Gulai Ayam Daun Mangkokan

Masakan yang satu ini kenangan masa kecil saya. Lamaaa sekali saya mengimpikannya. Waktu itu saya masih SD, lalu datang ke rumah adiknya nenek dari pihak ibu, bersama-sama kerabat yang lain, kalau tidak salah dalam rangka liburan. Kalau saya tidak salah juga (sudah lama banget soalnya), itu terjadi ketika saya dan ortu masih berdomisili di Semarang. Rumahnya adiknya-nenek (alm) itu di kota Payakumbuh, sekitar 3 jam dari Padang.

Nah, beliau (alm) menyediakan masakan itu, gulai ayam dengan irisan daun mangkokan. Rasanya enak banget. Sampai puluhan tahun, sampai usia saya sekarang 46 tahun, masih teringat enaknya. Saya baru sekali makan gulai seperti itu dan tidak pernah lagi.

Continue reading

Persentase Sisa Hidup Kita

Tadi pagi, seperti biasa sejak tahun baru 2021, kami usai sholat Subuh berjamaah melatih diri mengucapkan syukur dengan detil.

Reza dengan terkantuk-kantuk, terdiam lama.

“Kok diam?”

“Iya, sedang mikir”

“Terima kasih ya Allah.. kemarin aku bisa makan…” kata Reza, lalu terdiam lagi.

“Apa lagi?”

“Hmm.. aku bersyukur atas hal-hal mainstream lainnya.”

Frasa yang lucu sekali, tapi bikin saya mikir. Terkadang terasa sulit untuk mendetilkan apa saja yang harus disyukuri, karena terasa “mainstream”, terasa biasa saja. Tapi bahkan hidup yang terasa mainstream itu pun perlu disyukuri.

Continue reading

Memulai 2021 dengan Menyusun “Buku Kehidupan”

Beberapa hari menjelang pergantian tahun 2020-2021, saya menemukan sebuah video di Mindvalley mengenai Lifebook (buku kehidupan). Saya lalu mengikuti semacam kelas pengantarnya (free), dengan cara mendaftar, lalu dikasih link ke video 1 jam (hanya bisa ditonton pada waktu tertentu yang kita pilih saat mendaftar). Sebenarnya bila ingin ideal, perlu ikut kelasnya, dipandu oleh dua penyusun konsep Lifebook, Jon & Missy Butcher. Tapi, saya merasa cukuplah menangkap esensinya saja lalu mengadaptasinya. Saya obrolkan bersama si Akang, dan kami sepakat untuk mempraktikkannya sekeluarga. Saya share di sini, siapa tahu berguna buat pembaca bog ini. 

Esensi penyusunan “Buku Kehidupan” ini berbeda dengan resolusi tahun baru seperti yang banyak dilakukan orang. “Buku kehidupan” merupakan penyusunan blue print atau desain kehidupan yang kita inginkan. Dimulai dari menemukan visi kehidupan. Apa sih yang ingin dicapai di akhir hidup kita? Mau mati dengan kondisi seperti apa? Setelah itu ketemu, kita mengidentifikasi apa saja langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai visi tersebut.

Continue reading

Kafe yang Hening

Kafe ini biasanya penuh dengan para mahasiswa yang ceria. Tertawa terbahak-bahak sambil bermain berbagai jenis game yang disediakan. Sebagian membawa laptopnya, berpacu dengan waktu, menyelesaikan tugas-tugas.

Tapi sore ini begitu sepi. Dari sekian banyak kursi yang tersedia, hanya ada kami.

Entah di mana para mahasiswa itu sekarang. Mungkin di rumahnya masing-masing. Ada yang terpaksa pulang ke pelosok negeri, berjibaku mencari sinyal saat kuliah online akan dimulai.

Sedih sekali rasanya. Rindu mendengar suara tawa terbahak-bahak mereka.

Lagu yang diperdengarkan pun terasa sendu.

Tak terasa pandemi sudah berlangsung setahun.

Tahun sudah berganti tapi harapan masih suram. “Mereka” masih berkata dengan jumawa. Setahun lagi. Dua tahun lagi. Entah sampai kapan.

Orang- orang bertahan dengan caranya masing-masing. Sebagian mungkin berdoa dalam diam, semoga mereka yang berpesta-pora memanfaatkan pandemi ini, yang kekayaannya menjadi berlipat-lipat tanpa peduli dengan begitu banyak manusia yang terhempas, segera menemukan karmanya.

