“Jurus” Melawan Baby Blues… (2)

OK, ceritanya kita sambung lagi ya…

Baby blues adalah perasaan kacau-balau yang melanda ibu yang baru melahirkan (ini definisi ciptaan saya sendiri, hihihi). Konon 80 persen perempuan mengalaminya setelah persalinan. Detik ini senang karena punya bayi, detik berikutnya tiba-tiba sedih dan menangis bercucuran air mata. Susah untuk konsentrasi pada sesuatu, hilang selera makan, susah tidur, kadang bawaannya pengen maraaaah terus. Saya juga waktu itu gampang panik setiap kali bayi menangis dan kebingungan harus melakukan apa.

Sebenarnya, “jurus-jurus” yang akan saya tulis di sini lebih cocok untuk ibu-ibu yang melahirkan sendirian, jauh dari kampung halaman, dan tidak ada ibunda atau saudara perempuan yang mendampingi (dan inilah ‘nasib’ saya ketika melahirkan kedua anak saya). Jurus-jurusnya ini sebagian hasil pengalaman sendiri, sebagian lagi saran dari psikolog yang dulu menerapi saya.

Jurus pertama:

Sebelum si bayi lahir, waspadalah dan kenalilah gejala-gejala baby-blues seperti yang saya sudah tulis di atas. Hal ini sangat berguna dalam menghadapi ‘sambaran’ si baby blues. Misalnya, ketika perasaan kita kacau-balau setelah melahirkan, pengetahuan tentang gejala baby-blues akan membuat kita berpikir, “Oh, ini normal, insya Allah akan hilang seminggu-dua minggu lagi…sabar…sabar…”

Jurus kedua:

Lepaskan saja emosi, gak usah ditahan-tahan. Mau nangis, marah, ya keluarin aja… Sadarilah, bahwa kondisi ini normal dan dialami oleh hampir semua ibu, jadi tidak perlu ada rasa bersalah, apalagi merasa:”Aku ini bukan ibu yang baik“.

Btw, di sini letak pentingnya pemahaman suami—jadi sebelum melahirkan, perkenalkan apa itu baby-blues pada suami.

Jurus Ketiga: Usahakan tidur sebanyak mungkin (bahkan kalau ada kesempatan 10 menit pun, gunakan untuk tidur). Namun, supaya si ibu bisa tidur enak, ada hal-hal yang perlu dilakukan:

  1. Jangan pedulikan keadaan rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk, dll. Memikirkan hal itu malah membuat resah dan susah tidur. Yang penting tidur dulu, urusan lain biar nanti diurus.
  2. Buat manajemen pasca kelahiran (sebelum bayi lahir, perkirakan situasinya: misalnya suami harus kerja, anak harus sekolah, lalu buat planning untuk me-manage segala sesuatunya. Dengan cara ini, pasca melahirkan, kondisi rumah akan terkendali.)

Contoh manajemen itu:

    1. bikin masakan banyak-banyak, simpan di kulkas, jadi tiap akan makan, tinggal dihangatkan, tidak perlu repot2 masak lagi.
    2. beri tahu suami dan si kakak letak barang-barang kebutuhan mereka, sehingga tidak ada kejadian, si ibu tidur, suami teriak, “Maaa…bajuku yang biru itu di mana??” (bisa bubar deh tidur si ibu)
    3. bila sudah ada si kakak, pikirkan bagaimana caranya agar si kakak tidak mengganggu tidur ibu (misalnya, dititipkan ke tetangga dulu selama ayah sedang di kantor, atau dimasukkan ke play-group)
    4. bila memungkinkan, sewalah asisten (aka pembantu), minimalnya untuk sebulan-dua bulan setelah melahirkan, ini akan menyelesaikan banyak masalah.

Jurus Keempat: Bikin segar diri sendiri, antara lain dengan cara:

  1. Mandi berlama-lama (tentu saja, ketika ada si ayah yang menunggui bayi)
  2. Dandan yang cantik (melihat diri di cermin dan menatap penampilan lusuh dan lesu diri sendiri pasca melahirkan sangat mungkin akan menambah stress)
  3. Telponlah ibu, kakak, adik, atau teman-teman (jadi, sebelum melahirkan, anggaran telpon yang bakal membengkak pun harus diperhitungkan). Berbicara dengan orang lain adalah salah satu obat terbaik dalam mengatasi baby-blues. Yang dibicarakan tidak harus melulu tentang bayi, malah lebih bagus lagi tentang hal-hal lain, misalnya tentang sinetron yang sedang ngetop di tivi (:D)
  4. Internetan dan chatting (pengalaman saya, setelah melahirkan anak kedua, saya segera online lagi, komunikasi lagi dengan teman-teman di Multiply, chatting hampir tiap hari dengan Neng Satpam tercinta, semua ini saya rasakan sangat membantu dalam menormalkan emosi akibat baby-blues)
  5. Kalau sudah kuat jalan, pergilah jalan-jalan ke taman dekat rumah bersama suami, atau, bila sanggup, jalan-jalan sendiri saja ke mall untuk cuci mata atau shopping untuk diri sendiri (baju baru, sendal baru)

