Breaking news: muslimah pertama di puncak Everest

Setelah perempuan Iran berhasil jadi muslimah pertama peraih Nobel (Shirin Ebadi), kini, puncak Everest pun untuk pertama kalinya ditaklukkan oleh muslimah asal Iran. Setelah dua bulan kedinginan di pegunungan Everest untuk menunggu cuaca yang bersahabat, kemarin tanggal 30 Mei 2005, jam 10:45 waktu Kathmandu, dua muslimah berhasil menancapkan bendera di puncak Everest setinggi 8,885 meter. Kedua muslimah itu merupakan bagian dari tim sebanyak 8 orang (di antaranya juga coaches mereka, laki-laki).

(sumber: Tehran Times, 31 May 2005)

Updated News:

Tanggal 13 Juni 2005, tim Everest Iran sudah kembali ke tanah air mereka. Ternyata, yang berhasil mencapai puncak itu ada delapan orang (dari 17 anggota tim keseluruhan), dua di antaranya muslimah bernama Farkhande Shadeq dan Laleh Keshavarz. (Anggota tim yang perempuan seluruhnya ada enam orang). Mereka terpaksa mendekam di pegunungan Everest selama 2 bulan karena cuaca yang sangat buruk, bahkan terburuk selama 20 tahun terakhir. Tim-tim dari negara-negara lain sudah pada pulang kampung, tapi tim Iran mencoba bertahan. Akhirnya, ada satu hari cuaca agak lumayan, mereka pun mendaki ke puncak. Di tengah jalan, mereka dihadang longsoran salju, sehingga harus balik lagi ke base-camp. Keesokan harinya, cuaca juga lumayan bagus, kedelapan pendaki itu mendaki kembali dan berhasil sampai di puncak dan menancapkan bendera bertuliskan ‘Allah’. Ketika anggota tim itu diwawancarai televisi, apa kunci keberhasilan mereka, semua seperti kompak menjawab, “Doa!”

18th Tehran International Book Fair

Seperti biasanya, sejak 18 tahun yang lalu, Iran menyelenggarakan pameran buku internasional. Tahun ini, pameran itu diikuti oleh 750 penerbit asing (non-Iran), yang memamerkan 162.000 judul buku terbitan tahun 2003 dst. Penerbit Iran yang berpartisipasi dalam pameran ini berjumlah 1818 penerbit, yang memamerkan 100 ribuan judul buku. Lokasi pameran yang asri, di dekat pegunungan Alborz, membuat pengunjung tidak sekedar datang untuk melihat buku, melainkan sekalian untuk piknik keluarga. Tak heran bila banyak keluarga yang bawa tikar dan makan siang ketika datang ke pameran, lalu duduk-duduk di hamparan rumput yang hijau. (Kami datang pada hari kerja, jadi nggak ada foto2 keluarga yang lagi ngampar ^_^). Uniknya lagi, beda dengan Indonesia, pedagang makanan di kompleks pameran ini sama sekali tidak menaikkan harga. Jadi, kalau mau jajanpun, tidak akan menguras kantong.

Di pameran ini juga diselenggarakan temu muka dengan sastrawan, sanggar menggambar untuk anak, malam seni, seminar para penerbit int’l, dan seminar sastra. Kirana sempat ikut sanggar menggambar dan diberi hadiah mainan.

….selanjutnya silakan klik di sini

Narco-terrorist

Koran Tehran Times edisi 10 Mei menuliskan sebuah istilah baru (saya baru dengar, maksudnya): narco-terrorist. Pasalnya, Iran benar-benar kewalahan menghadapi sindikat penyelundup narkotika yang tak jera-jeranya menjadikan negara ini sebagai jalur penyelundupan narkotika dari Afganistan dan Pakistan ke negara-negara Eropa dan Teluk. Setiap tahunnya, Iran sudah mengeluarkan dana 800 juta dolar (!) yang ditanggungnya sendirian. Sementara, negara-negara adidaya Eropa dan negara-negara Teluk yang kaya-raya –yang diuntungkan karena Iran pasang badan– hanya memberikan “penghargaan” dan “dukungan”, tapi tidak ada aliran dana yang keluar dari kocek mereka.

