Narco-terrorist

Koran Tehran Times edisi 10 Mei menuliskan sebuah istilah baru (saya baru dengar, maksudnya): narco-terrorist. Pasalnya, Iran benar-benar kewalahan menghadapi sindikat penyelundup narkotika yang tak jera-jeranya menjadikan negara ini sebagai jalur penyelundupan narkotika dari Afganistan dan Pakistan ke negara-negara Eropa dan Teluk. Setiap tahunnya, Iran sudah mengeluarkan dana 800 juta dolar (!) yang ditanggungnya sendirian. Sementara, negara-negara adidaya Eropa dan negara-negara Teluk yang kaya-raya –yang diuntungkan karena Iran pasang badan– hanya memberikan “penghargaan” dan “dukungan”, tapi tidak ada aliran dana yang keluar dari kocek mereka.

Bukan cuma rugi uang dalam jumlah sangat besar (pasalnya, Iran memang bukan negara kaya), hingga kini, 3000 tentara Iran telah gugur sebagai syudaha dalam memberantas sindikat narkotika internasional yang bersenjata lengkap itu. Belum lagi dampaknya terhadap rakyat Iran sendiri. Menurut data dari Iran Drugs Control Headquarters, saat ini ada dua juta pecandu narkotik di Iran. Anehnya (atau, wajarnya), justru setelah Taliban tumbang dan AS bercokol di Afghanistan, arus penyelundupan narkotika di Iran meningkat tajam. Hanya dalam satu tahun terakhir saja, 260 ton (!) narkotika (morphin, hashish, dan jenis-jenis lainnya) berhasil digulung oleh tentara Iran. Sepertinya, bukan tanpa alasan ada isu-isu berkembang bahwa salah satu sumber pendanaan militer AS di Afghanistan adalah bisnis nakotika

Bila kita menengok sejarah, kita akan mendapati bahwa narkotika adalah senjata klasik yang telah digunakan sejak tiga abad lalu (!) oleh imperialis Barat dalam melumpuhkan suatu negara yang ingin dijajahnya. Pada abad ke-18, untuk mendobrak Cina, Inggris menyelundupkan bahan candu ke daratan Cina. Akibatnya, jutaan warga Cina menjadi pecandu dan perekonomian lumpuh. Pemerintah Cina berusaha memerangi Inggris yang terang-terangan mengirimkan candu ke Cina, dan meletuslah Perang Candu. Harun Yahya menulis, “Perang Candu (1839-1842) ini menjadikan Cina bangkrut. Cina dipaksa menyerah akibat ketidakcakapan tentaranya setiap kali berhadapan dengan pasukan asing dan diharuskannya mengabulkan permintaan mereka yang terus bertambah. Orang-orang Barat perlahan membentuk pusat-pusat pemukiman di dalam wilayah kekuasaan Cina sejak tahun 1842. Mereka merampas wilayah-wilayah pelabuhan utama dari tangan Cina, menyewakan lahan-lahan mereka, dan mengharuskan negara tersebut membuka diri terhadap dunia luar dengan cara yang paling mendatangkan keuntungan bagi mereka sendiri. Akibat dari ini semua, kemiskinan melanda negeri, pemerintahan lemah (dan banyak hutang), dan hilangnya secara perlahan-lahan wilayah kekuasaan Cina.”

Kini, marilah kita menengok negeri tercinta, Indonesia. Menurut data dari Granat (Gerakan Antinarkotika dan Obat-Obatan Terlarang), jumlah pengguna narkoba saat ini di Indonesia sekitar 4 juta orang. Jika setiap pengguna narkoba mengkonsumsi 1 gram/per hari narkoba, berarti ada 4 ton narkoba yang beredar perhari di Indonesia! Artinya, dalam sebulan omzet penjualan narkoba di Indonesia 120 ton! (Inipun konon hanya puncak gunung es, artinya jumlah riilnya jauh lebih besar) Siapakah tangan-tangan jahat yang dengan leluasa menyebarkan narkotika dalam jumlah sedemikian besar di Indonesia? Itulah mereka, para narco-terrorists.

Agaknya, strategi imperialisme klasik kini kembali dipraktikan oleh kaum neo-kolonialisme terhadap sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia dan Iran. Konsepnya sederhana: berilah candu pada suatu bangsa, setelah miskin dan sekarat, berilah utang pada mereka, dan selanjutnya… terserah Anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s