Tahu

Setahu saya, di seluruh Iran, hanya ada satu penjual tahu. Dia orang Iran asli yang pernah tinggal di Malaysia. Tahu ukuran sedang (lihat foto) itu dijualnya seharga 7000 riyal (kurang lebih setara dengan rupiah). Tapi, kepada mahasiswa, dia memberi korting, jadi 5000 riyal saja. Sayangnya, ketika saya masih berstatus mahasiswa, uang di kantong seringkali tidak cukup untuk membeli tahu. Harapan saya untuk makan tahu saat itu, hanyalah di kedutaan. Setiap kali ada acara makan-makan di kedutaan, saya hanya memilih tahu, tempe, dan sambal. Ayam, daging, ikan, tidak saya lirik sama sekali. Bagi saya waktu itu, tahu adalah makanan paling mahal dan paling lezat di dunia.

Kemarin, tepat hari penyelenggaraan pemilu di Iran, sambil deg-degan, siapa tahu ada bom nyasar, saya rela berpanas-panas di bis kota untuk membeli tahu. Saya tadinya berharap, karena hari libur, perjalanan tidak akan lama, karena jalanan sepi. Nyatanya, di beberapa titik malah sempat macet! Kali ini, histeria pemilu rupanya melanda Iran. Pemilu yang dimulai sejak jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam, terpaksa ditunda sampai jam 12 saking membludaknya massa. Kalau menurut istilah seorang reporter CNN (saya tidak tahu namanya), bangsa Iran adalah bangsa keras kepala. (Mungkin maksudnya, semakin diserang black propaganda, semakin keukeuh.)

Turun bis, saya masih harus jalan kaki sekitar 500 meter untuk mencapai toko tahu satu-satunya itu. Panasnya…luar biasa, tapi tak apalah, demi tahu. Seperti biasa, si penjual mengira saya masih mahasiswa dan memberi harga 5000 riyal untuk saya sambil berpesan, “Doakan saya ya!”. Sambil terus tersiksa oleh panas, saya pulang menenteng enam potong tahu.

Sampai rumah, saya tidak sabar untuk menikmati tahu-tahu itu. Yang masak, siapa lagi kalau bukan si Akang. Kalau masak tahu, dia paling jago. Maklum, saya orang Padang asli, dan di keluarga kami, tahu itu ‘bukan makanan’. Tahu bagi orang Padang adalah lambang ‘kemiskinan’. Bila ada tamu, sangat aib menyuguhkan tahu (atau tempe). Makanan yang pantas adalah daging dengan kuah santan yang kental, ikan mas besar yang dipanggang, serta ayam goreng pop. Kalau perlu, kami jual emas buat menyediakan makanan ‘pantas’ itu untuk tamu!

Sambil menunggu tahu masak, saya browsing internet (sindir suami saya: Ayah memasak di dapur. Ibu duduk di depan komputer—padahal kan cuci piring sudah jadi jatah saya.). Tiba-tiba, dalam sekejap, kata-kata busung lapar berseliweran di kepala (gara-gara buka situs Detikcom). Konon di Sumatera Barat, kampung halaman saya, busung lapar juga mengancam. Sumatera Barat? Di nagari yang subur, hijau, dan penuh oleh petak-petak sawah itu ada busung lapar?!

Saya semakin penasaran dan memasukkan kata kunci :busung lapar sumatera barat. Masya Allah…tanpa setahu saya, ternyata tahun 1999-2000 Sumatera Barat pernah bikin heboh dengan terungkapnya data ribuan (8598!) bayi penderita busung lapar! Waktu itu, saya di mana ya? Oya, kami sedang berbulan madu dan sibuk mengamati daun-daun merah dan kuning di musim gugur, serta cemara yang merunduk menanggung beban butir-butir salju. Benar-benar sulit dipercaya, ketika keluarga saya mengganggap remeh tempe dan tahu, ternyata ada ribuan saudara-saudara sakampuang kami yang membeli sepotong tahu pun tak sanggup!

Mata saya terus menatap kata-kata yang berpendar di layar monitor…tiap empat detik seorang manusia di bumi meninggal akibat kelaparan…55 persen dari 12 juta anak di dunia meninggal tiap tahun akibat kelaparan…64.000 balita di NTT…1746 balita di Bandung….8455 balita di DKI alami gizi buruk…

Semua angka itu menembus jantung dan menusuk ulu hati.

Di mana saya saat ini?

Di sini, sibuk mengeluhkan makanan Iran yang membosankan dan berangan-angan tentang restoran Wong Solo.

Di sini, sibuk menimbun tabungan dan berkhayal tentang rumah seperti apa yang akan kami beli nanti.

Di sini, sibuk membeli tahu seharga 5000 sepotong hanya untuk memuaskan selera.

Saya menatap tahu lezat yang siap tersaji. Tiba-tiba, dada saya terasa sesak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s