Tahun Baru Terakhir (di Iran)

Hari ini, tanggal 21 Maret bertepatan dengan awal musim semi, dan bertepatan dengan tanggal 1 awal tahun kalender Iran (kalender ini juga dimulai sejak hijrahnya Nabi Muhammad, tapi karena didasarkan pada perputaran matahari, perpindahan tahun-nya lebih lambat daripada tahun Hijriah ). Jadi, hari ini dalam kalender Iran adalah tanggal 1 Farvardin tahun 1386.

Cerita tentang orang-orang Iran menyambut tahun baru bisa dibaca di sini. Intinya, mereka akan bersih-bersih rumah, beli-beli mebel baru, baju baru, sepatu baru, dll, dan.. heboh mudik!

Selama ini, tahun baru Iran saya lalui dengan biasa-biasa saja. Paling-paling pergi jalan-jalan ke luar kota sehari-dua hari. Tapi tahun baru kali ini.. hm… kok ada rasa sendu ya, hiks. Inilah tahun baruan terakhir saya di Iran. Tak terasa, sudah delapan tahun berlalu masa pernikahan kami, delapan tahun pula masa tinggal kami di negeri ini. Sudah ada dua ‘buntut’ yang manis dan lucu (gak papa kan emak-emak muji anaknya sendiri?). Di sela-sela rambut kami –saya dan akang- juga sudah muncul helaian-helaian putih. Oh..oh.. sudah sedemikian tuakah kita, Kang?

Tahun baru Iran kali ini adalah tahun dimulainya kehidupan baru kami. Tahun ini –tepatnya enam pekan lagi- kami akan kembali ke Indonesia yang sudah sedemikian lama kami tinggalkan. Kami akan menjalani kehidupan yang benar-benar baru. Memang benar kami asli Indonesia. Tapi, kami memulai kehidupan rumah tangga di Iran. Anak-anak pun lahir di Iran. Kami sudah sedemikian terbiasanya dengan udara, air, dan langit kota Teheran. Terbiasa pula menanti datangnya musim semi yang segar setelah berbulan-bulan didera dinginnya salju.

Hm… saya pasti akan kehilangan aroma nan (roti) yang menyeruak dari toko nan di gang sebelah, aroma kebab dari toko kebab di ujung jalan, atau aroma ash (sup) yang dibagi-bagikan tetangga-tetangga pada hari-hari dukacita, atau sapaan lantang Pak Tua Hasani, si pemilik toko sayur, “Khanum Khariji!!” (khanum= nona/nyonya, khariji= foreigner/orang asing).

Di Ina, kami harus memulai lagi hidup baru, benar-benar baru. Mulai direpotkan oleh rekening-rekening listrik, telepon, air, biaya gas dan transportasi yang mahal. Mulai bergelut dengan urusan sekolah anak secara serius—yang denger-denger uang pembangunan dan SPP-nya juga mahal. Selama ini Kirana sekolah di TK yang disediakan kantor, gratis, dan saya juga gak serius-serius amat mengikuti kegiatan sekolahnya. Dan yang paling ‘mengerikan’ buat saya: mulai membiasakan diri –setelah delapan tahun—hidup tanpa pemasukan yang rutin tiap bulan (at least, sampai kami dapat pekerjaan yang mapan di Ina).

Banyak yang bertanya-tanya, buat apa pulang jika kehidupan di perantauan lebih menyenangkan? Jawabannya banyak dan –insya Allah—memang inilah pilihan terbaik. Ada yang bilang, meninggalkan comfort zone terkadang baik, untuk menemukan zone yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan kami tidak salah pilih. Hanya kepada Allah kami berserah diri.

Minimalnya, kami pulang dengan tanpa penyesalan. Sebagian besar yang kami rencanakan untuk dilakukan sebelum pulang, sudah kami lakukan. Sekarang tinggal menunggu hari kepulangan saja, sambil ngurus2 administrasi. Oh iya.. mau jalan-jalan juga ding, siapa tahu bisa bikin buku.

Ada sih, rencana yang tidak (atau belum mungkin) tercapai, misalnya umrah.. huhuhu… apa karena saya belum pantas datang ke rumah-Nya ya? Kok susah banget dapet visa masuk ke Arab Saudi??!! Atau.. jalan-jalan ke Turki (hiks, soalnya, saya pikir-pikir, mending uangnya buat biaya S2 aja deh). Atau.. bikin novel (baru setengah jadi nih.. repot juga ya, nulis novel sambil ngurus bayi). Tapi alhamdulillah, dua ‘utang’ nulis buku udah selesai. Tunggu tanggal terbitnya ya teman-teman. Trus, si Akang juga udah merintis usaha bisnis travel bersama teman-temannya. Kalo pengen jalan-jalan ke Iran, hubungi si Akang ya? (loh.. jurnal ini ujung2nya promosi juga toh? :D)

Mudah-mudahan segalanya berjalan lancar sesuai rencana kami. Mohon doanya ya teman-teman.

