Neurosemantic Haji

Ini catatan (plus renungan tambahan) dari obrolan kami di meja makan kemarin sore.

Kemarin itu saya menyimak ceramah Buya Hamka (alm) di Youtube. Ada kalimat beliau yang kurang lebih isinya: banyak orang khawatir ini-itu sebelum berhaji, tapi setelah selesai berhaji, mereka rasakan ternyata ibadah haji itu mudah kok.

Si Akang bertanya, “Mengapa ada orang yang merasa khawatir pada sulitnya ibadah haji? Mama juga khawatir kan?”

Saya jawab, “Ya karena banyak cerita mengenai beratnya ibadah haji, berdesak-desakan, apalagi toiletnya harus ngantri, dapat teman sekamar yang tidak cocok, perjalanan yang cukup jauh dari hotel ke Masjidil Haram, dan lain-lain.”

“Jadi, ini masalah persepsi kan? Cerita ini-itu dari orang yang pulang berhaji dipersepsi oleh orang yang belum berhaji. Persepsi-lah yang mempengaruhi perasaan, ucapan, dan tindakan kita. Selanjutnya, tindakan kitalah yang akan memberikan hasil, bisa buruk, bisa baik. Coba, apa yang Mama tangkap dari kisah-kisah haji orang lain?”

“Berat, berdesak-desakan, tidak nyaman, orang-orang banyak yang perilakunya seenaknya… btw, aku sudah merasakan sendiri kok, waktu umroh, itu orang-orang saat tawaf seenaknya aja nubruk dari belakang, tangannya nyikut orang di samping.. benar-benar tidak beradab. Umroh saja yang cuma sedikit orangnya, sudah sedemikian berdesakan, apalagi haji, pasti lebih berat lagi situasinya.”

“Ketika Mama meng-“iya”-kan persepsi itu (bahwa haji itu ibadah yang berat dan orang-orang di sana banyak yang tak beradab), itu akan jadi keyakinan dan menjadi ‘frame of mind’ atau kerangka berpikir Mama. Frame of mind yang akan melandasi segala tindakan kita. Kalau sudah mikir ‘berat’, ‘terlalu banyak orang’, ‘berdesakan’, ya itulah yang akan Mama hadapi nanti. Coba ganti persepsinya.”

“Gimana caranya?”

“Betapa banyak orang ingin berhaji, tapi selalu tertunda. Bahkan banyak yang meninggal tanpa sempat menunaikan cita-cita berhaji. Banyak yang terpaksa berhaji di usia tua dan penuh kepayahan, tapi alhamdulillah kita diberi kesempatan untuk melakukannya di usia yang relatif muda [insyaAllah]… Pikirkan, betapa membahagiakannya situasi ini. Pikirkan, betapa beruntungnya, pada saat harus melunasi biaya haji, alhamdulillah ada uangnya. Ada banyak orang yang tak cukup uang ketika jadwalnya tiba, sehingga terpaksa diundur ke tahun berikutnya. Pikirkan, betapa beruntungnya kita, mendapat jadwal berangkat di saat yang benar-benar tepat, kekita urusan kampus selesai, paper-paper untuk konferensi selesai di-submit, ketika urusan sekolah&kuliah anak kita sudah jelas. Kalau saja kita dapat jadwal setahun yang lalu, terbayang, betapa ruwet segala sesuatunya?”

“Ketika kita berangkat dengan happy, dengan penuh perasaan beruntung, maka segala sesuatu akan terasa mudah. Berdesakan, kepanasan, kelelahan, dapat teman sekamar yang kurang cocok, ah, itu tak ada artinya dibanding dengan segala keberuntungan yang sudah kita dapatkan.”

“Hm…”

“Menjalani haji itu sebenarnya neurosemantic banget lho.”

“Oya?”

