Islam Agama Feminis?

Jangan terjebak sama judul. Saya nggak akan nulis yang berat-berat kok. Cuma cerita tentang pesta kemarin-lusa. Tanggal 20 Jumadits-tsani adalah Hari Ibu di Iran. Kalau Hari Ibu di Indonesia jatuh tanggal 22 Desember dengan dalil adanya Kongres Wanita tempoe doeloe, Hari Ibu di Iran disesuaikan dengan hari kelahiran seorang perempuan penghulu surga, Fathimah Az-Zahra. Sayapun bela-belain “pulang kampung”, ke kota Qom, untuk mengunjungi Modarbuzurg Kirana.

Saya dan enam anak perempuan modarbuzurg” (=nenek) sebelumnya sudah saling bisik-bisik untuk mengadakan pesta keluarga buat sang Ibu. Pada hari H, saya datang dan mereka ternyata juga sudah mempersiapkan kue tart dan hadiah2. Semua rahasia. Tapi, menjelang sore, terjadi dialog begini:

“Aku mau pergi ngundang temen-temenku dulu ya? (Ibu)

“Emangnya mau apa ngundang-ngundang?” (anak)

“Lho, bukannya kalian mau mengadakan pesta buatku?!” (Ibu)

Ya…batal deh, surprisenya! Tapi, untuk “usaha terakhir” si anak keukeuh, “Ge-er amat, siapa yang mau bikin pesta?!”

Meskipun hanya pesta keluarga, keluarga si Ibu dandan heboh. Termasuk Kirana. Dia emang hobi dandan, jadi dengan senang hati rambutnya diblow oleh Tante-nya, diberi jepit-jepit, dikasih cat merah pada beberapa bagian, ngotot pake eye shadow, berkeras dia sendiri yang memoleskan lipstik, dan minta dikasih kuteks. Aduh, ganjen abis deh, tuh anak. Hidangan pesta hanya kuet tart, es krim dan permen. Kami bercakap-cakap, menyanyi-nyanyi, tertawa-tawa, dan sibuk berfoto-foto (sorry, foto-fotonya off the record, dong). Secara keseluruhan, pestanya pun hanya berlangsung sebentar (lebih lama dandannya!). Terakhir, si Ibu membuka kado-kado dari anak-anaknya dan protes, “Loh, kado dari Baba mana?!” (Baba=ayah). Si Baba tidak ikut dalam pesta, karena itu pesta khusus perempuan.

Saya sendiri, nggak dapat kado apa-apa dari suami (eh, ada ding, itu, hasil rekaman nyanyi Papa dan Kirana). Tapi bagi saya, kasih sayang dan pengertiannya selama ini, termasuk kebebasan yang dia berikan kepada saya untuk pergi keluar kota berdua saja dengan Kirana, lebih mahal dari hadiah apapun di dunia…bahkan dibanding hadiah se-buket bunga sekalipun. Lagipula, di kantor saya juga dapat hadiah Women’s Day berupa uang 600.000 riyal (=rupiah). Karena pegawai laki-laki tidak mendapat hadiah ini, seorang teman kantor saya ngomel, “Ah, Islam ini memang agama feminis!”

Advertisements

Satu Nusa Satu Bangsa….Nusa ya’ni chi?

Gara-gara pihak KBRI menelpon saya tentang acara Hari Anak yang akan diselenggarakan di KBRI (biasanya bukan saya loh, yang ditelpon), saya pun mau tak mau jadi ‘panitia’ sukarela. Anak-anak Indonesia putra-putri pegawai IRIB, saya komandoi untuk belajar nyanyi beberapa lagu wajib. Habis, pada acara serupa tahun lalu, mereka bengong aja, karena tidak mengenal lagu-lagu yang dinyanyikan.

