Islam Agama Feminis?

Jangan terjebak sama judul. Saya nggak akan nulis yang berat-berat kok. Cuma cerita tentang pesta kemarin-lusa. Tanggal 20 Jumadits-tsani adalah Hari Ibu di Iran. Kalau Hari Ibu di Indonesia jatuh tanggal 22 Desember dengan dalil adanya Kongres Wanita tempoe doeloe, Hari Ibu di Iran disesuaikan dengan hari kelahiran seorang perempuan penghulu surga, Fathimah Az-Zahra. Sayapun bela-belain “pulang kampung”, ke kota Qom, untuk mengunjungi Modarbuzurg Kirana.

Saya dan enam anak perempuan modarbuzurg” (=nenek) sebelumnya sudah saling bisik-bisik untuk mengadakan pesta keluarga buat sang Ibu. Pada hari H, saya datang dan mereka ternyata juga sudah mempersiapkan kue tart dan hadiah2. Semua rahasia. Tapi, menjelang sore, terjadi dialog begini:

“Aku mau pergi ngundang temen-temenku dulu ya? (Ibu)

“Emangnya mau apa ngundang-ngundang?” (anak)

“Lho, bukannya kalian mau mengadakan pesta buatku?!” (Ibu)

Ya…batal deh, surprisenya! Tapi, untuk “usaha terakhir” si anak keukeuh, “Ge-er amat, siapa yang mau bikin pesta?!”

Meskipun hanya pesta keluarga, keluarga si Ibu dandan heboh. Termasuk Kirana. Dia emang hobi dandan, jadi dengan senang hati rambutnya diblow oleh Tante-nya, diberi jepit-jepit, dikasih cat merah pada beberapa bagian, ngotot pake eye shadow, berkeras dia sendiri yang memoleskan lipstik, dan minta dikasih kuteks. Aduh, ganjen abis deh, tuh anak. Hidangan pesta hanya kuet tart, es krim dan permen. Kami bercakap-cakap, menyanyi-nyanyi, tertawa-tawa, dan sibuk berfoto-foto (sorry, foto-fotonya off the record, dong). Secara keseluruhan, pestanya pun hanya berlangsung sebentar (lebih lama dandannya!). Terakhir, si Ibu membuka kado-kado dari anak-anaknya dan protes, “Loh, kado dari Baba mana?!” (Baba=ayah). Si Baba tidak ikut dalam pesta, karena itu pesta khusus perempuan.

Saya sendiri, nggak dapat kado apa-apa dari suami (eh, ada ding, itu, hasil rekaman nyanyi Papa dan Kirana). Tapi bagi saya, kasih sayang dan pengertiannya selama ini, termasuk kebebasan yang dia berikan kepada saya untuk pergi keluar kota berdua saja dengan Kirana, lebih mahal dari hadiah apapun di dunia…bahkan dibanding hadiah se-buket bunga sekalipun. Lagipula, di kantor saya juga dapat hadiah Women’s Day berupa uang 600.000 riyal (=rupiah). Karena pegawai laki-laki tidak mendapat hadiah ini, seorang teman kantor saya ngomel, “Ah, Islam ini memang agama feminis!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s