Penerapan Syariah Islam: Antara Aceh dan Iran [Bagian 3-Tamat]

Dalam kondisi seperti ini, adilkah bila menilai Aceh dan Iran gagal? Atau, dibalik deh, adilkah bila berkata, “Ah, omong kosong itu syariah Islam di Aceh, di Iran, buktinya si anu ciuman di depan umum, tetanggaku orang Iran nggak ikut sholat Jumat, temen kuliahku orang Iran pake baju seksi, dll?”

Kalau saya pikir sih, ya tidak adil. Dalam menilai keberhasilan sebuah sistem, kita harus memakai skala makro. Iran misalnya, dalam 25 tahun terakhir, dengan sistem Islam ternyata berhasil meningkatkan HDI-nya secara signifikan—jauh lebih pesat dibanding pada masa rezim kerajaan (HDI=Human Development Index, salah standar kemajuan sebuah negara menurut PBB). Atau, menggunakan parameter-parameter makro lainnya. Misalnya, bila dibandingkan sebelum menjadi Republik Islam, tingkat perkosaan perempuan dan angka kehamilan di luar nikah menurun tajam. Tingkat pendidikan kaum perempuan antara sebelum menjadi Republik Islam dengan setelahnya, meningkat tajam. Keadilan sosial terlihat lebih merata (ini ada index-nya, saya lupa istilahnya apa)—setidaknya jauh lebih merata dibandingkan dengan Indonesia (sekali lagi, tentu saja belum ideal).

Atau di tingkat politik, dulu, Iran adalah negara boneka Amerika; segala keputusan pemerintah Iran harus mendapat restu dari Gedung Putih (makanya, sekarang Amerika dendam bangetJ), sekarang sudah berubah menjadi negara yang independen dan berani berkata ‘tidak’ pada kekuatan adidaya dunia (baca jurnal saya di sini). Dan yang menurut saya paling penting, adanya adanya dukungan dari negara bagi rakyat untuk menjalani kehidupan yang relijius. Misalnya, yang bikin ngiler, biaya haji yang sangat murah dengan pelayanan mewah (mewah bila dibandingkan dengan fasilitas ONH biasa di Indonesia). Mau ikut sholat Jumat, disediakan bis-bis gratis pulang-pergi. Acara-acara i’tikaf di bulan Ramadhan dibiayai penuh oleh negara, dll.

Nah, mari kita kembali ke Aceh. Saya belum banyak mempelajari, seperti apa syariah Islam yang diterapkan di Aceh. Apakah syariah Islam di Aceh sudah diterapkan dalam sebuah sistem yang terpadu? Siapa yang menjadi rujukan hukum tertinggi di Aceh? Apakah gubernur? Kalau gubernur, apakah gubernur yang ada memang paham hukum-hukum Islam? Dan masih banyak lagi sederet pertanyaan tentang syariah Islam di Aceh. Ketika sistemnya sudah terbangun secara ideal (yang saya pahami sih, saat ini masih sepotong-sepotong, terbatas pada masalah jilbab, hukum cambuk, dll, sementara sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem politik, dll masih belum disentuh—mohon dikoreksi kalau salah), barulah kita bisa menerapkan penilaian dengan parameter makro seperti yang tadi saya sebutkan untuk Iran.

Dengan demikian, sekarang ini masih sangat dini untuk menilai dan menerapkan parameter makro terhadap penerapan syariah Islam di Aceh. Perlu proses panjang untuk membangun sistem syariah Islam yang ideal dan perlu waktu pula untuk menerapkannya secara menyeluruh (itupun kalau tidak keburu bubar, diobok-obok oleh pihak-pihak yang anti syariah Islam).