Akhirnya, sore kemarin rumah saya disulap jadi kelas menyanyi. Salah satu lagu yang harus diajarkan (permintaan ‘panitia pusat’) adalah Satu Satu Nusa Satu Bangsa. Baru mulai, anak-anak itu sudah tanya-tanya, “Nusa ya’ni chi? Bangsa ya’ni chi?” (Nusa itu apa sih? Bangsa itu apa sih?). Akhirnya, Pak Guru (Papanya Rana), terpaksa menerangkan satu-satu arti kata lagu itu dalam bahasa Persia (aduh, katanya anak Indonesia!). Juga sambil menasehati, “Karena itu, kita sebagai saudara sebangsa harus saling tolong-menolong, saling menyayangi, bla…bla…”

Pagi tadi, tanggal 25 Juli (tapi, kayaknya Hari Anak tuh seharusnya kemarin ya? ‘Au ah), kami pun rame-rame ke KBRI. Anak-anak disuruh nyanyi ini-itu, lomba ini-itu, dan dapat berbagai hadiah. Benar-benar menyenangkan buat mereka. Bagi saya? Aduh, saya sedih. Habis, yang diundang hanya sedikit, hanya anak-anak KBRI dan anak-anak pegawai IRIB Radio Indonesia (artinya, mereka adalah anak-anak yang ‘makmur’…meskipun gaji pegawai IRIB nggak ada seperempatnya gaji diplomat KBRI, kekeke). Mereka dimanjakan sedemikian rupa. Di meja pun terhidang kue tart besar, kue-kue enak, dan makanan siang lezat.

Entahlah, apa mereka mengerti seperti apa dunia yang sesungguhnya? Apa mereka sadar, ada teman mereka nun jauh di Sumatera Barat yang harus jadi Pedagang Sapu dari Kurai Taji? Apa mereka tahu bahwa lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” diajarkan sejak SD di Indonesia, tapi penindasan terhadap rakyat kecil dilakukan tanpa malu-malu? Sementara rakyat antri BBM, ada Oom tua yang mengeruk uang minyak 70 juta dolar tahun ini. Bahwa “Satu Nusa Satu Bangsa” dikoar-koarkan dengan indah (dalam Paduan Suara Mahasiswa Unpad, misalnya—tempat Papa Kirana dulu suka nongkrong tuh), tapi ketika ada saudara seiman yang beda pemikiran, langsung diserbu dan dianiaya?

Ah, lieur euy. Mendingan saya main sama Kirana yang dapat macam-macam hadiah hari ini, termasuk duit 100-ribuan!

PS: Papanya Kirana juga dapat hadiah arloji (hadiah karena jadi ketua KPPSLN Tehran, cuma baru sekarang sempat diambil), tapi, mau dipake…kok ada logo KPU gede-gede…kan takut disangka makan dana taktis:-P

Rumi dan Argumen Iblis

Sehari kemarin, saya sibuk berkutat dengan makalah yang saya janjikan untuk sebuah jurnal di Indonesia. Tahu, tentang apa? Sastra Persia!!! Topik ini benar-benar tidak saya kuasai. Saya bahkan tidak tahu apa beda Iran dan Persia, apa beda Rubaiyyat dan Matsnawi, Rumi dan Umar Khayyam… Tapi, demi memenuhi janji, saya coba juga, dan akhirnya saya menemukan konsep ini: jangan takut untuk menulis sesuatu yang tidak engkau ketahui karena justru dengan menulis engkau akan mengetahuinya.

Secara kebetulan, saya menemukan beberapa bait syair Rumi yang menarik (benar-benar kebetulan, karena saya membuka kitab itu secara acak, mencari-cari bait-bait yang vocabulary-nya rada familiar). Sebenarnya, bahasan tentang Rumi sudah banyak ditulis oarng di Indonesia. Tapi, karena menggunakan bahasa yang ‘tinggi’, saya langsung pusing pada paragraf pertama dan memilih menghindari tulisan-tulisan sufistik semacam itu. Jadi, cerita saya kali ini, khusus saya tujukan untuk teman-teman yang “senasib” dengan saya, yang alergi dengan tulisan-tulisan “tingkat tinggi”.

