Rumi dan Argumen Iblis

Sehari kemarin, saya sibuk berkutat dengan makalah yang saya janjikan untuk sebuah jurnal di Indonesia. Tahu, tentang apa? Sastra Persia!!! Topik ini benar-benar tidak saya kuasai. Saya bahkan tidak tahu apa beda Iran dan Persia, apa beda Rubaiyyat dan Matsnawi, Rumi dan Umar Khayyam… Tapi, demi memenuhi janji, saya coba juga, dan akhirnya saya menemukan konsep ini: jangan takut untuk menulis sesuatu yang tidak engkau ketahui karena justru dengan menulis engkau akan mengetahuinya.

Secara kebetulan, saya menemukan beberapa bait syair Rumi yang menarik (benar-benar kebetulan, karena saya membuka kitab itu secara acak, mencari-cari bait-bait yang vocabulary-nya rada familiar). Sebenarnya, bahasan tentang Rumi sudah banyak ditulis oarng di Indonesia. Tapi, karena menggunakan bahasa yang ‘tinggi’, saya langsung pusing pada paragraf pertama dan memilih menghindari tulisan-tulisan sufistik semacam itu. Jadi, cerita saya kali ini, khusus saya tujukan untuk teman-teman yang “senasib” dengan saya, yang alergi dengan tulisan-tulisan “tingkat tinggi”.

Terjemahan syair itu begini:

Iblis pun mulai membantah #

Aku ini awalnya kuning dan kemudian memerah

Warna adalah warna-Mu dan Kaulah yang memberiku warna #

Sumber kejahatan, kerusakan, dan panasku adalah Engkau

Ingatlah dan bacalah (ketika Iblis berkata) “Tuhan sebagaimana kau usir aku” #

Agar kau tak terpaksa menjadi buruk dan tubuhmu membengkok

Iblis ketika di”marahi” Allah dan diusir dari surga, dia pun mulai beragumentasi. Iblis berkata begini kepada Allah, “Aku ini api, yang berwarna kuning dan merah. Engkau (Allah) yang memberi aku warna merah menyala, yang memberi sifat ‘panas membakar’ padaku. Engkaulah yang membuat aku jadi sombong, takabur, dan membakar segala sesuatu!”

Kemudian Rumi menasehati kita, “Ingatlah ketika Iblis berkata “Ya Rabb, sebagaimana Engkau mengusir aku, aku akan menghadang mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus” (Rumi dalam syair ini menggunakan penggalan ayat QS 7:16).

Betapa sering kita mencari justifikasi atas kesalahan yang kita perbuat. Misalnya (tapi nauzubillah, deh) kita korupsi, lalu kita berkata, “Habis, gimana lagi, di kantorku semua orang korup, aku terpaksa ikut-ikutan! Di zaman ini, orang jujur adalah orang edan!” Atau, kita menolak menolong saudara yang miskin, dengan alasan, “Habis, gimana lagi, Allah tidak memberiku rezeki yang banyak, supaya aku bisa menolongnya.”

Seolah-olah, kita “terpaksa” untuk membuat kesalahan dan untuk memilih jalan yang sesat. Ini pula argumen yang disampaikan iblis, “Engkau yang memberi aku sifat panas membakar”. Inilah yang dimaksud Rumi dalam bait terakhir itu “Agar engkau tidak terpaksa menjadi buruk dan tubuhmu membengkok” (membengkok di sini bisa dimaknai menyimpang, menyeleweng).

Benarkan kita “terpaksa” ketika melakukan kesalahan-kesalahan itu?

Jawabnya ada pada hati kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s