Tingkah si Pipi Ndut;)

[Maaf buat yang udah baca, ini posting ulang dari jurnal yg persis sama, yg diposting di Rumah Qurani.]

Kenalkan, namaku Reza. Reza adalah pelafalan dalam bahasa Persia untuk kata ”Ridho”. Sejak beberapa hari terakhir ini, aku keranjingan banget sama VCD Rumah Qurani volume 1 (Lagu-Lagu Anak Akhlak Qurani). Kalau aku pengen lihat VCD itu, aku akan menyeret Mama hingga ke depan tivi, atau kusodorkan kotak sampul VCD itu kepada Mama. Tiap kali VCD itu selesai diputar, aku akan menjerit (jeritanku, kata Mama, sering bikin tekanan darahnya naik) sambil menunjuk-nunjuk TV. Maksudku, aku minta VCD itu diputar ulang. Maklum, aku kan belum bisa ngomong, jadi aku pakai bahasa isyarat terus. Jeritan adalah bahasa isyarat favoritku, soalnya akan bikin Mama panik dan buru2 memenuhi keinginanku.

Lagu-lagu di VCD itu emang asyik banget. Aku langsung joget deh.

Hey teman-teman ayo tebak, hey!

Apakah peta hidup kita?

Apa ya?

Petunjuk biar gak tersesat

Aku tahu-aku tahu,

Itulah Quran peta hidup kita

Semua yang baik ada di dalamnya.

Atau

Teman-teman, aku ajari wudhu ya

Cuci dua tangan

Lalu kumurlah

Bersihkan hidung

Cuci mukamu

Cuci tangan kanan

Cuci tangan kiri

Basuhlah rambut

Telinga lalu kaki

Tapi, kalo sampai ke lagu ”Pesan Ibu”, aku akan langsung menjerit dan menyeret-nyeret Mama lagi. Mama sempat bingung menebak-nebak apa mauku. Untung Mamaku pinter tebak-tebakan, jadi dia akhirnya bisa menebak, bahwa aku pengen lagu ”Pesan Ibu” yang berirama sangat sendu itu dilewati dan dipindah ke lagu lain yang berirama riang.

Buat Kakak-Kakak yang bikin VCD keren ini, makasih ya. Nanti kalo aku udah bisa ngomong, aku mau deh jadi penyanyi di VCD Rumah Qurani. Oceeee?!

Catatan:

Ini bukan cerita rekaan atau promosi, loh. Ini cerita sebenarnya tentang tingkah anak kedua saya, Muhammad Reza Sulaeman.

Seri Culture Shock

Warning: Jurnal ini puanjaaang..curhat selama lima bulan pertama kembali hidup di tanah air. Kalo gak ada waktu ya gpp, dilewat aja. Yang penting… selamat Idul Fitri… semoga Allah menerima segala amal ibadah kita.. maaf lahir dan batin.

————————–

Seri Culture Shock (1)

Inilah Rumah Kami

Inilah rumah kami. Dibeli dengan hasil keringat sendiri, mencari nafkah jauh di negeri asing. Dinding-dindingnya bercat merah muda, bertirai maroon, dan bervitrase bunga-bunga. Semua melambangkan cinta. Juga harapan, agar kehidupan kami terus memerah muda.

Ehm, awalnya sih si Akang rada mengeluh, kok jadi kayak kost-an mahasiswi yak? tapi lama-lama enjoy juga dan memuji warna pink favorit saya dan Kirana:)).

Tanpa disangka-sangka, biaya renovasi rumah di Indonesia sangat mahal melebihi prediksi kami. Banyak impian kami untuk rumah ini yang tak tercapai karena faktor biaya. Membangun taman mungil di depan dan belakang rumah, misalnya. Atau memasang ayunan untuk Kirana dan Reza serta menaruh kursi-meja lipat di halaman belakang untuk kami minum teh sore-sore. Ada rasa kecewa tergores bila menatap rumah-rumah tetangga yang kusen, daun pintu, kanopi, atau pagarnya sangat keren. Ah, seandainya saja uang kami lebih banyak, pikir saya. Belum lagi mendengar omongan miring kerabat, “Wah, udah jauh-jauh kerja di luar negeri kok ujung-ujungnya punya rumah di pelosok?!” Ah, seandainya saya punya uang lebih banyak, tentu kami beli rumah di kawasan elit, pikir saya, lagi-lagi sedih.

