Belajar di Waktu Tua…

Sejak beberapa pekan yang lalu, saya mengikuti kelas menghapal Al Quran, khusus emak-emak. Dalam dua jam pertemuan yang hanya sekali seminggu, kami berusaha menghapal satu halaman plus arti dan tafsirnya. Hasilnya? Benar juga kata pepatah, “Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, belajar di waktu tua, bagaikan mengukir di atas air.” Suwer, saya lupa….melulu! Hapal halaman 2, halaman satunya lupa. Apalagi, sekarang saya sudah sampai pada halaman 13. Jangan tanya apa bunyi ayat halaman-halaman sebelumnya. Saya ingin menyerah dan berhenti saja. Setan berbisik, “Ngapain sih, repot-repot! Udah emak-emak, juga…” Tanya sama suami, dasar orang Sunda, “Yah…terserah Mamah ajah!”

Rabu pekan lalu, saya menyerah dan bolos sekolah. Soalnya, tidak ada satu ayatpun yang menempel di kepala, padahal pasti akan dites sama Bu Guru. Sore ini (hari Jumat adalah hari libur di sini), saya berusaha bangkit lagi dan mulai menghapal lagi. Susahnye…. kepala saya rasanya mau pecah. Tetapi, masak sih, saya harus mengikuti bisikan setan? (Jadi ingat review terbarunya Indra.) Saya mencoba mencari-cari sesuatu untuk dijadikan motivasi.

Pertama…untuk memberi contoh pada Kirana. Mana mungkin kita berharap anak kita cinta pada Al Quran, kalau emaknya males buka Quran?

Kedua…untuk memberi ketenangan pada jiwa. Kata suami saya, sejak saya ikut kelas Quran, saya cenderung nggak suka ngambek lagi.

Ketiga…apa ya? Akhirnya saya buka internet (Alhamdulillah, ada internet, buku paling pintar sedunia, tapi hati-hati pada internet addict!). Saya menemukan hadis-hadis yang menyejukkan jiwa berikut ini.

“Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarnya” (Hadith riwayat Bukhari)

“Mereka yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir didalamnya maka ia bersama para malaikat pencatat yang mulia. Mereka yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia tidak lancar bacaannya dan payah baginya untuk membaca maka untuknya dua pahala.” (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

“Bacalah Al-Qur’an kerana sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (Hadith riwayat Muslim)

“Tiada ada hasad kecuali pada dua perkara : Orang yang Allah berikan kepadanya Al-Qur’an maka dia membacanya siang dan malam. Dan orang yang Allah berikan kepadanya harta maka ia menafkahkannya siang dan malam.” (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

“Barangsiapa membaca sehuruf dari Al-Qur’an maka untuknya satu kebajikan, dan setiap kebajikan digandakan sepuluh kali. Aku tidak berkata Alif-Lam-Mim itu satu huruf, tetapi Alif adalah huruf, Lam adalah huruf dan Mim adalah huruf.” (Hadith riwayat Tarmidzi)

“Berkata Allah swt. : Sesiapa yang disibukkan dengan membaca Al-Qur’an dan mengingati Aku daripada meminta sesuatu dari Aku, maka Aku akan memberikannya lebih baik dari apa yang diminta oleh orang lain. Dan kelebihan perkataan Allah (Al-Qur’an) atas perkataan-perkataan lain adalah seperti kelebihan Allah atas makhluknya.” (Hadith riwayat Tarmidzi)

“Bacalah Al-Qur’an kerana Allah swt tidak mengazabkan hati yang menyimpan Al-Qur’an. Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah jemputan Allah. Siapa yang mendatanginya maka ia akan merasa keamanan. Dan barangsiapa yang cinta akan Al-Qur’an maka bergembiralah.” (Hadith riwayat Ad-Darimy)

Abu Umamah meriwayatkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bacalah oleh kamu al-Quran, sesungguhnya (al-Quran) itu datang pada hari kiamat menjadi syafaat kepada pembacanya.” (Hadis riwayat Muslim)