Bukan cuma rugi uang dalam jumlah sangat besar (pasalnya, Iran memang bukan negara kaya), hingga kini, 3000 tentara Iran telah gugur sebagai syudaha dalam memberantas sindikat narkotika internasional yang bersenjata lengkap itu. Belum lagi dampaknya terhadap rakyat Iran sendiri. Menurut data dari Iran Drugs Control Headquarters, saat ini ada dua juta pecandu narkotik di Iran. Anehnya (atau, wajarnya), justru setelah Taliban tumbang dan AS bercokol di Afghanistan, arus penyelundupan narkotika di Iran meningkat tajam. Hanya dalam satu tahun terakhir saja, 260 ton (!) narkotika (morphin, hashish, dan jenis-jenis lainnya) berhasil digulung oleh tentara Iran. Sepertinya, bukan tanpa alasan ada isu-isu berkembang bahwa salah satu sumber pendanaan militer AS di Afghanistan adalah bisnis nakotika

Bila kita menengok sejarah, kita akan mendapati bahwa narkotika adalah senjata klasik yang telah digunakan sejak tiga abad lalu (!) oleh imperialis Barat dalam melumpuhkan suatu negara yang ingin dijajahnya. Pada abad ke-18, untuk mendobrak Cina, Inggris menyelundupkan bahan candu ke daratan Cina. Akibatnya, jutaan warga Cina menjadi pecandu dan perekonomian lumpuh. Pemerintah Cina berusaha memerangi Inggris yang terang-terangan mengirimkan candu ke Cina, dan meletuslah Perang Candu. Harun Yahya menulis, “Perang Candu (1839-1842) ini menjadikan Cina bangkrut. Cina dipaksa menyerah akibat ketidakcakapan tentaranya setiap kali berhadapan dengan pasukan asing dan diharuskannya mengabulkan permintaan mereka yang terus bertambah. Orang-orang Barat perlahan membentuk pusat-pusat pemukiman di dalam wilayah kekuasaan Cina sejak tahun 1842. Mereka merampas wilayah-wilayah pelabuhan utama dari tangan Cina, menyewakan lahan-lahan mereka, dan mengharuskan negara tersebut membuka diri terhadap dunia luar dengan cara yang paling mendatangkan keuntungan bagi mereka sendiri. Akibat dari ini semua, kemiskinan melanda negeri, pemerintahan lemah (dan banyak hutang), dan hilangnya secara perlahan-lahan wilayah kekuasaan Cina.”

Kini, marilah kita menengok negeri tercinta, Indonesia. Menurut data dari Granat (Gerakan Antinarkotika dan Obat-Obatan Terlarang), jumlah pengguna narkoba saat ini di Indonesia sekitar 4 juta orang. Jika setiap pengguna narkoba mengkonsumsi 1 gram/per hari narkoba, berarti ada 4 ton narkoba yang beredar perhari di Indonesia! Artinya, dalam sebulan omzet penjualan narkoba di Indonesia 120 ton! (Inipun konon hanya puncak gunung es, artinya jumlah riilnya jauh lebih besar) Siapakah tangan-tangan jahat yang dengan leluasa menyebarkan narkotika dalam jumlah sedemikian besar di Indonesia? Itulah mereka, para narco-terrorists.

Agaknya, strategi imperialisme klasik kini kembali dipraktikan oleh kaum neo-kolonialisme terhadap sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia dan Iran. Konsepnya sederhana: berilah candu pada suatu bangsa, setelah miskin dan sekarat, berilah utang pada mereka, dan selanjutnya… terserah Anda!

Memasak: fitrah perempuan!

Tulisan saya yang berjudul “Feminisme dan Kesalahan Paradigma“ sempat menjadi perdebatan di sebuah milis. Gara-garanya, dalam tulisan itu saya mengangkat sebuah hadis “tidak beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada permpuan.” Saya mengutip pendapat Dr. Quraish Shihab yang mengatakan bahwa hadis itu hanya ditujukan kepada kaum Persia yang saat itu menjadikan seorang perempuan sebagai raja. Penafsiran atas hadis inilah yang menjadi perdebatan. Hampir semua peserta milis yang terlibat dalam diskusi ini (semua laki-laki, kecuali saya dan seorang bernama Melati) semuanya menolak penafsiran bahwa hadis ini untuk kaum Persia saja, melainkan berlaku untuk semua perempuan di dunia. Mereka semua sepertinya sepakat bahwa perempuan secara fitrah memang punya tugas domestik dan tidak perlu memimpin umat. Hal ini tentu saja membuat saya tersinggung.

