja parttime dll. Artinya, bagi orang proaktif, kesuksesannya bergantung pada dirinya sendiri dan itulah pribadi yang independen.

Kedua, mulai dari ‘tujuan’, artinya saat melakukan sesuatu hal (misalnya belajar), dia sudah membayangkan, apa hasil akhir yang ingin dicapainya. Visualisasikan apa yg dicita-citakan itu (bayangkan dalam benak), dan petakan apa saja yang musti dilakukan untuk mencapai cita-cita itu. Artinya, dia independen karena tujuan hidupnya ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain. (Note: that’s why prinsip ‘aku jalani hidupku mengalir saja, kayak air’ sepertinya kurang tepat.. syukur2 kalau mengalirnya ke lautan yang bersih ya.. kalau ngalirnya ke lautan beracun limbah kimia gimana dong?)

Ketiga, taruh prioritas. Prioritas adalah segala sesuatu yang PENTING dan terkait dengan tujuan/cita-cita. Sesuatu yang PENTING tidak sama dengan sesuatu yang mendesak. Misalnya, besok ujian, dan musti belajar. Di saat yang sama, musti kongkow2 ke mall (dan ke mall-nya musti SEKARANG krn hari ini hari ultahnya si temen). Nah, musti bisa milih tuh: melakukan yang penting atau mengalah pada rasa ‘tidak enak’ pada teman?

Orang yang sukses adalah yang melakukan sesuatu yang penting di waktu yang tepat. Dia tidak terjajah oleh apa ‘kata teman’, dan tidak terjajah oleh mendesaknya waktu. Contoh terjajah oleh waktu: melakukan pekerjaan di saat deadline. Seolah2 kalau DL, ide2 jadi mengalir deras; padahal ini adalah masalah kebiasaan; dan kalau dilakukan tidak dalam waktu DL sebenarnya hasilnya akan jauh lebih maksimal.

Utk bidang akademik, belajar di saat DL (sistem kebut semalam/SKS ) jelas hasilnya jauh beda dengan belajar yg tenang dan dilakukan tanpa ketergesaan. Karena otak kita akan menyimpan pengetahuan di long term memory jika kita menerima pengetahuan itu dengan rasa senang/bahagia. Coba saja buktikan: belajar dg hasil SKS mungkin bisa membuat kita dapat nilai ujian bagus, tapi dalam sekejap kita lupa yang dihapalkan itu.

(Ilmu ini saya dapat dari bukunya Stephen Covey, The 7 Habits of Highly Effective People

[Parenting] Ibu yang Multitasking

Guru parenting saya pernah bilang bahwa perempuan memang punya struktur otak yang khas sehingga mampu ber-multitasking. Misalnya, dia mampu menulis analisis konflik Timteng, lalu update blog, sambil bikin paper tugas kuliah, dan pada saat yang sama bisa mendongeng cerita buat anaknya, nyuci baju, sambil mikirin menu makan malam yang harus segera dimasaknya *lho ini sih gw banget yak*. Tapi, kemudian ada artikel saya baca, bahwa multitasking itu buruk dan sama sekali tidak efisien. Saya sempat bingung: apa saya musti full ngurus anak aja ya.. apa lebih baik pensiun jadi blogger/penulis aja ya…? Akhirnya kemarin saya baca lagi artikel lain, yang sangat bagus, yang menjelaskan seperti apa itu multitasking yang buruk, dan bagaimana cara ‘menyembuhkan’-nya.

Ternyata yang buruk itu adalah melakukan semua hal di WAKTU YANG SAMA. Misal, update blog sambil buka fb dan email, dan sambil nyuapin anak. Bahkan perilaku seperti ini bisa merusak struktur otak kita. Menurut peneliti dari Stanford, “multitasking splits the brain. It creates something researchers have called “spotlights”. So all your brain is doing is to frantically switch between the activity of eating, to writing an email, to answering chat conversations.”

