Homeschooling “Terpaksa”

Diskusi tentang homeschooling akhir-akhir ini banyak menarik minat saya. Tapi rencananya sih, baru nantiii… dipraktekinnya. Itupun kalau saya berhasil mencapai kesepakatan dengan Papanya Kirana (dia masih kurang setuju dengan metode ini, alasannya: pengalaman dia sendiri, banyak yang dia pelajari di sekolah, selain pelajaran baku).

Tapi ternyata, secara tidak sengaja –dan tidak saya sadari sebelumnya—saya sudah beberapa waktu terakhir ini mempraktekkan homechooling. Tepatnya, sejak awal musim panas. Bisa dibilang, awalnya ini homeschooling ‘terpaksa’. Soalnya, Kirana ini –entah mengapa—hobi banget belajar. Dia punya buku Bina Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk kelas I-a, terbitan Erlangga. Nah, berhubung kemampuan pemahaman bacanya masih terbatas (jadi, baca bisa, tapi gak paham maknanya:D), dia selalu saja ‘mengganggu’ kesibukan saya di depan komputer untuk bertanya, “Ma, ini jawabannya apa?”

Ditanya-tanya secara sporadis gitu, jelas menimbulkan dua kerugian. Saya rugi karena konsentrasi di depan kompi buyar, Kirana rugi karena jawaban saya tidak sepenuh hati. Akhirnya, ya sudah deh, saya jadwalkan waktu belajar khusus untuknya. Kebetulan, ada anak tetangga yang—anehnya—juga punya hobi belajar. Rasanya benar-benar aneh, kok ada anak hobi belajar. Tapi, setelah mengunjungi situs ini, saya jadi tahu, bahwa anak-anak pada dasarnya memang suka belajar. Ini malah seharusnya jadi kesempatan emas, untuk mengalihkan godaan televisi, iya kan?

Singkat kata, kini setiap sore saya menggelar homeschooling di rumah, dengan dua murid. Pelajarannya Bahasa Indonesia, Sains, Matematika, dan Ilmu Sosial (kebetulan, Fatimah, teman Kirana, punya semua buku itu, bawa dari Indonesia, sementara Kirana hanya punya buku bahasa).

Hambatan yang saya rasakan sebagai “ibu guru dadakan” adalah masalah bahasa. Berhubung Kirana dan Fatimah sama-sama lahir dan tumbuh di Iran, kemampuan bahasa Indonesia mereka terbatas pada bahasa percakapan saja. Ketika membaca buku, banyak sekali kata yang tidak mereka pahami, seperti gemar, wali, orangtua, danau, lebih besar, dikali, identitas diri, mengurus, mengepakkan, pemburu, bahaya, berlindung, menyambar, menantang…

Kesimpulannya, apapun mata pelajarannya, ujung-ujungnya belajar Bahasa Indonesia lagi, dengan materi “menerangkan makna kata” dan itu pun bagi saya, tidak mudah. Coba, gimana harus menerangkan arti ‘melindungi’? Susah-susah mudah kan?

Hambatan lain adalah…saya kok sering males ya, hiks. Seringkali, ketika Kirana bertanya, “Mama, nanti jam lima ada kelas kan?” dalam hati, rasanya berat dan enggan sekali (ngantuk berat, maklum seharian kerja keras terus sih, gendong bayi seberat 8 kilo-an:D). Tapi, menatap mata bundarnya yang indah, tidak tega juga bilang tidak. Untungnya, ketika pelajaran dimulai, kantuk saya langsung hilang.

Terakhir, untuk memberi semangat pada “ibu guru dadakan” ini, saya copy-paste di sini kalimat inspiring dari Pak Hernowo tentang homeschooling:

Bagi saya, rumah adalah tempat belajar yang paling ideal. Kesungguhan dan keikhlasan dalam memberlangsungkan kegiatan belajar-mengajar, serta kekayaan dan keragaman materi yang dipelajari di rumah tidak usah diragukan lagi mutu dan kehebatannya. Orangtua bisa belajar kepada anak-anaknya, dan, tentu saja, anak-anak dapat mengikuti teladan orangtuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s