Menurut saya pribadi, seorang perempuan berhak untuk mendapatkan kesempatan mengaktualkan kemampuan mereka masing-masing. Perempuan yang pintar dan memang kemampuannya bermanfaat dalam masyarakat, tidak seharusnya dihalang-halangi beraktivitas, apalagi dengan cara menyodorkan hadis, “Tidak beruntung suatu kaum…” kepadanya. Sebaliknya, kalau ada perempuan yang lebih suka mendekam di rumah dan menyibukkan diri dengan urusan dapur, ya silakan saja. Itu hak dia.

Saya juga paling tidak setuju kalau ada yang mengatakan bahwa memasak adalah tugas perempuan saja. Anehnya (atau, syukurnya), saya mendapat suami yang sangat egaliter (padahal, sebelum menikah kami tidak membuat komitmen apapun tentang hal ini, loh). Dia tidak segan turun ke dapur, bila dilihatnya saya masih sibuk ngetik. Bila pagi-pagi, sarapan tidak tersedia di meja, sementara saya sudah “kabur” (misalnya, mengantar Kirana sekolah Quran, atau saya sendiri pergi ke kelas Quran atau pengajian ibu-ibu RT), dia sama sekali tidak marah dan dengan santai menyediakan masakan untuknya sendiri, bahkan sekalian memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, dan mencuci piring.

Bukan berarti saya tidak pernah memasak. Tapi, karena kami sama-sama bekerja (itupun bukan karena gaji suami kurang, melainkan karena suami saya menilai, saya lebih cocok bekerja daripada disuruh mendekam di rumah), tugas-tugas domestik kami bagi dua. Karena masakan suami saya lebih enak, saya lebih memilih mencuci, membereskan rumah, dan menyetrika. Tak heran, bila saya memasak (dan itu jarang-jarang), Kirana secara spontan berkata, “Hore…Mama masak…pinter!” Bila saya menghidangkan makanan, Kirana akan bertanya, “Ini Mama yang masak?” Kalau saya jawab, iya, dia akan berkata, “Afarin, Mama!” Bahkan, ketika makan, dia tak segan memuji, “Hmmm…enak sekali, Mama!” (seolah-olah ingin memotivasi saya agar lebih rajin masak).

Saya tidak ingin mengajak Anda berdebat tentang hak dan kewajiban perempuan (cukup sudah di milis saja). Cuma, pagi ini saya menyadari sebuah fenomena yang sepertinya menjungkirbalikkan paradigma saya tentang perempuan. Pagi ini, ketika bangun, Kirana langsung pamer, “Mama, lihat rumah kita rapi! Tadi malam, Mama sudah tidur, Kirana yang beresin!” Saya tertawa dan memujinya. Tiba-tiba saya teringat sesuatu. Kirana hampir selalu main “mama-mama”-an dengan dua sahabatnya, Hamzah dan Bahesti (dua-duanya laki-laki). Kirana selalu berperan sebagai mama dan… selalu memasak!

Kirana dibesarkan dalam keluarga yang egaliter dan dia melihat sendiri bahwa Mama-nya jarang memasak. Artinya, kepadanya sama sekali tidak ditanamkan paradigma bahwa seorang perempuan harus bisa memasak dan harus melulu berkutat di dapur. Dia bahkan lebih sering melihat Papanya di dapur. Tapi, tetap saja ia memilih peran sebagai “mama” dan dengan senang hati dia memasak untuk “papa” dan “anak”-nya. Bahkan, seringkali, ketika sendirian, dia akan main masak-masakan dan menghidangkannya kepada saya dan Papanya dengan raut wajah penuh kebanggaan. Anda tahu, apa kesimpulannya? Yaitu, tugas domestik memang fitrah perempuan!

Wahai Mata, Menangislah!

Malam ini rumah saya kebagian giliran untuk penyelenggaraan Doa Kumail. Sejak pagi, suami saya sudah ribut, “Mau bikin apa Mah?” Seperti biasa, saya jawab, “Beli aja Pah, ngapain susah-susah!” Si Papah yang suka gorengan protes, “Jangan dong! Bikin bakwan aja!” Kini, giliran saya yang protes, “Pah…rumah harus diberesin…kolnya belum beli…bikin bakwan gampang, emang?!” Akhirnya, dia mengeluarkan argumen yang sudah ratusan kali saya dengar, “Mah…bakwan itu favorit orang-orang…susah sedikit kenapa sih? Idkhalus-suruur fi quluubil mukminin (mendatangkan kesenangan di hati orang mukmin) itu pahalanya besar!”