Nah, kesimpulan saya sendiri: kalau fokus nulis paper selama anak tidur (atau sedang asyik main bersama temannya), lalu fokus baca buku cerita bersama anak, lalu fokus di dapur (lebih baik lagi bila melibatkan anak di dapur, daripada membiarkannya sendiri main game/nonton), sehingga semua bisa diselesaikan dengan baik, nah itu sih bukan multitasking yang buruk, tapi mengefektifkan waktu dan potensi diri. Dan yang terpenting buat ibu tentu saja anaknya. Analisis dan update blog bisa menunggu (atau bahkan diabaikan), paper bisa ditunda (apalagi kalau dosennya baik hati), tapi, waktu yang dilalui anak tanpa perhatian penuh dari ibunya, tidak bisa terulang lagi. *reminder for myself*

Ini artikel yg saya maksudkan: http://blog.bufferapp.com/what-multitasking-does-to-our-brains

Panen Eco Enzyme

Saya lalu curhat ke teman yang banyak banyak belajar soal terapi alternatif. Beliau langsung jawab, “Itu kemungkinan karena radiasi, mbak Dina kan sering pakai laptop. Pakai eco-enzyme saja.” Saat itu saya baru dengar yang namanya eco-enzyme (EE). Saya pun belajar cara membuatnya dan langsung membuat. Intinya sih: air 3 L + gula merah 300 gr + kulit buah-buahan 900 gr. Pilih kulit buah yang aromanya segar (nenas, jeruk). Lalu, campuran ini dibiarkan selama 3 bulan.

Kisahnya bermula 3 bulan yang lalu, saya cek ke lab, ingin tahu mengapa sering pusing. Pusingnya tuh agak aneh, paling terasa di sekitar mata dan saya jadi sensitif cahaya. Selama dua hari yang saya lakukan cuma tiduran (memejamkan mata), lalu akhirnya sembuh sendiri. Hasil lab (kolesterol, asam urat, gula darah, tekanan darah, dll), semuanya normal saja.

Tapi, karena pusingnya “sekarang”, masa nunggu EE-nya jadi 3 bulan lagi? Jadi, saya beli EE di toko online, lalu saya taruh di dekat laptop. Alhamdulillah, memang sejak itu saya tidak pernah “tumbang” lagi. Kejadian saya harus tiduran karena pusing parah selama 2 hari, ga bisa ngetik di laptop, tidak terjadi lagi.

Kebetulan, karena bertepatan dengan pandemi, saya juga di masa-masa tersebut rajin jalan pagi, kena cahaya matahari. Jadi wallahu a’lam ya, penyebab utama kesembuhan saya tuh yang mana.

Saya google di beberapa artikel ilmiah, memang ada yang menyebutkan bahwa radiasi elektromagnetik dari laptop memunculkan keluhan kesehatan. Tapi apakah EE bisa bikin radiasi itu berkurang, belum ketemu artikelnya. Cuma, saya dapatkan video di Youtube dan facebook, ada orang-orang yang membeli alat ukur radiasi elektromagnetik dan saat botol EE didekatkan ke alat elektronik, angkanya memang berkurang jauh. Jadi, ya percaya atau tidak, terserah saja.

Alhamdulillah EE yang saya buat 3 bulan yll baru dipanen. Ini penampakannya setelah disaring. Kulit buah-nya sudah ditaruh di pot-pot bunga (sebagai pupuk). Cairan EE ini wangi, sama sekali tidak bau sampah atau pupuk. Bahannya kan memang bersih, kulit buah yang kami konsumsi sehari-hari. Itu pun yang dipilih buah-buah yang wanginya segar (jeruk, nenas).

Manfaatnya, sangat banyak. Bisa dicampurkan dengan sabun cuci piring, atau sabun cuci baju, atau cairan pembersih lantai (dengan takaran tertentu ya, bisa digoogle saja). Bahkan bisa dijadikan sampo dan sabun mandi. Artinya, kita mengurangi penggunaan deterjen yang sebenarnya merusak lingkungan. Secara keuangan juga semakin mengurangi bujet pembelian sabun.

Manfaat lainnya, kalau disemprotkan ke udara, selain jadi desinfektan, juga menghalau nyamuk, jadi tidak perlu pakai obat nyamuk kimia buatan pabrik. Bisa juga disemprotkan ke tanaman, supaya tumbuh subur.