“Tidak berkumpul satu kaum di suatu rumah dari rumah Allah (masjid) yang membaca al-Quran dan saling mempelajarinya antara mereka melainkan diturunkan ke atas mereka ketenangan, diselubungi rahmat, dikelilingi malaikat rahmat dan Allah mengingati mereka pada siapa di sisi-Nya.” (Hadis riwayat Muslim)

“Sesiapa yang membaca al-Quran dan beramal dengan isi kandungannya, dianugerahkan kedua ibu bapanya mahkota pada hari kiamat. Cahayanya (mahkota) lebih baik daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Kalaulah yang demikian itu matahari berada di rumah kamu (dipenuhi dengan sinarannya), maka apa sangkaan kamu terhadap yang beramal dengan ini (al-Quran).” (Hadis riwayat Abu Daud)

Baiklah Ya Allah, saya tidak akan bolos sekolah lagi….

Arti Sebuah Kebebasan

Semalam, saya menonton di sebuah film dokumenter tentang Mordechai Vanunu, orang Israel yang membocorkan rahasia proyek senjata nuklir di Reaktor Dimona milik Israel. Pertama, saya merasa biasa-biasa saja. Pekerjaan saya sehari-hari di IRIB telah membuat saya merasa “kenal” dengan Reaktor Dimona. Saya tahu bahwa reaktor nuklir itu dibangun Israel atas bantuan AS dan Perancis; bahwa usia reaktor yang sudah hampir 30 tahun itu, sudah tidak layak beroperasi dan setiap saat bisa memuntahkan radiasi di area yang sangat luas; bahwa minimalnya, pada saat 1986, reaktor itu sudah memproduksi 200 hulu ledak nuklir, entah berapa persediaan mereka saat ini, bla…bla..bla…

Namun, film itu menjadi menarik ketika Vanunu menceritakan pengalaman batinnya. Dia mulai bekerja di reaktor nuklir Dimona sejak tahun 1976. Ketika ia mengetahui bahwa reaktor itu memproduksi senjata nuklir, batinnya mulai memberontak. Secara diam-diam, ia mengambil 57 foto (dan ini merupakan satu-satunya rangkaian foto bagian dalam reaktor Dimona yang sampai ke dunia luar hingga kini). Dia lalu memutuskan berhenti dari tempat kerjanya tersebut, dan hijrah ke Australia, sambil membawa rol film rahasia itu. Di benua Kangguru itu, ia masuk Kristen dan bekerja sebagai sopir taksi. Dia pun kembali bergulat dengan batinnya sendiri. Bila ia membocorkan rahasia ini, nyawanya menjadi taruhan. Namun bila dia diam saja, nyawa seluruh umat manusia di dunia berada dalam ancaman. Akhirnya, Vanunu mengambil pilihan pertama: ia menyerahkan foto-foto itu kepada wartawan Sunday Times, sebuah surat kabar yang berpusat di London. Vanunu pun dipanggil ke London untuk dikonfirmasi dengan para pakar nuklir Inggris untuk membuktikan kebenaran laporannya.

Sunday Times bahkan juga mengirimkan pakar ke Israel, untuk mengecek identitas Vanunu dan reaktor Dimona. Namun inilah kesalahan besar Sunday Times, dan inilah awal dari malapetaka yang menimpa Vanunu. Mossad, Dinas Rahasia Israel, mencium jejaknya dan mengirimkan seorang agen cantik. Pada saat itu, kondisi psikologis Vanunu sangat down. Ia benar-benar ketakutan. Ia merasa dikhianati oleh Sunday Times yang tidak kunjung menerbitkan berita mengenai senjata nuklir Israel. Ia merasa sendirian. Si cantik agen Mossad itu datang menawarkan cinta dan Vanunu pun terpikat. Ia mau saja diajak ke Roma untuk berlibur. Di sana, Vanunu ditangkap dan diselundupkan dengan kapal ke Israel.