Saat saya keluar rumah, Halimah, teman sekantor (Radio Cina) plus tetangga, datang tergopoh-gopoh membawa tiga butir semangka. Karena saya buru-buru harus mengantar Kirana, dia hanya sempat berkata, “Hari ini peringatan wafatnya ayah saya. Kamu malam ini jangan masak apa-apa ya, saya yang akan menyediakan semuanya.” Tentu saja saya senang mendengarnya, bebas tugas deh!

Di restoran kantor, saat makan siang, kami duduk semeja. Halimah bertanya, “Orang Indonesia suka masakanku nggak ya?” Saya jawab, “Iya, enak kok, mirip masakan Indonesia” (*ingat bakso, somay, dll*) . “OK kalau gitu, malam ini saya masak makaroni saja, ya, biar sekalian makan malam?”

Saya menatap ngeri, makan malam?! Buat 30 orang….?! Saya langsung protes, “Halimah, kita pulang kantor jam enam, kalau nggak macet setengah tujuh sampai rumah…berarti cuma ada waktu satu setengah jam buat masak! Sudahlah, beli kueh aja!” Halimah protes, “Aku sudah niat kok!” Lalu bla…bla..bla…dia menyampaikan presentasi tentang segala jenis makanan yang akan dia sediakan malam ini (mendengarnya saja saya sudah stress, gimana masaknya?!)

Wa…ini Cina satu kok persis kayak suamiku ya, lebih suka makanan bikin sendiri daripada beli? Jangan-jangan dia punya paham sama seperti suamiku, idkhalus-surur fi … Akhirnya saya pasrah, “Tanggung jawabnya sama kamu loh!”

Hasilnya, setelah acara diundur setengah jam, pukul 20.30 teng Halimah datang (siap dengan makan malam buat para tamu!). Para tamu pun sudah berdatangan (termasuk anak-anak yang biasanya berisik, kali ini duduk dengan manis…barangkali mereka tau, saya nggak segan mengusir mereka keluar kalau ribut ). Khusus kali ini (demi keselamatan ayahnya Halimah di alam baka), kami mendahului dengan membaca Quran masing-masing satu juz dan setelah itu, baru membaca doa.

Seperti biasanya, baru pembacaan kalimat awal doa saja, Halimah sudah langsung sesenggukan. (Apalagi sekarang, mungkin karena ingat pada ayahnya, tangisnya jadi agak lebih keras…sampai bapak-bapak saya lihat juga ikut nangis). Doa Kumail memang doa yang sangat indah dan menyentuh hati, sehingga aneh sekali bila ada yang tidak menangis bila membacanya (dan sayang sekali, seringkali saya termasuk orang-orang yang aneh itu! Astaghfirullah…)

Ya Allah…aku memohon kepada-Mu

dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu

dengan kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu

dan karenanya, merunduk segala sesuatu

dan karenanya, merendah segala sesuatu

dengan kemuliaan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu

dengan kekuatan-Mu yang tak terkalahkan oleh segala sesuatu,

dengan kebesara-nMu yang memenuhi segala sesuatu

….

Ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan

Ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana

Ampunilah dosa-dosaku yang merusak karunia

Ampunilah dosa-dosaku yang menghalangi doa

….

Wahai Pemberi karunia, wahai Pe
melihara

Engkau mengetahui kelemahanku

Dalam menanggung sedikit dari bencana dan siksa dunia…

Padahal semua bencana ini hanya sebentar masanya

Maka, apakah mungkin aku sanggup menanggung siksa akhirat

yang panjang dan kekal?

….

Ya Ilahi, wahai Junjunganku, Pelindungku, Tuhanku,

Sekiranya aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu

Mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu?

….

Saya menatap Halimah yang sedang tersedu-sedu dan tiba-tiba saya merasa iri dan malu. Mengapa sulit bagi saya untuk bisa menangis seperti itu? Begitu banyakkah dosa-dosa saya? Padahal, Rasulullah s.a.w bersabda, “Tiada sesuatu pun yang lebih disukai oleh Allah selain dari dua tetesan dan dua bekas, yaitu tetesan airmata karena takut kepada Allah dan tetesan darah dalam mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas adalah bekas dalam perjuangan fisabilillah dan bekas perjuangan kewajiban kepada Allah.”(hadis riwayat Tirmizi). Wahai mata, menangislah!