Duduk di kafe ini dengan perasaan sendu. Sambil menulis tentang bagaimana dunia ini bekerja. Semoga saja ada gunanya untuk peradaban.

Sambil memesan makanan dengan nominal sangat tak seberapa. Semoga saja ada sedikit dampaknya, agar ekonomi bisa tetap berputar. Semoga kafe ini tetap bertahan, menyambut gelak tawa para mahasiswa yang akan datang lagi, segera, semoga…

Selamat tahun baru 2021.

Tetaplah optimis, karena Allah berjanji tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya.

Merayakan Hari Ibu 22 Desember 2020

Hari ibu tahun ini kami rayakan dengan cara berbeda: jalan-jalan ke Pangandaran. Sebenarnya tujuan utama memang ingin refreshing. Saya dan si Akang ingin menghibur anak-anak (dan diri kami sendiri) yang sudah nyaris setahun “dirumahkan”. Alhamdulillah anak-anak tetap baik dan mampu bertahan. Masalah tentu saja ada. Omelan, kemarahan, tangisan, ada saja. Sama seperti orang tua lain (umumnya), saya juga tertekan melihat anak-anak yang apatis, main HP, rebahan, tidur melulu. Saat diajak beraktivitas, karena cara komunikasi saya yang salah, jadinya malah berantem. Tapi 9-10 bulan ini (sejak Maret) adalah masa kami untuk reorientasi segala hal. Mempelajari banyak hal baru.

Bulan Desember ini kami juga hectic banget: Rana dengan tugas kuliahnya, saya dengan sejumlah deadline kerjaan, termasuk penerbitan Jurnal ICMES, dan si Akang dengan segala aktivitasnya. Jadi rasanya emang perlu jalan-jalan.

Continue reading

Jepang 1996

Tulisan di FB 20 Oktober 2013

Bangun dini hari untuk menyiapkan sebuah tulisan ringan tentang pengalaman toleransi beragama. Eh, malah keasyikan membaca kembali catatan perjalanan saya ke Jepang dulu tahun 1996. Waktu itu belum musim nulis blog (warnet aja jarang banget), jadilah saya nulis di diary. Ternyata waktu itu untuk pertama kali dalam hidup saya, ketemu dengan orang-orang yang dengan cueknya menyatakan diri atheis. Pertama kalinya pula bertemu dengan orang Yahudi-Israel, yang jualan souvenir di sebuah stasiun bis. Pertama kalinya menerima kuliah dari seorang Father/Romo (padahal saya ambil mata kuliah ekonomi). Pertama kalinya masuk ke kampus yang gerbangnya ada tanda Salib besar dan setiap pagi disambut seorang pendeta (sang pendeta selalu berdiri dekat pintu setiap pagi, memberi salam kepada setiap mahasiswa yang datang). Pertama kalinya ketemu orang beragama Shinto. Lalu ada kejadian, angin bertiup kencang, seorang teman prp saya yang atheis secara refleks merangkul pundak saya, menjaga agar jilbab saya nggak terbang.

Dan yang bikin saya senyum-senyum adalah bagian curhat, ketika saya sakit hati sama seorang mahasiswa yang kebetulan muslim. Saya menulis, “Heran, kok yang baik ke aku malah XXX dan YYY, padahal mereka ini Nasrani.”

Well, that was me. Sebelumnya, hidup saya memang cenderung homogen, teman saya muslim semua. Ketika mahasiswa, saya dengan patuhnya ikut pengajian yang mendoktrin saya bahwa non-Muslim adalah musuh besar kaum Muslim. Ayat “tidak akan ridho Yahudi dan Nasrani sebelum kamu mengikuti agama mereka” adalah yang paling sering diulang. Tak heran waktu itu saya jadi takjub mendapati ada Nasrani atau atheis yang baik. Kalau sekarang keheranan saya malah sebaliknya. Saat saya dibully habis-habisan di dunia maya oleh sesama muslim, saya mendapati kenyataan bahwa sesama muslim itu bisa juga jadi musuh yang kejam; ikhwan-akhwat yang tadinya terlihat alim dan baik hati, dengan entengnya di depan umum (atau di inbox, berdasarkan laporan banyak teman lainnya) mengata-ngatai saya, bahkan ada ustadz yang di blognya menyerukan serangan fisik ke saya. Wow.

