Cime’eh (Cemooh)

bully

Dalam budaya Minangkabau, dikenal istilah cime’eh  (mencemooh, meledek, menghina). Dalam pembicaraan sehari-hari urang awak, terkadang cime’eh dilontarkan. Terkadang memang diniatkan untuk menghina, namun seringkali hanya bermaksud candaan. Pernah saya baca di sebuah artikel, cime’eh merupakan salah satu cara orang Minang bercanda, memunculkan gelak-tawa, dan mencairkan suasana. Sebagian orang juga menilai bahwa cime’eh adalah upaya para tetua dalam menempa anak muda, agar ia lebih tahan banting. Konon berkat cime’eh orang kampung, anak-anak bujang akan bersemangat pergi merantau dan di sana mereka bekerja keras supaya ketika pulang ke kampung halaman, mereka datang sebagai orang sukses yang tak pantas lagi di-cime’eh.

Namun, saya pikir, dampaknya tidak selalu baik. Menghina jelas berbeda dengan kritik atau penilaian terhadap orang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menghina bermakna merendahkan, memandang rendah (hina, tidak penting), memburukkan nama baik orang, atau menyinggung perasaan orang (seperti memaki-maki, menistakan).

Ini cerita ayah saya. Dulu, ketika SMP gurunya bertanya, “Apa bahasa Inggrisnya ‘meja’?” Ayah dengan penuh semangat menjawab, “Table!” Pak guru menimpali, “Apa?? Tabek?” [kolam ikan]. Sontak semua teman sekelas tertawa.  Sejak itu, ayah saya jadi antipati pada pelajaran bahasa Inggris. Akibatnya ketika sudah jadi PNS, ayah berkali-kali melepas kesempatan tugas ke luar negeri karena tidak mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Continue reading

[Parenting] Membeli Karya Anak

IMG20170604115046
Sharing sedikit lagi ya, semoga ga bosen. Karena di status sebelumnya mengutip Stephen King, saya teringat bahwa King waktu kecil rajin menulis dan tulisan itu ‘dibeli’ oleh ibunya.
 
Ini saya copas dari tulisan lama saya. King dalam buku “Stephen King on Writing”, menulis, “Punya seseorang yang mempercayaimu dapat membuat perubahan besar. Mereka tak harus menyusun pidato. Hanya percaya saja biasanya sudah cukup.”
 
King adalah penulis lebih dari 30 buku best-seller (yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia) ternyata bukan seorang yang melewati masa kecil secara ‘normal’. Ibunya single parent dan mereka sering pindah-pindah tempat tinggal. Namun, King bisa tumbuh menjadi penulis besar karena ternyata ibunya SANGAT menghargai tulisan-tulisannya. Tulisan King kecil diapresiasi ibunya (bahkan ibunya membeli karya King kecil seharga 25 sen untuk tiap cerita).
 

[Parenting] Mendidik Anak Sempurna (?)

IMG20170424080620

Ini sharing ala ibuk-ibuk ya… Ga usah ditanggapi dengan tegang. Jadi gini, barusan muncul di timeline FB, status orang, “saya kenal sama anak-anak muda yang pemikirannya cemerlang…rajin update status.. tapi mereka itu ga peduli sama urusan rumah, ga bantu-bantu ibunya, idealismenya ga terealisasi di kehidupan nyata.”

Saya ga ingin menilai negatif atas status ini. Saya pingin membahas dari sisi positif saja. Bahwa memang mendidik anak itu beraaaat… Manusia ga ada yang sempurna, tapi kita ortu perlu berupaya mendidik anak sesempurna mungkin. Banyak sekali aspek yang harus kita kembangkan dalam diri anak-anak. Jangan merasa sudah ‘selesai’ ketika anak kita pinter akademis, pinter nulis, pinter ini-itu. Kalau ustad Harry Santosa merumuskan ada sekian fitrah anak yang musti dikembangkan ortu: fitrah keimanan, bakat, belajar, seksualitas, perkembangan, estetika, sosial dll.