Terjemahan syair itu begini:

Iblis pun mulai membantah #

Aku ini awalnya kuning dan kemudian memerah

Warna adalah warna-Mu dan Kaulah yang memberiku warna #

Sumber kejahatan, kerusakan, dan panasku adalah Engkau

Ingatlah dan bacalah (ketika Iblis berkata) “Tuhan sebagaimana kau usir aku” #

Agar kau tak terpaksa menjadi buruk dan tubuhmu membengkok

Iblis ketika di”marahi” Allah dan diusir dari surga, dia pun mulai beragumentasi. Iblis berkata begini kepada Allah, “Aku ini api, yang berwarna kuning dan merah. Engkau (Allah) yang memberi aku warna merah menyala, yang memberi sifat ‘panas membakar’ padaku. Engkaulah yang membuat aku jadi sombong, takabur, dan membakar segala sesuatu!”

Kemudian Rumi menasehati kita, “Ingatlah ketika Iblis berkata “Ya Rabb, sebagaimana Engkau mengusir aku, aku akan menghadang mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus” (Rumi dalam syair ini menggunakan penggalan ayat QS 7:16).

Betapa sering kita mencari justifikasi atas kesalahan yang kita perbuat. Misalnya (tapi nauzubillah, deh) kita korupsi, lalu kita berkata, “Habis, gimana lagi, di kantorku semua orang korup, aku terpaksa ikut-ikutan! Di zaman ini, orang jujur adalah orang edan!” Atau, kita menolak menolong saudara yang miskin, dengan alasan, “Habis, gimana lagi, Allah tidak memberiku rezeki yang banyak, supaya aku bisa menolongnya.”

Seolah-olah, kita “terpaksa” untuk membuat kesalahan dan untuk memilih jalan yang sesat. Ini pula argumen yang disampaikan iblis, “Engkau yang memberi aku sifat panas membakar”. Inilah yang dimaksud Rumi dalam bait terakhir itu “Agar engkau tidak terpaksa menjadi buruk dan tubuhmu membengkok” (membengkok di sini bisa dimaknai menyimpang, menyeleweng).

Benarkan kita “terpaksa” ketika melakukan kesalahan-kesalahan itu?

Jawabnya ada pada hati kita…

Dari Rumah Maya Ke Rumah Qurani

Awalnya, saya hanya iseng menulis pengalaman anak saya, Kirana, dalam mengikuti kelas hapalan Quran khusus balita di milis Kafe Muslimah. (Salinan email saya itu bisa dibaca di sini). Tak lama kemudian, beberapa email berdatangan ke mailbox saya, menanyakan lebih detil lagi tentang metode sekolah tersebut. Aneh sekali, sejak saat itu, saya yang selama ini tidak terlalu akrab dengan rumah maya (saya datang mengetuk pintunya hanya ketika ada perlu saja), tiba-tiba merasa menemukan komunitas baru. Saya pun berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak saya kenal sebelumnya. Mailbox saya mendadak penuh dengan nama-nama baru yang sebelumnya tak saya dengar.

Salah satu nama baru itu, adalah seorang pria dari Singapura. Dia mengenalkan saya pada seorang lainnya di Amerika dan Bandung, yang sama-sama tertarik dengan metode pengajaran Jamiatul Quran. Akhirnya kami sepakat untuk mencoba “me-maya-kan” metode JQ itu. Dengan kata lain, metode itu kami coba tuangkan dalam tulisan dan gambar untuk kami upload ke sebuah website, sehingga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, darimana saja.

