Setelah Beriman Pada Allah, Lalu Apa?

Kemarin, saya mengikuti majlis-e aza atau majlis duka cita atas wafatnya Rasulullah SAWW dan syahidnya Imam Hasan a.s. Seperti biasa, setiap kali saya hadir di majlis-e aza, selalu saja ada oleh-oleh yang saya bawa pulang. Kali ini, saya disentakkan oleh sebuah pemahaman baru (yang mungkin dulu pernah saya dapatkan, tapi terlupakan begitu saja). Khanum Maliki, ustadzah kesayangan saya (baca: Perempuan Iran-2), dalam kesempatan itu membacakan tafsir surat Al-Isra:23, yang artinya, “Tuhanmu telah menetapkan, janganlah kalian menyembah selain Dia. Berbuat baiklah kepada ibu-bapakmu. Jika salah seorang dari keduanya, atau keduanya, mencapai usia tua, janganlah katakan kepada mereka “cis” (uf), dan janganlah membentak mereka. Berbicaralah kepada mereka dengan kata-kata yang mulia.”

Dalam ayat ini, penghormatan kepada orangtua disejajarkan dengan penghambaan kepada Allah. Artinya, seseorang tidak akan disebut sebagai hamba Allah selama dia tidak memperlakukan orangtuanya dengan penuh hormat dan kasih sayang. Saya jadi ingat pada ayat yang dihapal Kirana di Jamiatul Quran “Wa qul rabbir-ham humaa, kamaa rabbayaanii shaghiira” (Dan katakanlah, Ya Allah, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka mengasihiku di waktu kecil).

Setelah saya melahirkan Kirana, saya baru tahu penderitaan apa yang dulu diderita ibu saya ketika masih kecil (yang membuat saya menyesali berbagai perilaku salah saya kepada beliau dulu). Belum hilang rasa sakit akibat melahirkan, saya harus menanggung sakit ketika Kirana menyusu. Belum hilang rasa lelah pasca melahirkan, saya harus bergadang tiap malam karena Kirana selalu rewel. Dalam keadaan lemah, saya harus mencebokinya tiap sebentar dan memandikannya (untungnya, zaman sekarang, ada popok sekali pakai. Bagaimana nasib saya, jika ditambah dengan pekerjaan mencuci popok?) Di negeri asing ini, saya dan suami harus mengurus bayi merah itu sendiri, dengan 1001 kebingungan dan ketidaktahuan.

Belum genap seminggu usia Kirana, seorang tetangga datang dan mengatakan bayi saya kuning, sehingga harus segera dibawa ke dokter. Saya sendiri tidak paham, kuning apa yang dimaksud si tetangga, tapi saya khawatir luar biasa. Dalam keadaan masih menanggung sakit, saya harus berjalan keluar rumah membawa Kirana ke dokter bersama suami; suatu tindakan yang kemudian saya sesali. Kami bertemu dengan seorang dokter yang paranoid. Dia memerintahkan dilakukan serangkaian tes darah untuk Kirana. Saya menangis tersedu melihat bayi kecil berusia seminggu itu menjerit nyaring ketika jarum suntik menembus tubuhnya.

Ternyata tidak ada apa-apa. Dan teman saya, Diana, yang setia memberi petunjuk mengenai perawatan bayi, mengomeli saya. “Makanya, bayimu diajak berjemur, biar nggak kuning!” Tapi, dalam keadaan saya masih setengah mati begini, mana mungkin saya berjemur? Apalagi, sekarang kan musim dingin?! Teman saya yang lain memberi saran agar buaian bayi diletakkan di bawah lampu neon.

Kini, setelah empat tahun membesarkan seorang anak dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, saya bisa membayangkan, betapa sakitnya perasaan para orangtua yang ketika mereka beranjak tua, oleh anak mereka, mereka malah “disimpan” di panti jompo!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s