Di Indonesia ini ternyata ada komunitas-komunitas EE. Ada yang membuat EE dalam skala besar, lalu dituangkan ke sungai/got, sehingga lambat laun terjadi proses penjernihan air sungai/got. Di masa pandemi ini, komunitas EE di Bandung membuat larutan desinfektan EE lalu menyemprotkannya ke pasar dan perumahan. Di Padang, ada komunitas yang digagas dosen-dosen Unand, yaitu Koperasi Mandiri dan Merdeka (KMDM), yang juga mengenalkan pembuatan EE kepada masyarakat.

Intinya sebenarnya, gerakan membuat EE ini adalah gerakan menjaga bumi. Tapi manfaatnya juga bisa dirasakan langsung secara finansial (penghematan biaya beli sabun, misalnya).

—–

*video menarik seorang tokoh pelopor EE asal Malaysia, Dr. Joean Oon (berbahasa Inggris): https://youtu.be/E9E_GQypMUA

**manfaat dan cara membuat EE: https://sustaination.id/manfaat-dan-cara-membuat-eco-enzyme-di-rumah/

***video orang yang mengukur tingkat radiasi: https://www.youtube.com/watch?v=MxrETF2yuIQ

ini wordpress mengubah cara uploadnya, bikin pusing.. saya tidak menemukan cara untuk upload foto 😦

[Parenting] Bersikap Adil Pada Anak

lemantun
Sebenarnya awal mulanya ini film bu Tejo yang “dahsyat” itu. Tapi tulisan ini bukan tentang film itu. Saya tidak berani nulis soal film ini karena para seleb+pemikir di fesbuk sudah banyak yang unjuk pemikiran, pro kontra. Saya menikmati sajalah adu argumen mereka. Yang pasti, saya nonton 3x dan selalu terkikik-kikik sendiri sambil merasa bersyukur karena paham bahasa Jawa, jadi bisa lebih dapet “feel” dari dialog-dialog di film itu.
 
Kirana juga nonton, lalu kami sempat diskusi panjang lebar sama Kirana (mendiskusikan isi tulisan para pengamat). Komen Kirana: justru itulah hebatnya film ini, bisa “menempel” kuat di benak publik dan memicu diskusi publik yang cukup luas.
 
Lalu suatu hari, Kirana bilang gini, “Mama, Papa, you guys should watch Lemantun! Kalian berdua kan punya ortu yang sudah tua-tua. Aku aja sampai nangis nontonnya!”
 
Jadi, singkatnya: “gara-gara” nonton Bu Tejo, Kirana jadi nonton film-film pendek lainnya, lalu ketemu film berjudul Lemantun (=lemari, bhs Jawa). Saya pun nonton, dan terharu banget. Lebih terharu lagi, saat baca komen-komennya, banyak yang curhat: merasa senasib dengan tokoh Tri, paling repot mengurusi ortu, tapi malah dianggap “tidak ada” oleh saudara-saudaranya.

Continue reading

Sketsa Gaza (Novel)

Sketsa Gaza

 

Alhamdulillah, setelah melewati proses yang cukup panjang, lebih dari setahun, novel ini terbit juga. Ini karya pertama Kirana setelah melewati masa SD-nya. Dulu waktu masih SD, Kirana sudah menerbitkan 7 buku KKPK (ada yang sendiri, ada yang antologi). Lalu, ada 2 naskah yang terbengkalai (sudah tanda tangan kontrak, tapi belum juga diterbitkan, sampai sekarang; alasan penerbitnya: masalah pasar). Memang beberapa tahun terakhir penjualan buku konon semakin menurun. Apalagi sekarang, ada pandemi. Sungguh bersyukur, Diva Press tetap bersedia menerbitkan di masa sulit seperti ini.

Dengan niat membantu penerbit, saya mendorong Kirana untuk berjualan bukunya sendiri. Dia pun membuat konten-konten iklan di IG-nya, lalu mencoba mengontak temannya untuk menjadi reseller, melayani langsung para pembeli (via IG atau WA), mengepak, lalu membawanya ke kurir. Ini pengalaman baru buat Rana, dia tidak terlalu menyukainya, tapi ya tetap dijalani. Untuk menyemangati, Papa bercerita kepada Kirana soal Dee Lestari, yang dulu juga melakukan hal yang sama; dan pasti lebih berat karena semua dilakukan sendiri (mulai dari layout, desain cover, pengepakan, promosi, dll; karena Dee menerbitkan secara indie).

