Mereka yang Tak Punya Tempat Pulang

Ini cerita tentang nasib tetangga saya, orang Irak. Sepasang suami istri, lebih dari 20 tahun yang lalu, melarikan diri dari kejaran agen-agen rahasia Saddam yang terkenal bengis (tetangga saya ini orang Syiah dan waktu zaman pemerintahan Saddam, orang-orang Syiah banyak yang ditangkapi dan dipenjarakan). Mereka menempuh perjalanan dari kota Najaf ke perbatasan Iran dengan berjalan kaki. Sempat berhari-hari bersembunyi di pegunungan sambil menahan dingin. Akhirnya, mereka sampai juga di Iran dan membangun kehidupan baru di negeri ini.

Tahun 2003, Saddam tumbang. Tetangga saya ini—oya, kami memanggilnya Khanum (=nyonya) Muhammadi—benar-benar bahagia. Dengan mata berkaca-kaca dia menceritakan kepada kami—tetangga-tetangganya—betapa rindunya dia pada ibu, ayah, kakak-adiknya yang ada di Irak. Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa suami-istri Muhammadi memutuskan untuk kembali ke Irak. Mereka sudah punya enam (!) anak perempuan, semua lahir di Iran dan sangat fasih berbahasa Persia. Keenam anak perempuannya pun sangat antusias bercerita kepada kami mengenai rencana kepulangan ke Irak, negeri yang selama ini hanya mereka dengar dari ayah-ibu mereka.

Tahun 2005, keluarga Muhammadi kembali ke Iran dengan membawa segunung cerita sedih. Irak ternyata bukan lagi negeri mereka. Keenam anak gadis itu sama sekali tidak bisa menyesuaikan diri dengan rumah tanpa aliran air keran panas-dingin, tanpa listrik yang menyala 24 jam (hanya nyala beberapa jam sehari), tanpa makanan hangat, atau tanpa jalan-jalan ke mall. Untuk mendapatkan sekedar satu ekor ayam, mereka harus antri. Bahkan sayuran–sekedar wortel pun—menjadi barang mahal di Najaf. Mereka ketakutan mendengar suara bom yang setiap saat begemuruh dan tentara-tentara AS yang berpatroli. Mereka pergi ke sekolah dan kebingungan dengan bahasa Arab, bahasa nenek moyang mereka sendiri. Mereka selalu ketakutan setiap kali pergi ke sekolah karena ada saja laki-laki iseng yang mencolek atau mengganggu. Mereka tiba-tiba baru menyadari apa arti keamanan dan kenyamanan.

Akhirnya, setelah dua tahun menjalani kehidupan penuh air mata di kampung halaman, keluarga itu memutuskan kembali ke Iran. Tentu saja, mereka tidak seratus persen nyaman tinggal di Iran karena status mereka sebagai pengungsi. Tapi, minimalnya, kehidupan mereka aman, dan mereka bisa menikmati berbagai kenyamanan yang sudah terbiasa mereka dapatkan selama 20 tahun terakhir. Mereka sangat ingin tinggal di negara mereka sendiri, tapi situasi di negeri mereka sangat berat dan tak tertahankan. Mereka ingin pulang, tapi tidak bisa.

Mendengar cerita mereka ini, saya menyadari satu lagi nikmat Tuhan untuk saya: memiliki tempat untuk pulang, untuk mudik, untuk bersilaturahmi dengan sanak-keluarga dalam keadaan aman dan nyaman.

Selamat mudik bagi teman-teman mp-ers yang akan mudik (atau sudah mudik).

Selamat berlebaran kepada teman-teman mp-ers yang muslim.

Mohon maaf lahir batin kepada semua teman-teman mp-ers.

foto minjem dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s