Perkenalan di rumah maya itu terus berlanjut dan meluas. Saya mengenal nama-nama seperti Fani, Ali, Aris, Daniar, Ni’mal, Echa, Maya, Waluyo, dan…sederet nama lainnya, yang tinggal di berbagai negeri. Semua tidak pernah saya kenal sebelumnya. Kami adalah komunitas di rumah maya, tidak terikat ruang dan jarak. Ajaib sekali, terutama bagi saya yang baru kali ini merasa punya komunitas di sebuah rumah tanpa dinding, cat, atap, dan mebel. Komunitas itu kami beri nama Rumahpohonku. Sayang, website yang kami cita-citakan itu belum juga terwujud karena kekurangan tenaga (ada yang berminat menjadi sukarelawan website?)

(Oya, ini kejadiannya sebelum saya kenal MP loh)

Akhirnya, seorang sahabat mayaku, tiba-tiba muncul dan menampakkan wajah, setelah dia saya racunin untuk membuat site di MP (kekeke…halo Fani). Oleh Fani, hasil diskusi dan kerja kami di rumah maya itu, diejawantahkan di sebuah rumah di bumi, yang punya dinding, cat, atap, dan mebel. Itulah Rumah Qurani.

Bila untuk berkunjung ke Rumahpohonku, kita hanya perlu duduk di depan komputer dan menekan beberapa tuts keyboard, untuk datang ke Rumah Qurani, kita harus rela tersiram debu jalanan Bandung yang panas. Rumah Qurani yang masih bayi itu kini sedang merangkak, berusaha tumbuh besar dan memberi cahayanya pada anak-anak Indonesia. Tentu ini butuh perjuangan besar dari para “ibu” Rumah Qurani, untuk memberinya makan dan semangat agar tumbuh besar.

Saya tidak bisa melukiskan kesalutan saya pada Fani yang kemudian membentuk “team darat” bersama teman-temannya yang jago gambar dan psikolog. Mereka dengan sukarela, tanpa backingan dana, kecuali dari kantong sendiri, membangun sebuah metode pengajaran Quran yang membuat anak cinta pada Al Quran, bukan takut pada guru ngaji. Yang membuat anak merasa Quran adalah bagian hidupnya, bukan buku berhuruf keriting-keriting membosankan. Yang membuat anak rindu pada kelas Quran-nya di masa kecil dulu, ketika kelak dia sudah dewasa. Yang membuat anak rindu pada guru-gurunya yang manis dan memberi kemanjaan, bukan hukuman dan sederet pe-er. Yang membuat anak tahu, bahwa Allah itu ada dan selalu mengawasi segala gerak-geriknya; bahwa akhirat itu ada dan menunggu tabungan abadinya berupa amal soleh…

Yang bisa saya lakukan hanya mengungkapkan haru dan bahagia saya lewat tulisan dan lewat baris-baris kalimat dalam doa-doa saya.

Dedicated to Fani (dan Afie yg skrg sedang liburan ke Indo dan bergabung dgn Rumah Qurani), keep the spirit!

Cerita2 Fani ttg perintisan Rumah Qurani bisa dibaca di sini

PS: sengaja foto yg saya pasang adalah Kirana, sebab, karena dialah akhirnya Rumah Qurani terbentuk, iya kan? (hehehe, ini sih Mama-nya aja yg GR)

Mencuci dengan Cinta

Ini masih cerita dari Husainiyah. Setelah selesai pengajian, beberapa perempuan sibuk mengedarkan teh panas dan kue-kue. Saya duduk sendirian di sudut. Satu hal yang paling membuat saya malas ke pengajian orang Iran adalah karena… semua yang hadir orang Iran (ya iyalah!). Maksud saya, jadi merasa terasing, gitu, sendirian. Paling-paling lempar senyum-sana-sini. Teman saya entah kemana, sepertinya sedang sibuk mengurus ini-itu.

Saya meneguk teh panas pelan-pelan. Panas sekali. Orang Iran hobi sekali meminum teh panas (sekali). Sedikit menghangat saja, mereka akan menyebutnya “sudah dingin”. Tiba-tiba, seorang perempuan duduk di samping saya sambil menghembuskan napas berat. Sepertinya lelah. Saya menyapa, basa-basi, “Khaste syudi?” (Capek ya?)