©dinasulaeman

[disclaimer: seperti yang saya tulis di bagian pertama, saya tidak sedang mempropagandakan Iran. Saya hanya orang Indonesia yang tinggal di Iran dan jadi pengamat amatiran]

Advertisements

Penerapan Syariah Islam: Antara Aceh dan Iran [Bagian 2]

Kita lanjutkan, ketika sistem Islam diterapkan di sebuah masyarakat (tentu harus melalui kesepakatan masyarakat itu, tidak boleh dipaksakan. Di Iran, dulu ada referendum, baru akhirnya dibentuk Republik Islam), apakah serta merta masyarakat itu berubah menjadi surga? Apakah otomatis semua individunya Islami dan ideal? Tentu saja tidak. Sebab pertama: selama namanya dunia, tidak ada yang ideal. Sebab kedua: ada banyak penafsiran tentang Islam. Kembali ke Iran, banyak yang tidak sepakat bahwa jilbab itu wajib. Sistem Islam oke, tapi jangan mengatur penampilan individu dong, kata mereka. Ini baru satu contoh. Banyak lagi perbedaan pendapat yang lain. Jadi, wajar saja bila terjadi banyak friksi dan banyak ‘perangai’.

Mari kita beralih ke Aceh. Saya benar-benar orang luar yang tidak banyak paham tentang Aceh. Yang jelas, ketika syariah Islam diterapkan di Aceh, ada beberapa kritikan yang saya dengar. Di antaranya, Aceh itu belum siap. Orang-orangnya belum Islami, kok menerapkan syariah Islam segala? Belum lagi kritikan dari aktivis feminis. Katanya, penerapan syariah Islam di Aceh (dan beberapa daerah lain di Indonesia), malah menindas perempuan. Kenapa? Karena kebebasan perempuan jadi terkekang akibat kewajiban berjilbab!

Saya sama sekali tidak ingin membicarakan ‘baik atau tidak’-nya penerapan syariah Islam di sebuah masyarakat (jadi diskusinya jangan dibawa ke sini ya). Yang ingin saya soroti: ketika syariah Islam sudah diterapkan di sebuah komunitas, apakah serta merta semua individunya harus Islami? Apakah ketika ada individu berlaku tidak Islami, bisa langsung dinilai bahwa masyarakat itu gagal dalam menerapkan syariah Islam?

Jawabannya (menurut saya): tidak sama sekali. Syariah Islam, sama seperti sistem hukum lain, membutuhkan proses. Jika sistem demokrasi liberal di Barat membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun, baru akhirnya menjelma menjadi negara yang maju, teratur, dan rapi, mengapa syariah Islam tidak diberi kesempatan untuk menjalani proses panjang itu? Apalagi, ada banyak faktor pembeda. Orang-orangnya, tingkat pendidikannya, sumber daya alam, kesempatan yang diberikan oleh dunia, dll (perlu dicatat, negara-negara Barat itu bisa maju salah satunya karena kaya. Kaya-nya dari mana? Ya dengan menguras kekayaan negara-negara jajahan mereka!).

Juga, perlu dicatat, sistem yang diterapkan di Barat semakin lama justru semakin menuju ke titik nol. Seperti dulu eksperimen negara komunis yang akhirnya hancur seiring dengan runtuhnya Uni Soviet, sistem demokrasi liberal ala Amerika, misalnya, sudah mulai dipertanyakan dan bahkan ada futuris yang meramalkan kehancurannya (Emmanuel Todd, After The Empire—dia juga yang dulu meramalkan kehancuran Uni Soviet). Jadi, syariah Islam pun perlu waktu panjang sebelum bisa dinilai baik-tidaknya. Kalau keyakinan umat Islam sendiri sih, bila diberi kesempatan ‘hidup’, syariah Islam akan jaya dan tidak akan hancur.

Aceh bisa dibilang baru sekarang ini ‘merdeka’ (diberi kebebasan mengatur sendiri daerahnya, dan mereka memilih untuk menerapkan syariah Islam). Iran baru 25 tahun yang lalu menerapkan syariah Islam. Selama 25 tahun itupun, Iran tidak pernah henti dihajar propaganda, boikot, embargo, dan invasi militer (termasuk serangan dan boikot dari orang-orang muslim sendiri, dengan alasan: Iran itu bukan negara Islam, karena mereka Syiah; Syiah itu bukan Islam, tapi sesat dan kafir. Waduh!)

