Kerinduan Rumi kepada Syams [hmmmm…;)]

Jalaluddin Rumi (1207-1273), adalah seorang ulama besar. Dia mengajar agama di madrasahnya yang memiliki ribuan murid di kota Konya (Turki). Suatu ketika, seorang pengelana sufi bernama Syams Tabrizi datang ke majelisnya dan mendadak Rumi sang guru besar, menemukan ‘guru’ baru, yang mengajarinya tentang cinta kepada Sang Khalik. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa persahabatan di antara keduanya. Yang jelas, ketika Syams pergi meninggalkan Rumi meneruskan pengembaraannya, Rumi mabuk oleh kerinduan dan terinspirasi menuliskan puisi-puisi sufistik yang abadi hingga hari ini. Peminat karya-karyanya melampaui batasan usia dan agama, bangsa dan bahasa. Mereka menghayati dan merindui puisi-puisi Rumi yang bercerita mengenai kecintaan kepada Tuhan dan ciptaan-Nya.

Lepaskan kekhawatiranmu
dan jadikan hatimu bersih seutuhnya
sebagaimana wajah sebuah cermin
yang tidak memantulkan apapun
Jika engkau menginginkan cermin yang bersih
lihatlah dirimu
dan lihatlah kebenaran tanpa topeng
yang dipantulkan oleh cermin
Jika logam dapat digosok
sehingga berkilat bagai cermin
tentulah cermin hati pun dapat
lebih mengkilat lagi
Antara cermin dan hati
ada satu perbedaan:
hati menyembunyikan rahasia
sedang cermin, tak mampu melakukannya

(Jalaluddin Rumi, Divan-e Syams Tabrizi)

Dengan pemahaman saya yang dangkal ini, saya menangkap sesuatu hal dari persahabatan Rumi dan Syams: persahabatan yang sejati adalah ketika kedua pihak saling menunjukkan jalan kepada kebaikan.

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Di usia yang beranjak tua ini , berapa banyakkah sahabat yang saya miliki? Hmm…tidak banyak dan mereka pergi satu-persatu seiring dengan terpautnya jarak dan waktu. Namun, sejak bergabung dengan Multiply, tiba-tiba saya menemukan banyak hati yang menerima saya untuk berteduh di sudutnya. Siapa sangka akan ada message atau personal message bernada khawatir, “Bagaimana kabarmu? Baik-baik sajakah?” Siapa sangka akan ada yang rela repot-repot mengirim lontong dari seberang benua (meskipun sampai sekarang belum sampai:D)? Siapa sangka ada yang rela memberi saran lengkap tentang obat plus tawaran, “Nanti aku kirimin deh!” Siapa sangka akan ada puluhan message memberi saran ini-itu ketika saya sedang kebingungan? Siapa sangka akan ada yang setia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? Siapa sangka akan ada satpam yang hampir setiap hari memberi perintah, “Jangan lupa minum susu!” Siapa sangka akan ada ….dering telpon dari berbagai negeri untuk saya?

Hmmm….saya memang bukan pujangga seperti Rumi yang mampu menyusun syair untuk sahabat-sahabatnya. Hanya satu yang mampu saya ucapkan: terima kasih, sahabat-sahabat baruku.

*yang sedang terharu gara-gara dering telepon pukul 10 malam itu*

Advertisements

Tehran Hari Ini :(

Hari ini, suasana duka dan sendu merebak. Channel satu yang biasa kami setel sejak pagi, menampilkan pemandu acara pagi “Subh-be-khair Iran” (Selamat Pagi Iran) yang berbicara dengan suara serak, lalu akhirnya menangis terisak-isak. Di channel enam, seorang penyiar perempuan yang dengan suara serak –dan akhirnya hanya sanggup mengucapkan dua-tiga kalimat saja—memandu acara duka cita yang menampilkan profil kolega kami yang tewas dalam kecelakaan pesawat kemarin. Sebagian besar masih begitu muda dan berwajah tampan-innocent.

Membuka MP dan YM, ada beberapa message bernada khawatir, “Bagaimana kabarmu di Tehran?” Hiks… Kami baik-baik saja. Tapi ada 40 kolega kami, (repoter, kameramen, pengambil suara, dll dari IRIB), puluhan wartawan dan fotografer dari berbagai kantor berita di Iran, serta beberapa personil militer dan warga sipil, tewas. (Total korban 116 orang, versi Tehran Times). Seorang di antara mereka adalah wajah yang sangat kami kenal, bernama Agha Khairkhah, karena dia sering menyapa kami dengan ramah di pagi hari, lewat acara “Subh-be-khair Iran”. Kematian, seringkali menyapa tanpa pertanda.

Kantor-kantor dan sekolah pun diliburkan dua hari. Bukan karena musibah ini, tapi karena polusi udara Tehran yang melampaui ambang batas. Beberapa urusan terpaksa tertunda, tapi setidaknya, perhatian pemerintah soal polusi dan kesehatan warga sedikit membuat saya terhibur. Kalau tidak ada pengumuman bahwa polusi di atas ambang batas, siapa yang tahu dan peduli? Apalagi, hawa juga terlihat biasa-biasa saja dan langit tetap biru. Kalau dibandingkan dengan udara Jakarta, masih lebih nyaman udara di Tehran.

Well, inilah episode kehidupan. Hari ini, saya masih hidup, bahagia, dan berada ribuan mil dari kampung halaman. Entah esok, entah lusa.

foto dari sini