Guruku Sayang Guruku Malang

Hari ini (12 Urdibehest) adalah Hari Guru di Iran, bertepatan dengan hari gugur syahidnya Murtadha Mutahhari, cendikiawan dan filosof besar muslim kontemporer. Kebetulan, hari ini bertepatan pula dengan Hari Pendidikan Nasional Indoneisa (2 Mei). Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah menyiapkan kado-kado untuk guru-guru Kirana. Untuk guru di sekolah Quran (Jamiatul Quran), para ibu sudah sepakat urunan 50.000-an perorang dan membeli sebuah koin emas (!) buat Bu Guru. Untuk guru di play group Kirana, yang jumlahnya empat orang (dua guru utama—yang mengurus Kirana dan tujuh teman sekelasnya dari pagi sampai sore, satu orang yang bertugas mengantar anak-anak ke WC, dan satu orang yang bertugas menyambut di gerbang sekolah, tiap kali Kirana datang. Tugas guru yang satu ini lumayan penting, karena dialah yang harus memberi suasana riang di hati anak ketika tiba gerbang di sekolah), saya juga merogoh kantong membeli kado, masing-masing 50.000-an pula. Untuk Bu Guru di kelas Quran saya pun, saya harus menyiapkan kado. Kesimpulannya, datangnya Hari Guru di Iran adalah saat-saat bagi orangtua untuk merogoh saku dalam-dalam.

Teman-teman saya juga urunan membeli koin emas untuk guru anak-anak mereka. Dipikir-pikir, enak kali, ya jadi guru di Iran, tiap tahun dapat kado, syukur-syukur berupa koin emas yang harganya satu juta rupiah? Atau, minimalnya, murid-murid akan datang dengan membawa sekuntum bunga. Saya jadi ingat Hari Guru di Indonesia (25 November), sejak TK sampai SD, saya tidak pernah sekalipun membelikan kado untuk guru-guru saya. Yang saya ingat tentang guru-guru saya, malah kesebelan. Saya ingat pada Pak Don (ups, sorry, ini nama samaran, biar nggak dibilang ghibah) yang selalu memberi soal sulit di kelas, dengan tujuan agar kami ikut les yang dia selenggarakan. Sayapun ikut les dengan terpaksa dan santai-santai saja waktu ujian tiba. Nilai raport saya untuk mata pelajaran tersebut adalah tujuh, padahal saya tahu pasti, jawaban ujian saya salah semua.

Saya pun ingat pada Bu Nunu (ini juga samaran) yang tidak paham cara menerangkan pelajaran, tak heran bila kami pun tak paham-paham (!). Kalau saya dibilang bego, toh sahabat saya yang akhirnya jebol di ITB juga tidak paham dan kami sama-sama selalu mendapat nilai di bawah enam (!). Akhirnya, kami les dan sama-sama mendapat nilai 9 atau 10 (ini sih murni loh, soalnya lesnya di tempat lain, bukan dengan si ibu itu). Ingat pada Pak Mur (idem, samaran juga), yang saking sibuknya ngasih les di mana-mana, jadi sering tidak masuk kelas dan kami pun ngobrol abis di kelas sampai suntuk.

Saya juga ingat A Maman, kakak ipar saya. Dia guru yang (awalnya) penuh dedikasi. Lama-lama, tekanan ekonomi dan tekanan kurikulum, membuatnya apatis dan melakukan pekerjaan apa adanya. Dia memang tidak melakukan hal-hal melanggar hukum, tapi situasi membuatnya tidak bisa menjadi guru ideal. Dia bahkan sempat dipaksa mengubah nilai anak-anak oleh Kepsek, agar sekolah mereka tercantum dalam deretan pemilik NEM yang lumayan. Ketika menolak, ia dicoret dari panitia Ebtanas. Dia memenuhi kualifikasi untuk naik pangkat menjadi Kepsek, tapi, harus menyetor uang berjut-jut agar bisa diangkat. Dia menolak dan tetap menjadi guru biasa.

Nasib A Maman (yang PNS dan mengajar di kota) sebenarnya masih jauh lebih baik daripada guru-guru honorer, atau guru-guru di daerah. Guru honorer gajinya di bawah UMR. Guru di daerah, gajinya sering disunat. Sebagaimana terungkap dari temuan BPK dan BPKP, ternyata Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menempati salah satu peringkat tinggi dalam hal penyelewengan dan korupsi. Ditemukan 210 kasus senilai 2,8 miliar dan yang lebih memprihatinkan adalah gaji guru pun diselewengkan. Kecilnya gaji guru bersumber dari kecilnya anggaran pendidikan di Indonesia yang rata-rata berkisar sekitar 1,4% dari GNP. Bandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang anggaran pendidikannya rata-rata mencapai 3,8% dari GNP-nya. Sementara negara-negara maju mengalokasikan lebih dari 5% dari GNP-nya. Tak heran bila banyak guru di Indonesia yang nyambi atau cari obyekan. Tak heran pula bila kualitas pendidikan di Indonesia semakin hari semakin turun.

Idealnya, materi memang tidak boleh menjadi halangan bagi seorang guru untuk berdedikasi. Saya jadi ingat pada Syekh Abdullah, guru hauzah di Qom (baca: Modarbuzurg Kirana). Beliau tidak hanya menjadi guru, tapi juga bapak bagi para siswa. Dengan 8 anak dan rumah masih ngontrak, beliau terus istiqamah untuk menjadi guru yang baik. Sistem kerja di hauzah adalah dengan menggunakan time-card. Setiap selesai mengajar, beliau cepat-cepat menggesek kartunya dan baru menyapa murid-murid, menanyakan kesulitan-kesulitan mereka. Padahal, bisa saja dia menunda menggesek kartu, agar jam kerjanya lebh banyak dan gajinya lebih besar. Kejujuran tetap membuat hidupnya berjalan, meski (amat) bersahaja.

Saya juga ingat pada satu-satunya guru yang benar-benar saya cintai, namanya Ibu Darmo, guru SD Petompon II Semarang. Beliau benar-benar guru ideal seperti yang ada dalam buku-buku cerita anak tempo dulu. Beliau tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mendidik di luar kelas. Saya pernah ditegur karena jajan es yang menurutnya sama sekali tidak sehat. Beliau menyuruh adik saya yang lambat membaca ke rumahnya untuk diberi pelajaran tambahan (tanpa biaya). Waktu saya pindah ke lain kota, beliau amat sedih, karena menurutnya standar pendidikan di kota yang akan saya datangi itu lebih rendah. Saya menyuratinya dan menceritakan segala sesuatu kepadanya dengan tanpa sungkan-sungkan, bahkan termasuk ketika saya naksir teman cowok saya . Beliau pun setia membalas surat saya dan memberi nasehat-nasehat kepada saya. Beliau yang membuat saya sejak kecil bercita-cita jadi guru (sempat kesampaian, tapi ternyata saya tidak mempunyai kesabaran yang dimiliki Bu Darmo). Sayang sekali, sudah lima tahun terakhir ini sejak saya menikah dan pindah ke Iran, hubungan kami terputus begitu saja. (hiks… hiks… saya akan mencari nomor telponnya malam ini, ah!).

Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa

Jika hari ini seorang Raja menaiki tahta

Jika hari ini seorang Presiden memerintah sebuah negara

Jika hari ini tiba seorang ulama yang mulia

Jika hari ini seorang peguam menang bicara

Jika hari ini datang seorang penulis terkemuka

Jika hari ini siapa saja menjadi dewasa;

Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa

Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.

(nukilan sajak Guru oh Guru karya Dato Usman Awang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s