“Coba ingat, larangan haji itu apa saja? Dalam QS al-Baqarah ayat 197 disebutkan selama berhaji kita dilarang rafats (hubungan suami-istri), fusuq (bermaksiat), dan jidal (berbantahan). Mengapa berbantahan disetarakan dengan kedua larangan lainnya?”

“Kenapa?”

“Karena berbantahan itu sumbernya adalah ketidakmampuan mengendalikan emosi (kemarahan, kejengkelan atas perilaku orang). Kekhusyukan ibadah haji, keikhlasan, ketenangan, upaya mencari ma’rifat, bisa hancur karena emosi yang tak terkendali.  Di sinilah pentingnya neurosemantic. Kendalikan persepsimu atas perilaku orang. Semenyebalkan apapun orang lain, kita bebas menciptakan meaning [makna] tersendiri atas perilaku orang itu sehingga kita tidak jadi marah/kesal. Bahkan terhadap orang yang benar-benar kurang ajar pada kita pun, kita bisa menciptakan persepsi sendiri atas perilaku itu, sehingga kita tidak jadi marah.”

“Nah itu susah.. Bayangkan Pa, haji tahun ini suhunya 46 derajat, suasana puanaaas banget, trus ada orang yang tidak beradab kelakuannya, misalnya main tubruk saat tawaf, gimana mau menciptakan persepsi baru supaya kita tidak marah? Aku sih pinginnya membentak orang itu, minimalnya bilang “hati-hati dong!

“Itulah yang harus dilatih dari sekarang Ma. Menjelang haji itu jangan sibuk ngurusin barang-barang, tapi latih diri untuk mampu menyikapi apapun yang terjadi pada diri dengan persepsi yang baik dan benar. Misalnya sekarang nih, Mama tiba-tiba flu. Apa yang Mama pikirkan saat ini?”

“Duh, aku payah banget nih. Kerjaan numpuk, banyak deadline, eh malah sakit!”

“Coba ubah persepsinya”

“Alhamdulillah, aku sakit, tapi berada di rumah, ada papa dan anak-anak; ada makanan cukup; aku bisa tidur nyaman. Sakitnya juga cuma flu.”

“Nah, ketika sudah merasa happy, istirahat nyaman, lupakan dulu masalah kerjaan, insyaAllah Mama sembuh dan siap melanjutkan pekerjaan. Coba kalau kalut terus, sembuhnya lama, kerjaan juga tidak selesai kan?”

“Iya sih…”

***

Pagi ini saya temukan ceramah ustadz dari Malaysia, soal kekhawatiran berdesak-desakan:

“Bila kita sebut kita ini tamu Allah, seramai apapun, selalu ada tapak-tapak yang kosong untuk ruang tawaf di sekeliling Ka’bah; ada saja ruang untuk kita sholat, utk sa’i di Safa dan Marwa. Sebab kita tamu Allah, Allah pasti melayani para tamu-Nya, asal kita pergi dengan ikhlas.”

Nah, ini mengubah persepsi banget kan? Pasti ada ruang, seramai apapun, karena Allah yang Maha Pengatur yang akan mengatur segalanya.

🙂

[insyaAllah ada sambungannya ya.. soal framing/mengubah persepsi]

Tentang Para Ummi yang Menghadapi KPopers dengan Keras

angry momSaya sudah belajar parenting ke banyak orang, juga belajar neurosemantic, belajar ini-itu… kesimpulan saya: tidak mungkin menyadarkan anak/remaja dengan sikap keras.

Bahkan Allah SWT saat memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun menasehati Firaun, menyuruh kedua Nabi mulia menggunakan kata-kata yang lemah lembut: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44).

Ada hadis: “Tidaklah lemah lembut dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah sikap keras dalam segala sesuatu kecuali dia akan merusaknya.” (HR Muslim).