PS: kalau menurut versi suami saya, saya susah menangis karena terlalu matre

Guruku Sayang Guruku Malang

Hari ini (12 Urdibehest) adalah Hari Guru di Iran, bertepatan dengan hari gugur syahidnya Murtadha Mutahhari, cendikiawan dan filosof besar muslim kontemporer. Kebetulan, hari ini bertepatan pula dengan Hari Pendidikan Nasional Indoneisa (2 Mei). Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah menyiapkan kado-kado untuk guru-guru Kirana. Untuk guru di sekolah Quran (Jamiatul Quran), para ibu sudah sepakat urunan 50.000-an perorang dan membeli sebuah koin emas (!) buat Bu Guru. Untuk guru di play group Kirana, yang jumlahnya empat orang (dua guru utama—yang mengurus Kirana dan tujuh teman sekelasnya dari pagi sampai sore, satu orang yang bertugas mengantar anak-anak ke WC, dan satu orang yang bertugas menyambut di gerbang sekolah, tiap kali Kirana datang. Tugas guru yang satu ini lumayan penting, karena dialah yang harus memberi suasana riang di hati anak ketika tiba gerbang di sekolah), saya juga merogoh kantong membeli kado, masing-masing 50.000-an pula. Untuk Bu Guru di kelas Quran saya pun, saya harus menyiapkan kado. Kesimpulannya, datangnya Hari Guru di Iran adalah saat-saat bagi orangtua untuk merogoh saku dalam-dalam.

Teman-teman saya juga urunan membeli koin emas untuk guru anak-anak mereka. Dipikir-pikir, enak kali, ya jadi guru di Iran, tiap tahun dapat kado, syukur-syukur berupa koin emas yang harganya satu juta rupiah? Atau, minimalnya, murid-murid akan datang dengan membawa sekuntum bunga. Saya jadi ingat Hari Guru di Indonesia (25 November), sejak TK sampai SD, saya tidak pernah sekalipun membelikan kado untuk guru-guru saya. Yang saya ingat tentang guru-guru saya, malah kesebelan. Saya ingat pada Pak Don (ups, sorry, ini nama samaran, biar nggak dibilang ghibah) yang selalu memberi soal sulit di kelas, dengan tujuan agar kami ikut les yang dia selenggarakan. Sayapun ikut les dengan terpaksa dan santai-santai saja waktu ujian tiba. Nilai raport saya untuk mata pelajaran tersebut adalah tujuh, padahal saya tahu pasti, jawaban ujian saya salah semua.

Saya pun ingat pada Bu Nunu (ini juga samaran) yang tidak paham cara menerangkan pelajaran, tak heran bila kami pun tak paham-paham (!). Kalau saya dibilang bego, toh sahabat saya yang akhirnya jebol di ITB juga tidak paham dan kami sama-sama selalu mendapat nilai di bawah enam (!). Akhirnya, kami les dan sama-sama mendapat nilai 9 atau 10 (ini sih murni loh, soalnya lesnya di tempat lain, bukan dengan si ibu itu). Ingat pada Pak Mur (idem, samaran juga), yang saking sibuknya ngasih les di mana-mana, jadi sering tidak masuk kelas dan kami pun ngobrol abis di kelas sampai suntuk.

Saya juga ingat A Maman, kakak ipar saya. Dia guru yang (awalnya) penuh dedikasi. Lama-lama, tekanan ekonomi dan tekanan kurikulum, membuatnya apatis dan melakukan pekerjaan apa adanya. Dia memang tidak melakukan hal-hal melanggar hukum, tapi situasi membuatnya tidak bisa menjadi guru ideal. Dia bahkan sempat dipaksa mengubah nilai anak-anak oleh Kepsek, agar sekolah mereka tercantum dalam deretan pemilik NEM yang lumayan. Ketika menolak, ia dicoret dari panitia Ebtanas. Dia memenuhi kualifikasi untuk naik pangkat menjadi Kepsek, tapi, harus menyetor uang berjut-jut agar bisa diangkat. Dia menolak dan tetap menjadi guru biasa.

