Nasehat ti si Akang

Masih soal menghapal Quran.

Hari ini saya stress banget. Setelah bertekad tidak akan menyerah, saya berusaha keras menghapal tiga halaman (12,13,14) karena hari Rabu nanti, tiga halaman ini bakal dites sama Bu Guru. Tapi, ya Allah…susah banget…ingat awalnya, lupa ujungnya. Inget ujungnya, awalnya lupa, begitu terus… Kepala saya bertambah panas, ketika di kantor dihadapkan pada teks terjemahan yang membosankan dan harus cepat-cepat diselesaikan.Belum lagi terpikir, kok Kirana belum bisa baca abjad latin yah…(gara-garanya, sambil kerja saya buka internet dan baca baca artikelnya siapa, gitu, katanya anaknya umur 4 thn sudah bisa baca novel!). Kirana memang sudah bisa baca abjad Arab, tapi kan, dia juga harus bisa baca bahasa Indonesia? Lalu, suami datang membawa kabar bahwa Kedubes Syria belum juga memberi visa kepada kami (kami berniat jalan-jalan ke Damaskus)…padahal, jadwal penerbangan tinggal 10 hari lagi…padahal, ngurus exit-permit pun butuh seminggu. Pulang ke rumah, Kirana datang membawa pasukannya dan mengobrak-abrik rumah; seluruh mainan bertebaran di segala sudut.

Ya Tuhhaaan…..!! Kepala saya benar-benar mau pecah. Akhirnya saya menangis dan mengomel, “Katanya, baca Al Quran akan memberi ketenangan pada jiwa. Lah sekarang, sumber kestresanku malah gara-gara ikut kelas Quran!”

Si Akang dengan gaya santainya (yang mirip-mirip Kabayan, ), sambil menggunting kertas-kertas berwarna untuk mengajari Kirana membaca, menasehati saya. Nasehat yang entah berapa ribu kali ia keluarkan, tapi saya selalu lupa (sepertinya ingatan saya memang berbentuk saringan). Jadi, saya pikir, lebih baik saya catat saja di halaman ini, biar kapan-kapan bisa saya baca kembali.

Kasus: mengapa membaca Al Quran tidak memberi ketenangan pada jiwa saya?

Jawaban: ada lima hal yang harus dilakukan dalam melakukan segala sesuatu (ini sih nasehat yang nyontek dari Aa Gym), yaitu…

Pertama…seharusnya, sejak awal masuk sekolah Quran itu, saya sudah mempersiapkan diri dengan berbagai kemungkinan terburuk, antara lain: susah menghapal, susah membagi waktu, susah transportasi, lelah, pekerjaan rumah menumpuk (harus ngapalin, harus membantu Kirana ngapalin, belajar baca, masak, beresin rumah, dll) …dst.

Membayangkan yang manis-manis saja (misalnya, langsung berharap jadi orang ‘alim’, ma’rifat tinggi, dll) membuat saya lemah ketika menghadapi kesulitan.

Kedua…saya harus ridho dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. Ketika saya tidak stress (artinya, ridho menghadapi kesulitan), ayat-ayat itu (agak) sulit dihapal. Ketika saya stress dan marah-marah pun, ayat-ayat itu juga tetap (agak) sulit dihapal. Contoh lain, kepala kita sakit kejedug pintu. Kalau marah-marah tetap sakit, nggak marah pun sakit. Ya mending nggak marah, kan? Marah dan stress hanya akan menghabiskan energi.

Ketiga…jangan mempersulit diri. Kalau saya hapalnya (setelah berusaha maksimal) cuma setengah, ya sudah. Jangan berharap dapat nilai 10 terus dari Bu Guru. Emangnya dapat nilai enam bikin saya mati, apa? Selain itu, mengapa saya harus mencampur-adukkan semua persoalan jadi satu? Urusan visa, belum-bisanya Kirana membaca, rumah yang berantakan, dll, semua adalah persoalan yang bisa diselesaikan satu persatu dan tidak ada kaitan satu-sama lain. Mencampur-adukkannya hanya membuat pusing diri sendiri.

Mengucapkan kata-kata “aduh, susah!”, “aduh, saya selalu lupa”, adalah bentuk lain mempersulit diri. Kenyataannya, Allah menjanjikan kemudahan, “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (Thaha:1).

Keempat…saya harus mengevaluasi diri. Jangan-jangan niat saya yang kurang ikhlas dalam membaca Al Quran. Al Quran
adalah “makhluk”, bukan kertas biasa. Saya harus melakukannya dengan hormat dan penuh rendah hati. Sikap riya, sombong, dan sok tahu akan membuat Al Quran “marah” dan tidak akan memberikan ketenangan yang dijanjikannya untuk kita.

Kelima…saya harus tawakal (menyerahkan segala urusan akhir kepada Allah). Allah tidak menilai hasil pekerjaan kita, melainkan proses yang kita lalui dalam melakukan sebuah pekerjaan. Kalaupun saya menjadi hafidzah Quran, tapi bila dalam prosesnya saya melakukan berbagai dosa, hasilnya di mata Allah tetap nol besar. Sebaliknya, mungkin hingga mati nanti, saya tetap tidak mampu menghapal Al Quran (kecuali qul huwallahu ahad dan alfatihah), tapi jika sepanjang hidup saya selalu berusaha membaca, mempelajari, dan menghafal, serta mengamalkannya, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan segala jerih payah saya itu.

Alhamdulillah…makasih Akang-ku sayang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s