Continue reading

Keberlimpahan dalam Keprihatinan

Bulan Juli dan Agustus ini ada dua peristiwa penting dalam kehidupan kami sekeluarga. Pertama, ulang tahun saya (bulan Juli) dan kedua, ulang tahun perkawinan ke-21 (bulan Agustus).

Kami memilih merayakannya dengan cara yang seolah “ala orang kaya”, yaitu jalan-jalan ke Lembang, lalu makan di restoran Turki, lalu menginap di hotel bintang 4. 🙂 Padahal… ini sebenarnya paket hemat. Jalan-jalan ke Lembang, saya sengaja mencari area yang benar-benar masih alam (bukan artifisial ala Farm House atau Floating Market). Jadi ke gunung, ya cari pepohonan pinus, jalan-jalan di keheningan. Setelah tanya ke Google dengan kata kunci “jayagiri” (nama hutan), ketemulah Jayagiri Pal 16 Wilhelmina. Biaya masuknya cuma 15 ribu per orang plus parkir 5 ribu.

Continue reading

Belajar dari Monk

meditasi

Monk, atau pendeta Budha, sepertinya akhir-akhir ini populer sekali. Entah, mungkin saya saja yang telat. Saya baru aktif “main” IG sejak pandemi, dan dengan segera terhubung dengan banyak akun motivator. Lalu, bertemulah dengan akun dan video beberapa Monk.

Tentu saja, umumnya yang mereka bicarakan adalah hal-hal yang bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang apapun agamanya. Ada satu monk bernama Dandapani yang mengajarkan cara untuk fokus/konsentrasi. Menurutnya: kita sangat mudah untuk tidak fokus karena sepanjang hari, kita melatih diri untuk tidak fokus sehingga kita ahli dalam ketidakfokusan.

Di antara “latihan ketidakfokusan” itu adalah mengerjakan banyak hal sekaligus. Ngobrol sambil pegang HP, nulis artikel sambil buka beberapa windows sekaligus, termasuk WA yang selalu pop-up setiap kali ada message baru, sambil mikirin mau masak apa hari ini, sambil buka Tokopedia dan melirik barang-barang yang menggoda hati.

Jadi, supaya bisa fokus, ya latihan fokus. Mulailah dengan fokus saat bicara dengan pasangan atau anak, jangan sambil buka WA.

Lalu, saya juga mengikuti video dan IG dari Monk Gelong Thubten. Hari ini di IG-nya dia menulis ini:

“Ketika kita merasa kewalahan dengan situasi, apa pun itu, satu cara untuk mengatasinya adalah “dengan berada pada saat ini” (being in the moment); karena “pada saat ini” semuanya secara umum bisa kita kendalikan, kita kelola.

Masalah muncul seringkali karena kita khawatir tentang masa depan, lalu kita menjadi kecil hati dan khawatir. Kita cenderung berpikir terlalu banyak, di luar memikirkan kehidupan “saat ini”. Semakin kita “hidup di saat ini”, semakin mudah kita mengelolanya. Menjalani hidup kita momen demi momen, memungkinkan kita melakukan upaya terbaik kita, dan menghargai betapa beruntungnya kita. “

~ Lama Zangmo

Monk Gelong mengajarkan bahwa cara “hidup di saat ini” (being in the moment” adalah dengan meditasi. Meditasi, kata Gelong, bukan mengosongkan pikiran (karena itu akan sulit dilakukan, dan orang jadi frustasi karena merasa gagal). Meditasi dilakukan dengan berkonsentrasi pada nafas kita, tapi biasanya, pikiran melayang kemana-mana. Nah, pada saat kita sadar pikiran sudah melayang (tidak lagi fokus pada nafas), ya tarik kembali pikiran/kesadaran itu, fokus lagi. Terima saja bahwa tadi kita ga fokus (jangan malah menyesali diri sendiri). Kata Monk Gelong: meditasi ini seperti persahabatan, persahabatan dengan pikiran. Kita menerima semua kekurangan dan kelemahan diri; dan itu membuat pikiran dan hati kita damai. Lalu, niatkan diri ini untuk menebar kebaikan/kasih sayang (compassion).  (sumber: video Monk Gelong: mulai menit ke-15)

