Nonton Piala Dunia dari Tivi Iran

Adil Ferdowsipour, reporter sepakbola paling tenar di Iran, saat ini sedang berada di Jerman, menyampaikan reportasenya secara langsung dari stadion tempat berlangsungnya pertandingan. Orangnya ganteng, masih bujangan, sarjana arsitektur, dan punya ingatan seperti computer. Dengan lancar tanpa ‘ah-eh’, dia menyebutkan biografi para pemain, sejarah pertandingan, dan ini-itu seputar kedua tim yang berlaga. Kalimat-kalimatnya mengalir lancar banget, dengan intonasi yang benar-benar enak didengar. Prediksi-prediksinya pun sering jitu, misalnya ada pelanggaran, dia bilang “Ini harusnya kartu merah,”..ee.. taunya bener kartu merah. Atau, wasit kasih kartu, dia bilang, “Kayaknya tadi itu bukan pelanggaran deh,” lalu ketika ada tayang ulang slow-motion, ketahuan bahwa memang bukan pelanggaran. Dia pun fasih mengucapkan nama-nama pemain sepakbola asing, beda dengan reporter Iran lainnya, yang umumnya menambahkan huruf ‘e’ di depan nama pemain berawalan S, misalnya: Scolari jadi “Escolari”.

Tapi, waktu pertandingan semifinal Perancis lawan Portugis lalu, Adil Ferdowsipour terdengar mellow. Ketika layar tivi menampilkan kemegahan stadion (disorot dari atas) lalu menampakkan sorak-sorai para penonton, dia berkata, “Alangkah gembiranya mereka. Memang ini adalah pesta dunia. Sayangnya, di balik sorai-sorai dan kegembiraan ini, ada orang-orang yang sedang bertarung nyawa, bersimbah darah, dibantai oleh tentara-tentara Zionis. Semoga, kelak bangsa Palestina juga bisa merasakan kegembiraan di pesta Piala Dunia ini, dan kegembiraan itu hanya bisa terwujud dengan bebasnya Al Quds.”

Di tengah-tengah pertandingan, ketika bola di-close up, Adil Ferdowsipour berkata, “Di sini, mereka melemparkan bola; di Palestina, tentara Israel juga sedang melemparkan bola-bola pelurunya.”

Masih belum cukup, pada masa istirahat antara dua-babak, tivi Iran menampilkan filler (film pendek) yang diiringi musik sendu. Awalnya, kamera menyorot close-up wajah anak-anak kecil berkulit putih yang ganteng-cantik dan makmur sedang duduk dan bersorak-sorai di kursi-kursi terdepan stadion bola. Lalu kamera menyorot close-up anak-anak Palestina yang bersimbah darah, menangis, atau mati. Begitu terus berganti-ganti, miris sekali.

Saya bertanya-tanya, kok siaran Piala Dunia tiba-tiba mellow begini sih? Ternyata, hari-hari terakhir ini, Israel sedang melancarkan operasi militer yang diberi nama indah “Hujan Musim Semi.” Dalam operasi ini, lima menteri dan 24 anggota parlemen, serta puluhan pejabat Palestina diculik. Sekolah dasar Al Arqam dihancurleburkan. Desa-desa dibuldoser. Orang-orang, termasuk anak kecil, dibunuhi. Pesawat-pesawat menjatuhkan hujan bom. Dan Sekjen PBB yang terhormat hanya menyampaikan ‘keprihatinan’. Lagi-lagi, saya teringat pada kata-kata Ahmadinejad, “Kalau memang orang-orang Yahudi adalah korban Holocaust—yang katanya dilakukan orang-orang Nazi—mengapa bangsa Palestina yang harus kena getahnya? Mengapa Israel harus didirikan di atas tanah bangsa Palestina?”

NB: cara yang bisa kita lakukan untuk membantu bangsa Palestina: sumbangkan uang ke lembaga2 yang terpercaya yang sedang mengumpulkan dana untuk Palestina.