Pengumuman: Website Rumahpohonku Siap Diakses

Website Rumahpohonku… masih ingat kan? Saya pernah cerita tentang rencana pembuatan website ini di sini dan di situ.

Alhamdulillah… meski masih belum sempurna sesuai impian, website ini sudah bisa diakses di http://www.rumahpohonku.net

Kenapa pakai ‘net’? Karena memang website ini mencita-citakan terbentuknya sebuah network. Jadi… partisipasi dari banyak pihak sangat diharapkan di sini. Dengan kata lain dari kita dan untuk kita. Jadi… buat teman-teman yang concern di bidang parenting dan pengajaran Al Quran untuk anak-anak, silahkan bergabung dalam network Rumahpohonku dan ditunggu kiriman artikel-artikelnya. Mudah-mudahan, sedikit demi sedikit website ini bisa terus di-upgrade sehingga semakin sempurna.

Advertisements

Utang

Kemarin, seperti biasa, saya menyempatkan diri sebentar browsing berita-berita di Republika. Ada dua artikel yang menarik perhatian saya, yang berbicara ttg utang. Artikel pertama, tentang runtuhnya kekhalifahan Islam (Daulah Utsmani), yang ternyata bukan karena invasi militer, melainkan karena utang kepada Barat. Keruntuhan Daulah Utsmani akibat kebijakan para pemimpinnya untuk menerima utang dari negara-negara Barat agaknya mirip dengan kondisi Indonesia saat ini. Kemajuan ekonomi Indonesia yang ternyata ditopang oleh utang luar negeri akhirnya menimbulkan krisis moneter tahun 1990-an dan dampaknya terus merembet sampai sekarang. Dampak paling besar: kemiskinan yang semakin meluas di tengah rakyat yang hidup di negeri yang dianugerahi kekayaan alam melimpah ini.

Artikel kedua, tentang pemerintah yang mengampuni para pengemplang BLBI. Mereka tidak akan dituntut hukuman pidana, asal mereka melunasi utang-utangnya kepada negara. Asal tau saja, kerugian negara akibat tunggakan BLBI mencapai 144 Trilyun! Benar-benar mengusik rasa keadilan!

Utang. Bagi sebagian orang, kata ini menakutkan. Ada yang tidak bisa tidur hanya karena utang yang sedikit. Selama dia belum bisa melunasi utangnya, mukanya akan merah menahan malu ketika berhadapan dengan si pemberi utang. Tapi, hebaaaat… ada yang berutang milyaran, bahkan trilyunan kepada kas negara (=uang rakyat), tapi tetap berleha-leha, bergaya dengan rumah dan mobil mewah, liburan ke luar negeri. Ketika si beliau-beliau ini tidak mampu membayar utang, tinggal kabur ke luar negeri dan hidup di vila mewah. Bahkan ketika sudah capek buron pun, mereka bisa pulang ke Indonesia, di bandara disambut Kapolri, mendapat kehormatan berkunjung ke Istana Negara pulak!

Sepertinya tidak adil. Tapi, saya pernah membaca artikel ini (tentang penuturan istri seorang pengemplang BLBI yang kabur ke Singapura) yang membuat saya teringat pada salah satu isi pengajian Aa Gym yang rajin saya ikuti setiap hari Ahad di Bandung, ketika masih kuliah dulu. Kata Aa Gym, “Kalau kita berutang dan sudah punya uang, lalu kita menunda-nunda pembayarannya, itu sama dengan menarik bala.

Saya pun jadi teringat pada seorang teman lama yang hobi banget berutang. Sedikit-sedikit sih (gak ada apa-apanya lah, dibandingin para buronan kasus BLBI itu), dan dia pun sadar kalo punya utang. Tapi selalu saja, kalimatnya, “O iya, aku waktu itu pinjem uang ya. Ntar deh ya.” Santai. Lalu, pada kesempatan lain, dia ngutang lagi dan lagi-lagi melupakan utangnya. Mungkin karena jumlahnya kecil, jadi “Ah, nanti lagi lah,” begitu pikirnya. Sepertinya tidak ada apa-apa. Orang-orang yang diutanginya pun temen-teman akrab yang emang gak suka ribut (paling ngedumel di belakang). Tapi apa yang saya lihat dalam kehidupannya? Dapat bala terus! Anaknya kecelakaan-lah, barangnya hilang-lah, bisnisnya macet-lah. Pokoknya, ada-ada saja kesulitan yang menimpanya.