Pada tanggal 5 Oktober 1986, Sunday Times memasang sebuah headline: “Revealed: The Secrets of Israel’s Nuclear Arsenal.” Dunia pun gempar. Namun, di mana Vanunu? Dia saat itu berada di sebuah sel sempit, dengan lampu super terang yang bersinar 24 jam, yang membuatnya tidak bisa tidur. Dia dilarang bicara dengan siapapun. Dia tidak tahu hari, jam, detik. Dia tidak mendengar apapun, tidak melihat apapun. Dua setengah tahun ia menjalani kehidupan seperti ini. Mentalnya jatuh, jiwanya terkoyak. Namun ia bertahan.

Setelah melewati dua setengah tahun penyiksaan itu, dia menjalani pengadilan. Dia sama sekali tidak berhak berbicara satu patah katapun. Dia berkali-kali diberangus, ketika berusaha meneriakkan suatu kalimat. Vonis pun jatuh. Dia harus menjalani kehidupan penjara hingga tahun 2004. Selama 18 tahun masa penjara, 11 setengah tahun di antaranya, dilaluinya dalam sel isolasi. Sendiri. Namun ia bertahan.

Saya terus menatap layar televisi. Saya lihat rekaman ketika Vanunu dibebaskan tanggal 21 April 2004. Rambutnya memutih. Wajahnya yang dulu tampan, kini mulai keriput. Saya perhatikan matanya yang memancarkan ketegaran, meski terkadang memancarkan kepahitan tak terkira ketika menceritakan pengalamannya di sel isolasi. Saya bertanya-tanya, kekuatan apa yang membuatnya bisa bertahan menghadapi siksaan psikis selama 18 tahun itu? Kekuatan apa yang membuatnya tetap menjadi manusia waras dan bahkan langsung melanggar peraturan ketika ia dikeluarkan dari penjara: ia langsung melakukan wawancara dengan wartawan asing. Bila dia seorang muslim, akan mudah dicari jawabannya, mungkin keimanan pada Allah, mungkin jihad, mungkin…entahlah.

Di akhir film, baru saya tahu jawabannya: “Saya tidak mau mereka (Israel) merenggut kebebasan saya. Saya adalah manusia bebas dan tidak ada siapapun yang bisa mengambil kebebasan itu dari diri saya.”

Cintaku di Rumah Susun

Beberapa hari yang lalu, seorang polisi datang ke apartemen kami dan menyampaikan bahwa ada tetangga yang mengadukan keributan di apartemen kami sehingga mengganggu kententeraman mereka! Dengan dihuni 25 keluarga dan sekitar 35 anak kecil, seharusnya bukan hal yang aneh, bila apartemen kami ribut. Lagipula, memangnya, penghuni apartemen lain tidak punya anak? Tapi, masalahnya, ini Teheran dan bukan Jakarta.

Penduduk Teheran umumnya tinggal di kompleks perumahan yang disebut apartemen (kata “apartment” juga diadopsi oleh bahasa Persia). Mulai dari yang kecil dan bobrok, hingga yang mewah ala Park Royale di Jakarta, semua disebut apartemen. Sampai teman saya di Indonesia, waktu saya perlihatkan foto tempat tinggal saya dengan berkata, “Ini apartemen tempat tinggal kami di Iran,” dia dengan spontan menjawab, “Rumah susun begini dibilang apartemen, gaya amat?!”

Kami tinggal di sebuah apartemen gratisan milik kantor, yang khusus diperuntukkan bagi para pegawai asing. Ketika saya pindah ke sana dua tahun yang lalu, kualitas gedung ini sudah sangat menurun, dinding-dindingnya mulai retak-retak dan saluran air sering bocor. Lebih apes lagi, saya kebagian di basement, yang berhadapan langsung dengan garasi. Untungnya, dari 25 penghuni apartemen ini, hanya tiga orang yang punya mobil. Itupun diparkir di sebelah luar garasi, bukan pas di depan rumah saya.

Tiap sore (selain di musim dingin, tentunya) “halaman depan” rumah saya, selalu dipenuhi anak-anak multiras. Anak-anak Indonesia, Cina, Kenya, Nigeria, Tanzania, Bangladesh, Pakistan, Malaysia, Bosnia, semua tumplek blek di halaman, main bola, main skate, atau kejar-kejaran. Anda tidak bisa berkata, “jangan ribut” kepada mereka, karena mereka tidak akan paham dan tidak akan peduli. Para ibu pun tidak peduli pada keributan anak-anak mereka. Bapak-bapak? Mereka malah ikut meramaikan garasi dengan main ping-pong! Hasilnya, jadilah tempat tinggal kami lebih mirip dengan rumah susun di Jakarta, dibandingkan dengan sebuah “apartemen”. Atau dengan kata lain, apartemen kami adalah miniatur sebuah lingkungan khas negara-negara Dunia Ketiga.