Continue reading

Afi, Plagiarisme, dan Logical Fallacy

Close-up  of young beautiful woman hands writing and work with laptop computer.Afi Nihaya Faradisa adalah seorang facebooker yang sangat terkenal karena status-statusnya di-like puluhan ribu orang. Tulisannya yang jadi hits berjudul ‘Warisan’. Saya tidak sepakat 100% dengan isinya, tapi menurut saya, sah-sah saja orang berpendapat dan berproses.  Dan sebuah tulisan yang baik (bukan hoax atau hate speech), selayaknya ditanggapi dengan baik dan beradab. Tapi anehnya, tulisan Afi ini mendatangkan bully-an dahsyat. Akun FB nya sempat down karena direport ramai-ramai.

Lalu, Afi menjadi sangat terkenal, masuk TV dan diwawancarai media dan bahkan masuk TV, acara Rosi dan Mata Najwa. Dalam acara itu, sekilas saya lihat Afi mampu memberikan pendapat dengan jelas, jadi ‘cocok’ dengan tulisannya. Dalam arti, apa yang ia tulis memang terinternalisasi dalam dirinya sehingga ia mampu menyampaikan pula dengan lisan.

Eh, tiba-tiba muncul tuduhan bahwa tulisan Afi itu plagiat. Banyak sekali yang komen, simpang siur, entah benar copas entah tidak. Saya tidak ada waktu untuk mengikuti intens. Tapi, ada hal-hal yang membuat saya miris.

Jadi ini komentar saya.

Continue reading

Kisah-Kisah Nyata tentang Radikalisasi Anak Muda

selamatkan anak-anak kitaKisah-kisah berikut ini nyata, saya kumpulkan dari teman-teman yang nyata. Semoga kita, terutama para orang tua, bisa mengambil hikmah dan menjaga anak-anak kita baik-baik.

Ibu I, suatu hari mengecek sebuah grup WA di hape keponakannya. Grup tersebut adalah grup siswa-siswi sebuah SMP. Didapatinya, kata gantung dan penggal biasa diucapkan anggota grup. Foto penggalan kepala juga di-share (kemungkinan korban teroris di Suriah). Saat ia mengadukan hal ini kepada ibu si anak, ternyata ibunya biasa saja. Menurut si ibu, adalah baik bila anaknya sejak kecil sudah punya semangat ‘jihad’.
Continue reading

[Parenting] Melatih Anak Menulis

menulis1

Skill menulis itu penting banget, menurut saya. Bukan melulu agar jadi penulis profesional, tapi dalam berbagai lini kehidupan kita, ada banyak hal yang bisa dilalui dengan mudah bila punya skill menulis dan sebaliknya jadi beban berat ketika skill menulis kita lemah. Misalnya saja nih, nulis paper tugas kuliah, skripsi, hingga disertasi. Bukan sekali dua kali saya saksikan orang yang sebenarnya pintar banget tapi kerepotan menyelesaikan studi gara-gara kesulitan menuangkan pemikirannya dalam tulisan.

Karena itu sejak anak-anak masih kecil sudah saya latihkan skill menulis kepada mereka. Berikut ini sekedar sharing, semoga bermanfaat buat ayah bunda.

Continue reading

Jalan-Jalan di Balikpapan

Habis dari Palembang, saya dapat undangan seminar di Balikpapan. Kali ini saya dianter si Akang. Anak-anak ditinggal di rumah, saya titipkan ke bi Elin yang biasa bantu-bantu di rumah kami. Hm, jadi serasa honeymoon gitu deh 😀

Tiba di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman,  waaah… airportnya modern dan keren banget, serasa di Doha atau KLIA gitu deh. Bisa lihat foto-fotonya di sini. Saya sempat berfoto-foto, tapi entah dimana tersimpannya. Selain ini sudah beberapa bulan yang lalu, dan saya memang payah dalam menyimpan file, selalu saja terserak dimana-mana.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, saya dan si Akang pinjam motor dari penjaga penginapan, dan jalan-jalan keliling kota. Tujuan utama, pingin cari pantai, tempat wisata favorit saya. Pantai yang kami tuju ada di pusat kota, jalan Sudirman. Kami menyusuri ruas-ruas jalan protokol yang lebar, asri, bersih, dan sepi banget.

Continue reading