Bertemu Dengan Hidayat Nurwahid di Iran

Sejak tanggal 14-16 April 2006, di Iran diselenggarakan “Konferensi Internasional Palestina dan Dukungan Bagi Hak-Hak Bangsa Palestina”. Pesertanya para ketua parlemen (atau utusan parlemen) dari berbagai negara, kalau tidak salah yang hadir sekitar 30-an negara, salah satunya Pak Hidayat Nurwahid, ketua MPR kita. Salah satu hasil dari konferensi itu adalah menggalang dana bantuan untuk pemerintah Palestina (dan hal ini menjadi sangat urgen setelah AS dan Uni Eropa menghentikan bantuan mereka, gara-gara yang menang pemilu adalah partai yang tidak mereka sukai: HAMAS– weleh-weleh, katanya pembela demokrasi, gimana sih?!).

Semalam, Pak Hidayat mengadakan pertemuan dengan warga Indonesia di Iran, terutama para mahasiswa. Ada salah satu kisah menarik yang diceritakan oleh Pak Hidayat, yang ingin saya sharing di sini.

Hidayat: Saya beberapa waktu lalu berkunjung ke Aceh. Beberapa ulama mengatakan kepada saya, “Pak, kami di sini sudah berhasil menegakkan syariat Islam.”

Hidayat: Syariat Islam itu seperti apa?

Ulama: Kami menangkapi penjudi, sampai kami sekarang kebingungan mau ditahan dimana, saking banyaknya yang sudah ditangkap. Lalu, kami juga mewajibkan kaum perempuan berkerudung, bahkan kalau perlu, kami yang menyediakan kerudungnya.

Hidayat: Penegakan syariat Islam itu bukan seperti itu. Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah adalah ‘iqra‘, atau membaca. Nah, seberapa besar dana yang sudah dialokasikan pemerintah Islam untuk pendidikan? Sudahkah sepadan dengan perintah pertama Islam itu? Lalu, dalam surat Qurays ada ayat fal ya’budu rabbahaadzal bait, alladzi at’amahum min juu’in wa aamanahum min khauf, (dan berimanlah kepada Tuhan Pemilik Rumah Ini (Ka’bah), Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan). Pemerintah Islam berkewajiban untuk membebaskan rakyat dari kelaparan dan memberi rasa aman kepada rakyat. Syariat Islam seperti inilah yang diperjuangkan oleh PKS dan saya kira, pemikiran ini bisa diterima semua orang dan juga menjadi cita-cita semua bangsa Indonesia. Namun, sayang sekali, ketika konsep seperti ini datang dari kami, yang dibesar-besarkan adalah isu-isu Islamisasi.

Sekian sekilas info

Foto dari sini, soalnya hasil jepretan si Papa gagal semua, kesalahan teknis, hiks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s