Karena itu, saya sungguh terheran-heran melihat seorang ummi yang dulu guru parenting saya dan seorang dosen-ustazah yang konon mengerti parenting dengan amat frontal mengecam grup penyanyi Korea (KPop): di depan publik, membuat status atau tweet di medsos. Lalu fans kedua Ummi ini pun (yang umumnya juga ummi-ummi saleha) terkaget-kaget melihat respon yang amat keras dari KPopers; bahkan kemudian berbalik marah-marah ke mereka.

Bukankah salah satu tips utama yang diajarkan di kelas-kelas parenting itu: kalau anakmu salah, bawa ke kamar, lalu nasehati berdua saja; jangan omelin di depan umum.

Apa para ummi ini tidak tahu (sedemikian kurang gaulnyakah?) bahwa KPopers itu sangat fanatik dan sangat marah saat idola mereka diganggu? Ketika kalian nasehati dengan cara keras dan frontal, apa akan ngefek?

Para KPopers, sama seperti fans bola dari klub tertentu, atau fans ustadz tertentu [nah Ummi-Ummi pasti paham dimana sakitnya kalau ustad pujaan Ummi dihina kan?], adalah orang/remaja yang sedang tergila-gila pada sesuatu.  Monggo dibaca lagi buku teori parenting, gimana caranya bicara sama orang yang lagi jatuh cinta/fanatik pada sesuatu? Dengan kalimat judgemental? Bakal ngefek, nggak?

Bila tujuan ummi-ummi ini adalah meminta KPI atau pemerintah membatalkan tayangan/show grup musik asal Korea Selatan, haruskah dengan menulis status provokatif di medsos sehingga menimbulkan kegaduhan yang tak perlu? Kita bisa lihat, akhirnya malah ajaran Islam (hijab) yang jadi bulan-bulanan dan ejekan. Debat  melebar kemana-mana, pesan utama tak tertangkap. Tapi lagi-lagi yang disalahkan oleh para ummi saleha ini adalah ‘para nyinyirun’.

Atau.. mungkin perlu diingat lagi salah satu bahasan dalam parenting: seringkali ibu-ibu marah kepada anak bukan karena kelakuan si anak tapi karena ada ‘sesuatu yang lain’ di dalam bawah sadarnya yang terstimulasi.

Misalnya nih, si ibu sedang kesal sama suami, tapi dipendam saja, tidak mampu bicara. Lalu si bocah menumpahkan susunya di karpet. Peristiwa itu menjadi stimulan: ibu ngamuk atau ngomel panjang lebar ke anak; padahal sebenarnya hal utama yang bikin dia geram adalah kelakuan si suami.

Nah, apa sih tujuan para ummi itu marah-marah soal KPop? Mau menasehati anak-anak agar mengikuti standar kesalehan para ummi; atau ada sesuatu yang lain? Marah sama “rezim”, misalnya… #ehm. Nah, kalau yang disasar adalah “rezim”, bukankah Ummi-Ummi ini dengan dukungan partainya punya akses ke elit? Bukankah lebih bijak berjuang dalam senyap, lalu ujug-ujug TV mengubah kebijakan tayangannya sehingga lebih ramah anak?

Saya baru membaca tulisan seorang Ummi yang bijak sekali soal KPop ini. Menurut saya, inilah metode yang keren: dia meraih hati para KPopers [dengan cara bercerita panjang lebar soal kehebatan para idol, dia berusaha membangun frekuensi yang sama dengan KPopers] dan menyelipkan pesannya dengan cara yang amat elegan, tidak menggurui.

Bukankah ini yang diajarkan Ummi pakar parenting itu di pelatihannya: salah satu  cara komunikasi tradisional yang harus dihindari adalah menasehati  [dalam makna: menggurui, mencereweti]

Maaf, hanya sekedar mengingatkan.

