Nempel Mulu!

Reza kini sudah sepuluh bulan. Giginya empat. Senyumnya tambah menggemaskan (ini sih kata emaknya..) dan tingkah polahnya benar-benar lucu (ups, masih kata emaknya..). Sekarang sudah bisa merangkak dengan lincah kesana-kemari. Aktifnya luar biasa. Duduk diam hanya semenit, lalu eksplorasi ke sana-sini. Benar-benar butuh energi besar untuk mengasuhnya. Saya kadang nyesel, kok nggak dari dulu aja punya anak lagi, waktu masih muda (halah!). Sekarang udah tua baru punya anak laki-laki, terasa sekali capeknya. Tapi lagi-lagi, wajah dan polahnya yang menggemaskan itu selalu bisa mengusir lelah saya.

Cuma, yang bikin saya bingung dan kadang bahkan frustasi adalah kesukaan Reza nempel ke Mamanya, nempel.. pel.. kayak laler. Yang diinginkan Reza, Mamanya duduk manis di sebelahnya dan membiarkannya melakukan apa saja, mulai dari menjilat sepatu sampai makan kulit jeruk. Meskipun karpet sudah di-vacuum… itu anak kok ya masih berhasil menemukan pernak-pernik kecil untuk dimasukkan ke mulut sembari memamerkan ekspresi bangga. Tapi.. kan saya gak mungkin duduk diam di sebelahnya terus. Ada begitu banyak kerjaan. Cucian numpuk, cucian piring bertebaran di dapur, lantai dapur kotor, email-email harus dibalas, sampai janjian chatting.. (yang terakhir ini kayaknya yang lebih menggoda untuk dilakukan terlebih dulu, hehehe). Ngepak-ngepak barang untuk pulang? Hah, gak usah ditanya deh.. sampai detik ini belum satupun yang saya pak..

Selagi si Akang di rumah, situasi agak bisa terkontrol. Si Akang main sama Reza, saya mengerjakan kerjaan domestik, atau sebaliknya. Tapi kemarin benar-benar hari yang mengerikan. Si Akang pulang kantor langsung tumbang, sakit. Tinggallah saya yang frustasi. Mau masak gak mungkin, karena saya jalan dua-tiga langkah menjauh dari sisi Reza, dia langsung nangis. Tapi kan harus makan? Mau beli di luar juga males. Udara sangat dingin. Lagipula, itu artinya saya juga musti bawa Reza ke luar, kan gak mungkin dia ditinggal di rumah sementara Papanya tidur. Anehnya, tu anak gak bobo-bobo, nempel terus kayak laler. Saya ke toilet aja musti buru-buru karena dia menangis meraung-raung di pintu. Akhirnya, karena si Akang gak bangun-bangun juga, sementara Kirana (dan saya) musti makan, saya taruh aja si Reza di baby-walker. Hanya dalam hitungan detik, dia sudah meraung keras, tahu bakal ditinggal Mamanya ke dapur. Saya pun masak sebisanya, bikin makaroni yang rasanya entah apa, pokoknya ada gizinya deh. Memasak sambil ditangisi, lelah karena ngantor sepanjang siang, lapar, kurang tidur (saya tidur malam tidak pernah nyenyak karena diganggu Reza berkali-kali minta ASI), membuat saya hampir meledak. Saya masih berusaha menahan diri, sampai akhirnya… Reza kejedug dinding (sambil benjol) karena Kirana tidak menjaga adiknya baik-baik (perhatiannya tertuju ke tivi). Huah.. sudah deh..NGAMUK!!! Kirana sampai menangis tersedu-sedu. Saking marah dan lelahnya, saya sampai tidak punya mood untuk membujuknya (biasanya, kalau saya kelepasan marah, saya segera minta maaf dan memeluk Kirana), malah menyuruhnya masuk kamar sampai akhirnya dia tertidur setelah lelah menangis.

Saya pun rasanya ingin menangis karena kesal pada diri sendiri dan pada keadaan. Sedih sekali rasanya, sudah membuat Kirana menangis. Maafin Mama ya Nak? Reza..Reza.. mudah-mudahan kalau besar kamu baca curhat Mama ini dan baik-baik sama Mama-mu ini ya Nak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s