Empat Faktor Yang Bikin Sebel Saat Naik Taksi di Iran

Mbak Iir nanya, enak gak tinggal di Iran? Lalu, saya baca cerita Fitr tentang perilaku sopir taksi di Jepang (yang benar2 bikin saya takjub). Saya pun jadi terinspirasi nulis soal naik taksi di Iran. Ini sekaligus jawaban untuk Mbak Iir, “Hidup di Iran ada enaknya, ada nggaknya. Yang paling gak enak: Naik Taksi.”

Pengalaman paling buruk yang berkali-kali saya temui selama 6 tahun tinggal di Iran adalah pengalaman naik taksi. Terus-terang, sampai sekarang saya benci sekali pada taksi-taksi di Iran (maksud saya, sopir taksinya). Kayaknya, orang-orang Iran yang paling menyebalkan sepakat untuk milih profesi sebagai sopir taksi semua. (Tentu saja, ini adalah generalisasi, karena selalu saja ada perkecualian. Berkali-kali saya menemukan sopir taksi yang baik, tapi persentasenya dikit banget, gitu loh). Di Iran, taksi adalah transportasi umum kayak angkot, jadi satu taksi isinya bisa 4 penumpang berbeda, asal tujuannya sama. Kalau mau kita sendirian yang naik, ya bayarnya diitung 4 orang, gitu.

Sumber-sumber kekesalan saya pada sopir taksi di Iran, antara lain:

1. Umumnya: Benci Orang Afghan. Ketika tahun pertama tinggal di Iran, saya berkali-kali menangis saking sakit hati oleh perilaku sopir taksi di Iran. Kalo kita mau naik, baru buka pintu aja, si sopir langsung bilang dengan nada sangat kasar (maklum, waktu itu kuping saya kan belum terbiasa dengan gaya bicara orang Iran), “Zud bash!” (cepetan!). Lama-lama saya baru paham, mungkin karena tampang saya mirip orang Afghan, jadi saya diperlakukan kasar begitu. Beberapa kali terjadi, si sopir ngobrol sambil ketawa-ketawa dengan penumpang lain menyebut-nyebut kata Afghanistan. Mungkin maksudnya menyindir saya. Akhirnya, kalau naik taksi dengan suami, langsung saya ngoceh pakai bahasa Indonesia keras-keras, biar si sopir tahu kalau kami bukan orang Afghan. (Tapi, rada nelangsa juga, berarti secara tidak langsung saya kan ikut2an orang Iran melecehkan orang-orang Afghan yang mazlum itu—cerita saya soal ini bisa klik di sini).

2. Umumnya: Banyak Ngomong. Jarang saya temui sopir taksi yang diam. Kebanyakan suka mengajak kita ngobrol (mungkin setelah tahu kalau kami ini orang asing) dan bertanya-tanya yang bikin sebel, Kamu dapat uang berapa dari pemerintah kami?Ngapain kamu datang jauh-jauh ke Iran? Dalam hati saya ingin teriak, “Bukan urusanmu!!!” Apa daya, saya ini perempuan Indonesia yang emang terbiasa memendam perasaan (cieeee:D)

3. Umumnya: Suka Ngeluhin Kondisi Politik. Jalaluddin Rakhmat pernah mengatakan bahwa orang Iran itu sangat sadar politik. Tapi, percaya gak sih, bahkan sopir taksi pun di Iran ini sangat care sama urusan politik negaranya. Cuma, cara pikir mereka seringkali bego banget, gitu loh. Berkali-kali saya mendengar sopir taksi yang ngoceh soal mahalnya biaya hidup di Iran dan menghubungkannya dengan kondisi politik negara mereka saat ini (kata saya dalam hati, kalo lu hidup di Indonesia, bakal mabok lu, liat harga2 yang jauh lebih mahal!). Sering sekali saya dengar argumen semacam ini, “Coba, dulu zaman Shah—Raja Iran yang terguling oleh Revolusi Isla
m—harga ayam itu seekor cuma 2 Tuman!” (sekarang sekitar 4500 Tuman). Kata saya dalam hati, ya iyalah, itu
kan 27 tahun yll?! Bego bener nih orang!