🙂

 

***

Ini tulisan tentang KPop yang menurut saya keren itu: https://sintayudisia.wordpress.com/2018/12/12/kalau-kamu-penggemar-hallyu/

 

Saya dan Hari Favorit Winnie the Pooh

Beberapa hari yang lalu, saat kami liburan ke Padang, si Akang, Rana, dan Reza pergi ber-3 ke Transmart. Tujuan mereka, menonton Christopher Robin dan main (tepatnya: menemani Reza main). Saya tidak ikut, ada paper yang harus saya selesaikan. Paper yang sudah berminggu-minggu, tak jua selesai. Padahal deadline semakin mendekat, dia seperti monster yang menghantui setiap malam. Dan ketika mereka pulang, tak ada kemajuan pada paper itu. Waktu saya habis untuk hal-hal lain.

Ketika mereka pulang, semua berkomentar mirip: filmnya bagus sekali, Mama harus nonton karena itu ‘mama banget’. What?

Dengan penuh semangat, baik Rana maupun Akang mengulangi dialog-dialog yang -kata mereka- luar biasa. Sementara Reza hanya menyimak.

Akhirnya saya benar-benar menyempatkan waktu untuk itu, di Bandung. Setelah paper itu selesai (dengan tidak memuaskan, karena diselesaikan detik-detik akhir).

Saya menonton sendirian, dan menanti-nanti kalimat-kalimat yang membuat Rana dan Papanya terpesona.

Continue reading

Perjalanan

travelingSaya suka sekali melakukan perjalanan, terutama ke tempat-tempat baru. Ke tempat yang sudah bisa didatangi pun, saya juga suka. Misalnya, perjalanan ke rumah ibu mertua. Saya selalu menikmati pemandangan di perjalanan dan berkali-kali bilang, “Eh liat itu sawahnya [atau langit, atau gunung], indah banget ya?”

Padahal, saya kan sudah ratusan kali melewati jalan yang sama? Tapi selalu saja terpesona lagi dan lagi.

Penyebabnya adalah perubahan suasana hati dan cara berpikir saya. Sungguh, hati yang bahagia akan berdampak pada mata: bagaimana engkau melihat dunia.

Dulu, perjalanan ke rumah ibu mertua terasa sangat menjemukan. Karena, ada beberapa hal yang mengganjal di hati (ya biasalah, banyak juga para ibu-ibu muda yang mengalami problem serupa). Tapi seiring bertambahnya usia, setelah saya ikut berbagai pelatihan perbaikan diri (misalnya Neurosemantic ++ dengan pak Prasetya M. Brata yang pernah sedikit saya ceritakan di sini) dan self healing dengan bu Yuli Suliswidiawati, hidup menjadi jauh lebih menyenangkan. Apakah orang-orang di sekitar saya berubah? Tidak. Tapi, cara saya memandang dan mempersepsi kata-kata mereka jauh berubah. 

Continue reading

Me Time (Buku 33 Ibu-Ibu)

dina-bunda intanMe Time, ini istilah yang sering dipakai oleh ibuk-ibuk jaman now. Artinya kurang lebih, menyendiri sejenak, ga ngurusin rumah tangga. Tujuannya adalah biar pikiran fresh lagi, biar ga stress, dll.

Eh si Akang kalau saya ngomong soal me time selalu ngomel, “Apa..?? Mama itu udah kebanyakan me time-nya! Papa nih yang butuh me time!”

Hahaha. Lha iya, emang si Akang tipe yang ngurusin keluarga banget. Tak jarang, saat blio ada di rumah dan saya lagi sibuk ngetik-ngetik, blio yang nyediakan makanan (sholawat..semoga demikian selamanya, aamiin..).

Kenapa kok bahas me time? Karena saya baru baca buku berjudul Me Time: Perjalanan Ibu Bahagia.  Buku ini kumpulan tulisan dari 33 penulis, ibuk-ibuk semua.