Nasib A Maman (yang PNS dan mengajar di kota) sebenarnya masih jauh lebih baik daripada guru-guru honorer, atau guru-guru di daerah. Guru honorer gajinya di bawah UMR. Guru di daerah, gajinya sering disunat. Sebagaimana terungkap dari temuan BPK dan BPKP, ternyata Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menempati salah satu peringkat tinggi dalam hal penyelewengan dan korupsi. Ditemukan 210 kasus senilai 2,8 miliar dan yang lebih memprihatinkan adalah gaji guru pun diselewengkan. Kecilnya gaji guru bersumber dari kecilnya anggaran pendidikan di Indonesia yang rata-rata berkisar sekitar 1,4% dari GNP. Bandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang anggaran pendidikannya rata-rata mencapai 3,8% dari GNP-nya. Sementara negara-negara maju mengalokasikan lebih dari 5% dari GNP-nya. Tak heran bila banyak guru di Indonesia yang nyambi atau cari obyekan. Tak heran pula bila kualitas pendidikan di Indonesia semakin hari semakin turun.

Idealnya, materi memang tidak boleh menjadi halangan bagi seorang guru untuk berdedikasi. Saya jadi ingat pada Syekh Abdullah, guru hauzah di Qom (baca: Modarbuzurg Kirana). Beliau tidak hanya menjadi guru, tapi juga bapak bagi para siswa. Dengan 8 anak dan rumah masih ngontrak, beliau terus istiqamah untuk menjadi guru yang baik. Sistem kerja di hauzah adalah dengan menggunakan time-card. Setiap selesai mengajar, beliau cepat-cepat menggesek kartunya dan baru menyapa murid-murid, menanyakan kesulitan-kesulitan mereka. Padahal, bisa saja dia menunda menggesek kartu, agar jam kerjanya lebh banyak dan gajinya lebih besar. Kejujuran tetap membuat hidupnya berjalan, meski (amat) bersahaja.

Saya juga ingat pada satu-satunya guru yang benar-benar saya cintai, namanya Ibu Darmo, guru SD Petompon II Semarang. Beliau benar-benar guru ideal seperti yang ada dalam buku-buku cerita anak tempo dulu. Beliau tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mendidik di luar kelas. Saya pernah ditegur karena jajan es yang menurutnya sama sekali tidak sehat. Beliau menyuruh adik saya yang lambat membaca ke rumahnya untuk diberi pelajaran tambahan (tanpa biaya). Waktu saya pindah ke lain kota, beliau amat sedih, karena menurutnya standar pendidikan di kota yang akan saya datangi itu lebih rendah. Saya menyuratinya dan menceritakan segala sesuatu kepadanya dengan tanpa sungkan-sungkan, bahkan termasuk ketika saya naksir teman cowok saya . Beliau pun setia membalas surat saya dan memberi nasehat-nasehat kepada saya. Beliau yang membuat saya sejak kecil bercita-cita jadi guru (sempat kesampaian, tapi ternyata saya tidak mempunyai kesabaran yang dimiliki Bu Darmo). Sayang sekali, sudah lima tahun terakhir ini sejak saya menikah dan pindah ke Iran, hubungan kami terputus begitu saja. (hiks… hiks… saya akan mencari nomor telponnya malam ini, ah!).

Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa

Jika hari ini seorang Raja menaiki tahta

Jika hari ini seorang Presiden memerintah sebuah negara

Jika hari ini tiba seorang ulama yang mulia

Jika hari ini seorang peguam menang bicara

Jika hari ini datang seorang penulis terkemuka

Jika hari ini siapa saja menjadi dewasa;

Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa

Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.

(nukilan sajak Guru oh Guru karya Dato Usman Awang)

Nasehat ti si Akang

Masih soal menghapal Quran.

Hari ini saya stress banget. Setelah bertekad tidak akan menyerah, saya berusaha keras menghapal tiga halaman (12,13,14) karena hari Rabu nanti, tiga halaman ini bakal dites sama Bu Guru. Tapi, ya Allah…susah banget…ingat awalnya, lupa ujungnya. Inget ujungnya, awalnya lupa, begitu terus… Kepala saya bertambah panas, ketika di kantor dihadapkan pada teks terjemahan yang membosankan dan harus cepat-cepat diselesaikan.Belum lagi terpikir, kok Kirana belum bisa baca abjad latin yah…(gara-garanya, sambil kerja saya buka internet dan baca baca artikelnya siapa, gitu, katanya anaknya umur 4 thn sudah bisa baca novel!). Kirana memang sudah bisa baca abjad Arab, tapi kan, dia juga harus bisa baca bahasa Indonesia? Lalu, suami datang membawa kabar bahwa Kedubes Syria belum juga memberi visa kepada kami (kami berniat jalan-jalan ke Damaskus)…padahal, jadwal penerbangan tinggal 10 hari lagi…padahal, ngurus exit-permit pun butuh seminggu. Pulang ke rumah, Kirana datang membawa pasukannya dan mengobrak-abrik rumah; seluruh mainan bertebaran di segala sudut.