Sebagai Muslim, saya secara refleks “menerjemahkan” kata-kata Monk ini dengan momen kekhusyukan sholat. Agar khusyuk, di antara yang bisa kita lakukan adalah fokus pada bacaan kita, setiap ayat/bacaan sholat kita pahami dan resapi artinya dan kita ucapkan dengan penuh ketundukan dan kesadaran bahwa kita sedang menghadap-Nya.

Nah, kan kasusnya, saking kita hapal ayat/bacaan sholat, kita sering mengucapkannya begitu saja dan pikiran melayang ke mana-mana,. Kalau itu terjadi, segera tarik lagi pikiran kita, fokus lagi. Perlakukan diri ini dengan kasih sayang, jangan dimarahi. Compassion pada diri sendiri dulu. Mensyukuri pada semua yang sudah diberi Allah untuk kita. Ketika muncul rasa syukur yang tulus itu, sholat otomatis jadi terasa ‘beda’ kan?

Nah, ada lagi motivator di IG (lupa namanya, founder MindValley.com) yang bilang bahwa meditasi adalah upaya menemukan intuisi, tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup. Mungkin, bisa saya terjemahkan sebagai “meminta petunjuk dari Allah, harus mengambil langkah yang mana?”

Saat sholat, ketika kita bisa khusyuk, tentu kita semakin “dekat” dengan-Nya dan dialog-dialog kita dengan-Nya menjadi semakin intens. Kita minta dikasih jalan, dibukakan jalan yang terbaik, dst.

Lalu, ada lagi motivator di IG, namanya Rima Olivia, yang mengajarkan bahwa baca sholawat itu sebenarnya sejalan dengan meditasi (beliau menyebutnya mindfulness). Logikanya begini, saat kita melakukan berbagai hal (misal, memasak, menggendong anak, olahraga) sambil membaca sholawat, kita “hadir” sepernuhnya dalam momen itu: menyadari bahwa memasak dan mengiringinya dengan sholawat.

Menurut Rima, aktivitas membaca sholawat ini memunculkan banyak keajaiban. Dalam bukunya (Shalawat untuk Jiwa), antara lain Rima menulis,

“Di sisi lain, kebermaknaan hidup, merasa lebih bahagia, dan jawaban tentang hal mendasar hidupnya, seperti terjawab dengan sendirinya.”

Menurut Monk Gelong, tujuan dari meditasi adalah memunculkan kebahagiaan (bukan mencari kebahagiaan di luar sana, tetapi menggali kebahagiaan dari dalam diri).

Lho jadi nyambung dengan sholawat ya?

Yah itulah sekedar pemaknaan dari berbagai hikmah yang tersebar di media sosial. Semoga bermanfaat untuk diri saya sendiri (=mengikat ilmu) dan pembaca 🙂

Menata Kembali Hidup

bunga

Sudah lama sekali saya tidak mengisi blog ini. Saya lebih sering menulis catatan di Facebook (meskipun juga tidak sering-sering amat). Padahal, di FB itu rentan sekali karena FB suka semena-mena men-suspend akun seseorang. Seharusnya saya lebih sering menulis di blog ini, seperti dulu, dan saya berencana demikian. Mudah-mudahan bisa konsisten.

Beberapa hari yang lalu, ada dialog begini:

Rana: “Ma, aku sudah memutuskan untuk menata kembali kehidupanku.”

Saya: [kaget, memikirkan sesuatu yang heboh] …”Gimana tuh?”

Rana: “Aku mau bangun pagi.”

Gubrak. Kirain apa. Ternyata bangun pagi “doang”. Tapi dipikir-pikir, bangun pagi ini memang menjadi problem selama “lockdown”. Bangun untuk Subuh berjamaah, ngaji bareng sambil terkantuk-kantuk, lalu anak-anak pada tidur lagi deh. Lalu mereka bangun siang, males-malesan. Walhasil belajar juga ga serius, banyak rencana-rencana yang tidak terealisasi. Berarti Rana sudah merasa bahwa hidupnya jadi ‘kacau’, makanya mau “menata kembali”.