Dalam kondisi seperti ini, adilkah bila menilai Aceh dan Iran gagal? Atau, dibalik deh, adilkah bila berkata, “Ah, omong kosong itu syariah Islam di Aceh/Iran, buktinya si anu ciuman di depan umum, tetanggaku orang Iran nggak ikut sholat Jumat, temen kuliahku orang Iran pake baju seksi, dll?”

Bersambung lageeee….

Penerapan Syariah Islam: Antara Aceh dan Iran [Bagian 1]

Tulisan ini terinspirasi oleh kegundahan hati Kakakku tersayang yang ditulis di sini, tentang kasus adegan ciuman seorang gadis Aceh dengan TNI. Rupanya kasus itu dihubung-hubungkan dengan penerapan syariah Islam di Aceh. Dengan kata lain, kasus itu rupanya dijadikan parameter keberhasilan penerapan syariah Islam di Aceh. Benarkah?

Saya jadi teringat pada diskusi yang terjadi di jurnal saya yang ini. Terus terang, saat itu saya sempat merasa diposisikan sebagai ‘agen propaganda Iran’. Teman-teman MP satu-persatu memberi laporan tentang perangai orang Iran yang mereka jumpai dan saya diposisikan untuk menjawab, “Mengapa kelakuan orang Iran begini-begitu. Katanya negara Islam?!” Saya sempat bingung dan rada-rada tersinggung. Emangnya gue orang Iran apa? Saya hanya menulis apa yang saya lihat oleh mata saya yang asli Indonesia, bukan sedang jadi agen propaganda Iran (meskipun kerja di Iran Broadcasting, kikikik).

Tapi, dari diskusi itu saya mengambil satu pelajaran besar bahwa semua muslim sesungguhnya memiliki harapan tentang masyarakat ideal. Ketika mereka menjumpai ada sebuah negara yang mengaku menerapkan sistem Islam, lalu mendapati berbagai bentuk ketidakislamian di dalamnya, mereka (termasuk saya, tentu) kecewa dan mempertanyakan. Begitu pula rupanya yang kini sedang terjadi di Aceh.

Kekecewaan terhadap Iran sempat hinggap dalam diri saya ketika menghadapi berbagai peristiwa yang bikin dongkol. Misalnya, kalau sedang ngurus administrasi, jangan harap bisa selesai dengan cepat dan lancar. Ngurus exit permit aja bisa sampai sebulan baru beres! Sikap cemberut pegawainya (nggak semua, tentu, tapi biasalah, manusia kan suka menggeneralisir) akan membuat kita spontan bertanya, “Katanya negara Islam, kok melayani rakyat begini caranya?!” Belum lagi bila melihat (sebagian) perempuan Iran (baca: Tehran, ibu kota) yang pakai kerudung asal-asalan, pake make-up super tebal plus kaca mata item, wuiiih… Pesta-pesta pernikahan di Tehran, banyak yang campur-aduk laki-laki dan perempuan, perempuannya pakai baju pesta yang seksi-seksi di depan laki-laki yang bukan muhrim, lalu mereka berdansa-dansi. Sekali lagi, tidak semua pesta pernikahan seperti ini, tergantung siapa yang mengadakan. Kalau keluarga mempelai adalah keluarga yang soleh, ya pasti pestanya dipisah antara laki dan perempuan.

Saya sempat bertanya kepada ustadzah di RT saya, buat apa Iran menerapkan sistem Islam, kalau tidak mampu membuat seluruh aspek kehidupan masyarakatnya Islami? Si ustadzah menjawab singkat, “Sistem Islam memberi kesempatan untuk orang yang ingin hidup Islami, untuk menjalani kehidupan Islami itu.”