Namun, ketika kami berjalan-jalan ke blok-blok bertipe kecil, saya menyadari betapa kesedihan saya tadi melambangkan ketidakbersyukuran saya. Ampuni saya ya Allah, hiks. Begitu banyak orang-orang yang harus tinggal di rumah yang sangat kecil dan sangat kumuh, berpagar bambu yang sudah reot. Pasti sejak mereka membeli rumah itu (rumah BTN) lima belas tahun lalu sampai sekarang, mereka tidak mampu merombak apapun, bahkan sekedar mengecat ulang, sehingga semakin lama semakin kumuh. Ditambah lagi dengan saluran air yang mampet dan berair hitam di depan rumah-rumah itu. Ah, mereka tentu tidak punya pilihan sehingga terpaksa hidup di tempat seperti itu.

Rupanya, problemnya ada di hati saya sendiri. Bersyukur, itu kuncinya.

Jadi, inilah rumah kami. Inilah surga yang diberikan Allah untuk kami di dunia, yang harus kami syukuri keberadaannya

Jadi, culture shock-nya di mana atuh? Yah… di mana ya.. hihihi…

Seri Culture Shock (2)

Kenapa Lelaki Indonesia Ogah ke Warung?

Salah satu jawabnya: karena dipaksa oleh kultur Indonesia sendiri.

Sejak menikah, kami tinggal di Iran. Setelah delapan tahun berlalu, kami pun memulai kehidupan di Ina. Banyak sekali culture shock yang saya alami pada bulan-bulan pertama tinggal (kembali) di Indonesia. Salah satunya: yang HARUS berbelanja ke warung untuk membeli lauk-pauk adalah perempuan!

Si Akang adalah lelaki yang sangat toleran dan sangat mau membantu istri. Selama di Iran, dia oke-oke saja ke warung untuk berbelanja mulai dari bawang sampai beras. Budaya Iran memang tidak menganggap aneh bila laki-laki berbelanja keperluan dapur. Bahkan, di pasar atau warung jumlah lelaki yang berbelanja lebih banyak daripada perempuan. Tapi kini, dia seolah dipaksa oleh budaya masyarakat Ina agar berdiam diri menyaksikan istrinya kerepotan ke warung hampir tiap pagi. Hiks. Saya tahu, kalau terpaksa, si Akang pasti mau saja ke warung membeli cabe atau sayuran. Tapi, saya mana tega membiarkan dia ditatap aneh oleh tetangga-tetangga? Bahkan, mungkin nanti malah saya dicap sbg istri yang gak tau diri. Iya kan? Jadi, ya sudah, saya pun menahan diri untuk tidak meminta tolong suami berbelanja. Pagi-pagi buta, saya melangkahkan kaki ke luar rumah untuk ke warung beli ini-itu, karena kalau kesiangan, bisa-bisa kehabisan lauk pauk segar.

Bagi saya, ritual ini terasa agak merepotkan. Mungkin karena belum terbiasa ya? Selama ini, pagi-pagi saya akan duduk asyik di depan komputer, menulis atau internetan. Ke toko roti beli nan (roti) untuk sarapan, dilakukan suami, karena memang di Iran umumnya lelaki-lah yang keluar pagi-pagi membeli roti. Berbelanja ke warung juga flexible, kapan saja sempatnya (karena warungnya punya kulkas penyimpan lauk-pauk segar). Pun, tidak harus selalu saya. Bisa diwakili suami. Siapa saja di antara kami yang sempat, dia yang pergi berbelanja. Tidak harus istri, tidak pula harus suami. Benar-benar masa lalu yang egaliter, hehehe…

Tapi ada hikmahnya juga loh: saya jadi rutin jalan pagi menghirup udara segar. Jauh lebih sehat daripada pagi-pagi duduk internetan, kan?