Saya berempati padanya. Semakin lama, situasi ini memang terasa semakin tak nyaman. Rasa rindu ketemu teman-teman. Sedih atas bubarnya berbagai rencana kegiatan kampus. Memikirkan bahwa “harus di rumah aja” sampai tahun depan. Oh no…

Saya juga sebenarnya sudah mulai spaneng. Terutama, saya rindu sekali pada ortu dan adik-adik saya di Padang. Pingin sekali terbang ke sana. Tapi mikirin biaya dan keribetan tes ini-itu, terpaksa ditahan saja rindu ini. Saya segera istighfar, bersyukur, segini juga alhamdulillah… banyak sekali orang yang jauh lebih berat bebannya. Tapi ya berdoa juga, semoga ada keajaiban terjadi, yaitu… *kalo diterusin kuatir ada yang protes.

Nah balik ke bangun bagi, saya cari-cari di google, manfaat bangun pagi. Ketemu, share di grup keluarga.

Saya share di sini ya, barangkali aja ada yang ‘relate’ dan termotivasi.

Manfaat bangun pagi:
-Membawa perasaan tenang dan damai.
-Otak berfungsi lebih baik.
-Nilai akademis lebih besar.
(kabarnya ada penelitian yang dilakukan, mahasiswa yang bangun pagi meraih nilai yang lebih baik daripada mereka yang terlambat bangun).
-Punya lebih banyak energi.
-Bangun lebih awal membuat Anda terlihat lebih cantik dan menarik. Asal, malamnya juga ga telat tidur (jadi, cukup tidur).

Selama “dirumahkan” ini, saya punya kebiasaan baru, jalan pagi dan pakai smart watch yang bisa menghitung langkah. Target saya, sehari bisa 5000 langkah (artinya, perlu banyak jalan, ga harus keluar, pokoknya jangan kebanyakan duduk di depan laptop, biar sehat). 5000 langkah itu juga sebenarnya kurang (dan segitu pun jarang tercapai, ihiks).

Saya ikut grup WA yang di dalamnya para member setor jumlah langkah harian, mereka bisa sampai 40-50 ribu langkah per hari. Saya pikir, apa rumahnya gede banget yak, jadi ngider rumah aja bisa ribuan langkah? Lha kalau di rumah mungil kami, muter-muter sampai bosen juga paling-paling dapat ratusan langkah.

Tapi yang jelas ini kemajuan baru buat saya. Dan saya baru nyadar, ini kan juga “menata kembali hidup” ya, biar lebih sehat. Aamiin.

Cara “olahraga” seperti ini disebut Non-exercise Activity Thermogenesis (NEAT). NEAT ini intinya yang menyatakan bahwa cara untuk membakar kalori (=menyehatkan tubuh) meliputi semua kegiatan fisik sehari-hari. 

Banyak orang berpikir, kalau ngepel, nyapu, dll, itu bukan olahraga. Yang dianggap olahraga itu: pergi lari di luar rumah; yoga, senam, dll. Nah, kalau konsep NEAT justru  mendorong kita untuk terus bergerak sepanjang hari, dan pembakaran kalorinya jauh lebih besar dibanding olahraga dengan “sengaja”. Olahraga yang “sengaja” juga sering dihambat oleh malas (karena harus menyegaja pergi ke luar, ganti baju khusus, dll).

Jadi, ibu-ibu bisa meniatkan bekerja di rumah, apapun itu, sebagai olahraga yang menyehatkan tubuh. Sebaiknya pasang target, misalnya, sehari minimal 5.000 langkah. Kita hilir-mudik nyapu, ngepel, mengelilingi dapur (sedang masak, kan mondar-mandir tuh, dari kompor ke arah bak cuci piring, lalu ke arah kulkas), dll.

