Misteri Jodoh

Beberapa waktu terakhir ini, saya menjadi tempat curhat beberapa teman yang mengalami masalah dalam urusan jodoh. Sejujurnya, saya merasa sangat berempati kepada mereka (meskipun sebagiannya adalah teman di dunia virtual yang tak pernah saya kenal sebelumnya) dan menambahkan nama mereka dalam daftar doa saya. Saya bisa merasakan keresahan mereka, karena saya juga pernah merasakan dan melaluinya dengan penuh derai air mata (bener loh, bukan bercanda).

Akhirnya, karena kepikiran, saya nanya ke si Akang (yang biasanya emang selalu punya jawaban jitu atas pertanyaan-pertanyaan saya yang nyeleneh): mengapa Allah tidak adil? Mengapa ada orang dimudahkan jodohnya, tapi banyak pula yang mengalami kesulitan?

Jawaban si Akang begini:

Allah itu Maha Adil. Misalnya, Mama diberi kemudahan jodoh dan mendapatkan jodoh yang sangat cocok buat Mama, itu adalah nikmat dari Allah. Tapi, apakah dalam hidup Mama, semua dilalui dengan kemudahan? Banyak sekali kegagalan dan kekecewaan yang Mama alami selama ini kan? Betapa banyak derai air mata yang Mama teteskan selama ini? Lihatlah betapa adilnya Allah. Dia memudahkan urusan Mama dalam hal perjodohan. Orang lain, yang mengalami kesulitan dalam masalah jodoh, pasti mengalami kemudahan di bidang-bidang lainnya.

Dunia memang tempat untuk mengalami duka dan sukasecara silih berganti. Justru suka dan duka itulah ujian bagi manusia. Manusia yang bisa memenej suka dan dukanya,itulah manusia yang lulus ujian dan kelak insya Allah akan menjalani suka abadi di surga. Cara pandang kita terhadap duka pun sebenarnya mempengaruhi ‘duka’ itu sendiri. Bila kita memandang ‘duka’ di antara dua sudut pandang yang berikut ini, kita akan melihat bahwa duka kita tidak ada artinya.

Sudut pandang pertama: lihatlah duka yang dialami orang lain, yang lebih parah. Banyak orang malang yang mau makan tidak punya uang, mau mengobati anak tidak punya uang, terjebak dalam prostitusi, mempunyai orangtua yang kejam, dll. Wow…duka ‘belum punya jodoh’ akan terasa ringan dan kecil.

Sudut pandang kedua: lihatlah nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Mungkin saja Allah belum memberikan jodoh untuk kita, tapi, alhamduliilah kita diberi kesehatan, diberi kesempatan mengenyam pendidikan, diberi kesempatan untuk memiliki pekerjaan yang baik, dll.

Sekarang, kembali ke masalah jodoh. Pertanyaan utama yang diajukankepada saya umumnya satu: diakah jodoh saya? Artinya, keragu-raguan untuk menerima lamaran si doi adalah masalah utama yang dihadapi banyak orang, terutama gadis-gadis salihah yang sangat khawatir bila suaminya kelak tidak mampu mengayuh nahkoda rumah tangga secara Islami. Saran yang biasanya diberikan kepada orang yang ragu-ragu: istikharah aja. Masalahnya, istikharah juga tidak selalu efektif karena hasilnya ‘abstrak’ yaitu kemantapan hati, mimpi, dll.

Yang saya pelajari sih, istikharah itu adalah pilihan terakhir, ketika akal dan rasionalitas sudah tidak bisa lagi menjangkaunya. Artinya, langkah awal seharusnya memikirkan si calon dengan akal kita. Perhatikan agamanya. Masalahnya, ‘agama’ itu seperti apa sih? Ada banyak penafsiran kan?

Kemungkinan pertama. Para akhwat peserta liqo/tarbiyah biasaya hanya akan mantap menikah dengan ikhwan yang ikut tarbiyah juga. Masalahnya, ketika ikhwan produk tarbiyah ini tak juga datang, apakah si akhwat harus terus menunggu? Ada banyak jawaban untuk ini, tergantung sudut pandang masing-masing orang.

Kalau saya pribadi (dilarang protes ya..), Islam itu sedemikian luasnya sehingga kita tidak bisa membatasi diri bahwa jodoh kita harus orang dari pengajian anu atau ini. Betapa banyak kita lihat rumah tangga yang bahagia, meskipun tidak berasal dari pengajian yang sama. Yang penting seiman dan komitmen untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan syariat agama, ya kan? Siapa tahu, sebenarnya Allah sudah mendatangkan jodoh untuk kita, namun kita menolaknya hanya dengan alasan ‘tidak sepengajian’.

Kemungkinan kedua, mungkin keimanan kita sedang diuji oleh Allah melalui urusan perjodohan ini. Ketika yang datang melamar selalu saja tidak memenuhi kriteria kesalehan (yah, minimalnya, harus menaati rukun iman, kan), lalu seorang perempuan tetap bersabar dan menolak menikah,dengan menanggung berbagai celaan dari orang lain, PASTI, Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangannya. Innallaha ma’ash-shaabiriin. Allah bersama orang-orang yang sabar. Masuk surga gak mudah kan? Semakin sulit kehidupan yang dijalani seseorang dan semakin besar kesabarannya, peluang untuk masuk surga akan semakin besar pula.

(tambahan: terkait dengan masa penantian ini, ada dua kemungkinan: pertama, mungkin belum waktunya bagi kita untuk menikah…Allah lebih tau kan, kapan waktu yang tepat buat kita untuk menikah? Kedua, mungkin, jodoh itu menanti kita di akhirat kelak…di surga…sebagai balasan atas kesabaran kita untuk tetap teguh memegang keimanan)

Kemungkinan ketiga, setelah usia merambat naik, melihat kesediha
n orang tua, dengan niat ikhlas-seikhlasnya demi berbakti kepada orangtua, seseorang menerima saja calon yang dipilihkan orangtuanya (ikhlas 100 persen demi ortu loh, bukan karena takut dicela orang), meskipun si calon tidak sesuai dengan kriterianya. Insya Allah (kalau kata si Akang sih: PASTI), bila benar-benar demi berbakti pada orang tua, Allah yang akan membereskan segalanya. (Ingatlah bahwa setelah beriman kepada Allah, perintah kedua kepada kita adalan berbuat baik kepada orangtua, lihat tulisan saya di <a href=”Setelah Beriman Pada Allah, Lalu Apa? “>sini).

Kalaupun, ternyata pilihan orangtua itu menyengsarakan kita (naudzu billah min dzalik), dunia belum kiamat. Ingatlah kisah Aasiyah, istri Firaun. Beliau disebut Rasulullah sebagai salah satu dari empat perempuan termulia sepanjang sejarah manusia (yang lain: Sayyidah Khadijah dan putrinya, Sayyidah Fathimah Az-Zahra, serta Maryam ibunda Nabi Isa).

Apa sih yang dilakukan oleh Aasiyah sehingga mendapat kemuliaan seperti itu dan dibuatkan rumah di surga oleh Allah?

Jawabannya: diaBERSABAR dan tetap menjaga keimanannya ketika hidup bersama suami yang super zalim seperti Firaun!

Kemungkinan keempat…kehabisan ide euy…

Ditunggu sharingnya friends!

One thought on “Misteri Jodoh

  1. Suka banget ama kalimat ini; “Manusia yang bisa memenej duka dan dukanya, itulah manusia yang lulus ujian dan kelak insya Allah akan menjalani suka abadi di surga.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s