Ada lagi teman lain yang juga punya hobi ngutang ini. Kali saya yang jadi korban. Saya tau pasti, dia sebenarnya pernah punya kesempatan untuk membayar utang itu, tapi dia memilih menggunakan uangnya untuk kepentingan lain. Kejadiannya pun sama. Selalu saja ada bala yang menimpanya. Mobilnya ditabrak orang-lah, ketipu sama orang-lah, istrinya kecopetan-lah, dia sendiri sering sakit. Pokoknya, seolah-olah bala tak henti mengejarnya

Nah, kalau utang yang sedikit saja, bila dilalaikan membayarnya, bisa mendatangkan banyak bala, apalagi utang yang milyaran dan trilyunan?! Mungkin memang penampilan para pengutang uang negara itu kelihatan makmur dan sejahtera. Tapi, bagaimana dengan kehidupan keluarganya? Bagaimana kelakuan anak-anaknya? Apa saja bala yang sudah menimpanya? Hanya mereka sendiri yang tahu. Yang jelas, Allah Maha Adil, tidak mungkin mereka hidup tenang dengan cara menilep uang rakyat.

pic from here

Desperate Housewife

Desperate housewife. Julukan ini, sejak tiga minggu terakhir agaknya pas untuk disematkan ke dada saya. Gimana tidak desperate, disuruh bedrest, tanpa batas waktu yang jelas. Biasanya saya sangat merindukan waktu untuk berleha-leha di rumah seharian. Tapi, kini, setelah benar-benar disuruh berleha-leha, bahkan dilarang untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat (membuat donat pun ternyata termasuk kategori pekerjaan berat:D), yang ada hanya rasa bosan dan jenuh. Menghibur diri dengan ngempi dan chatting pun tak bisa mengobati rasa desperate itu. Akhirnya saya putuskan untuk puasa ngempi dan chatting selama seminggu terakhir (jadi, sekalian, minta maaf ya, sepekan terakhir ini saya tidak berkunjung ke rumah-rumah teman-teman sekalianJ).

Alhamdulillah, setelah sepekan terakhir saya berjuang melawan rasa jenuh itu dengan melakukan kegiatan produktif, seperti menulis dan menerjemahkan buku, rasa desperate itu mulai menghilang. Saya jadi merasa malu pada diri sendiri, betapa saya selama ini sudah menjadi hamba tidak bersyukur karena mengeluh bosan dan jenuh! Bukankah saya dikaruniai kemampuan menulis (asal bukan cerpen dan puisi)? Komputer plus koneksi internet pun tersedia, siap untuk dimanfaatkan.

Bayangkan, bila saya ada dalam posisi para ibu rumah tangga di Indonesia dari kalangan menengah ke bawah (paling tidak, dalam posisi beberapa ibu yang saya kenal). Internet? Di Indonesia, dengan segala kemahalan harga kebutuhan pokok, internet adalah fasilitas yang tidak akan terakses oleh para ibu sederhana itu (dan memang tidak dirasa perlu oleh mereka). Menulis? Mungkin bagi mereka, ini adalah sebuah pekerjaan yang aneh. Apanya yang mau ditulis? Minat mereka biasanya di bidang ketrampilan tangan, misalnya membuat bunga atau menjahit. Tapi, lagi-lagi, akan terbentur pada biaya. Mendingan uangnya ditabung untuk kebutuhan yang mendesak, ke dokter, misalnya.

Fasilitas sosial yang disediakan pemerintah juga tidak mengakomodasi mereka. Jauh berbeda dengan yang saya temui di Iran. Kelas-kelas keterampilan gratis untuk ibu-ibu dengan mudah bisa didapat, minimalnya pada musim panas (musim libur). Begitu juga dengan majelis-majelis ilmu khusus untuk ibu-ibu. Dengan demikian, mereka dengan mudah bisa menemukan tempat beraktifitas yang murah, meriah, dan bermanfaat. Kalaupun mau duduk seharian di depan televisi, acara-acara edukatifnya sangat banyak dan bermanfaat.

Sementara, ibu-ibu sederhana di Indonesia, apa yang mereka lakukan untuk mengisi waktu luang? Satu-satunya yang paling murah meriah adalah televisi. Jadilah mereka dengan setia duduk di depan televisi, setelah menyelesaikan pekerjaan rutin seperti memasak dan mencuci. Televisi menjadi segala-galanya. Sinetron-sinetron dilahap, tak peduli kualitasnya seperti apa. Infotainment disimak habis, sehingga mereka akan hapal luar kepala, si anu kawin sama si anu, si anu sedang menuntut cerai dari si anu. Sayang sekali, televisi di Indonesia lebih senang menyajikan hiburan yang kualitas edukasinya menyedihkan.

Lalu, bagaimana dengan usaha peningkatan kualitas pendidikan anak? Bukankah seorang ibu harus memahami psikologi anak, memahami bagaimana cara mengembangkan kepribadian anak? Ah, serahkan saja kepada sekolah. Habis, mau bagaimana lagi. Beli buku tentang parenting? Itu adalah penambahan bujet yang ‘tidak masuk akal’. Ke perpustakaan? Kok kayak anak kuliahan saja? Apalagi, ongkos angkot sekarang sangat mahal. Kalau tidak perlu-perlu amat, ya mending di rumah saja. Jangan lagi beri mereka alternatif surfing di internet atau diskusi di milis. Itu benar-benar dunia ‘antah-berantah’.