4. Umumnya: Suka Mengingkari Perjanjian. Sistem bayaran taksi di Iran adalah nego harga dari awal (ini juga mirip Arab Saudi, kata Si Akang). Jadi, kita bilang, mau ke jalan A berapa? Si sopir akan bilang “1000 tuman”. Nah sebelnya, ntar pas udah jalan, baru dia nanya, “Jalan A yang sebelah mana?” Bla..bla.. lalu dia mulai ngomel, “Kalau saya tahu kamu mau ke Jalan A yang sebelah sana, saya gak bakal ngasih harga segitu!” Omelannya gak akan berhenti sebelum kita sampai di tujuan. Bete gak sih???! (Tapi skrg saya udah tau cara ‘melawan’-nya, yaitu, sejak awal kita menyebutkan alamat tujuan selengkap2nya dan dgn blak2an ngomong “Ini sudah harga final loh! Jgn macem2!!)

Untungnya, pengalaman buruk naik taksi ini sudah sangat jauh berkurang saya alami sejak saya bekerja dua tahun yang lalu. Soalnya, saya sekarang hampir selalu naik taksi telpon (jadi nelpon dulu ke agen taksi, bukan nyetop di pinggir jalan seperti zaman dulu ketika masih hidup pas-pasan dengan beasiswa), yang memberikan servis lebih bagus, antara lain: sopirnya DIAM sepanjang jalan.

Terakhir, ada cerita ‘tragis’. Pernah, ada sopir taksi yang mengeluhkan nasibnya, “Gara-gara sistem Islam, kita jadi gak bebas kerjasama dengan Barat. Akhirnya kehidupan saya sengsara!” Si Akang mengalihkan pembicaraan soal sepakbola. Si sopir bilang, “Saya lebih suka renang.” Lalu, dia mengambil HP-nya yang model baru, dan memperlihatkan foto dirinya di kolam renang.

Si Akang nanya, “Ini renang di mana?”

Si sopir jawab, “Di kolam renang di rumah saya sendiri.”

*gubrak*

pic nyomot dari sini.

Kami kan sudah bayar?! (a.k.a Cerita dari Kopdar Bandung)

Tak terasa, hampir setahun sudah berlalu sejak ‘keisengan’ saya menulis email di milis tentang Jamiatul Quran. Juga, berarti hampir setahun berlalu sejak Rumah Qurani dan Rumah Pohonku terbentuk. Kemarin ketika pulkam, akhirnya saya bertemu juga dengan team Rumah Qurani (RQ) dan kami rapat selama berjam-jam (sekaligus kopdar ama bbrp temen dari Multiply). Isi rapat sebenarnya hanya evaluasi, apa yang telah dilakukan team RQ yang benar-benar jungkir balik di lapangan (kalau saya selama ini kan cuma duduk di depan komputer dan memberi saran sedikit-sedikit). Ada banyak poin yang dibicarakan, tapi yang paling menarik, ternyata sulit sekali menerapkan sistem pengajaran Quran ala Jamiatul Quran-Iran secara total di Indonesia karena perbedaan kultur.

Pengajaran Quran ala Jamiatul Quran (tempat Kirana sekolah saat ini) adalah mengajarkan satu ayat (bukan satu surat loh) dengan cara komprehensif, sehingga anak memahami makna ayat itu dan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan itu, si ibu harus ikut duduk di kelas bersama sang anak. Tapi, metode ini di Indonesia ternyata sama sekali tidak bisa diterapkan. Ketika team Rumah Qurani mengadakan rapat dengan orang tua murid dari murid2 TK Al Quran (TKA) Pesantren Babussalam, Dago Atas, Bandung, yang menyediakan diri untuk dijadikan pilot project, ide tentang keikutsertaan ibu di kelas (yang durasinya cuma 1 jam, tiga kali seminggu) ditolak mentah-mentah, dengan alasan, “Kami kan sudah bayar?! Buat apa bayar kalo kami juga yang harus repot-repot ikut sekolah?! (Ada juga yang memberi usul “Kalo pembantu kami aja yang ikut menemani anak di kelas bagaimana?” –à???)

