Pamit Sebentar… atau Lama?

Tak terasa, Desember sudah menjelang,
salju pertama sudah turun,
kali ini salju turun terlalu cepat,
seolah mengingatkan bahwa April 2007 sudah di depan mata
(bulan April 2007 adalah bulan yang kami rencanakan untuk pulang ke Indonesia for good)
Padahal begitu banyak niat yang belum dilakukan, diselesaikan, diraih…

Seperti kata seorang teman:
“Berkemas membuat kita bisa melihat betapa hidup sering dilalui dengan menunda-nunda pekerjaan…”

Dengan sempitnya waktu yang ada
kayaknya memang harus memilih, mulai mengatur waktu, membuat prioritas

Rindu?
Pasti.
Siapa sih yang bilang MP gak ngangenin?
Apalagi dengan begitu banyak teman yang baik hati seperti teman-teman semua…

Tapi, sepertinya memang harus dikuatkan hati.

Saya pamit dulu ya teman-teman,
mungkin sebentar, mungkin lama
untuk mengerjakan berbagai pekerjaan yang selama ini tertunda
supaya ketika berkemas-kemas pulang nanti,
tidak ada penyesalan…

luv u all

PS: kalau mau mengontak saya jangan via PM ya, email aja.. bundakirana@yahoo.com

Kecil-Kecil Jadi Insinyur


Coba lihat foto di atas. Laki2 di sebelah Reza (bukan yang mangku Reza) adalah produser kami. Namanya Muhammad. Entah ada inspirasi apa, pas ngeliat Reza duduk santai di kereta bayinya (stroller), dia tertawa ngakak, trus bilang, “Salam, Muhandes!” (muhandes=insinyur)

Nah, sejak hari itu, sapaan “Muhandes” buat Reza menyebar ke orang-orang dan sampai sekarang, itu julukan Muhandes kayaknya udah populer banget di lantai enam kantor kami. Temen2 kalau menanyakan kabar Reza, nanya gini, “Muhandes cheture?” (Muhandes gimana kabarnya?”)

Seperti saya pernah cerita dulu, Reza memang tiap hari dibawa ke kantor. Kadang saya taruh di penitipan bayi, tapi lebih sering duduk di kantor aja. Soalnya banyak yang protes kalau Reza gak ada di ruangan. Terutama dua laki-laki yang ada di foto di atas (oya, yang satu lagi namanya Ali). Huahhh.. kalo sehari aja gak liat Reza, mereka udah ribut. Dengan sabarnya mereka menggantikan saya menggendong Reza, sampai saya selesai menerjemahkan atau mengedit satu artikel. Dua-duanya masih bujangan. Mau nikah, masih ngeri sama urusan perekonomian, katanya.

Beberapa hari lalu, Direktur Radio India, bela-belain datang ke kantor kami. “Aku kangen sama Muhandes,” katanya. Dengan rada kesel dia mengeluhkan, “Kok sekarang Muhandes gak mau lagi kugendong. Dulu kan mau?!” (Sekarang Reza udah kenal wajah orang dan hanya mau digendong orang-orang tertentu saja, terutama kedua lelaki fans utamanya itu).

Produser Radio Cina (saya lupa namanya), secara berkala juga datang ke ruangan kami khusus untuk menggendong Reza (katanya, buat refreshing). Sama, dia juga suka menyapa Reza dengan “Muhandes”. Ada lagi temen, namanya Shanaz, orang Iran, juga rajin gendongin Reza sementara saya ngetik. Shanaz ini cantik deh, Reza selalu anteng kalo dipangku ama Shanaz. Ih, kecil2 kok udah tau mana yang cantik.

Nah, karena banyak yang membantu menjaga Reza, saya tambah males deh nganter Reza ke penitipan bayi (kan harus jalan kaki 10 menitan gitu deh, kalo pelan2).

Hihihi.. sekedar cerita aja.


Catatan: Sapaan “muhandes” (=insinyur) di Iran sepertinya sapaan penghormatan. Semacam sapaan “bos”, gitu kali ya. Jadi, nggak selalu yang disapa bener2 insinyur. Tapi mudah2an jadi doa, supaya Reza kalo gede jadi insinyur.

