Impian Seorang Ibu

Ketika datang ke Iran, awal musim gugur tujuh tahun lalu, banyak sekali impian yang ada di kepala saya. Impian terbesar, meneruskan sekolah, hingga meraih PhD. Bukan impian yang terlalu muluk saat itu, karena saya mendapat beasiswa S2 dari pemerintah Iran dan saat itu, prosedur mendapatkan beasiswa S3 setelah lulus S2 juga tidak sulit. Jadi, saya yakin sekali bisa sekolah terus hingga menjadi seorang doktor.

Tapi rupanya impian itu tinggal impian. Semester kedua kuliah, saya hamil dan sempat menjalani hari-hari kuliah dengan perut besar. Berat sekali, karena bawaannya ngantuk melulu. Saya tidak bisa konsentrasi, tidak bisa memahami dengan baik kata-kata dosen saya. Saat ujian, benar-benar mimpi buruk. Saya tidak tahu harus menulis apa di kertas. Pikiran saya kosong. Dosen-dosen saya yang baik hati, dengan penuh rasa empati mendekati saya, berbisik, kamu tidak kesulitan menjawab? Ada yang menawarkan saya untuk menjawab dalam bahasa Inggris, karena mengira sumber kesulitan saya adalah bahasa. Padahal, sebenarnya memang pikiran saya benar-benar kosong saat itu.

Setelah Kirana lahir, situasi menjadi lebih parah. Proses persalinan yang sangat berat, yang tidak saya sangka-sangka, membuat saya shock. Dilanjutkan lagi dengan ketidaksiapan saya menghadapi kenyataan bahwa “Saat punya bayi kecil adalah saat untuk sejenak mengesampingkan diri sendiri” (ini kalimat dari Mbak Yuli). Kondisi saat itu benar-benar sulit. Apapun opsinya, tetap berujung pada satu keputusan terbaik saat itu: berhenti kuliah.

Keputusan itu membuat saya sedih, sangat sedih. Sampai akhirnya, seorang teman asal Filipina yang sedang kuliah S3 dan telah enam tahun menikah namun belum juga dikaruniai anak, menyadarkan saya dengan kalimat sederhana, “Anak lebih berharga dari apapun.”

Kalimat serupa sebenarnya sering diucapkan suami saya, tapi selalu saja masuk kuping kiri dan keluar dari kuping kanan. Rupanya, ‘petunjuk’ itu harus datang lewat orang lain dulu.

Singkat kata, saya mulai menerima kenyataan dan memutuskan untuk menepi sejenak. Melepaskan impian untuk meneruskan kuliah dan berusaha menikmati hari-hari sebagai ibu dari seorang putri yang semakin hari semakin lucu dan menggemaskan.

Ketika Kirana usia tiga tahun, dia mulai masuk play-group. Seharusnya saya bisa meneruskan kuliah. Tapi, peraturan pemerintah Iran berubah. Tidak ada lagi beasiswa untuk pelajar Indonesia. Kalau mau membayar, harus keluar uang ribuan dollar. Bukan pilihan yang masuk akal. Lagi-lagi, impian harus dienyahkan dan saya memilih untuk bekerja sebagai penerjemah dan editor bahasa di IRIB.

Kini, kami sudah memutuskan untuk pulang ke Indonesia awal tahun depan. Saya kembali merajut impian, ingin meneruskan S2 di Bandung nanti. Saya juga mengira, tabungan saya bisa disisihkan sebagian untuk biaya kuliah. Saya pun browsing ke website Unpad, untuk mengetahui berapa biaya kuliah pasca sarjana di jurusan ilmu politik. Kepala saya langsung berdenyut-denyut. Untuk semester pertama, harus keluar uang minimalnya sembilan juta rupiah. Entah untuk semester berikutnya. Tabungan saya tidak banyak dan sepertinya tidak masuk akal bila saya menghabiskannya hanya untuk kuliah. Bagaimana dengan sekolah anak-anak? Bagaimana dengan uang persiapan kalau-kalau sakit, bukankah biaya pengobatan di Indonesia sangat mahal? Bagaimana dengan ini… bagaimana dengan itu..?

Ah, sepertinya, lagi-lagi, saya harus mengambil keputusan yang diambil oleh banyak ibu di dunia ini: mengubur impian demi kepentingan anak dan keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s