Farsindonesia :-P

Kirana suka sekali menahan pipis. Kalau diingatkan, “Kirana ayo pipis dulu!”, dia akan menjawab, “Kirana nggak punya pipis.”

Lucu?

Belum tentu. Soalnya ini terjemahan harfiah dari bahasa Farsi (Persia), “Man dast-syuwi nadoram” (=saya tidak punya pipis…maksudnya, ‘saya tidak ada keinginan untuk pipis’—maaf)

Di lain hari, “Ma, ayo main sama Kirana”

Si Mama yang sudah berjanji dalam hati (gara-gara membaca berbagai jurnal MP) untuk memanfaatkan waktu dengan anak sebaik-baiknya, menjawab, “Boleh, main apa?”

“Main ye chizi” (=main sesuatu)

Kalau dibacakan cerita, “Si Budi kemudian mengambil sesuatu dari tasnya”, Kirana akan bertanya, “Sesuatu itu apa Ma?”

Mama: ” ye chizi”

Kirana: “oooh”

Di saat lain, ketika melihat bonekanya saya tindih, Kirana akan teriak, “Mama, adik Kirana jangan dilehin dong!” (leh=hancur, jadi: jangan dihancurin).

Kata-kata Farsi berimbuhan in akhir-akhir ini memang sangat sering terdengar di rumah kami. Diranggiin, didurustin, diporein, dijam’in, dibaziin…(diwarnain, dibenerin, dirobekin, dikumpulin, dimainin)

Malam hari, sehabis ngaji, dengan tujuan meningkatkan sense bahasa Indonesia Kirana, saya kadang membacakan novel Harry Potter untuknya. Dia dengan tenang mendengarkan bacaan novel itu. Setelah habis sehalaman, saya berkata, “Nah, sudah ya…disambung besok lagi.”

Kirana menatap saya dengan polos, “Mmmm…ma’nishnya apa tuh Ma?”

(=apa arti bacaan yang Mama baca tadi?)

NB: saya sudah mempraktekkan berbagai teori tentang bilingual (misalnya yang ditulis Mbak Anky di <a href="Coretan : Anak Bilingual alias Tumbuh Dengan Dua Bahasa “>sini), antara lain dengan konsisten dan tidak mencampuradukkan bahasa. Tapi, teori itu ternyata tidak cocok buat kami karena Kirana bergaul dengan teman-teman anak Indonesia bilingual, yang ortu-ortunya justru hobi mencampuradukkan bahasa kayak gitu. Che kar kunam (=what should I do)….huhuhuhu….