Dia langsung tersenyum, “Ya…saya mencuci semua gelas ini sendirian, satu-persatu.” Ada nada bangga di dalam kalimatnya.

Saya tidak paham, mengapa dia begitu bangga menceritakan soal mencuci gelas-gelas teh itu. Tapi, kemudian keheranan saya terjawab. Ustadzah itu (yang saya bilang, mukanya bercahaya itu loh…namanya saya tidak tahu), sedang mengobrol begini ke para ibu yang bergerombol di dekatnya, “Semua gelas di husainiyah ini selalu dicuci oleh tangan-tangan yang penuh cinta. Sehingga, teh yang dituangkan ke gelas-gelas ini terasa berbeda!”

Mencuci dengan cinta? Baru sekali ini saya dengar. Tiba-tiba mata saya terasa menghangat, ingat pada si Akang. Saya teringat, di rumah selalu mengajukan berbagai alasan agar terbebas dari tugas mencuci piring (misalnya, “Mamah kan sudah cuci baju, Pah…masak harus cuci piring pula?). Saya juga teringat, si Akang dengan sabar mencuci piring-piring itu, tanpa mengomel sedikitpun. Bahkan, jika cucian piring sedemikian banyaknya, dia malah melarang saya mencucinya, dengan alasan, “nanti Mamah kecapean.”

Ah, suamiku…tiba-tiba aku sadar…engkau melakukannya karena cinta!

Memberi dengan Cinta

Husainiyah adalah semacam Islamic center yang bertebaran diberbagai pelosok Iran. Fungsinya mirip masjid, di sana diselenggarakan pengajian, pelajaran membaca Al Quran, kelas fiqih, kelas menjahit, kelas membuat bunga, (dan berbagai keterampilan untuk perempuan), bahkan termasuk kelas taekwondo atau karate. Pokoknya, berbagai kegiatan bisa saja diselenggarakan di husainiyah. Beberapa hari yll, saya berkunjung ke sebuah husainiyah yang agak jauh dari rumah saya, namanya Zainabiyah, khusus untuk perempuan. Kunjungan ini didorong oleh teman saya yang rajin datang ke sana. Meskipun kami berbeda mazhab (dan bangsa) tapi saya pikir, selama Tuhan, Nabi, dan Quran-nya sama, ya tidak perlu repot-repot mikir ini-itu-lah. Lagian, saya pikir, selama di Iran saya musti ngaji ke mana lagi?

Singkat kata, saya duduk juga di husainiyah itu, yang hari itu serba hitam (dinding-dindingnya dilapisi kain hitam). Rupanya, sedang ada peringatan hari wafatnya Fathimah Az-zahra. Seorang ustadzah yang wajahnya putih bercahaya (ini beneran loh, wajahnya seperti punya aura tersendiri) menceritakan berbagai peristiwa menyedihkan seputar kehidupan Fathimah, sampai para hadirin (all women) tersedu-sedu menangis. Bagian cerita beliau yang membuat saya ikut menangis adalah kisah mengenai keluarga Fathimah yang bernazar untuk puasa selama tiga hari.

Pada hari pertama, ketika akan berbuka, datanglah seorang miskin mengetuk pintu dan meminta makanan. Fathimah menyerahkan satu-satunya roti yang dimasaknya hari itu. Mereka sekeluarga hanya berbuka dengan air. Hari berikutnya, mereka kembali berpuasa dan ketika akan berbuka, datanglah seorang anak yatim yang kelaparan. Fatimah kembali menyerahkan satu-satunya roti yang ada dan mereka pun kembali berbuka dengan air semata. Hari ketiga, peristiwa itu terulang lagi. Kali ini, seorang yang baru bebas dari penjara, datang meminta bantuan. Fathimah, Ali, Hasan, dan Husain pun kembali harus berbuka dengan air putih, sehingga tubuh mereka benar-benar lemah tak berdaya. Saat itulah, Rasulullah datang menemui mereka dan Jibril turun menyampaikan wahyu surat Al-Insan kepada Rasulullah.