Ya Tuhhaaan…..!! Kepala saya benar-benar mau pecah. Akhirnya saya menangis dan mengomel, “Katanya, baca Al Quran akan memberi ketenangan pada jiwa. Lah sekarang, sumber kestresanku malah gara-gara ikut kelas Quran!”

Si Akang dengan gaya santainya (yang mirip-mirip Kabayan, ), sambil menggunting kertas-kertas berwarna untuk mengajari Kirana membaca, menasehati saya. Nasehat yang entah berapa ribu kali ia keluarkan, tapi saya selalu lupa (sepertinya ingatan saya memang berbentuk saringan). Jadi, saya pikir, lebih baik saya catat saja di halaman ini, biar kapan-kapan bisa saya baca kembali.

Kasus: mengapa membaca Al Quran tidak memberi ketenangan pada jiwa saya?

Jawaban: ada lima hal yang harus dilakukan dalam melakukan segala sesuatu (ini sih nasehat yang nyontek dari Aa Gym), yaitu…

Pertama…seharusnya, sejak awal masuk sekolah Quran itu, saya sudah mempersiapkan diri dengan berbagai kemungkinan terburuk, antara lain: susah menghapal, susah membagi waktu, susah transportasi, lelah, pekerjaan rumah menumpuk (harus ngapalin, harus membantu Kirana ngapalin, belajar baca, masak, beresin rumah, dll) …dst.

Membayangkan yang manis-manis saja (misalnya, langsung berharap jadi orang ‘alim’, ma’rifat tinggi, dll) membuat saya lemah ketika menghadapi kesulitan.

Kedua…saya harus ridho dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. Ketika saya tidak stress (artinya, ridho menghadapi kesulitan), ayat-ayat itu (agak) sulit dihapal. Ketika saya stress dan marah-marah pun, ayat-ayat itu juga tetap (agak) sulit dihapal. Contoh lain, kepala kita sakit kejedug pintu. Kalau marah-marah tetap sakit, nggak marah pun sakit. Ya mending nggak marah, kan? Marah dan stress hanya akan menghabiskan energi.

Ketiga…jangan mempersulit diri. Kalau saya hapalnya (setelah berusaha maksimal) cuma setengah, ya sudah. Jangan berharap dapat nilai 10 terus dari Bu Guru. Emangnya dapat nilai enam bikin saya mati, apa? Selain itu, mengapa saya harus mencampur-adukkan semua persoalan jadi satu? Urusan visa, belum-bisanya Kirana membaca, rumah yang berantakan, dll, semua adalah persoalan yang bisa diselesaikan satu persatu dan tidak ada kaitan satu-sama lain. Mencampur-adukkannya hanya membuat pusing diri sendiri.

Mengucapkan kata-kata “aduh, susah!”, “aduh, saya selalu lupa”, adalah bentuk lain mempersulit diri. Kenyataannya, Allah menjanjikan kemudahan, “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (Thaha:1).

Keempat…saya harus mengevaluasi diri. Jangan-jangan niat saya yang kurang ikhlas dalam membaca Al Quran. Al Quran
adalah “makhluk”, bukan kertas biasa. Saya harus melakukannya dengan hormat dan penuh rendah hati. Sikap riya, sombong, dan sok tahu akan membuat Al Quran “marah” dan tidak akan memberikan ketenangan yang dijanjikannya untuk kita.

Kelima…saya harus tawakal (menyerahkan segala urusan akhir kepada Allah). Allah tidak menilai hasil pekerjaan kita, melainkan proses yang kita lalui dalam melakukan sebuah pekerjaan. Kalaupun saya menjadi hafidzah Quran, tapi bila dalam prosesnya saya melakukan berbagai dosa, hasilnya di mata Allah tetap nol besar. Sebaliknya, mungkin hingga mati nanti, saya tetap tidak mampu menghapal Al Quran (kecuali qul huwallahu ahad dan alfatihah), tapi jika sepanjang hidup saya selalu berusaha membaca, mempelajari, dan menghafal, serta mengamalkannya, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan segala jerih payah saya itu.

Alhamdulillah…makasih Akang-ku sayang!