Jurus kelima: Sadarilah bahwa badai pasti berlalu. Rasa sakit setelah melahirkan pasti akan sembuh, rasa sakit ketika awal-awal memberi ASI pasti akan hilang, teror tangis bayi lambat laun akan berubah menjadi ocehan dan tawa yang menggemaskan, bayi yang “menjengkelkan” (karena nangis dan nyusu mulu) beberapa bulan lagi akan menjadi bayi mungil yang menakjubkan, dll. Setiap kali merasa susah hati, ingatlah betapa beruntungnya kita karena telah dikaruniai anak oleh Allah. Ucapkan alhamdulillah banyak-banyak, untuk mengingat bahwa rasa sakit, perasaan tak karuan, lelah, dan lain-lain, tidak ada apa-apanya dengan nikmat karunia anak yang sehat dan lucu.

Catatan: Waspadalah bila…

Bila perasaan kacau-balau itu belum juga sembuh setelah lewat tiga minggu, berarti si ibu sudah terkena depresi (istilahnya: post-partum depression). Kondisi ini benar-benar harus diwaspadai. Apalagi, bila sampai terlintas pikiran-pikiran aneh, seperti perasaan “Aku sepertinya akan melukai diriku sendiri atau bayiku” atau “Aku bukan ibu yang baik” atau “Aku tidak mungkin bisa membesarkan anakku dengan baik” atau “Lebih baik aku mati saja”.

Dalam kondisi ini, SEGERA minta bantuan dokter atau psikolog. JANGAN dipendam sendirian, bahaya!!!

Kalau depresi si ibu tidak diatasi, banyak masalah yang akan terjadi, antara lain: depresi itu akan
menumpuk dan ketika si ibu melahirkan anak berikutnya, dia akan menderita depresi yang lebih parah lagi. Ketika sudah sangat parah (yang ditandai halusinasi, delusi, dan pikiran-pikiran aneh)… dampak ekstrimnya: bunuh diri atau melukai, bahkan membunuh bayi (naudzu billah min dzalik… lindungilah kami ya Allah…).

Sekian. Semoga ada manfaatnya J

Advertisements

“Jurus” Melawan Baby Blues… (1)

Dalam jurnal ini, saya ingin menceritakan pengalaman pribadi saya dan suami dalam menghadapi baby-blues pasca persalinan pertama. Tapi saya kesulitan menceritakan situasinya, karena seperti mengenang kembali pengalaman buruk (bisa-bisa saya nangis bombay di depan komputer deh). Jadi, silakan baca dulu puisi amatiran yang saya tulis (dengan penuh linangan air mata) 16 hari setelah kelahiran anak kedua.

Engkau (2)

Kali ini bayi mungil kita hadir di tengah kebahagiaan

Aku tersenyum padanya sejak hari pertama

Dengan khawatir, tiap saat kau bertanya,

“Keadaanmu baik-baik saja, kan?”

Dan kau ucapkan alhamdulillah

Tiap kali aku tertawa

Sayang,

aku bukan lagi perempuan enam tahun lalu

yang terguncang saat menerima kehadiran bayi pertama kita

Yang marah

karena tak percaya bahwa untuk memiliki anak

seorang perempuan harus melewati kesakitan yang dahsyat

Yang tak terima

Bahwa seorang bayi bisa merampas segalanya dari seorang perempuan,

kesehatan, kebugaran, kebebasan

(Bahkan pintu kelas kuliahku pun tak bisa membebaskanku

dari tangisan bayi mungil kita,

karena seseorang menggedornya dan di depan semua orang memberitahukan

bahwa bayi kita menangis tanpa bisa dibujuk lagi

Aku pun berlari dengan hampir menangis,

kutinggalkan ruang kuliah itu untuk selamanya)

Kita memang tak menikah dini

Aku waktu itu seharusnya sudah cukup umur dan dewasa

Untuk mengemban tugas sebagai perempuan

Bahkan, ingatkah kau,

aku membawa setumpuk buku tentang

‘menjadi wanita salihah’

‘mendidik anak’

‘membangun keluarga sakinah’

Semua teori untuk menjadi istri dan ibu yang baik

lengkap terpatri di kepalaku

Tapi teori ternyata tidak mudah untuk dipraktekkan

Dan yang tersisa hanya marah, marah, dan marah

Ah, untung kau seorang lelaki dengan hati karang

dan kesabaran yang seluas samudera

Tanpa satu kata keluhanpun

Kau terima semua marahku

Tanpa kata-kata

Kau ajarkan padaku tentang kesabaran

Tanpa doktrin

Kau ajarkan tentang ‘positive thinking’

