Kado untuk Sang Putri

Putriku sayang, lima tahun lalu engkau lahir dengan membawa kebahagiaan yang terlambat Mama sadari. Rasa sakit yang mendera dan depresi berkepanjangan (istilah kerennya: baby blues) membuat Mama awalnya lupa mensyukuri keberadaanmu. Bahkan, Mama sempat bilang, “Mendingan Papa kawin lagi deh, kalo mau punya anak lagi!”

Putriku sayang, waktu berlalu dan engkau semakin hari tumbuh semakin menakjubkan. Rambutmu ikal (hampir keriting), kulitmu putih kayak orang Cina (meskipun, setelah kita berlibur ke Indonesia, kulitmu berubah jadi coklat ), sabar, manis, dan pintar membuat Mama tertawa. Semakin hari, semakin besar cinta Mama padamu.

Putriku sayang, Mama ingat, sekitar setahun yang lalu, engkau pulang dengan penuh antusias setelah main ke rumah temanmu, dan berkata, “Mama, Kirana mau punya adik kayak adiknya Aida!” Ya, Mama Aida (orang Bosnia) memang baru saja melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Shaida. Mama hanya menjawab kecut, “Kirana berdoa saja pada Allah.”

Sejak itu, engkau rajin sholat dan setiap sholat engkau membaca doa, “Ya Allah, Kirana dikasih adik kecil ya, yang lucu dan sayang sama Kakak Kirana. Amin.”

Waktu berlalu dan tak ada kabar tentang adik (karena memang Mama belum mau) Engkau pun kecewa dan berkata, “Ma, kenapa Allah tidak mendengar doa Kirana? Allah tidak sayang ya sama Kirana?” Mama tercenung dan bingung harus menjawab apa. Dengan rasa bersalah, Mama berkata, “Siapa bilang Allah tidak sayang pada Kirana? Tapi Kirana harus sabar dan terus berdoa.”

Kemanjaanmu pun semakin hari semakin bertambah. Engkau sudah bisa menggosok gigi sendiri, tapi minta digosokkan. Engkau bisa memakai baju sendiri, tapi minta dipakaikan. Mama bertanya, “Kirana kalau manja begini, Mama tidak sanggup punya adik. Kan capek, harus melayani Kirana dan harus pula melayani adik.” Jawabmu cuek, “Nanti kalau adik sudah ada, Kirana tidak manja lagi.” Terkadang engkau yang bertanya, “Mama tahu kenapa Kirana manja?” Mama: “Nggak tau, kenapa?” Kirana: “Soalnya Kirana belum punya adik!”

Semua ‘provokasi’-mu, tatapan kecewamu ketika memegang perut Mama, “Belum ada adik ya Ma…?”, tatapan harapmu ketika melihat adik bayi, “Kapan Kirana punya adik Ma…?”, dan gaya ke-kakak-anmu ketika menidurkan boneka-bonekamu, membuat Mama akhirnya luluh.

Ketika akhirnya, empat hari yang lalu, Mama mendapatkan hasil positif dari laboratorium, engkau pun melonjak kegirangan dan langsung menciumi perut Mama. Segera setelah itu, engkau lari ke rumah teman-temanmu dan memberi pengumuman pada semua orang, bahwa engkau akan punya adik.

Putriku sayang, hari ini hari ulangtahunmu ke-lima (18 Sya’ban 1426 H) dan engkau sudah mendapatkan kado istimewa: adik yang engkau harap-harapkan itu. Tapi, jangan lelah berdoa ya. Kali ini, doakan agar adikmu bisa lahir dengan sehat, selamat, dan tidak bikin sakit Mama.

PS: terimakasih buat teman-teman yang mengingat saya dalam doa-doanya. Bener kan…doa teman yang ihklas itu makbul? Sekarang minta doa lagi ya… biar si jabang bayi sehat, selamat, dan ntar ngelahirinnya gak susye…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s