Kondisi seperti ini anehnya, tidak kami jumpai di apartemen khusus warga Iran (padahal Iran kan juga termasuk negara Dunia Ketiga?). Apartemen mereka sepi dan tenang. Kalau anak-anak mereka ingin bermain, mereka akan pergi ke taman-taman bermain yang tersedia di hampir setiap sudut jalan. Kami para ibu-ibu telah berkali-kali melakukan rapat membahas masalah keributan rumah susun kami ini, tapi tidak ada faedahnya. Everything just goes on the way it was.

Saya sendiri, kadang memang merasa terganggu dengan keberisikan yang luar biasa ini. Pernah, kami berniat untuk kembali mengontrak di apartemen lain yang kondisinya lebih bagus tapi Kirana protes, karena dia tidak mau tinggal jauh dari Baheshti, sahabatnya. Selain itu, saya teringat pengalaman ketika mengontrak di apartemen lain dan tinggal bersama-sama dengan orang Iran. Hanya karena sandal dan sepatu berserakan di depan pintu rumah pun, kami sudah ditegur tetangga. Alasannya, mengganggu pemandangan. Jadi, sandal dan sepatu harus disimpan di dalam rumah, atau sediakan rak khusus di depan pintu. Saya juga jarang bergaul dengan mereka, karena saya lihat, ibu-ibu tetangga pun tidak ada yang suka “nenangga”.

Sebaliknya, di apartemen saya sekarang ini, “nenangga” malah jadi kewajiban sosial. Saya sering diomelin tetangga karena hampir tidak pernah “nenangga”. Kalau sedang lapar dan tidak punya nasi (belum masak, maksudnya), tinggal bawa piring ke rumah tetangga, “Minta nasi dikit, dong!”. Mau bikin acara ulangtahun anak, tidak perlu repot-repot beli piring dan gelas tambahan, tinggal pinjam tetangga kiri-kanan, sekaligus minta bantuan untuk masak-masak. Mau jalan-jalan berdua dengan suami, tinggal naruh anak di rumah tetangga. Kehabisan bawang, tinggal nyuruh anak, “Rana…ke rumah Ameh (tante) Eni sana, bilang, Mama mau pinjam bawang satu aja!” Tiap malam Jumat, diadakan Doa Kumail bersama. Seusai baca doa, tuan rumah akan menyediakan makanan kecil dan acara dilanjutkan dengan ngobrol ngalor-ngidul sampai larut malam.

Akhirnya, saya memutuskan bahwa rumah susun yang rada-rada bobrok dan berisik ini lebih pas buat saya. Saya merasa banyak teman, banyak saudara. Rasa kesepian karena jauh dari tanah air dan sanak saudara, sama sekali tidak saya rasakan di sini. Pendeknya, di rumah susun ini, saya merasa berada di habitat saya sendiri.

Malaikat-Malaikat Di Sekitar Kita

Seperti ibu saya dulu, saya juga kurang suka kalau Kirana makan di rumah tetangga. Soalnya, khawatir kelak jadi kebiasaan. Malam ini, sepulang main dari rumah tetangga, saya mengajaknya makan malam, dia menolak. “Hayo…makan di rumah Eva, ya?” kata saya. Spontan dia menjawab, “Nggak!” Lalu, tiba-tiba, dia menyambung dengan kata-kata yang membuat saya terheran, “Eeeh…iya, nanti dicatat … Iya Ma…, Kirana makan di rumah Eva!” Saya tanya lagi, “Apanya yang dicatat, Rana?” Dia menjawab, “Kan kalau Kirana bohong, nanti dicatat sama peri, lalu bukunya dikasihkan ke Allah, lalu Allah nggak sayang sama Kirana.”

