Mengapa Perempuan Suka ke Mall?

Kali ini saya pengen cerita sekilas ttg serba-serbi Seminar dan Lokakarya Mahasiswa Se-Timur Tengah dan Sekitarnya. Pada hari Jumat … giliran saya dan Euis jadi pembicara tentang masalah perempuan. Sejak awal, sesi ini sepertinya emang udah ditakdirkan untuk tempat ger-geran setelah hari-hari sebelumnya serius abis. Moderatornya si Akang. Dengan santai, dia bilang gini, “Assalamualaikum wrwb. Saudara pendengar sekalian…” Wakakakak…semua hadirin langsung ngakak abis. (Paham kan di mana letak lucunya? Akangku kan penyiar radio, jadi dia salah ngomong, saking terbiasanya menyebut “saudara pendengar”.)

Setelah saya dan Euis membacakan makalah kami, yang tentu saja isinya serius, dibuka sesi tanya-jawab. Ternyata, pertanyaan yang muncul lucu-lucu (rada sebel juga, udah stress bikin makalah, rek). Paling 40 persen saja yang menanggapi dengan pertanyaan yang ‘berat’.

Mbak L nanya, “Kak, tadi dalam makalah disebutkan bahwa tugas ibu adalah mendidik anak. Nah, gimana caranya, membuat anak supaya tidak takut pada bapaknya?”

Mas H bertanya, “Saya lihat di Indonesia itu, perempuan sukanya belanja di mall. Gimana caranya mendidik perempuan supaya tidak hobi belanja, karena hobi itu mengganggu perekonomian laki-laki!” Hadirin lebih seru ketawa dan tepuk tangan, karena rupanya gosip sudah beredar bahwa H sedang ngincer L. Si Akang juga kasih komentar, “Jadi, menurut H, yang tertindas itu adalah laki-laki ya?”

Yang lebih lucu lagi, Mas A (yang emang paling ahli ngocol di antara mahasiswa Indonesia di Iran), mempertanyakan (dengan gaya dan kalimat-kalimat pendahuluan yang luar biasa kocak), “Mengapa di makalah Anda tidak dibahas masalah poligami?” Dalam menanggapinya, saya bilang “no coment”. Si Akang kembali menimpali, “Takut sama saya ya?”

Di sesi lain yang membahas tentang globalisasi dalam pandangan Islam, para hadirin juga sempat beberapa kali tertawa. Pasalnya, ada satu tamu yang non-muslim, bernama M. Walhasil, (mungkin untuk toleransi) semua orang ketika membicarakan Islam, pasti menyebut M. Misalnya, ada yang mengomentari makalah sbb, “Islam memang rahmatan lil alamin. Tapi, kalau umat lain memerangi Islam, apa kita harus terus beramah-ramah? Tentu saja, harus dicatat bahwa tidak semua umat non-muslim memerangi Islam. Saya kenal betul dengan orang yang namanya M. Wah, kalo pemimpin dunia ini kayak Mas M, dunia pasti aman dan damai.” Wakakakak….(temasuk si M yang ternyata kocak juga).

Cerita tentang Mas M, lumayan menarik juga. Rupanya dia sebelum ini punya persepsi negatif tentang Iran. Di bayangannya, Iran itu fanatik, kasar, dan situasinya kayak Afganistan sana. Setelah sampai di Iran, dia terheran-heran, ternyata biasa-biasa saja. Dia sempat diajak ikut sholat Jumat dan heran, “Kok tidak ditanya-tanya orang, meski saya tidak sholat?” Keakraban yang terjalin di antara peserta dan para mahasiswa Indo di Iran pun sempat membuat matanya berkaca-kaca ketika perpisahan (ini sih kata temenku, nggak lihat langsung).

Yang punya persepsi negatif tentang Iran bukan cuma Mas M yang notabene non muslim. Teman dari negara Tim-Teng pun hampir semua menyatakan keterkejutannya, karena yang mereka dapati di Iran tidak sama dengan berita-berita yang selama ini mereka dengar. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa di negara tempat mereka belajar tersiar kabar, cewek-cewek Iran yang lewat di jalan-jalan dengan mudah bisa diajak kawin kontrak. Temen saya jawab, “Yuk, kita coba ngajak cewek di jalan, kalo kamu memang siap digampar!” (Asal tau aja, cewek Iran gualak abis loh. Ditoel dikit aja, dia akan langsung teriak dan maki-maki yang bikin orang sekampung pada ngerubung—saya pernah liat kejadian ini, si cowok menunduk dengan muka merah menahan malu).

Anyway, mendengar tanggapan para tamu tentang Iran yang terkaget-kaget setelah berkunjung ke negeri ini, saya jadi ingat sama ayat Quran berikut ini, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa satu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (49:6)

PS: Persepsi negatif tentang Iran ini, untungnya tidak menghinggapi saya dulu, sehingga saya dengan enteng mengiyakan ketika dapat tawaran beasiswa ke Iran. Saat itu, saya cuma punya satu persepsi… persepsi cinta, wakakaka….cinta ama si Akang!

©dinasulaeman

dedicated to PPI Iran (HPI) yang kompak abissss!

foto: DR. Yudi Latif dan Ammar Fauzi Heriyadi (PPI Iran/HPI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s