Lalu ada kejadian ekstrim, saat saya kesulitan menemukan tempat untuk sholat. Teman Jepang saya menyarankan untuk sholat di kapel (ruang ibadah umat Nasrani) di basement kampus. Dia berlogika, “Tuhan yang kamu sembah sama aja kan? Jadi, apa salahnya kamu sholat di sini?” Teman Jepang saya ini atheis. Dan karena kepepet, kuatir waktu dzuhur habis, saya memang nekad sholat di dalam kapel itu, dengan membelakangi patung Yesus (soalnya ga tau arah kiblat kemana). Sholat yang sama sekali ga khusyuk, karena kuatir salah/dosa.

Pengalaman singkat itu membuka wawasan saya, bahwa dunia ini memang warna-warni, dan usaha untuk membuatnya satu warna memang terasa jadi sangat absurd.

[Sharing] Kiat Sukses Akademik

Ini tulisan di FB saya 26 September 2013. Mungkin ada manfaatnya bila diupload ulang.

Dua hari yll saya diminta ngisi talkshow di radio, menggantikan seorang narasumber tetap yang tentu saja lebih keren 🙂 Tema yang diberikan ke saya, ‘Kiat Sukses Akademik’.

Yang saya jelaskan, sukses dalam berbagai pekerjaan (termasuk juga akademik) akan dicapai oleh pribadi yang independen. Nah, supaya jadi independen, seseorang perlu memiliki 3 kebiasaan, yaitu proaktif, mulai dari ‘tujuan’, dan meletakkan prioritas dengan benar.

Proaktif adalah lawan dari reaktif. Manusia yg reaktif adalah manusia yang responnya bisa diduga. Kalau dihina akan marah atau minder; kalau dosen ngajarnya ga bisa dipahami, akan dijadikannya justifikasi atas ketidakmampuannya memahami pelajaran; kalau miskin akan menyerah dan putus sekolah. Sebaliknya, manusia proaktif responnya tidak diduga karena dia mampu mencari respon2 kreatif. Saat dihina, dia akan mikir dulu, introspeksi, lalu cari respon yg menguntungkan dirinya (misal: belajar lebih keras supaya yg menghinanya gigit jari, atau kalau perlu tuntut si penghina ke pengadilan supaya dapat uang ganti rugi, hehe). Saat dosen ga bisa dipahami, cari teman diskusi, cari buku, pelajari sendiri, dll. Saat ga ada uang buat bayar sekolah, cari beasiswa, kerja parttime dll. Artinya, bagi orang proaktif, kesuksesannya bergantung pada dirinya sendiri dan itulah pribadi yang independen.

Kedua, mulai dari ‘tujuan’, artinya saat melakukan sesuatu hal (misalnya belajar), dia sudah membayangkan, apa hasil akhir yang ingin dicapainya. Visualisasikan apa yg dicita-citakan itu (bayangkan dalam benak), dan petakan apa saja yang musti dilakukan untuk mencapai cita-cita itu. Artinya, dia independen karena tujuan hidupnya ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain. (Note: that’s why prinsip ‘aku jalani hidupku mengalir saja, kayak air’ sepertinya kurang tepat.. syukur2 kalau mengalirnya ke lautan yang bersih ya.. kalau ngalirnya ke lautan beracun limbah kimia gimana dong?)

Ketiga, taruh prioritas. Prioritas adalah segala sesuatu yang PENTING dan terkait dengan tujuan/cita-cita. Sesuatu yang PENTING tidak sama dengan sesuatu yang mendesak. Misalnya, besok ujian, dan musti belajar. Di saat yang sama, musti kongkow2 ke mall (dan ke mall-nya musti SEKARANG krn hari ini hari ultahnya si temen). Nah, musti bisa milih tuh: melakukan yang penting atau mengalah pada rasa ‘tidak enak’ pada teman?

Orang yang sukses adalah yang melakukan sesuatu yang penting di waktu yang tepat. Dia tidak terjajah oleh apa ‘kata teman’, dan tidak terjajah oleh mendesaknya waktu. Contoh terjajah oleh waktu: melakukan pekerjaan di saat deadline. Seolah2 kalau DL, ide2 jadi mengalir deras; padahal ini adalah masalah kebiasaan; dan kalau dilakukan tidak dalam waktu DL sebenarnya hasilnya akan jauh lebih maksimal.

Utk bidang akademik, belajar di saat DL (sistem kebut semalam/SKS ) jelas hasilnya jauh beda dengan belajar yg tenang dan dilakukan tanpa ketergesaan. Karena otak kita akan menyimpan pengetahuan di long term memory jika kita menerima pengetahuan itu dengan rasa senang/bahagia. Coba saja buktikan: belajar dg hasil SKS mungkin bisa membuat kita dapat nilai ujian bagus, tapi dalam sekejap kita lupa yang dihapalkan itu.