Saya benar-benar takjub. Lalu, saya ingat, kemarin di kelas Quran-nya, Kirana memang diajari oleh Bu Guru ayat, “Wa inna alaykum lahaafidziin, kiraaman kaatibiin, ya’lamuuna maa taf’aluun” (Sesungguhnya untukmu semua ada beberapa penjaga. Malaikat yang mulia sebagai pencatat. Mereka mengetahui apa saja yang kamu semua lakukan–Q.S. Al-Infithar:10-12). Kirana menyebut malaikat itu peri, karena dalam bayangannya, malaikat itu sama seperti peri yang menolong Cinderella (dalam buku ceritanya).

Sejak kecil, saya juga sudah tahu bahwa ada dua malaikat di sisi kiri dan kanan kita. Tapi, fakta itu sering sekali terlupakan begitu saja. Saya lebih sering merasa sendiri, padahal ada dua makhluk yang selalu membuntuti saya kemana-mana. Keduanya mencatat apapun yang saya lakukan, yang…astaghfirullah…lebih banyak buruk dan celanya. Padahal, bila kesadaran ada dua bodyguard di kiri-kanan bisa melekat dengan kuat di benak ini, pasti setiap detik saya akan berbuat kebaikan. Sayangnya, sekali lagi, betapa seringnya saya melupakan kehadiran mereka!

Kini, tiba-tiba putri saya yang baru berumur 4,5 thn itu, dengan segala kepolosan dan kesuciannya, seolah-olah telah menampar saya dan membangunkan saya dari kelalaian itu. Sayapun browsing di internet (alhamdulillah, ada internet!) dan menemukan beberapa poin yang disarikan dari berbagai ayat Quran dan hadis Rasulullah SAWW berikut ini.

1. Malaikat menyertai manusia kemanapun kecuali ketika kita (maaf) buang air dan berhubungan suami-istri.

2. Malaikat membisikkan kebenaran kepada hati manusia (sebagaimana setan memiliki kemampuan untuk membisikkan kesesatan).

3. Malaikat selalu mendoakan manusia yang soleh. Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan! Maha luas rahmat dan pengetahuan-Mu, ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu. Peliharalah mereka dari siksa neraka jahanam. Ya Tuhan kami! Masukkanlah orang-orang yang sedemikian tadi dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan juga kepada orang-orang yang baik dari nenek moyang mereka, istri-istri serta keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mulia lagi Bijaksana. Peliharalah mereka dari perbuatan-perbuatan yang buruk. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari perbuatan-perbuatan yang buruk pada hari itu, maka sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan rahmat padanya, dan yang demikian adalah suatu keuntungan yang amat besar.” (Q.S. Al-Ghafir:7-9)

4. Malaikat setiap pagi mendoakan manusia agar manusia bersedekah (karena itu kita disunnahkan bersedekah tiap pagi) . Rasulullah saw. bersabda, “Pada setiap pagi para hamba Tuhan pasti disertai dua malaikat yang berdoa. Yang satu berkata, ‘Ya Allah! Berikanlah kerusakan terhadap orang yang enggan membelanjakan hartanya (untuk sedekah).’ Sedang yang lainnya berkata, ‘Ya Allah! Berikanlah ganti terhadap orang yang membelanjakan hartanya (untuk kebaikan).”

5. Malaikat mengaminkan orang-orang yang shalat.

6. Malaikat turun dan mendampingi kita ketika kita membaca Al Quran.

7. Ada malaikat-malaikat khusus yang mencari majelis-majelis zikir (pengajian dan sejenisnya). Mereka duduk di dalamnya dan berzikir bersama-sama para hadirin.

8. Malaikat memohonkan rahmat untuk kaum mukminin, terutama orang-orang yang beri
lmu.

9. Para malaikat meletakkan sayapnya untuk para penuntut ilmu pengetahuan sebab mereka menyukai apa yang dilakukan oleh penuntut ilmu pengetahuan itu.

