Nyari Bensin Dulu…

Ber-multiply ria memang menyenangkan…

Misalnya sekarang, empat hari lagi Ramadhan, saya kok masih merasa cuek yah..

Sama sekali tidak ada rasa rindu. Biasa-biasa saja. Ah, sepertinya berbagai kesibukan dan rutinitas yang nyaris membuat saya tidak bisa berpikir dan merenung banyak, telah membuat hati ini terasa kering.

Membaca jurnal-jurnal teman-teman tentang Ramadhan, membuat saya merasa malu. Mengapa orang-orang lain demikian merindukannya, sementara saya tidak?

Kemana rasa rindu itu?

Akhirnya, sepanjang pagi ini, saya sempatkan browsing sana-sini, mencari bensin untuk menyalakan rindu kepada bulan mulia ini.

Banyak sekali artikel menarik yang saya temukan. Terimakasih teman-teman multipliers. Oya, ada seorang kontak yang memberi tahu link ini, judulnya: 14 Alasan Merindukan Ramadhan. Bagus sekali.

OK, sekian dulu curhat pagi ini.

Mohon Maaf Lahir Batin untuk semua teman-teman multipliers, mohon maaf bila selama kita berinteraksi, ada kata-kata (tulisan/reply) saya yang menyinggung hati teman2 sekalian.

Selamat menunaikan ibadah bulan Ramadhan kepada teman-teman muslim.

Advertisements

Kirana Krisis Percaya Diri?!

[Ini cerita hari pertama masuk kantor setelah cuti 7 bulan–3 bln sblm dan 4 bln sesudah melahirkan–cuma karena repot, baru diposting skrg]

Untuk sebulan ini, saya terpaksa membawa Reza ngantor. Apa boleh buat, saya paranoid banget, gak berani ninggalin dia dengan pengasuh orang Iran (soalnya, kesannya mrk itu gak sabaran sama anak kecil, gitu loh). Bagaimana rasanya ngantor setelah tujuh bulan cuti? Sudah pasti.. refffooot… susah konsen, salah-salah saat ngedit, dan lelet dalam nerjemahin teks. Apalagi, harus bawa dua anak pula. Kirana harus dibawa ngantor juga karena baru pekan depan dia kembali masuk TK. Reza, juga baru bulan depan bisa diterima di day care yang disediakan kantor.

Sejak Kirana kecil, dia memang selalu dibawa ke kantor. Jadi, Kirana sudah sangat kenal dengan teman-teman saya. Mereka pada gemes sama Kirana yang dulu emang lucu dan montok. (Sekarang sih, sudah manis-langsing kayak gadis kecil :D). Kirana seperti sudah menjadi bagian kantor kami atau, tepatnya bagian dari lantai 6 gedung kami. Orang-orang memuji-mujinya, mengajaknya masuk ke ruang mereka (di lantai enam ada 5 radio dari berbagai bahasa), mengajak ngobrol, memberi permen, dll.

Tapi hari ini, situasi berubah total. Semua tatapan mata tertuju pada Reza. Puji-pujian mengalir deras kepada Reza. Banyak yang berdatangan ke ruang kantor saya lalu berebutan ingin menggendong Reza. Bahkan big boss kami, orang Iran, sengaja datang ke ruangan kami untuk menggendong Reza. Dia tertawa terkekeh2 memeluk Reza, persis kakek memeluk cucunya. Semua orang di ruangan jadi terheran-heran, soale si bos biasanya tegas dan dingin. Tanpa sadar, kami berbuat kesalahan. Waktu orang-orang memuji betapa montoknya Reza, kami berkata, “Kirana dulu juga montok banget, sekarang aja jadi kurus begini.”

Rupanya hal itu benar-benar menyinggung perasaannya.

Ketika seorang teman membuka foto wedding-nya Siti Nurhaliza di internet, Kirana berkata, “Cantik sekali ya Ma?”

“Iya, cantik.”

“Mama kan sayangnya sama ini ya (menunjuk pada foto Cik Siti), bukan sama Kirana.”

Tak lama kemudian, dia bahkan menulis di kertas: “Kirana nakal”.

Karena sibuk, saya tidak terlalu memperhatikannya. Di rumah, saat kami bercanda dengan Reza, Kirana nyeletuk, “Adik Reza ganteng, Kakak Kirana jelek.”

Olala…saya baru tersadar. Hari ini rupanya Kirana terkena krisis percaya diri. Hmm… begini rupaya kalau anak terlalu banyak dapat pujian. Dia menjadi sangat sensitif terhadap penilaian orang terhadap dirinya. Si Papa segera menetralisir suasana, “Kalau Kakak jelek, berarti Adik juga jelek. Kalau Kakak cantik, Adik juga ganteng.” Kirana terlihat menunjukkan sedikit ekspresi senang.

Akhirnya, demi meraih hati Kirana, sore itu juga (meski saya capek sekali), saya mengajaknya jalan-jalan ke pusat pertokoan, berdua saja. Sepanjang jalan, berkali-kali, dengan berbagai kalimat, saya berusaha membesarkan hatinya: Kirana diajak jalan berdua saja dengan Mama karena sudah besar, pinter, dan tidak manja, dll. Kami melihat-lihat baju-baju, perhiasan, aksesories (dan beli kalung warna pink buat Rana), tas, dll. Kami berdua beli es krim dan dimakan sambil jalan cuci mata (waduh, kok gak ngajarin etika makan yg bener sih Ma?). Terakhir, ke toko buku membeli buku cerita untuk Kirana (buat adek Reza juga, buku cerita khusus untuk bayi).

Jam 9 malam, baru kami tiba di rumah. Fiuuuuh…. capeknyaaaa….

Kirana segera memeluk adek Reza, kangen, katanya. Sepertinya (mudah-mudahan), rasa percaya dirinya sudah kembali lagi.