Karena Kami Sayang Padamu :x

Entah kenapa, saya emang gak demen makan buah, sejak dulu. Kalau buka kulkas, ada pilihan buah atau es krim, yang PASTI saya ambil adalah es krim. Di kulkas kami, buah gak pernah absen. Tapi yang bolak-balik buka kulkas untuk mengambil dan memakannya adalah Kirana dan Papanya. Saya juga ikut makan, kalau disodorin sama si Papa (dalam keadaan sudah terkupas dan siap ditelan). Si Papa entah berapa ribu kali menasehati saya supaya rajin makan buah. Tapi ya itu tadi, dasar ga demen, tetep aja males-malesan (kecuali kalo mangga.. sayang mangga mahal banget di sini dan adanya cuma sekali-sekali aja, impor dari Pakistan).

Kalau Kirana lapar dan makanan belum mateng, dia bisa disogok sama apel dulu. Kalau dia sakit, dia sendiri yang minta jeruk (biar sembuh, katanya). Tentu saja, pengetahuan itu datangnya dari saya. Waktu kecil dulu, tiap dia sakit saya selalu memberinya jeruk dan bercerita bahwa tiap bulir jeruk adalah tentara yang akan berperang melawan virus-virus jahat. Untuk menerangkan apa itu virus, saya bela-belain browsing internet mencari gambar virus.

Terakhir, pagi kemarin. Saat saya asyik duduk di depan kompi, si Papa bercerita dengan kalem, “Tadi di tivi ada talkshow dengan dokter. Katanya, orang-orang yang mengalami kenaikan berat badan secara drastis—antara lain karena kehamilan..kayak Mama niiiy—sangat besar potensi kena kanker. Kata dokter itu, cara mencegahnya adalah dengan makan buah dan olahraga.” Saya terdiam.


“Oo.. iya, si dokter juga bilang, umumnya pasien-pasiennya kayak Mama, selalu menunda-nunda untuk mulai hidup sehat.” (Saya memang selalu berjanji pada suami, nanti kalo di Ina akan ikut klub senam dan rajin berolahraga).

Saya masih diem. Ngeri juga..kanker?!

Kirana pun nyeletuk dengan pertanyaan favoritnya, “Kenapa?”

Dengan singkat saya ulangi kata-kata Papanya dalam bahasa sederhana. Matanya yang bundar itu terbelalak. “Oh Mama… ayo olahraga.. begini loh caranya… (dia langsung lari-lari dari ujung ke ujung rumah kami yang super mungil)” Selama saya kerja di depan kompi, dia berkali-kali mengganggu, “Mama, ayo makan jeruk!” Oh..oh.. pusiiiing…

Si Papa tersenyum, “Itu karena kami sayang padamu Ma…”

*yang lagi berusaha mulai hidup sehat*

Cerita Ahmadinejad (Lagi)


*buat yang udah bosen sama cerita2 Ahmadinejad, silakan skip jurnal ini* 😀

Nyeritain Ahmadinejad emang gak ada habisnya deh.

1. Dana 8 Milyar Sambut Bush Gara2 Ahmadinejad?

Bbrp hari lalu, di Wisma Duta sini ada ramah-tamah antara masyarakat Indonesia dengan beberapa anggota DPR RI. Ada yang nanya, “Kok pemerintah sampai mengeluarkan dana 8 milyar demi menyediakan berbagai fasilitas keamanan untuk Bush?” Salah seorang anggota DPR (ups, mendingan namanya saya sembunyikan aja ya) menjawab, berbagai bentuk pengamanan ketat itu memang diminta sama Bush, soalnya kan waktu Ahmadinejad datang ke Ina, dia dapat sambutan sangat meriah dari rakyat Indonesia. Jadi Bush mengkhawatirkan keselamatan dirinya kalau datang ke Ina. (?!!!)