Artinya (ini penafsiran saya), sistem Islam yang diterapkan dalam sebuah masyarakat adalah wadah atau ruang semata. Perempuan yang ingin menggunakan jilbab mendapat kebebasan, untuk memakai jilbab dalam profesi apapun, termasuk jadi dokter bedah atau pilot pesawat. Laki-laki yang ingin menjaga pandangan dan kesucian hati, difasilitasi oleh aturan yang melarang perempuan pamer aurat di depan umum. Dan masih banyak contoh lain, karena dimensi ‘keislamian’ itu tidak terbatas soal jilbab dan hijab saja.

Tentu saja, ini sistem Islam versi Iran yang memang tidak mencampuri kehidupan individu. Ketika sebuah keluarga menyelenggarakan pesta yang tidak Islami di rumah mereka sendiri, polisi tidak berhak menggerebek. Itu urusan keluarga itu dengan Allah. Ketika pesta itu sudah mengganggu kepentingan umum (ada pengaduan tetangga yang terganggu oleh bunyi musik yang keras), barulah polisi turun tangan.

(biar gak capek bacany
a, bersambung ya…
kan salah satu tips menulis di internet itu: tidak boleh panjang-panjang!)

Bangsa yang Keras Kepala

CNN pernah menjuluki Iran sebagai bangsa yang keras kepala. Semakin diserang propaganda dari luar, semakin mereka ‘mokong’. Misalnya, dalam pemilu lalu, propaganda luar biasa anti pemilu dilancarkan habis-habisan oleh pihak luar. Tapi hasilnya? Justru rakyat Iran malah semakin semangat ikut pemilu, dengan motivasi “Untuk membuktikan pada Amerika bahwa kami tidak terima diatur-atur!” (ini jawaban kebanyakan orang yang diwawancarai tivi).

Kini, kekeraskepalaan bangsa Iran kembali terlihat dalam masalah nuklir. Setelah Iran melakukan usaha diplomasi habis-habisan, hanya Venezuela yang berani menolak resolusi terakhir IAEA yang isinya: melarang Iran melanjutkan proses pembuatan bahan bakar nuklir, mengharuskan Iran membeli bahan bakar nuklir dari Eropa, dan memerintahkan Iran agar menerima inspeksi lebih luas daripada yang diharuskan oleh aturan resmi IAEA. Negara-negara Gerakan Non Blok yang selama ini mendukung Iran, pada akhirnya harus tunduk pada tekanan Barat dan memberi suara abstain pada resolusi ini.

Yang saya pahami, Iran sedang dalam proses membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Nah, reaktornya tentu saja butuh bahan bakar. Berbeda dengan negara dunia ketiga lain yang membeli bahan bakar itu dari segelintir negara maju, Iran mengambil kebijakan untuk membuat sendiri bahan bakar nuklir itu (bahan dasarnya adalah uranium, barang tambang yang banyak dimiliki Iran). Tapi Amerika dan Eropa berkeras melarang Iran melakukan proses ini dan memaksa Iran untuk membeli bahan bakar dari mereka. Alasannya: khawatir Iran nanti malah bikin senjata nuklir!

Tanggapan Iran? Ini yang seru. Rafsanjani, yang kalah pemilu dari saingannya, Ahmadinejad yang sekarang menjadi Presiden Iran, dalam tiap khutbah Jumatnya, dengan tegas mendukung langkah Presiden Iran. Bahkan, mengomentari ancaman embargo dari Barat, Rafsanjani berkata, “Kita toh sudah pernah diembargo, jadi tidak ada masalah.” Memang, masa embargo yang pernah dilalui Iran justru menjadi blessing in disguise. Mereka justru pada era itulah mampu berswasembada dalam banyak hal. Larijani, yang juga kalah telak dalam pemilu, sekarang malah menjadi penanggung jawab urusan nuklir Iran dan benar-benar seiya-sekata dengan Presiden. Qalibaf (yang wajahnya mirip Bruce Willis itu), saingan Ahmadinejad yang lain, sekarang jadi Walikota Tehran (dipilih oleh Dewan Kota, semacam DPRD) dan dengan adem-ayem melaksanakan program-program pemerintah. Pemilu sudah lewat toh, buat apa ribut?

