Utang

Kemarin, seperti biasa, saya menyempatkan diri sebentar browsing berita-berita di Republika. Ada dua artikel yang menarik perhatian saya, yang berbicara ttg utang. Artikel pertama, tentang runtuhnya kekhalifahan Islam (Daulah Utsmani), yang ternyata bukan karena invasi militer, melainkan karena utang kepada Barat. Keruntuhan Daulah Utsmani akibat kebijakan para pemimpinnya untuk menerima utang dari negara-negara Barat agaknya mirip dengan kondisi Indonesia saat ini. Kemajuan ekonomi Indonesia yang ternyata ditopang oleh utang luar negeri akhirnya menimbulkan krisis moneter tahun 1990-an dan dampaknya terus merembet sampai sekarang. Dampak paling besar: kemiskinan yang semakin meluas di tengah rakyat yang hidup di negeri yang dianugerahi kekayaan alam melimpah ini.

Artikel kedua, tentang pemerintah yang mengampuni para pengemplang BLBI. Mereka tidak akan dituntut hukuman pidana, asal mereka melunasi utang-utangnya kepada negara. Asal tau saja, kerugian negara akibat tunggakan BLBI mencapai 144 Trilyun! Benar-benar mengusik rasa keadilan!

Utang. Bagi sebagian orang, kata ini menakutkan. Ada yang tidak bisa tidur hanya karena utang yang sedikit. Selama dia belum bisa melunasi utangnya, mukanya akan merah menahan malu ketika berhadapan dengan si pemberi utang. Tapi, hebaaaat… ada yang berutang milyaran, bahkan trilyunan kepada kas negara (=uang rakyat), tapi tetap berleha-leha, bergaya dengan rumah dan mobil mewah, liburan ke luar negeri. Ketika si beliau-beliau ini tidak mampu membayar utang, tinggal kabur ke luar negeri dan hidup di vila mewah. Bahkan ketika sudah capek buron pun, mereka bisa pulang ke Indonesia, di bandara disambut Kapolri, mendapat kehormatan berkunjung ke Istana Negara pulak!

Sepertinya tidak adil. Tapi, saya pernah membaca artikel ini (tentang penuturan istri seorang pengemplang BLBI yang kabur ke Singapura) yang membuat saya teringat pada salah satu isi pengajian Aa Gym yang rajin saya ikuti setiap hari Ahad di Bandung, ketika masih kuliah dulu. Kata Aa Gym, “Kalau kita berutang dan sudah punya uang, lalu kita menunda-nunda pembayarannya, itu sama dengan menarik bala.

Saya pun jadi teringat pada seorang teman lama yang hobi banget berutang. Sedikit-sedikit sih (gak ada apa-apanya lah, dibandingin para buronan kasus BLBI itu), dan dia pun sadar kalo punya utang. Tapi selalu saja, kalimatnya, “O iya, aku waktu itu pinjem uang ya. Ntar deh ya.” Santai. Lalu, pada kesempatan lain, dia ngutang lagi dan lagi-lagi melupakan utangnya. Mungkin karena jumlahnya kecil, jadi “Ah, nanti lagi lah,” begitu pikirnya. Sepertinya tidak ada apa-apa. Orang-orang yang diutanginya pun temen-teman akrab yang emang gak suka ribut (paling ngedumel di belakang). Tapi apa yang saya lihat dalam kehidupannya? Dapat bala terus! Anaknya kecelakaan-lah, barangnya hilang-lah, bisnisnya macet-lah. Pokoknya, ada-ada saja kesulitan yang menimpanya.

Ada lagi teman lain yang juga punya hobi ngutang ini. Kali saya yang jadi korban. Saya tau pasti, dia sebenarnya pernah punya kesempatan untuk membayar utang itu, tapi dia memilih menggunakan uangnya untuk kepentingan lain. Kejadiannya pun sama. Selalu saja ada bala yang menimpanya. Mobilnya ditabrak orang-lah, ketipu sama orang-lah, istrinya kecopetan-lah, dia sendiri sering sakit. Pokoknya, seolah-olah bala tak henti mengejarnya

Nah, kalau utang yang sedikit saja, bila dilalaikan membayarnya, bisa mendatangkan banyak bala, apalagi utang yang milyaran dan trilyunan?! Mungkin memang penampilan para pengutang uang negara itu kelihatan makmur dan sejahtera. Tapi, bagaimana dengan kehidupan keluarganya? Bagaimana kelakuan anak-anaknya? Apa saja bala yang sudah menimpanya? Hanya mereka sendiri yang tahu. Yang jelas, Allah Maha Adil, tidak mungkin mereka hidup tenang dengan cara menilep uang rakyat.

pic from here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s