———-

foto kanan:
suasana di kios bunga di ujung jalan rmh kami, menjelang tahun baruan, orang2 sibuk beli bunga

Perempuan Iran (4)


Sebut saja namanya Naheed. Saya menebak dia sudah berusia agak lanjut dan sudah punya cucu. Ternyata benar, memang dia sudah punya cucu. Dia memperlakukan Reza –bayi saya usia 11 bulan- dengan cara khas seorang nenek yang gemes pada cucunya. Penampilannya biasa banget, sederhana, khas nenek-nenek deh, pokoknya.

…………….. maaf isi jurnal ini dihapus karena akan saya muat dalam buku saya “Perempuan Iran” yg terbit i. Allah bulan November. Beli ya;)

Nempel Mulu!

Reza kini sudah sepuluh bulan. Giginya empat. Senyumnya tambah menggemaskan (ini sih kata emaknya..) dan tingkah polahnya benar-benar lucu (ups, masih kata emaknya..). Sekarang sudah bisa merangkak dengan lincah kesana-kemari. Aktifnya luar biasa. Duduk diam hanya semenit, lalu eksplorasi ke sana-sini. Benar-benar butuh energi besar untuk mengasuhnya. Saya kadang nyesel, kok nggak dari dulu aja punya anak lagi, waktu masih muda (halah!). Sekarang udah tua baru punya anak laki-laki, terasa sekali capeknya. Tapi lagi-lagi, wajah dan polahnya yang menggemaskan itu selalu bisa mengusir lelah saya.

Cuma, yang bikin saya bingung dan kadang bahkan frustasi adalah kesukaan Reza nempel ke Mamanya, nempel.. pel.. kayak laler. Yang diinginkan Reza, Mamanya duduk manis di sebelahnya dan membiarkannya melakukan apa saja, mulai dari menjilat sepatu sampai makan kulit jeruk. Meskipun karpet sudah di-vacuum… itu anak kok ya masih berhasil menemukan pernak-pernik kecil untuk dimasukkan ke mulut sembari memamerkan ekspresi bangga. Tapi.. kan saya gak mungkin duduk diam di sebelahnya terus. Ada begitu banyak kerjaan. Cucian numpuk, cucian piring bertebaran di dapur, lantai dapur kotor, email-email harus dibalas, sampai janjian chatting.. (yang terakhir ini kayaknya yang lebih menggoda untuk dilakukan terlebih dulu, hehehe). Ngepak-ngepak barang untuk pulang? Hah, gak usah ditanya deh.. sampai detik ini belum satupun yang saya pak..

Selagi si Akang di rumah, situasi agak bisa terkontrol. Si Akang main sama Reza, saya mengerjakan kerjaan domestik, atau sebaliknya. Tapi kemarin benar-benar hari yang mengerikan. Si Akang pulang kantor langsung tumbang, sakit. Tinggallah saya yang frustasi. Mau masak gak mungkin, karena saya jalan dua-tiga langkah menjauh dari sisi Reza, dia langsung nangis. Tapi kan harus makan? Mau beli di luar juga males. Udara sangat dingin. Lagipula, itu artinya saya juga musti bawa Reza ke luar, kan gak mungkin dia ditinggal di rumah sementara Papanya tidur. Anehnya, tu anak gak bobo-bobo, nempel terus kayak laler. Saya ke toilet aja musti buru-buru karena dia menangis meraung-raung di pintu. Akhirnya, karena si Akang gak bangun-bangun juga, sementara Kirana (dan saya) musti makan, saya taruh aja si Reza di baby-walker. Hanya dalam hitungan detik, dia sudah meraung keras, tahu bakal ditinggal Mamanya ke dapur. Saya pun masak sebisanya, bikin makaroni yang rasanya entah apa, pokoknya ada gizinya deh. Memasak sambil ditangisi, lelah karena ngantor sepanjang siang, lapar, kurang tidur (saya tidur malam tidak pernah nyenyak karena diganggu Reza berkali-kali minta ASI), membuat saya hampir meledak. Saya masih berusaha menahan diri, sampai akhirnya… Reza kejedug dinding (sambil benjol) karena Kirana tidak menjaga adiknya baik-baik (perhatiannya tertuju ke tivi). Huah.. sudah deh..NGAMUK!!! Kirana sampai menangis tersedu-sedu. Saking marah dan lelahnya, saya sampai tidak punya mood untuk membujuknya (biasanya, kalau saya kelepasan marah, saya segera minta maaf dan memeluk Kirana), malah menyuruhnya masuk kamar sampai akhirnya dia tertidur setelah lelah menangis.

Saya pun rasanya ingin menangis karena kesal pada diri sendiri dan pada keadaan. Sedih sekali rasanya, sudah membuat Kirana menangis. Maafin Mama ya Nak? Reza..Reza.. mudah-mudahan kalau besar kamu baca curhat Mama ini dan baik-baik sama Mama-mu ini ya Nak…