Tanpa puisi

Kau tunjukkan padaku tentang cinta tanpa pamrih

Sayang,

Aku bukan lagi perempuan enam tahun lalu

Aku baik-baik saja

Jadi,

tersenyumlah, dan jangan khawatirkan apa-apa lagi

Alhamdulillah..puji syukur kehadirat Allah, saya memiliki suami yang cepat tanggap. Meski saat itu saya dan dia tidak pernah dengar istilah ‘baby blues’, tapi, dia selalu mendampingi saya dengan sabar setelah melahirkan. Bahkan ke warung pun dia lakukan sambil setengah berlari, supaya bisa segera kembali ke rumah secepat mungkin, karena, “Papa takut, Mama marah pada Kirana” (hiks..saya menangis ketika mengetikkan kalimat ini).

Atas saran seorang dosen, kami pun berkonsultasi kepada lembaga konseling yang disediakan pihak sekolah. Kebetulan, yang menangani saya adalah langsung kepala lembaga itu, seorang ulama berjubah-bersorban-berjanggut (pada pandangan pertama, saya sempet sentimen loh, hehehe). Beliau ternyata benar-benar ahli dalam memberikan terapi. Dia merekomendasikan suami saya untuk skip kuliah semester itu supaya dapat mendampingi saya di rumah. Kami pun direkomendasikan untuk jalan-jalan ke luar kota dengan biaya dari pihak sekolah. Terakhir, karena saya masih sering nangis dan marah-marah, beliau menyuruh dia pulang berlibur ke Indonesia dengan tiket ditanggung sekolah.

Alhamdulillah, ‘badai’ itu sudah berlalu dan saya makin cinta pada suami (wah, yg ini sih disensor aja ya:D). Hikmahnya, saya jadi punya ‘jurus-jurus’ (kok kayak pencak silat) yang sangat berguna untuk diterapkan dalam ‘melawan’ baby blues setelah persalinan kedua. Nah…. ‘jurus’ inilah yang ingin saya sharing… tapi tunggu di jurnal selanjutnya yaaa… mau ngurusin adek Reza dulu.. lagian baca jurnal terlalu panjang capek juga kaaaan?:D

gambar dari sini.

Seandainya Tidak Ada Diapers

Tiga hari terakhir ini saya stress berat, sampai kepala pusing mau pecah. Penyebabnya, Reza disunat tanggal 31 Mei lalu. Kata dokter, disunat pada usia sebelum sebulan akan menghindarkan anak dari penyakit infeksi saluran kencing. Kata tetangga-tetangga, kalau anak disunat ketika bayi usia sebulan, ngurusnya juga lebih mudah.

Tapi…ternyata oh ternyata, stressnya luar biasa. Bukan karena Reza rewel, tapi karena… repot ngurusin pipisnya!!!

Kata dokter, selama seminggu Reza tidak boleh dipakaikan diapers, biar lukanya kering. Seminggu???!!! Dua hari aja saya rasanya hampir mati. Bayangin aja, tiap pipis atau pup, kain alas harus diganti. Saya hitung, dalam 2 hari, saya sudah mengganti kain alas itu sebanyak 50 kali! Baru saja diganti, sudah cuuur… lagi. Badan rasanya mau patah duduk-bangun terus untuk mengganti kain alas. Belum lagi urusan mencuci kain alas itu. Saya hampir menangis karena capek. Tapi malu hati juga, teringat ibu-ibu korban gempa di Jogja..hiks, mereka yang punya bayi, gimana ngurusnya ya??? Ya Allah… karuniailah mereka kesabaran berlipat ganda.

Untunglah, pada hari ketiga, ada tetangga memberi tahu bahwa kalau sudah kering lukanya, tidak perlu menunggu seminggu, bisa langsung dipasangin diapers. Wow, kepala saya langsung enteng lagi. Pada saat itulah saya menyadari, betapa berjasanya orang yang menemukan diapers dan memproduksinya secara massal. Oh, apa jadinya bila di dunia ini tidak ada diapers

Penemu diapers:

Marion Donovan was a young mother in the post-war baby boom era. She came from a family of inventors and inherited the inventing ‘gene’. Unhappy with leaky, cloth diapers that had to be washed, she first invented the ‘Boater’, a plastic covering for cloth diapers. Marion Donovan made her first Boater using a shower curtain. A year later she carried her ideas further. Using disposable absorbent material and combining it with her Boater design, Marion Donovan created the first convenient disposable diaper. Manufacturers thought her product would be too expansive to produce. Marion Donovan, left unable to sell or license her diaper patent, went into business for herself. A few years later, she was able to sell her company for $1 million.

Cloth Diapers – Maria Allen

Cloth diapers were first mass produced by Maria Allen in 1887.

Contoured Disposable Diapers
In 1949, Stanley Mason patented the world’s first disposable and pin-free diapers that were contoured to fit a baby’s bottom.