Saya benar-benar larut pada cerita itu. Bagaimana mungkin kita bisa meneladani orang-orang seperti itu? Saya merasakan sendiri betapa berat menyedekahkan sebagian rezeki kepada orang lain. Bukan karena takut kelaparan (karena saya tidak hebat-hebat amat, sampai mau mengorbankan seluruh makanan yang ada di kulkas), tapi takut…oh, saya belum punya-ini itu. Saya sibuk berpikir, seberapa banyak sih, seharusnya kita memberi bantuan kepada orang lain?

Di rumah, saya terus disibukkan oleh pikiran itu, termasuk akhirnya curhat ke seorang anggota MP (ayo siapa) tentang “kejengkelan” saya yang terkadang muncul karena terus “diharuskan” memberi bantuan ke keluarga…padahal saya kan harus nabung. Teman saya ini malah memberi konsep baru tentang “tabungan”, misalnya: menyekolahkan adik adalah “tabungan”, menghajikan orangtua adalah “tabungan”, memberi santunan pada dhuafa adalah “tabungan”. Saya tercenung.

Akhirnya, saya membuka Quran dan membuka surat Al Insan yang disinggung oleh ustadzah di husainiyah itu, “Mereka memberi makanan—meskipun mereka sendiri sangat mnenginginkannya—kepada orang miskin, yatim piatu, dan tawanan. (mereka berkata) Kami memberi kalian makan hanya karena Allah semata. Kami tiada menginginkan balasan, dan tiada pula terima kasih dari kamu. Yang kami takutkan dari Tuhan kami ialah hari bermuram durja, hari malapetaka. Maka Allah menyelamatkan mereka dari keburukan bencana hari itu dan mencurahkan kepada mereka cahaya dan kegembiraan. Dia memberi mereka taman surga dan pakaian sutera karena kesabarannya. ….Kepada mereka diedarkan bejana perak dan piala kristal…dan mereka diberi minum … dari mata air yang disebut Salsabila.”

Oh, alangkah indahnya janji Allah bagi mereka yang mau memberi! Bukan memberi dengan pamrih dan geram di hati, tetapi, memberi dengan cinta…

Tulisan Pertama Kirana

Kemarin , Kirana tidak sekolah karena hawa sangat panas. Kasihan lah, kalau dia harus berjalan menuju playgroupnya (yang berjarak sekitar 500 meter dari kantor saya– kompleks IRIB benar-benar luas, jadi meskipun playgroup Kirana masih di dalam kompleks, letaknya tetap saja lumayan jauh). Jadi, saya ajak dia duduk di kantor dan menemani saya bekerja. Seperti biasa, kalau Kirana saya ajak ke kantor, ia akan duduk mengambil kertas, lalu sibuk menggambar atau membuat kerajinan tangan (tentu, tidak bagus-bagus sangat). Kali ini dia sibuk membuat handpone-handphone-an. Saya tersenyum sendiri, teringat bahwa sejak umur 8 bulan dulu, Kirana memang terobsesi pada handphone. Tiap lihat orang pakai HP, dia akan teriak, minta pinjam. Juga, teringat bahwa saya dan suami di Iran ini tidak punya HP karena harganya yang sangat mahal (beli line-nya aja 10 juta rupiah, belum pesawatnya). Jadi, ketika pulang kampung kemarin, keluarga saya di Padang pada ngetawain, “Hari gene nggak punya HP?!!” Belum lagi, saya ingat tatapan heran orang-orang di bank, costumer service di Malaysian Airlines, Garuda, dll, ketika saya menjawab “tidak punya”, saat mereka menanyakan nomor HP saya.