Updated: tapi, akhir2 ini… kok lebih enak beli masakan jadi aja ya? Hihihi….

Seri Culture Shock (3)

Kita Tinggal di Kota atau Desa, sih?

Rumah kami terletak di dalam wilayah kota Bandung, tapi sudah di pinggirannya. Mungkin bisa disetarakan seperti Bekasi-nya Jakarta. Namanya kompleks Bumi Rancaekek Kencana. Di dalam kompleks, segala sesuatu tersedia, mulai dari warung sayur sampai warnet. Swalayan macam Indomart dan Alfamart serta Yomart tersedia. Klinik 24 jam pun ada, bahkan punya lab klinik. Jadi, kami sangat nyaman “berkurung” di kompleks. Dari sisi kelengkapan fasilitasnya, kompleks ini bisa disebut kota.

Tapi, jangan salah. Pagi, siang, sore berkali-kali dokar (a.k.a bendi, kereta kuda) melintas di depan rumah. Pagi-pagi, kami pernah bertemu dengan petani yang sedang menggiring kerbau-kerbaunya, entah kemana. L
oh kok bisa? Ya bisalah. Kompleks kami memang dekat dengan beberapa desa yang masih hidup dari pertanian. Dibatasi jalanan, di seberang sana orang-orang masih hidup di desa dengan fasilitas terbatas, di seberang sini, orang-orang hidup bergaya kota dan mobil-mobil mahal berseliweran (sayang, di antara mobil-mobil itu belum ada yang milik kami, hihihi).

Bila tidak punya mobil atau motor, sarana tranportasi utama di kompleks ini adalah… sepeda! Asyik juga, kemana-mana bersepeda. Apalagi kalau saya berdua dengan suami bersepeda, boncengan. Uhuy… kayak pacaran zaman tahun 60-an kali ya, kehkehkeh. Ada becak dan ojek, tapi lumayan juga menguras uang kalau terus-terusan naik becak. Angkot dan bis kota pernah masuk kompleks, tapi lalu didemo tukang becak dan tukang ojek yang merasa rezeki mereka terampas (dan bahkan pernah terjadi kerusuhan). Sulit dipahami. Pemerintah kota ingin mensejahterakan warganya dengan angkutan umum yang murah, tapi sebagian warga malah menolaknya karena lahan rezeki mereka terancam. Sepertinya, di Ina yang kuat adalah mereka yang berani adu otot dan kekerasan.

Nah, karena mahal dan repotnya transportasi (harus naik ojek dulu sampai ke gerbang kompleks, lalu naik angkot lagi keluar wilayah Rancaekek, sambung lagi angkot/bis ke tempat tujuan), kami sampai sekarang hanya pernah berpergian sekeluarga keluar kompleks dua kali: sekali keliling Bandung untuk menyelesaikan berbagai urusan, termasuk tandatangan perjanjian penerbitan buku, dan kali kedua waktu ada kondangan nikahan seorang kerabat. Dua-duanya, terpaksa mencarter mobil rental, dengan menguras uang ratusan ribu. Bila harus naik kendaraan umum, saya pergi sendiri dan anak2 ditinggal dgn suami, atau sebaliknya, suami pergi sendiri.

Pertanyaan utamanya, sebenarnya kami tinggal di kota atau desa? Entahlah. Yang jelas, sepanjang tidak ada urusan jauh dari rumah, saya enjoy saja di sini. Tapi kalau harus pergi jauh-jauh (misalnya, janjian kopdar dengan Mbak Anky—yg akhirnya gagal krn masalah transport), tiba-tiba saya merasa sangat terisolir dan sangat merindukan kehidupan di ‘kota’ yang mudah mengkases banyak tempat. Lebih parah lagi, saya juga merindukan kenyamanan Teheran: tinggal telepon taksi yang akan datang lima menit kemudian ke depan pintu rumah dan mengantar kami kemana saja dgn biaya murah.

