Hari-Hari yang Mulai Panas

Berbicara tentang Iran, sepertinya sering dicurigai membawa ‘misi’ tertentu. Saya benar-benar heran, bila teman-teman di berbagai negara sah-sah saja menceritakan tanggapan, serapan, atau kesan mereka tentang apapun yang mereka dapati di negeri tempat mereka tinggal (termasuk hal-hal ‘sepele’, misalnya bis yang mengerem ketika ada tupai lewat… yang tentu saja, dari kacamata tertentu, sikap ini menunjukkan kemuliaan akhlak), tentu sah-sah saja bila saya menceritakan apa yang saya lihat di sekitar saya. Jadi…tulisan berikut ini jangan diartikan sebagai propaganda. I just want to share you what I see and what I feel, that’s all.

Tanggal 17 Juni nanti, Iran akan mengadakan pemilu presiden. Dan seperti pemilu2 lainnya di Iran yang saya rasakan selama lima tahun masa tinggal saya di Iran, selalu saja suasana menjadi panas. Beberapa hari lalu, ledakan bom beruntun terjadi di Qom Ahvaz, dan… Teheran! Saya menjadi takut untuk keluar rumah, tapi apa boleh buat, saya tetap harus keluar untuk mencari sesuap nasi dan tabungan untuk membeli sepetak sawah di kampung halaman (Melayu bangeeetttt….!). Saya harus tetap keluar untuk ke kelas Quran, ke pasar, ke bank, ke mall, dll. Apa boleh buat, saya hanya bisa pasrah sambil tak habis pikir, mengapa ada orang yang tega meledakkan bom untuk melukai saudara-saudara sebangsanya sendiri. Versi pemerintah sih, ini pasti didalangi sang Setan Besar (sebaliknya, Bush pun konon berniat menghabisi ‘Poros Setan’).

Di televisi pemerintah, propaganda untuk menyukseskan pemilu dilakukan dengan penuh semangat juang. Oya, mulai tahun ini, pemilu presiden di Iran dilakukan dengan cara yang lebih modern, yaitu dengan membuat film kampanye (dulu-dulu, kampanye hanya berupa dialog di TV atau di gedung2 pertemuan, dan menempelkan poster di mana-mana…dan yang pasti, tidak ada pawai yang bikin macet jalan, apalagi pentas dangdut). Para kandidat dengan ‘manis’ tampil dalam sebuah film pendek. Bagus-tidaknya film itu, sepertinya, tergantung si sutradara. Menurut saya sih, film paling ‘keren’ adalah filmnya Rafsanjani, the old man yang berhasil ngibulin Amerika dalam skandal Iran-Contra dulu. Dia tampil dan menjadi narator bagi filmnya sendiri, dan dengan suara bergetar menceritakan keresahannya atas kondisi Iran saat ini. Di akhir film, dia berjalan bersama cucunya yang cantiiik (!) menyusuri jalan yang teduh oleh pepohonan. Sutradaranya benar-benar hebat, si narator, apalagi (maksudnya, ya Rafsanjani sendiri). Saya tidak tahu, apa dia pernah ikut kursus akting apa tidak, tapi yang jelas, di film itu, dia tampil OK banget.

Tapi, jangan tanya apa tanggapan masyarakat. Character assasination paling parah dialami oleh Rafsanjani. Hari ini di kelas Quran, para ibu-ibu sibuk bertukar gosip tentang Rafsanjani (maksud mereka baik: saling mempengaruhi temannya agar jangan salah pilih). Sanaz, teman sekantor yang orang Iran tapi pintar bahasa Indonesia, juga sinis banget pada Rafsanjani. Saya sih, cuek aja, emangnya gue pikirin.

Yang menarik bagi saya dari situasi menjelang pemilu ini adalah seimbangnya kampanye di antara para kandidat. Di sini tidak berlaku aturan bahwa pemilik uang terbanyak akan mampu menyewa jam iklan kampanye terbanyak. Jam iklan kampanye benar-benar dibagi sama rata. Tidak ada kandidat yang kampanye di TV lebih banyak daripada kampanye lain. Juga, tidak ada kemacetan dan tawuran antara pendukung (karena memang tidak ada pawai). Artis-artis tidak ada yang panen gara-gara pemilu (inget Inul yang ditawar, konon, lima milyar buat kampanye).

Sementara itu, televisi-televisi berbahasa Persia yang dipancarkan langsung dari Amerika Serikat (bisa ditangkap dengan parabola) dengan vulgar mempropagandakan slogan “jangan ikut pemilu.” Semalam saya menonton salah satu channelnya. Dengan gaya sangat norak (benar lo, saya bilang norak dengan jujur, bukan karena saya pro-ini-itu), seorang penyiar bilang gini, “Apakah Anda pikir para kandidat itu punya legalitas? Anda tahu legalitas itu apa? Ini…–dia memperlihatkan dasinya– inilah legalitas!” Lalu dia ngoceh sana-sini, yang sama sekali tidak bermuatan ilmiah. Terakhir, ada penyanyi tampil menyanyikan lagu rap dalam bahasa Persia, yang mengulang-ulang kalimat “jangan ikut pemilu, pulang aja ke rumah.” Norak abis, deh, pokoknya.

Oya, dasi (di Iran) adalah lambang Barat dan orang Iran (yang di Iran) umumnya tidak mau memakai dasi. Saya jadi inget Kang Isman, senior saya di Unpad yang sempat jadi diplomat di Iran. Dia awal masa tugasnya, karena belum beli mobil, dia naik bis ke kedubes. Di atas bis, semua menatapnya dan senyam-senyum. Apa pasal? Kang Isman pakai dasi! Saya juga jadi teringat dosen bahasa Persia saya di Universitas Qazvin, dia mengatakan alasan kenapa tidak mau pakai dasi, yaitu: kalau minum teh jadi susah, dasinya nyelup mulu ke gelas! (Orang Iran sangat gila teh).

Kembali soal ‘panas’ tadi… sekarang tiap keluar saya selalu berdoa agar selamat dan tidak kena bom nyasar. Saya jadi ingat ortu saya di Indonesia, pasti mereka sekarang khawatir… Dulu, ketika ada berita Bush akan menyerang Iran, bukan hanya ortu saya yang resah, tetapi juga tetangga-tetangga rumah kami di Padang (how much I miss them!). Yah… apa boleh buat. Saya tinggal di Indonesia pun, maut selalu mengintai dan bom juga bukan barang aneh.

Maaf kalau tulisan ini tidak sistematis. Maklum, namanya orang sedang ‘panas’ (summer is coming, pal!).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s