Cara ngitung langkahnya gimana? Bisa beli smart watch yang dipakai sepanjang hari. Atau, download aplikasi Google fit di hp. Tapi kalau pakai Google fit, hp harus dikantongin terus. Atau pakai tas khusus hp untuk olahraga yang diikatkan ke pinggang.

Nah.. saat jalan ini, kita bisa “nyambi” kerja atau menuntut ilmu. Misalnya, sambil mendengar audio book. Caranya, bisa audio di hp dikeraskan; atau, bisa dengan memakai earphone. Atau, pakai earphone wireless juga bisa, biar ga ribet ada kabel (ada yang harganya 50 rb).

 

Atau.. bisa juga sambil ngetik di atas treadmill, treadmill-nya dikasih meja. Kayak gini nih:

treadmill

ide-nya dari sini:

meja treadmill

 

Treadmill ini ada ceritanya juga. Sekitar 3 tahun yang lalu, saya beli bekas, dengan honor hasil ngisi seminar. Awalnya ya semangat, lama-lama males dan terbengkalai begitu saja. Penyebabnya, bosen: kebayang kan, jalan, diem, gak ngapa-ngapain.

Lalu, muncul ide untuk membuat meja, pakai sisa kayu dan besi yang ada saja, minta tolong ke seorang tukang, tetangga. Nah, sekarang saya bisa ngetik di laptop, sambil jalan di treadmill.

Demikian cerita hari ini, semoga bermanfaat 🙂

Neurosemantic Haji

Ini catatan (plus renungan tambahan) dari obrolan kami di meja makan kemarin sore.

Kemarin itu saya menyimak ceramah Buya Hamka (alm) di Youtube. Ada kalimat beliau yang kurang lebih isinya: banyak orang khawatir ini-itu sebelum berhaji, tapi setelah selesai berhaji, mereka rasakan ternyata ibadah haji itu mudah kok.

Si Akang bertanya, “Mengapa ada orang yang merasa khawatir pada sulitnya ibadah haji? Mama juga khawatir kan?”

Saya jawab, “Ya karena banyak cerita mengenai beratnya ibadah haji, berdesak-desakan, apalagi toiletnya harus ngantri, dapat teman sekamar yang tidak cocok, perjalanan yang cukup jauh dari hotel ke Masjidil Haram, dan lain-lain.”

“Jadi, ini masalah persepsi kan? Cerita ini-itu dari orang yang pulang berhaji dipersepsi oleh orang yang belum berhaji. Persepsi-lah yang mempengaruhi perasaan, ucapan, dan tindakan kita. Selanjutnya, tindakan kitalah yang akan memberikan hasil, bisa buruk, bisa baik. Coba, apa yang Mama tangkap dari kisah-kisah haji orang lain?”

“Berat, berdesak-desakan, tidak nyaman, orang-orang banyak yang perilakunya seenaknya… btw, aku sudah merasakan sendiri kok, waktu umroh, itu orang-orang saat tawaf seenaknya aja nubruk dari belakang, tangannya nyikut orang di samping.. benar-benar tidak beradab. Umroh saja yang cuma sedikit orangnya, sudah sedemikian berdesakan, apalagi haji, pasti lebih berat lagi situasinya.”

“Ketika Mama meng-“iya”-kan persepsi itu (bahwa haji itu ibadah yang berat dan orang-orang di sana banyak yang tak beradab), itu akan jadi keyakinan dan menjadi ‘frame of mind’ atau kerangka berpikir Mama. Frame of mind yang akan melandasi segala tindakan kita. Kalau sudah mikir ‘berat’, ‘terlalu banyak orang’, ‘berdesakan’, ya itulah yang akan Mama hadapi nanti. Coba ganti persepsinya.”

“Gimana caranya?”

“Betapa banyak orang ingin berhaji, tapi selalu tertunda. Bahkan banyak yang meninggal tanpa sempat menunaikan cita-cita berhaji. Banyak yang terpaksa berhaji di usia tua dan penuh kepayahan, tapi alhamdulillah kita diberi kesempatan untuk melakukannya di usia yang relatif muda [insyaAllah]… Pikirkan, betapa membahagiakannya situasi ini. Pikirkan, betapa beruntungnya, pada saat harus melunasi biaya haji, alhamdulillah ada uangnya. Ada banyak orang yang tak cukup uang ketika jadwalnya tiba, sehingga terpaksa diundur ke tahun berikutnya. Pikirkan, betapa beruntungnya kita, mendapat jadwal berangkat di saat yang benar-benar tepat, kekita urusan kampus selesai, paper-paper untuk konferensi selesai di-submit, ketika urusan sekolah&kuliah anak kita sudah jelas. Kalau saja kita dapat jadwal setahun yang lalu, terbayang, betapa ruwet segala sesuatunya?”