Parlemen bahkan sudah menggodok UU untuk memerintahkan Presiden agar keluar saja dari protokol tambahan NPT. Rakyat Tehran, yang biasanya paling keras mengkritik pemerintah, dalam polling justru 98 persennya mendukung langkah pemerintah dalam masalah nuklir. Mahasiswa, jangan ditanya. Selama beberapa pekan terakhir mereka heboh demo di mana-mana, terutama di depan Kedubes Inggris. “Israel dibolehkan memiliki senjata nuklir, mengapa kami yang hanya ingin memanfaatkan teknologi nuklir untuk memproduksi listrik dihalang-halangi?” kata seorang mahasiswa berambut gondrong dan klimis (tanpa cambang/jenggot)– penampilan yang biasanya diidentikkan dengan ‘ketidaksetiaan pada nilai revolusi’. Kharazi, jubir Menlu, dengan santai berkata, “Kita lihat saja siapa yang rugi dengan menekan Iran.”

Semua kekeraskepalaan mereka membuat saya iri. Saya, warga Indonesia, yang harus mendengar kabar bahwa diplomasi Indonesia ‘minta belas kasihan’ dari negara-negara pemberi hutang di Paris Club gagal total, bahwa BBM harus naik demi memenuhi tunt
utan para investor asing (alasan resmi: bujet pemerintah ndak cukup untuk memberi subsidi!), bahwa pemerintah manut dan inggih-inggih saja pada IMF yang mengobok-obok Indonesia, bahwa kita harus kelabakan ketika diembargo senjata oleh Amerika (saat Ambalat hampir diserang Malaysia, media massa menunjukkan data-data bahwa fasilitas militer Indonesia ternyata kalah jauh dari Malaysia). Ah, kapankah bangsaku bisa menjadi bangsa yang keras kepala juga, yang berdiri tegak menentang hinaan dan tekanan bangsa asing?

©dinasulaeman

photo from here.

Kado untuk Sang Putri

Putriku sayang, lima tahun lalu engkau lahir dengan membawa kebahagiaan yang terlambat Mama sadari. Rasa sakit yang mendera dan depresi berkepanjangan (istilah kerennya: baby blues) membuat Mama awalnya lupa mensyukuri keberadaanmu. Bahkan, Mama sempat bilang, “Mendingan Papa kawin lagi deh, kalo mau punya anak lagi!”

Putriku sayang, waktu berlalu dan engkau semakin hari tumbuh semakin menakjubkan. Rambutmu ikal (hampir keriting), kulitmu putih kayak orang Cina (meskipun, setelah kita berlibur ke Indonesia, kulitmu berubah jadi coklat ), sabar, manis, dan pintar membuat Mama tertawa. Semakin hari, semakin besar cinta Mama padamu.

Putriku sayang, Mama ingat, sekitar setahun yang lalu, engkau pulang dengan penuh antusias setelah main ke rumah temanmu, dan berkata, “Mama, Kirana mau punya adik kayak adiknya Aida!” Ya, Mama Aida (orang Bosnia) memang baru saja melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Shaida. Mama hanya menjawab kecut, “Kirana berdoa saja pada Allah.”

Sejak itu, engkau rajin sholat dan setiap sholat engkau membaca doa, “Ya Allah, Kirana dikasih adik kecil ya, yang lucu dan sayang sama Kakak Kirana. Amin.”

Waktu berlalu dan tak ada kabar tentang adik (karena memang Mama belum mau) Engkau pun kecewa dan berkata, “Ma, kenapa Allah tidak mendengar doa Kirana? Allah tidak sayang ya sama Kirana?” Mama tercenung dan bingung harus menjawab apa. Dengan rasa bersalah, Mama berkata, “Siapa bilang Allah tidak sayang pada Kirana? Tapi Kirana harus sabar dan terus berdoa.”