2. Konferensi Pers

Sebenarnya ini cerita lama. Saat Ahmadinejad konferensi pers di New York waktu Sidang Majelis Umum PBB bulan September lalu (yang disiarkan live di tivi sini), saya saya benar-benar geleng2 kepala. Betapa untuk menjadi seorang Ahmadinejad harus butuh urat sabar yang besar. Hampir semua pertanyaan yang diajukan wartawan (dari berbagai negara) adalah pengulangan dari berbagai pertanyaan yang selama ini sudah pernah dijawab Ahmadinejad di berbagai forum.
-Apakah Anda menginginkan Israel dihapus dari peta?
-Apakah Anda mau mematuhi resolusi PBB (supaya Iran menghentikan pengayaan uranium)?
-Apakah Iran mau bikin senjata nuklir?
-Apakah benar Anda mengingkari holocaust?

Kalau saya yang ditanya2 berulang2 begitu (dan saya pernah kasih jawaban),
mungkin saya akan teriak kesal “KAN GUE UDAH PERNAH BILANG???!”

Anyway, tentu saja, saya kan bukan Ahmadinejad:D

Ada kejadian menarik pula. Seorang wartawan Financial Times, perempuan,
mengajukan pertanyaan dalam bahasa Persia. Dia tampil tanpa jilbab. Ahmadinejad bertanya dgn ramah, “Irani hasti?” (kamu orang Iran?). Si Wartawan menjawab sambil tersenyum lebar, “Ya, saya reporter FT di Teheran, saya kebetulan saja berada di sini.” (dst, si wartawan bertanya, Ahmadinejad menjawab).

Lalu, di akhir session, ada wartawan VOA yang bertanya, juga dgn bahasa
Persia, (mungkin dia bekerja di seksi Bahasa Persia di VOA) antara lain
menggugat, mengapa perempuan di Iran dibatasi kebebasannya.

Saya ingin sekali berkata kepada di wartawan itu..”Tuh, liat temenmu dari
Financial Times? Apa kebebasannya diberangus? Dia bebas jadi reporter FT di
Tehran, dan bebas tampil di New York kan?”

Kalau saya tidak salah hitung, konferensi pers itu berlangsung sejam lebih.
Sebelumnya di Tehran, Ahmadinejad jg pernah konferensi pers hampir dua jam.
Benar-benar presiden yang sabar (menghadapi wartawan).

©dinasulaeman

Kemana Aja Buuuu?

Kelahiran Reza terjadi di saat saya punya banyak tetangga orang Indonesia, punya akses internet di rumah, punya telpon (dan uang cukup untuk bayar rekeningnya, meski nelpon berjam-jam ke Indonesia), punya temen-temen yang bisa diajak chatting dan curhat soal pengurusan bayi, punya multiply tempat curhat. Semua fasilitas itu membuat saya dengan mudah mendapat saran-saran berguna dalam mengurus Reza, atau minimalnya, mendapat ketenangan bahwa “ah, ini biasa kok.. gak ada yg perlu dikuatirkan”.
Contohnya kemarin, Reza mencret dan panas.. whuah, parah banget loh.. layuuu banget tuh anak. Yang biasanya suka ketawa terkekeh-kekeh sekarang digoda dengan cara apapun, dia dieeem aja, menatap dengan tatapan sayu. Saya benar2 kuatir2.
Padahal, Reza kan anak kedua?? Kok gak tau apa2 sih Bu, cara menghadapi anak sakit?? Kok tetep kuatir dan paranoid?? Kemana aja Buuu???
Itulah yang bikin saya heran. Dulu itu gimana ya, cara saya membesarkan Kirana? Mengapa banyak yang sudah terlupakan? Apa yang dulu saya lakukan ketika Kirana panas? Entahlah, saya lupa. Saya bahkan tidak ingat secara detil bagaimana urut-urutan perkembangan Kirana. Seolah-olah selama ini semua mimpi dan ketika saya membuka mata, Kirana sudah besar, sudah enam tahun. Kenapa ya?
*curhat gak penting di kantor setelah berhari-hari cuti demi mengurus Reza*
Oya, Reza sudah pulih, ketawanya udah mulai keluar (tapi belum terkekeh-kekeh), makasih doa dan sarannya ya temen2…