Dari Toilet ke Feminisme

Seperti biasa, toilet khusus perempuan di kantor saya menjadi media curhat antar bangsa (soalnya, di kantor saya, ada pegawai dari berbagai bangsa yang bekerja di Radio Indonesia, Jepang, Cina, Bangladesh, India, dll). Sambil wudhu atau memperbaiki make-up, ibu-ibu akan bertukar cerita apa saja, termasuk gosip-gosip terbaru. Hari ini, saya mendengar curhat dua ibu, satu orang Bangladesh, satu orang India (ngobrolnya pakai bahasa Persia, jadi saya paham). Topiknya sama: kerepotan dalam mengurus keluarga. Mereka mengeluh kelelahan karena setelah bekerja di kantor, di rumah pun, mereka harus melakukan tugas-tugas domestik. Di Iran ini pembantu rumah tangga sangat tidak lazim. Hanya orang kaya raya yang punya pembantu.

Saya jadi ingat pada pembicaraan saya dengan seorang aktivis feminis Iran, beberapa hari lalu. Dia bilang, “Saya menjunjung tinggi Islam. Namun, ada banyak hal-hal yang tidak diatur secara eksplisit dalam Islam. Misalnya, Islam menyebutkan bahwa suami bertanggung jawab untuk memberi nafkah, dan istri diwajibkan menuruti semua kehendak suami. Lah, kalau si istri juga bekerja dan memberi sumbangan pendapatan pada keluarga, apa dia masih tetap harus melayani kehendak suami kapanpun juga, dan bila menolak, tetap dianggap sebagai dosa?”

Kehendak suami sebenarnya bukan cuma untuk urusan yang ‘itu’. Banyak yang lain, misalnya, suami minta disediakan makan, atau sambil duduk santai di depan TV, dia teriak, “Ma….ambilin air dong!” Baju kotor numpuk di laundry, siapa yang harus mencuci? Ya istri, dong. Kalaupun suami yang masak (kayak suami saya), dia akan menambahkan kalimat, “Nasib…nasib…” (Kemarin malam, si Akang juga sudah kasih ultimatum, “Ma, nanti kalau kita sudah di Indonesia, Papa mungkin tidak sempat lagi bantu-bantu Mama. Mama harus siap.”) Belum lagi urusan anak. Siapa yang harus nyebokin, siapa yang harus membuatkan makanan, menyuapinya, memandikannya, dll?

Ustazah di pengajian ibu-ibu RT dekat rumah saya pernah berkata, ”Secara fiqih suami tidak berhak memberi perintah kepada istri, kecuali perintah untuk ‘itu’ (ups, jangan protes, ini fiqih mazhab Ja’fari yang banyak dianut orang Iran). Tapi, secara akhlak, istri harus berbakti kepada suami dengan niat ibadah kepada Allah. Jadi, bila suami menyuruhmu mengambil air minum, ambillah air itu dengan niat lillahi ta’ala. Pahala besar akan menantimu di surga.”

Oke, Ustadzah, saya setuju-setuju saja. Tapi, kalau CAPEK gimana doooong….?

©dinasulaeman

photo: ambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s