Kemanjaanmu pun semakin hari semakin bertambah. Engkau sudah bisa menggosok gigi sendiri, tapi minta digosokkan. Engkau bisa memakai baju sendiri, tapi minta dipakaikan. Mama bertanya, “Kirana kalau manja begini, Mama tidak sanggup punya adik. Kan capek, harus melayani Kirana dan harus pula melayani adik.” Jawabmu cuek, “Nanti kalau adik sudah ada, Kirana tidak manja lagi.” Terkadang engkau yang bertanya, “Mama tahu kenapa Kirana manja?” Mama: “Nggak tau, kenapa?” Kirana: “Soalnya Kirana belum punya adik!”

Semua ‘provokasi’-mu, tatapan kecewamu ketika memegang perut Mama, “Belum ada adik ya Ma…?”, tatapan harapmu ketika melihat adik bayi, “Kapan Kirana punya adik Ma…?”, dan gaya ke-kakak-anmu ketika menidurkan boneka-bonekamu, membuat Mama akhirnya luluh.

Ketika akhirnya, empat hari yang lalu, Mama mendapatkan hasil positif dari laboratorium, engkau pun melonjak kegirangan dan langsung menciumi perut Mama. Segera setelah itu, engkau lari ke rumah teman-temanmu dan memberi pengumuman pada semua orang, bahwa engkau akan punya adik.

Putriku sayang, hari ini hari ulangtahunmu ke-lima (18 Sya’ban 1426 H) dan engkau sudah mendapatkan kado istimewa: adik yang engkau harap-harapkan itu. Tapi, jangan lelah berdoa ya. Kali ini, doakan agar adikmu bisa lahir dengan sehat, selamat, dan tidak bikin sakit Mama.

PS: terimakasih buat teman-teman yang mengingat saya dalam doa-doanya. Bener kan…doa teman yang ihklas itu makbul? Sekarang minta doa lagi ya… biar si jabang bayi sehat, selamat, dan ntar ngelahirinnya gak susye…

Kasih Ibu

Setelah rekaman lagu Kasih Ibu, si Papah terinspirasi untuk menulis artikel di bawah ini…

Berbuat baik kepada orang tua (terutama ibu) adalah salah satu ajaran penting dalam agama Islam. Dalam Surat Al-Isra ayat 23, berbuat baik kepada orang tua bahkan disebut sebagai kewajiban kedua kita setelah beriman kepada-Nya. Faktanya, memang sangat sedikit orang yang mampu berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Kita sering kali gagal menemukan motivasi untuk melakukan perbuatan baik kepada mereka, sebagaimana yang diperintahkan oleh agama.

Yang sering terlintas di benak kita ketika membayangkan orang tua malah berbagai “ketidakberuntungan nasib” kita “gara-gara” dilahirkan dari orang tua kita. Tak jarang kita berangan-angan “Ah, seandainya saja saya lahir dari orang tua yang kaya, yang pintar, yang pejabat, …. dst.” Sekali saja pikiran itu terlintas dalam benak kita, maka kita akan kesulitan menemukan motivasi untuk berbuat baik kepada keduanya. Buat apa berbuat baik kalau yang kita terima dari mereka hanyalah ketidakberuntungan?