10. Malaikat akan menjadi penggiring dan saksi bagi manusia di hari kiamat. Allah Taala berfirman, “Dan ditiuplah sangkakala, itulah hari yang dijanjikan. Dan datanglah setiap orang bersama (malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi.” (Q.S. Qaf:20-21)

Malaikat-malaikat itu ada dan bertebaran di sekeliling kita. Mungkin mereka sedang geleng-geleng kepala menyesali perbuatan dosa kita. Tapi, mudah-mudahan, mereka sedang mendoakan kita atas amal-amal baik kita. Terimakasih Kirana, peri kecilku, karena telah mengingatkan Mamamu.

Alhamdulillah, Saya Flu

Beberapa hari ini, saya terserang flu. Bete banget deh. Mau ngomong males, mau masak apalagi (nggak flu aja sudah males, apalagi di saat flu!). Rasanya ingin tidur…terus. Sayangnya, mana mungkin saya tidur terus? Jam 9 pagi, saya sudah harus siap-siap mengantar Kirana ke sekolah Quran dan duduk di kelas itu sambil setengah teler (baca: Cerita Dari Sekolah Hapalan Quran). Sementara ibu-ibu lain pada ngobrol bisik-bisik (sampai ditegur Bu Guru, hehehe, yang berisik malah para Mama), saya diem…aja merenungi rasa pusing dan letih di sekujur tubuh. Selesai kelas Quran, saya harus mengantar Kirana ke playgroup-nya, lalu saya sendiri pergi ke kantor.

Saya memang sengaja tidak minum obat apapun selain jeruk nipis dan madu. Mau ke dokter, percuma, paling dikasih antibiotik. Kata Dr. Hendrawan Nadesul, “…Bahkan di Barat, pasien yang tingkat pengetahuan medisnya sudah lebih baik, masih memerlukan peringatan terus-menerus, bahwa flu tak perlu diberi antibiotika. Hanya keputusan yang sia-sia jika semua pasien flu diberi antibiotika. Selain salah alamat, tubuh terpapar bahan kimiawi yang tidak diperlukan….Flu disebabkan oleh virus, jadi, setiap penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti herpes, cacar air, radang paru-paru oleh virus, dan banyak lagi, termasuk flu sendiri, tidak ada cara lain yang lebih mujarab selain meningkatkan daya tahan tubuh sendiri secara alami, antara lain dengan banyak beristirahat, makan menu bergizi, mengonsumsi sop, soto, minuman hangat serta jauhkan keadaan yang memapar tubuh pada suhu dingin.”

Pulang kantor, dengan langkah terhuyung-huyung, saya masuk rumah dan segera tidur-tiduran di kasur. Tapi, sekali lagi, mana bisa saya tidur. Sekitar selusin anak-anak bermain di depan rumah. Bunyi sepatu roda, teriakan, tertawa, bercampur baur. Ditambah lagi empat bapak-bapak Indonesia main pingpong sambil tertawa-tawa persis di depan pintu. Walhasil, saya kembali pasrah dan berusaha menikmati semua rasa tidak enak di tubuh saya ini.

Tak lama kemudian, seusai main pingpong, suami saya membuatkan sop ayam yang uwenaaakkk…banget. Tiba-tiba saya teringat pada cerita teman saya, sophia, mengenai nasib perempuan-perempuan yang harus cari nafkah dan harus pula mengurus segala urusan di rumah. Dan tiba-tiba, saya merasa menjadi orang yang beruntung. Alhamdulillah…saya punya suami yang baik begini. Alhamdulillah…saya hanya sakit flu, bukan penyakit lain yang mengerikan. Meskipun berisik, tapi, alhamdulillah, saya masih punya tempat berteduh dan bisa tidur-tiduran dengan santai. Alhamdulillah…makanan hangat tersedia di depan saya. Juga, siang tadi, alhamdulillah, dalam kondisi merana seperti ini saya tidak perlu berdiri berjejalan di bis atau bete nunggu angkot lewat (sebagaimana yang sering saya rasakan di Indonesia), karena ongkos taksi di Iran super murah bila dibandingkan Indonesia. Alhamdulillah…saya masih punya kekuatan mengantar Kirana sekolah dan mengerjakan tugas-tugas di kantor.

Alhamdulillah…saya masih bisa bersyukur…