(Ilmu ini saya dapat dari bukunya Stephen Covey, The 7 Habits of Highly Effective People

[Parenting] Ibu yang Multitasking

Guru parenting saya pernah bilang bahwa perempuan memang punya struktur otak yang khas sehingga mampu ber-multitasking. Misalnya, dia mampu menulis analisis konflik Timteng, lalu update blog, sambil bikin paper tugas kuliah, dan pada saat yang sama bisa mendongeng cerita buat anaknya, nyuci baju, sambil mikirin menu makan malam yang harus segera dimasaknya *lho ini sih gw banget yak*. Tapi, kemudian ada artikel saya baca, bahwa multitasking itu buruk dan sama sekali tidak efisien. Saya sempat bingung: apa saya musti full ngurus anak aja ya.. apa lebih baik pensiun jadi blogger/penulis aja ya…? Akhirnya kemarin saya baca lagi artikel lain, yang sangat bagus, yang menjelaskan seperti apa itu multitasking yang buruk, dan bagaimana cara ‘menyembuhkan’-nya.

Ternyata yang buruk itu adalah melakukan semua hal di WAKTU YANG SAMA. Misal, update blog sambil buka fb dan email, dan sambil nyuapin anak. Bahkan perilaku seperti ini bisa merusak struktur otak kita. Menurut peneliti dari Stanford, “multitasking splits the brain. It creates something researchers have called “spotlights”. So all your brain is doing is to frantically switch between the activity of eating, to writing an email, to answering chat conversations.”

Nah, kesimpulan saya sendiri: kalau fokus nulis paper selama anak tidur (atau sedang asyik main bersama temannya), lalu fokus baca buku cerita bersama anak, lalu fokus di dapur (lebih baik lagi bila melibatkan anak di dapur, daripada membiarkannya sendiri main game/nonton), sehingga semua bisa diselesaikan dengan baik, nah itu sih bukan multitasking yang buruk, tapi mengefektifkan waktu dan potensi diri. Dan yang terpenting buat ibu tentu saja anaknya. Analisis dan update blog bisa menunggu (atau bahkan diabaikan), paper bisa ditunda (apalagi kalau dosennya baik hati), tapi, waktu yang dilalui anak tanpa perhatian penuh dari ibunya, tidak bisa terulang lagi. *reminder for myself*

Ini artikel yg saya maksudkan: http://blog.bufferapp.com/what-multitasking-does-to-our-brains

Panen Eco Enzyme

Saya lalu curhat ke teman yang banyak banyak belajar soal terapi alternatif. Beliau langsung jawab, “Itu kemungkinan karena radiasi, mbak Dina kan sering pakai laptop. Pakai eco-enzyme saja.” Saat itu saya baru dengar yang namanya eco-enzyme (EE). Saya pun belajar cara membuatnya dan langsung membuat. Intinya sih: air 3 L + gula merah 300 gr + kulit buah-buahan 900 gr. Pilih kulit buah yang aromanya segar (nenas, jeruk). Lalu, campuran ini dibiarkan selama 3 bulan.

Kisahnya bermula 3 bulan yang lalu, saya cek ke lab, ingin tahu mengapa sering pusing. Pusingnya tuh agak aneh, paling terasa di sekitar mata dan saya jadi sensitif cahaya. Selama dua hari yang saya lakukan cuma tiduran (memejamkan mata), lalu akhirnya sembuh sendiri. Hasil lab (kolesterol, asam urat, gula darah, tekanan darah, dll), semuanya normal saja.

Tapi, karena pusingnya “sekarang”, masa nunggu EE-nya jadi 3 bulan lagi? Jadi, saya beli EE di toko online, lalu saya taruh di dekat laptop. Alhamdulillah, memang sejak itu saya tidak pernah “tumbang” lagi. Kejadian saya harus tiduran karena pusing parah selama 2 hari, ga bisa ngetik di laptop, tidak terjadi lagi.

Kebetulan, karena bertepatan dengan pandemi, saya juga di masa-masa tersebut rajin jalan pagi, kena cahaya matahari. Jadi wallahu a’lam ya, penyebab utama kesembuhan saya tuh yang mana.