Model-model penalaran seperti inilah pula yang sering menghinggapi pikiran manusia ketika ia menilai peran Allah dalam kehidupannya. Ketika kita merenung dengan hati yang jernih dan akal yang bening, kita pasti akan sampai kepada pemahaman betapa baik dan sayangnya Allah kepada kita. Akan tetapi, sikap, tindakan, dan perilaku keseharian kita seringkali bertolak belakang dengan konsep apa yang kita pahami tersebut. Betapa sering kita lalai mensyukuri anugerah yang dilimpahkan Allah kepada kita. Kalau kita disergap sikap iri kepada orang lain, percayalah bahwa itu bersumber dari kegagalan kita untuk memahami besarnya nikmat yang kita terima dari Allah. Kegagalan memahami limpahan anugerah-anugerah Allah itu akan membuat hati kita dipenuhi sifat-sifat buruk lainnya. Sifat “syukrul Mun’im” (mensyukuri Pemberi Nikmat –yaitu Allah) tidak akan pernah bisa bersanding dengan berbagai sifat buruk seperti iri, dengki, malas, sombong, dll.

“Aktsarun-nasi la yasykurun”, firman Allah. Kebanyakan manusia tidak mampu bersyukur. Kita mungkin termasuk di antara orang-orang yang disindir oleh Allah tadi. Berapa sering sih kita bersyukur untuk nikmat dan kasih sayang Allah yang menghampiri kita di setiap detik dan di sepanjang masa?

Nikmat dan kasih sayang Allah memang sedemikian “lumrah” kita terima sehingga kita sangat jarang menyadarinya. Demikian juga dengan kasih sayang yang terpancar dari kedua orang tua kita. Kita lebih sering gagal menyadarinya.

Kemampuan untuk bersyukur kepada Allah adalah keterampilan mental. Orang yang mampu melakukannya akan menjalani hidup ini dengan bahagia. Sejumlah sifat baik seperti tabah, tawadhu, qana’ah, wara, dll, akan menjadi milik para pensyukur. Karena itu, berbahagialah orang-orang yang mampu bersyukur. Imam Shadiq pernah berkata, “Kalau kita mampu bersyukur, maka kemampuan kita untuk bersyukur itu juga harus kita syukuri”.

Rasulullah suatu kali pernah ditanya oleh istrinya, Aisyah, mengapa beliau terus-terusan beribadah di malam hari sampai-sampai air mata membasahi janggut beliau. Padahal, Al-Quran menyatakan jaminan dari Allah terkait diampuninya segala dosa beliau (Al-Fatah: 2). Rasulullah menjawab, “Afalam akunu ‘abdan syakura”. Tidakkah selayaknya aku menjadi hamba yang bersyukur? Maksud beliau, tidakkah sebaiknya kita ini melakukan sesuatu yang paling berharga sebagai ungkapan rasa syukur kita atas limpahan nikmat Ilahi?

Kemampuan kita untuk bersyukur kepada Allah memang bisa menjadi barang yang sangat mahal.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Bagaimanakah caranya agar kita bisa memiliki sifat dan barang yang sangat berharga itu? Caranya bisa jadi banyak dan bermacam-macam, dan berbuat baik kepada orang tua bisa menjadi salah satunya. Berbuat baik kepada orang tua menjadi semacam latihan mental yang pada gilirannya akan mendorong kita untuk berbuat baik beribadah) kepada Allah.

Berbuat baik kepada kedua orang tua yang merupakan ungkapan rasa terima kasih kita kepada mereka sifatnya sangat mirip dengan kemampuan kita beribadah kepada Allah yang dilandasi oleh motivasi rasa syukur kepada Zat Pemberi Nikmat. Jadi, berbuat baik kepada orang tua awalnya adalah keterampilan mental kita untuk bisa menemukan motivasi agar kita bisa berterima kasih kepada mereka.

Berbahagialah mereka yang berhasil menemukan motivasi untuk berbuat baik secara sepenuh hati kepada orang tua. Berbahagialah mereka yang berhasil merasakan pancaran sinar kasih sayang orang tua (terutama ibu), yang tak pernah mengharapkan balasan. Bagai sang surya yang menyinari dunia. Siapa yang mau meresapi makna syait pendek, sederhana, namun sarat makna ini? Ayolah, nyanyikan bersama-sama Kirana.

Kasih Ibu, kepada beta

Tak terhingga, sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

©dinasulaeman