Penerapan Syariah Islam: Antara Aceh dan Iran [Bagian 1]

Tulisan ini terinspirasi oleh kegundahan hati Kakakku tersayang yang ditulis di sini, tentang kasus adegan ciuman seorang gadis Aceh dengan TNI. Rupanya kasus itu dihubung-hubungkan dengan penerapan syariah Islam di Aceh. Dengan kata lain, kasus itu rupanya dijadikan parameter keberhasilan penerapan syariah Islam di Aceh. Benarkah?

Saya jadi teringat pada diskusi yang terjadi di jurnal saya yang ini. Terus terang, saat itu saya sempat merasa diposisikan sebagai ‘agen propaganda Iran’. Teman-teman MP satu-persatu memberi laporan tentang perangai orang Iran yang mereka jumpai dan saya diposisikan untuk menjawab, “Mengapa kelakuan orang Iran begini-begitu. Katanya negara Islam?!” Saya sempat bingung dan rada-rada tersinggung. Emangnya gue orang Iran apa? Saya hanya menulis apa yang saya lihat oleh mata saya yang asli Indonesia, bukan sedang jadi agen propaganda Iran (meskipun kerja di Iran Broadcasting, kikikik).

Tapi, dari diskusi itu saya mengambil satu pelajaran besar bahwa semua muslim sesungguhnya memiliki harapan tentang masyarakat ideal. Ketika mereka menjumpai ada sebuah negara yang mengaku menerapkan sistem Islam, lalu mendapati berbagai bentuk ketidakislamian di dalamnya, mereka (termasuk saya, tentu) kecewa dan mempertanyakan. Begitu pula rupanya yang kini sedang terjadi di Aceh.

Kekecewaan terhadap Iran sempat hinggap dalam diri saya ketika menghadapi berbagai peristiwa yang bikin dongkol. Misalnya, kalau sedang ngurus administrasi, jangan harap bisa selesai dengan cepat dan lancar. Ngurus exit permit aja bisa sampai sebulan baru beres! Sikap cemberut pegawainya (nggak semua, tentu, tapi biasalah, manusia kan suka menggeneralisir) akan membuat kita spontan bertanya, “Katanya negara Islam, kok melayani rakyat begini caranya?!” Belum lagi bila melihat (sebagian) perempuan Iran (baca: Tehran, ibu kota) yang pakai kerudung asal-asalan, pake make-up super tebal plus kaca mata item, wuiiih… Pesta-pesta pernikahan di Tehran, banyak yang campur-aduk laki-laki dan perempuan, perempuannya pakai baju pesta yang seksi-seksi di depan laki-laki yang bukan muhrim, lalu mereka berdansa-dansi. Sekali lagi, tidak semua pesta pernikahan seperti ini, tergantung siapa yang mengadakan. Kalau keluarga mempelai adalah keluarga yang soleh, ya pasti pestanya dipisah antara laki dan perempuan.

Saya sempat bertanya kepada ustadzah di RT saya, buat apa Iran menerapkan sistem Islam, kalau tidak mampu membuat seluruh aspek kehidupan masyarakatnya Islami? Si ustadzah menjawab singkat, “Sistem Islam memberi kesempatan untuk orang yang ingin hidup Islami, untuk menjalani kehidupan Islami itu.”

Artinya (ini penafsiran saya), sistem Islam yang diterapkan dalam sebuah masyarakat adalah wadah atau ruang semata. Perempuan yang ingin menggunakan jilbab mendapat kebebasan, untuk memakai jilbab dalam profesi apapun, termasuk jadi dokter bedah atau pilot pesawat. Laki-laki yang ingin menjaga pandangan dan kesucian hati, difasilitasi oleh aturan yang melarang perempuan pamer aurat di depan umum. Dan masih banyak contoh lain, karena dimensi ‘keislamian’ itu tidak terbatas soal jilbab dan hijab saja.

Tentu saja, ini sistem Islam versi Iran yang memang tidak mencampuri kehidupan individu. Ketika sebuah keluarga menyelenggarakan pesta yang tidak Islami di rumah mereka sendiri, polisi tidak berhak menggerebek. Itu urusan keluarga itu dengan Allah. Ketika pesta itu sudah mengganggu kepentingan umum (ada pengaduan tetangga yang terganggu oleh bunyi musik yang keras), barulah polisi turun tangan.

(biar gak capek bacany
a, bersambung ya…
kan salah satu tips menulis di internet itu: tidak boleh panjang-panjang!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s