Continue reading

Reza Potter :)

Late post. Beberapa waktu yll (1 Feb) saya dan Reza berdua saja ke Jakarta. Tujuannya, ikut acara Harry Potter Book Night 2018 (HPBN). Jauh-jauh dari Bandung, sampai di Plaza Senayan dan ter-wow dengan harga barang-barang di sana. Akhirnya melipir duduk di cafe, minum jus seharga 40 ribu-an. Mahal amaaat. Tapi Reza tahu bahwa kami perlu berhemat, jadi dia tidak minta macam-macam. Dia saya belikan roti di sebuah toko.

Saat masuk ke Kinokuniya (tempat acara), puluhan Potterhead (sebutan bagi fans Harry Potter) sudah berdatangan. Sebagian dari mereka memakai jubah hitam, lengkap dengan tongkat sihir, tapi banyak juga yang pake kostum-kostum lainnya.

Ini Reza dan kostumnya:

Reza Potter

Continue reading

Dilan dan Ketundukan pada Narasi Mainstream

imam khomeini quote

“Dilan memasang poster Imam Khomeini! Artinya dia itu Syiah! Sesat!”

Sudah bisa diduga, yang nuduh-nuduh Syiah itu (dan yang nge-like) adalah ibuk-ibuk dan bapak-bapak kalangan you know who yang emang demen nuduh-nuduh ga jelas. Musuh utama mereka ini: Syiah, China, Kapir, Liberal, Komunis, dll, dan setiap pihak yang ‘beda’ dari mereka, langsung dikasih stempel demikian.

Yang paling kasian tentu saja Pakde Jokowi, semua stempel itu dilekatkan di keningnya sekaligus oleh kalangan you know who ini. Yang pernah belajar sedikit filsafat pasti tertawa, kok bisa di satu orang menempel beberapa stigma sekaligus yang secara paradigmatik bertolak belakang? Tapi karena yang demen bikin itu stempel justru golongan yang mengharamkan filsafat, pantas saja kalau terjadi kekacauan akut dalam cara berpikir.

Dan, bermunculanlah status, komen, serta tulisan yang membela Dilan dan Pidi Baiq (sang novelis).

Saya awalnya ya agak-agak kasian sama Pidi Baiq. Saya pun membaca novel Dilan, versi e-book gratisan. Tapi dulu saya pernah beli kok novelnya, untuk putri saya (17 thn) yang penasaran pingin baca. Tapi sepertinya karena si putri punya ‘selera tua’ (yang sedang dibacanya saat ini: Dunia yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang), novel itu hanya dibacanya beberapa lembar lalu disumbangkan ke rumah baca.

Diceritakan bahwa tokoh Dilan (anak SMA kelas 2, di tahun 1990) memasang poster Imam Khomeini di kamarnya, berdampingan dengan poster Mick Jagger. Mungkin dengan keberadaan poster itu, si penulis (Pidi Baiq) ingin menciptakan citra ‘garang’ atau revolusioner pada Dilan. Meski sebenarnya tidak nyambung juga dengan jalinan cerita keseluruhan, dimana karakter Dilan sama sekali tidak garang, apalagi revolusioner, kecuali ketika pacarnya diganggu orang.

Di novel Dilan, sama sekali ga ada tuh nuansa revolusioner yang diteriakkan Imam Khomeini, “Wahai rakyat tertindas di dunia! Wahai negeri-negeri Muslim. Bangun! Ambilah hak kalian dengan gigi dan cakar kalian!”

Yang ada: “Jangankan Anhar. Kepala Sekolah nampar Lia, KUBAKAR SEKOLAH INI!”

*tepok jidat dan berdoa, semoga anak cowokku ga jadi remaja kayak Dilan*

Lalu, sepertinya si penulis, Pidi Baiq sudah khawatir sejak semula akan ada tuduhan Syiah, di halaman lain (saya lupa nomer halamannya), dia memberikan penjelasan yang malah terasa garing, kurang lebih begini: kekaguman Dilan pada Imam Khomeini tidak terkait dengan mazhab.

Continue reading