Perempuan-Perempuan di Masjid Itu

Sejak tiga hari terakhir ini, ada kejadian ‘aneh’. Setelah dua bulan terpaksa bedrest dan menahan rasa sakit karena si baby ingin cepat-cepat keluar, tiba-tiba kondisi saya membaik. Padahal, masa kritis sudah lewat dan si baby boleh kapan aja keluar (tidak terhitung premature lagi). Di sini anehnya, justru sekarang si baby anteng, gak banyak gerak, dan saya bisa berjalan tanpa perlu menahan rasa sakit lagi. Sholat pun tak perlu lagi sambil duduk seperti dua bulan terakhir. Sudah ke dokter, si dokter pun tidak tahu mengapa ada perubahan drastis seperti ini. Yang jelas, kondisi si baby baik-baik aja, katanya (amiiinnn).

Karena itulah, hari ini saya memberanikan diri ke mesjid untuk sholat zuhur berjamaah dan duduk berlama-lama di sana.

Tiba-tiba seorang perempuan mendekati saya dengan mata berkaca-kaca. “Tolong doakan saya, saya sedang dalam kesulitan besar. Demi orang-orang yang kaucintai, tolong doakan saya,” bisiknya.

Terang aja saya takjub, emang gue wali, apa? Tapi, ya sudah, saya mengangguk saja. Dia lalu menjauh. Lalu saya berdoa, mendoakan si perempuan itu. Mudah-mudahan, apapun kesulitannya, Allah membukakan jalan keluar baginya.

Beberapa saat kemudian (mungkin dilihatnya saya selesai berdoa), dia mendatangi saya lagi. “Kamu sudah mendoakan saya kan?” Saya mengangguk (mau ngomong, males). “Saya tidak punya rumah, dan tidak punya uang. Anak saya dua. Hanya Allah tempat saya meminta jalan keluar. Nanti saat detik-detik kamu melahirkan, tolong doakan saya ya?” lanjutnya.

Olala… ternyata dia meminta saya mendoakannya karena saya sedang hamil. Memang saya pernah dengar, doa perempuan hamil itu pasti dikabulkan Allah (entah iya entah tidak, yang jelas, dulu hamil pertama, saya berdoa sungguh-sungguh supaya ketika melahirkan tidak sakit, ternyata tetap saja sakit).

Setelah perempuan itu meninggalkan masjid, datang lagi seorang perempuan mendekati saya. Juga dengan mata berkaca-kaca, dia meminta saya mendoakannya, “Tolong saya, doakan saya. Hidup saya hampir hancur. Ketika kamu melahirkan, doakan saya ya,” katanya sambil menggenggam tangan saya. Saya hanya bisa mengangguk.

Kedatangan kedua perempuan itu, tak urung, membuat saya terenyuh dan mempengaruhi suasana hati saya, sehingga sayapun berdoa sambil menangis tersedu-sedu. Kasihan sekali mereka. Saya juga malu pada diri sendiri, teringat selama dua bulan terakhir, hanya diuji Allah dengan rasa sakit tak seberapa, saya sudah merasa desperate. Padahal, di luar rasa sakit, segala sesuatu di sekeliling saya sangat menyenangkan, ada suami yang baik hati dan anak yang menjadi penyejuk mati.

Tiba-tiba, kontraksi kembali terasa, kali ini intervalnya sangat singkat. Aduh, gimana sih si baby, bikin kalang-kabut aja. Mau langsung bangun untuk pulang, juga gak bisa. Sakit banget. Akhirnya, saya duduk diam-diam di sudut, sambil berharap rasa sakit ini reda. Sambil menahan sakit, saya menatap perempuan-permpuan di masjid itu. Beberapa ibu sedang sibuk membaca Al Quran atau buku doa. Ada juga yang terkantuk-kantuk duduk di sudut. Beberapa gadis remaja duduk berkelompok di sebuah sudut, sedang mengerjakan pe-er mereka. Beberapa di antaranya berjilbab rapi, sebagiannya berjilbab funky dengan rambut melambai kemana-mana. Sambil cekikikan pelan, mereka berdiskusi tentang pe-er mereka. Ah, indahnya masa remaja, gak perlu menahan sakit kontraksi segala, pikir saya iri.

Ketika rasa sakit sudah reda, saya coba berdiri, dan berjalan ke pintu masjid. Perlahan, pelan-pelan… sampai akhirnya tiba di rumah dengan selamat. Alhamdulillah. Adek bayi sayang… kapan siiih, kamu mau keluar..?!

*ditulis sambil meringis menahan sakit*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s