Desperate housewife… Mungkin mereka –para ibu yang sederhana, tidak neko-neko, dan tidak banyak angan-angan muluk itu—tidak merasakan ke-desperate-an. Mereka hanya menjalani kehidupan apa adanya. Entahlah, siapa yang lebih beruntung? Mereka, atau saya, yang sedemikian tergantung kepada internet, buku, berbagai fasilitas elektronik, dan dunia kerja, sehingga ketika satu saja ada yang hilang, dunia serasa runtuh dan hidup terasa kehilangan arah?

Ternyata Anak Pun Bangga Punya Ibu Pintar Bikin Donat ;)

Semula saya ingin posting resep, tapi setelah dipikir-pikir kok lebih cocok ke jurnal ya? Ini jurnal curhat sebenarnya. Sudah lima hari ini saya disuruh dokter untuk bedrest, katanya ada gejala bayi saya lahir premature (mohon doa dari teman-teman semua, agar si bayi selamat sehat wal afiat, hiks, rada kuatir juga nih).

Dalam lima hari ini, karena tidak ada kerjaan, akhirnya saya membuat kue brownies yang memang saya idam-idamkan sejak sebulan yll. Kirana membantu mengaduk adonan dengan penuh semangat. Tapi, ada pertanyaan yang menggelitik meluncur dari mulutnya, “Emangnya Mama bisa bikin cake?!”

Olala…memang selama hampir 3 tahun terakhir, saya tidak pernah lagi bikin cake. Saya ingat, Zulfa, tetangga saya, sambil tertawa pernah cerita kalau Kirana minta tambah ketika diberi kue bolu buatannya. Lalu Zulfa bilang, “Bolunya habis, Sayang, minta bikinin aja sama Mama ya?” Entah apa jawab Kirana saat itu.

Dua hari kemudian, karena terprovokasi postingan donat Mbak Mamiek dan Mbak Yuni, saya pun mendadak ingin sekali makan donat. Saya ingat, dulu ketika hamil Kirana, saya ngidam donat dan saya membuatnya berdua dengan si Akang. Jadi, pembuatan donat kali ini itung-itung nostalgia saat-saat pengantin baru dulu . Kirana dengan penuh semangat membantu mengaduk adonan donat kentang (dengan resep persis sama seperti resep yang saya buat 6 tahun yll, berasal dari buku resep yang saya beli sebelum menikah). Lagi-lagi Kirana nyeletuk, “Emangnya Mama bisa bikin donat?!”

Ketika brownies dan donat itu jadi, ekspresi yang sama muncul di wajah Kirana: bangga. Kata-kata yang muncul dari bibirnya “Woww…!” Dengan penuh semangat dia menghias sendiri donat dengan topping pilihannya. Donat pertama dengan meses, donat kedua dengan gula halus. Diapun dengan sigap (dan masih dengan ekspresi bangga) mengantarkan donat-donat itu ke tetangga.

Dua hari kemudian… (yaitu hari ini), Kirana nyeletuk lagi, “Mama, ayo bikin donat lagi! Kirana yang bantuin Mama.”

Waduh! Bukannya apa-apa, penyakit males kambuh lagi. Apalagi ingat proses bikin donat kentang yang rada ruwet. Tapi, demi menemukan lagi ekspresi bangga di wajahnya yang mungil, saya bela-belain deh. Kali ini, saking malesnya, saya mengarang sendiri adonan donat itu, tanpa ditimbang-timbang, tanpa kentang. Pikir saya, biarlah, apa yang terjadi, terjadilah. Dalam seumur hidup, ini kali pertama saya mengarang resep masakan (sebelumnya, saya selalu tergantung pada resep, sampai-sampai Kirana protes, “Mama kenapa kalau bikin kue lihat kertas terus? Mamanya Atifa –temennya– gak gitu?!”).

Hasilnya…well…mungkin karena niat baik, kok malah lebih enak yang kedua ini ya, hehehe…

Setelah hampir 3 tahun tenggelam dalam kesibukan kerja, hari ini tiba-tiba saya disadarkan oleh sesuatu hal: betapa Kirana rupanya mendambakan ibu seperti ibu-ibu teman-temannya, yang tiap sebentar menyediakan kue-kue buatan sendiri, bukan kue-kue buatan pabrik. Hmmm…ada gunanya juga disuruh bed-rest😀

Gambar 1: donat kentang nostalgia, toppingnya selai coklat plus irisan almond

Gambar 2: donat ngarang, topping-nya krem coklat (Kirana yg olesin)

Resep donat ngarang:

Tepung kira2 800 gr (pokoknya, sekotak tepung itu 900 gram, tidak terpakai semua)

Gula halus kira2 3 sdm

Garam dikit

Susu cair kira2 100 cc

Santan kental kira2 200 cc

Mentega kira2 75 gr dicairkan

Ragi sekitar 1 sdt, masukan ke air sedikit, diamkan sampai larut

Telur tiga butir (kuning plus putih cemplungin semua)

Semua bahan aduk rata, adonan bakal tetep lengket2 di tangan, tapi cuek ajalah. Lalu biarkan 30 mnt. Lalu dibulat2in (ketika membulatkannya, tangan dibalur tepung biar gak lengket), lalu diamkan lagi 15 menit. Lalu, goreng dan kasih topping sesuai selera.