Belanja!


Mengajak si Akang belanja adalah pekerjaan paling sulit. Butuh waktu lama untuk sosialisasi dulu. Itupun biasanya, ujung-ujungnya, dia dan Kirana akan cemberut *heran, Bapak-anak sama aja* dan mengeluh capek. Oya, tempat belanja yang mau dikunjungi pun harus yang dekat dari rumah kami *bete gak sih*. Menjelang pulang kampung *for good*, ada beberapa barang yang harus kami beli. Setelah berhari-hari (eh.. sejak bbrp minggu sebelumnya deh, kayaknya, saya udah mulai ngomong soal belanja) mensosialisasikan wacana belanja ke tempat yang jauh, akhirnya semalam kami jalan juga. Perjalanan makan waktu sejam, diiringi tuuh kan, apa kataku, pasti macet dan Kirana yang cemberut mengeluh mual. Sampai di lokasi, yaitu Jumhouri Street yang berpotongan dengan Vali-e Ashr Street (dua jalan besar di Teheran yang terkenal sebagai pusat pertokoan), kami mencari minuman dulu, biar mualnya Kirana hilang. Setelah itu, baru deh, jalan.

Jalanan ramai sekali dengan orang-orang. Maklum, menjelang tahun baru Iran (dimulai awal musim semi), orang-orang Iran punya kebiasaan belanja segala macam benda baru (baju, mebel, dll). Kami pertama mencari sepatu buat Rana dan Reza. Kali ini saya bener-bener kayak orang bego deh. Tanpa nanya-nanya dulu harga, saya dan Rana milih-milih sepatu. Kirana suka warna pink. Dua pelayan toko dengan penuh semangat mencarikan sepatu pink buat Kirana dari berbagai model sambil merayu-rayu Kirana, ini bagus loh..itu cantik loh... Semua memang cantik-cantik. Akhirnya Kirana jatuh cinta pada sepatu pink berbordir bunga warna perak. Terakhir, baru saya nanya harganya. Rp150.000 *glek*. Seumur hidup saya gak pernah punya sepatu semahal itu. Rasanya pengen dibatalin aja belinya. Tapi kasihan Kirana yang udah terlanjur jatuh cinta. Lagipula ini kan salah Mama, kok gaya-gayaan, sejak awal nggak nanya harga, huhuhu…

Habis itu, cari baju-baju rumah buat Reza. Abis, baju-bajunya udah pada lusuh sih. Kan tengsin kalo dibawa pulang, hihihi. Ada satu toko yang memberi harga miring. Tapi, orangnya rese, nanya-nanya, kamu orang Thailand ya? Saya jawab, “Indonesia” dia bilang, “Kamu pinter bahasa Persia ya.. Aku diajarin bahasa Korea dong!” *pagi-pagi pulang kampung, teu nyambung!*

Trus, cari baju kaos buat si Akang. Saya ingin dalam perjalanan pulang nanti dia pake baju kaos, biar ringkes gitu. Selama ini kalo pulang kampung dia pake kemeja (dan bahkan jas!). Resmi banget kayak PNS. Saya inginnya si Akang tuh bergaya trendi, pake kaos dan jeans, tapi dia gak mau, ya mo apa lagi. Akhirnya, kami berhasil menemukan dua kaos yang sama-sama kami sukai *beda selera seh*. Karena tokonya sempit, saya dan anak-anak nunggu aja di luar sementara si Akang bertransaksi. Samar-samar saya denger si Akang bilang, “Dikasih discount gak nih?”

Pinteeeer…. si Akang dapat korting 15.000 dari harga asalnya.

Setelah itu, kami mencari kereta bayi (stroller) buat Reza karena roda stroller-nya udah lepas (ada bagian yang patah). Di komples pertokoan yang kami datangi cuma ada dua model, satu buatan Perancis dengan harga Rp1,5 jt *gile bener!* dan satu lagi buatan Cina dengan harga Rp250 ribu. Dua-duanya gak cocok, satu kemahalan, satu lagi terlalu berat ditenteng *kan rencananya mau dibawa ke dalam pesawat*. Akhirnya, kata si Akang, “Nanti Papa coba dulu perbaiki deh, stroller yang lama.” (alhamdulillah, ternyata sampai rumah, si Akang berhasil memperbaikinya.. thx MacGyver-ku sayang!).

Setelah itu.. yah, ngalor-ngidul deh..cuci mata dan beli-beli benda gak penting, termasuk jepit rambut berhias permata palsu buat Kirana. Jadi ceritanya, Rana kan nge-fans sama film Korea, Pearl in The Palace *Dae Jang-Geum* yang sedang diputar di tivi Iran. Rana nanya, Ma, permata itu apa? Di sebuah toko, saya perlihatkan contohnya. Dia ngotot pengen dibeliin kalung permata *Mamamu aja gak punya, Nak!* Setelah negosiasi alot, Kirana mau juga dibeliin jepit rambut dengan permata palsu itu, Rp 15.000.

Melihat Kirana riang gembira sepanjang shopping (si Akang juga gak ngomel), hati saya pun senang. Padahal gak beli apapun buat diri sendiri *ibu-penuh-pengorbanan banget gak seh*. Kami kemudian makan di sebuah resto fast-food yang jual kebab Turki. Uenak-nyaaaa… dagingnya lembut dan bumbunya pas. Sayang jauh banget dari rumah kami ya. Coba kalau deket, jadi langganan deh. Reza duduk anteng di atas meja resto sambil mengunyah roti. Tumben anteng, mungkin karena udah kelaparan.

Setengah sebelas malam, kami tiba di rumah. Perjalanan pulang sangat cepat *Kirana sampai heran* karena jalanan memang sudah sepi, jadi bebas macet. Benar-benar malam belanja yang menyenangkan!

Advertisements