Lalu tiba-tiba…Kirana mendekat dan menyodorkan “handphone” buatannya. Anda tahu apa yang tertulis di atas HP dari kertas itu?

mama

kirana

Wah….saya benar-benar takjub! Inilah tulisan pertama Kirana! Biasanya, dia bisa menulis dengan saya bimbing, “Habis k…tulis.. i…lalu…r…” Kali ini, dia berhasil menulis sendiri tanpa bantuan saya!

Bagi orang lain, mungkin ini biasa-biasa saja. Tapi tidak bagi saya. Ini benar-benar hasil perjuangan besar. Saya bukan orang yang sabaran mengajari anak. Apalagi, saya selalu kelelahan tiap pulang dari kantor. Rasa lelah membuat saya semakin tidak sabaran. Pernah sekali, Kirana menangis karena saya bentak gara-gara dia selalu salah menyebut huruf. Saya benar-benar menyesal dan sejak saat itu, saya memilih untuk tidak mengajarinya lagi. Biarlah itu menjadi tugas guru SD-nya nanti, begitu pikir saya.

Sampai akhirnya…Mbak Pungki menulis jurnal yang benar-benar seru dan lucu berjudul Our Seasonal Homeschooling. Wah, saya benar-benar kagum pada kesabaran beliau (meskipun, ada juga kalimat begini di jurnalnya: Ketika ini mencoba diterapkan di rumah. Rumah tiba-tiba jadi penuh dengan battle. Suara sayapun mulai meninggi. Seperti biasa suami, ingin main golf saja, karena tidak tahan suara “Emphasize voice”nya saya. Akhirnya sang Ibu mencoba bicara pelan2.). Lalu, ketika saya mengeluh padanya tentang Kirana yang belum juga bisa membaca (dalam bahasa Indonesia), beliau langsung menulis jurnal berjudul “Mengajarkan Membaca Kepada Anak-Anak.” Ada satu nasehatnya yang saya pegang betul “Yang dibutuhkan hanyak kesabaran, kasih sayang, dan ketekunan.”

Tulisan Mbak Pungki, ditambah pula dengan tulisan Mbak Vita tentang muslimah produktif: muslimah produktif itu harus dipahami sebagai sosok yang berupaya memanfaatkan waktu yang tersedia untuk mencapai tingkatan kualitas (standar) seorang muslimah yang ideal, yaitu yang sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits. Saya pikir, setidaknya saya harus berusaha menjadi muslimah yang disebut Rasul: Al ummu madrasatun (ibu adalah sekolah). Meskipun, ada kalanya pikiran nakal muncul, enak bener nanti guru SD Kirana, tidak perlu capek-capek mangajar baca, padahal kan sudah dibayar mahal-mahal?

Singkat kata, saya pun kembali memulai mengajari Kirana membaca. Saya berhasil menekan rasa marah di sela kelelahan saya dan dengan sabar mengajarkan membaca pada Kirana. Awalnya, kemajuan terasa lambat. Dia lupa lagi, lupa lagi. Tapi saya ingat kata Uni Desti: Untuk anak-anak, jangan bosan mengulang-ulang (kalau setelah beberapa lama, anak kelihatannya lupa, jangan sedih, itu lumrah, kasih tau aja lagi). Jangan mengharap hasil yang instan, apalagi perkembangan tiap anak berbeda (anak yang belum ‘menghasilkan’, bicara atau menulis, belum tentu tidak mampu. Bisa jadi dia sebenarnya masih mau ‘menampung’ input sebelum memproses. Biasanya justru yang cerdas yang begini..).

Akhirnya…hore… k
emarin Kirana berhasil menulis dua kata pertamanya!

NB: Saya tinggal di Teheran, Mbak Pungki di San Bruno, Uni Desti di Toronto, Mbak Vita di Mörfelden-Walldorf, Hessen. Ajaib sekali ya, kami semua bisa saling berkomunikasi dan saling berbagi cerita, padahal, beberapa bulan sebelum ini kami bahkan sama sekali tidak saling mengenal. Terimakasih saudari-saudariku!