Saya google di beberapa artikel ilmiah, memang ada yang menyebutkan bahwa radiasi elektromagnetik dari laptop memunculkan keluhan kesehatan. Tapi apakah EE bisa bikin radiasi itu berkurang, belum ketemu artikelnya. Cuma, saya dapatkan video di Youtube dan facebook, ada orang-orang yang membeli alat ukur radiasi elektromagnetik dan saat botol EE didekatkan ke alat elektronik, angkanya memang berkurang jauh. Jadi, ya percaya atau tidak, terserah saja.

Alhamdulillah EE yang saya buat 3 bulan yll baru dipanen. Ini penampakannya setelah disaring. Kulit buah-nya sudah ditaruh di pot-pot bunga (sebagai pupuk). Cairan EE ini wangi, sama sekali tidak bau sampah atau pupuk. Bahannya kan memang bersih, kulit buah yang kami konsumsi sehari-hari. Itu pun yang dipilih buah-buah yang wanginya segar (jeruk, nenas).

Manfaatnya, sangat banyak. Bisa dicampurkan dengan sabun cuci piring, atau sabun cuci baju, atau cairan pembersih lantai (dengan takaran tertentu ya, bisa digoogle saja). Bahkan bisa dijadikan sampo dan sabun mandi. Artinya, kita mengurangi penggunaan deterjen yang sebenarnya merusak lingkungan. Secara keuangan juga semakin mengurangi bujet pembelian sabun.

Manfaat lainnya, kalau disemprotkan ke udara, selain jadi desinfektan, juga menghalau nyamuk, jadi tidak perlu pakai obat nyamuk kimia buatan pabrik. Bisa juga disemprotkan ke tanaman, supaya tumbuh subur.

Di Indonesia ini ternyata ada komunitas-komunitas EE. Ada yang membuat EE dalam skala besar, lalu dituangkan ke sungai/got, sehingga lambat laun terjadi proses penjernihan air sungai/got. Di masa pandemi ini, komunitas EE di Bandung membuat larutan desinfektan EE lalu menyemprotkannya ke pasar dan perumahan. Di Padang, ada komunitas yang digagas dosen-dosen Unand, yaitu Koperasi Mandiri dan Merdeka (KMDM), yang juga mengenalkan pembuatan EE kepada masyarakat.

Intinya sebenarnya, gerakan membuat EE ini adalah gerakan menjaga bumi. Tapi manfaatnya juga bisa dirasakan langsung secara finansial (penghematan biaya beli sabun, misalnya).

—–

*video menarik seorang tokoh pelopor EE asal Malaysia, Dr. Joean Oon (berbahasa Inggris): https://youtu.be/E9E_GQypMUA

**manfaat dan cara membuat EE: https://sustaination.id/manfaat-dan-cara-membuat-eco-enzyme-di-rumah/

***video orang yang mengukur tingkat radiasi: https://www.youtube.com/watch?v=MxrETF2yuIQ

ini wordpress mengubah cara uploadnya, bikin pusing.. saya tidak menemukan cara untuk upload foto 😦

[Parenting] Bersikap Adil Pada Anak

lemantun
Sebenarnya awal mulanya ini film bu Tejo yang “dahsyat” itu. Tapi tulisan ini bukan tentang film itu. Saya tidak berani nulis soal film ini karena para seleb+pemikir di fesbuk sudah banyak yang unjuk pemikiran, pro kontra. Saya menikmati sajalah adu argumen mereka. Yang pasti, saya nonton 3x dan selalu terkikik-kikik sendiri sambil merasa bersyukur karena paham bahasa Jawa, jadi bisa lebih dapet “feel” dari dialog-dialog di film itu.
 
Kirana juga nonton, lalu kami sempat diskusi panjang lebar sama Kirana (mendiskusikan isi tulisan para pengamat). Komen Kirana: justru itulah hebatnya film ini, bisa “menempel” kuat di benak publik dan memicu diskusi publik yang cukup luas.
 
Lalu suatu hari, Kirana bilang gini, “Mama, Papa, you guys should watch Lemantun! Kalian berdua kan punya ortu yang sudah tua-tua. Aku aja sampai nangis nontonnya!”
 
Jadi, singkatnya: “gara-gara” nonton Bu Tejo, Kirana jadi nonton film-film pendek lainnya, lalu ketemu film berjudul Lemantun (=lemari, bhs Jawa). Saya pun nonton, dan terharu banget. Lebih terharu lagi, saat baca komen-komennya, banyak yang curhat: merasa senasib dengan tokoh Tri, paling repot mengurusi ortu, tapi malah dianggap “tidak ada” oleh saudara-saudaranya.

Continue reading