Modarbuzurg Kirana

Modarbuzurgh artinya nenek. Namanya Sadiqah, punya anak delapan. Saya mengenalnya pertama kali sebulan setelah saya tiba di Iran. Saya sempat menginap beberapa minggu di rumahnya, karena kami (saya dan suami) belum berhasil menemukan rumah kontrakan yang pas dengan kantong kami. Di rumahnya, saya sempat sakit. Dia memberi obat dan merawat saya. Dua anaknya yang terkecil, Fatimah dan Mauidah, segera menajdi sahabat kecil saya. Saya sempat kebingungan menggunakan kompor gas (karena tidak otomatis seperti di Indonesia, tetap harus pakai korek api), dia terbahak dan berkata, “Azpazi balad nisti?” (kamu tidak bisa memasak ya?). Dia mengajari cara memasak nasi ala Iran, yang menurutnya jauh lebih lezat dibanding cara Indonesia (karena memakai minyak dan garam).

Sejak saat itu, dia menjadi ibu angkat saya dan kini menjadi nenek angkat Kirana. Ketika saya hamil, dia menghidupkan semacam dupa dan menyiramkan asapnya ke perut saya. Konon, prosesi seperti itu membawa berkah. Ketika saya melahirkan, dia ada di samping saya (di Iran, suami-suami dilarang masuk ruang bersalin). Seusai melahirkan, dia menyuapi saya dengan kurma, makanan, dan es buah, serta memberi nasehat-nasehat “kewanitaan”. Alangkah baiknya Allah kepada saya. Meski saya berada ribuan kilometer dari ibu kandung saya, namun Dia mendatangkan seorang ibu baru, orang Iran asli.

Siapakah Sadiqah? Dia adalah ipar dari seorang ustad hauzah (sebuah lembaga pendidikan khas Iran, yang melahirkan ulama-ulama semacam Khomeini, Muthahhari, Ali Syariati, ibrahim Amini, dll) bernama Syekh Abdullah. Kisah tentang Syekh Abdullah adalah kisah tentang kasih sayang yang tulus. Selain mengajar, beliau ditugasi mengurus para pelajar asing (mungkin semacam guru asrama di Indonesia). Beliau mengayomi para pelajar asing yang datang dari berbagai penjuru dunia itu seperti mengurus anaknya sendiri. Istrinya pernah cerita, perhiasannya jauh berkurang setelah menikah dengan Syekh Abdullah. Sebabnya, sang Syekh ini sering mengeluarkan uang untuk membantu para pelajar yang kesulitan. Saya dan suami bisa menginap berminggu-minggu di rumah Sadiqah atas rekomendasi Syekh Abdullah, dan kami bukan satu-satunya yang pernah menerima rekomendasi semacam itu.

Apakah Syekh Abdullah orang kaya? Tidak. Dia dan keluarganya hidup menumpang dari satu rumah ke rumah lain. Mereka (suami-istri dan delapan anak) pernah menumpang di rumah ayah Syekh Abdullah. Lalu ketika adiknya menderita kecelakaan dan harus menumpang di rumah ayah mereka, Syekh Abdullah dan keluarganya pindah rumah, menumpang di rumah keluarga mereka yang lain (yang kebetulan kosong). Mereka hidup sangat sederhana. Namun di tengah kesederhanaan itu, Syekh Abdullah tidak pernah ragu untuk memberi kepada orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s