“Ketika kita berangkat dengan happy, dengan penuh perasaan beruntung, maka segala sesuatu akan terasa mudah. Berdesakan, kepanasan, kelelahan, dapat teman sekamar yang kurang cocok, ah, itu tak ada artinya dibanding dengan segala keberuntungan yang sudah kita dapatkan.”

“Hm…”

“Menjalani haji itu sebenarnya neurosemantic banget lho.”

“Oya?”

“Coba ingat, larangan haji itu apa saja? Dalam QS al-Baqarah ayat 197 disebutkan selama berhaji kita dilarang rafats (hubungan suami-istri), fusuq (bermaksiat), dan jidal (berbantahan). Mengapa berbantahan disetarakan dengan kedua larangan lainnya?”

“Kenapa?”

“Karena berbantahan itu sumbernya adalah ketidakmampuan mengendalikan emosi (kemarahan, kejengkelan atas perilaku orang). Kekhusyukan ibadah haji, keikhlasan, ketenangan, upaya mencari ma’rifat, bisa hancur karena emosi yang tak terkendali.  Di sinilah pentingnya neurosemantic. Kendalikan persepsimu atas perilaku orang. Semenyebalkan apapun orang lain, kita bebas menciptakan meaning [makna] tersendiri atas perilaku orang itu sehingga kita tidak jadi marah/kesal. Bahkan terhadap orang yang benar-benar kurang ajar pada kita pun, kita bisa menciptakan persepsi sendiri atas perilaku itu, sehingga kita tidak jadi marah.”

“Nah itu susah.. Bayangkan Pa, haji tahun ini suhunya 46 derajat, suasana puanaaas banget, trus ada orang yang tidak beradab kelakuannya, misalnya main tubruk saat tawaf, gimana mau menciptakan persepsi baru supaya kita tidak marah? Aku sih pinginnya membentak orang itu, minimalnya bilang “hati-hati dong!

“Itulah yang harus dilatih dari sekarang Ma. Menjelang haji itu jangan sibuk ngurusin barang-barang, tapi latih diri untuk mampu menyikapi apapun yang terjadi pada diri dengan persepsi yang baik dan benar. Misalnya sekarang nih, Mama tiba-tiba flu. Apa yang Mama pikirkan saat ini?”

“Duh, aku payah banget nih. Kerjaan numpuk, banyak deadline, eh malah sakit!”

“Coba ubah persepsinya”

“Alhamdulillah, aku sakit, tapi berada di rumah, ada papa dan anak-anak; ada makanan cukup; aku bisa tidur nyaman. Sakitnya juga cuma flu.”

“Nah, ketika sudah merasa happy, istirahat nyaman, lupakan dulu masalah kerjaan, insyaAllah Mama sembuh dan siap melanjutkan pekerjaan. Coba kalau kalut terus, sembuhnya lama, kerjaan juga tidak selesai kan?”

“Iya sih…”

***

Pagi ini saya temukan ceramah ustadz dari Malaysia, soal kekhawatiran berdesak-desakan:

“Bila kita sebut kita ini tamu Allah, seramai apapun, selalu ada tapak-tapak yang kosong untuk ruang tawaf di sekeliling Ka’bah; ada saja ruang untuk kita sholat, utk sa’i di Safa dan Marwa. Sebab kita tamu Allah, Allah pasti melayani para tamu-Nya, asal kita pergi dengan ikhlas.”

Nah, ini mengubah persepsi banget kan? Pasti ada ruang, seramai apapun, karena Allah yang Maha Pengatur yang akan mengatur segalanya.

🙂

[insyaAllah ada sambungannya ya.. soal framing/mengubah persepsi]