Akibatnya, karena ketidakhadiran orangtua, untuk mengajarkan satu kitab, yang terdiri dari 18 ayat (sekali lagi, bukan 18 surat!), butuh waktu enam bulan (sementara di Iran, cuma 1,5 bulan maksimal)! Mengapa? Karena anak-anak di rumah akan kembali tenggelam dalam kesehariannya, tanpa ada interaksi soal ayat2 itu dengan orangtuanya. Misalnya, pengajaran ayat “wa sulhu khair” (berdamai itu baik). Si Ibu yang tidak tahu apa-apa tentang ayat ini mungkin akan mendamaikan anak yang bertengkar dgn caranya sendiri, atau malah sekedar memarahi anak. Padahal idealnya, si ibu harus membawakan ayat ini ketika anak bertengkar, “Sayang, bukankah Allah berfirman wa sulhu khair? Kamu ingin disayang Allah bukan?..bla..bla…”

Kondisi ini benar-benar membuat saya tercenung. Begitu sulitnyakah meluangkan waktu satu jam sehari, tiga kali sepekan, untuk menemani anak di kelasnya? Satu jam yang biasanya terbuang sia-sia untuk menonton sinetron atau ngobrol sana-sini yang nggak jelas dengan tetangga? Bukankah itu satu jam yang bisa jadi akan mengubah hidup anak dan bahkan bangsa ini?!

Ini baru satu masalah. Masalah lain adalah pengadaan guru. Irma, guru produk RQ yang ‘asli’ (yang dari awal terlibat dalam proses pematangan metode dan paling menguasai cara pengajaran metode ini) terpaksa meninggalkan team karena harus bekerja mencari nafkah. Sebelum pergi, Irma melatih guru pengganti, yaitu guru TKA Babussalam sendiri. Namun karena minimnya gaji yang diberikan Babussalam (untuk ongkos angkot pp pun tak cukup), si guru pun mengundurkan diri. Guru ketiga pun muncul, tapi ternyata kemampuannya kurang bagus sehingga out-put dari anak-anak kelas pilot project kurang bagus. Akhirnya, kini ada guru keempat yang entah akan bertahan sampai kapan.

Kendala lain adalah masih belum dicetaknya buku pegangan anak, orangtua, dan guru yang gara2 biaya cetak di Indonesia yang benar2 muahaaal!!! Sepertinya, semua bermuara kepada dana. Sementara ini ada ide (dan sudah mulai jalan) untuk membuat VCD pengajaran Quran untuk anak, yang diprediksikan akan menghasilkan dana cukup besar untuk menghasilkan biaya operasional RQ. Mudah2an saja berhasil.

Sempat ada usul untuk profit oriented, misalnya dengan menjadikan RQ sebuah lembaga ‘mahal’ (meniru taktik bisnis sekolah2 unggulan di Indonesia, makin mahal dan elit, malah makin laku kan, siapa bilang Indonesia itu miskin?!). Tapi itu segera terbantah oleh idealisme kami sendiri yang sejak awal memang tidak ingin metode RQ menjadi metode eksklusif yang hanya dinikmati oleh anak2 dari keluarga berduit. Kami justru ingin metode ini bisa dipakai oleh anak-anak dari TKA-TKA di desa-desa terpencil, atau di sekolah-sekolah terbuka untuk anak jalanan.

Hmmm… jadi ingat nasehat Ustad Mukhtar Adam, pemimpin PP Babusalam, ketika Fani dkk, pertama kali mempresentasikan rencana pembentukan RQ kepada beliau: “Jalan yang kalian tempuh ini sangat berat…kalau tidak kuat mental, lebih baik mundur dari sekarang.” Tapi, apa gunanya hidup bila hanya dilalui dengan mencari kenyamanan pribadi dan tidak melakukan kontribusi apapun untuk memperbaiki dunia, iya kan? Jadi, terus SEMANGAT!!!

NB; saking semangatnya, meski badan udah cuapekkkk…tetap semangat untuk kopdar ronde kedua bareng Winda, Yani, Setia, dan Olivia (dan mas Surya) di Ciwalk. Mas Surya (temen sekantornya Winda) sengaja diseret ikutan kopdar, biar si Akang gak grogi dikelilingin cewe2 cantik, hihihi… Foto2 lengkap kopdar ronde kedua bisa lihat di sini

Ket. foto:

Foto 1: si Akang, Fani, dan Yekti keukeuh rapat; sementara Mas Ni’mal dan Mas Alifa (foto2) kabur cari makan siang

Foto 3: Kata Teh Rina, Teh Dewi, Rahma, dan Dini: “Pusiiiing, mendingan makan asinan Bogor atau mojok ama Kirana, ya nggak?

Foto 4: mau say good bye, mejeng dulu…

Foto 5: kopdar ronde kedua di Ciwalk