Seri Culture Shock (4)

Siapa yang Harus Menyediakan Air Minum untuk Rakyat?

Sejak kecil hingga menikah, saya tinggal di tiga kota, Semarang, Padang, Bandung. Selama itu pula, yang saya tahu, kita harus merebus air untuk minum. Sumber air bisa PAM, bisa pula dari sumur yang di’tarik’ dengan mesin Sanyo. Kini, setelah delapan tahun merantau (dan di rantau, air keran bisa langsung diminum tanpa perlu direbus segala) dan menetap lagi di Indonesia, tepatnya di Bandung, tiba-tiba saya menghadapi problem penyediaan air minum. Dulu, asal air bening, direbus, dianggap aman untuk diminum. Saya ingat, dulu hanya orang-orang kaya yang mengkonsumsi air galon Aqua. Tapi kini, air galon dengan berbagai merek seperti sudah wajib dimiliki tiap rumah tangga. Pertimbangannya, air sumur dan PAM tidak layak minum dari sisi kesehatan. Apalagi, dari sisi ekonomi, membeli air galon lebih hemat daripada biaya bahan bakar untuk merebus air.

Tapi, siapa pula yang bisa menjamin air galon itu sudah layak minum? Adik ipar saya yang jual air galon isi ulang, punya alat eletrolisa air. Air kan mengandung zat-zat logam (CMIIW), nah, bila kandungan logam di dalam air melebihi ambang batas, berarti air itu tidak layak minum. Dengan alat elektrolisa air itu, kita bisa melihat berapa banyak kandungan logam yang dikandung oleh air. Ada empat contoh air yang dites: air sumur, air mineral bermerek sangat terkenal di Ina, air mineral bermerek tidak terkenal, dan air mineral hasil mesin penyuling yang dimiliki adik ipar saya. Hasilnya:

  1. Air sumur: langsung mengambang lapisan hijau seperti lumut dan coklat, dalam kadar yang sangat banyak.
  2. Air mineral sebuah merek terkenal: langsung mengambang lapisan hijau seperti lumut dalam kadar yang lumayan banyak dan yang jelas, bikin eneg membayangkan jutaan orang Ina –termasuk saya—minum air itu.
  3. Air mineral sebuah merek tidak terkenal: ada lapisan tipis warna keruh (aneh, kok kualitas air mineral yang mereknya tidak terkenal ini lebih bagus yak?)
  4. Air mineral hasil mesin penyuling milik adik ipar: tidak ada lapisan keruh apapun, hanya berubah warna agak kuning, itupun homogen, tidak ada gumpalan2 apapun.

Masalahnya, siapa yang kuat beli mesin penyuling yang harganya hampir lima juta itu? Kalau untuk dibisniskan lagi seperti yang dilakukan adik ipar sih, ya gak apa-apa. Tapi untuk ‘sekedar’ konsumsi keluarga?!

Alhamdulillah kami punya uang untuk membeli sistem penjernihan air seharga 1,5 jt. Air sumur kami yang warnanya keruh itu dialirkan ke tanki air. Oleh sebuah perusahaan sistem penjernihan air, tanki itu dilapisi berbagai materi (antara lain, jerami, abu, dan entah apa lagi), sehingga air yang keluar menjadi sangat bening. Kata si perusahaan ini, setelah dua minggu air itu bahkan bisa langsung diminum tanpa direbus lagi. Konon kehigienisan-nya sudah diuji lab.

Tapi, bagaimana dengan yang tidak punya uang? Mereka terpaksa minum air apa adanya, bukan? Di kompleks kami, air PAM hanya mengalir beberapa jam saja dalam sehari. Itupun tidak higienis sehingga warga kompleks membeli air galon. Benar-benar aneh, di Indonesia yang beriklim tropis dan bercurah hujan tinggi ini, bahkan air pun terpaksa beli! Kalau negara padang pasir sana sih, wajar2 saja kalau air harus beli, ya nggak? Mengapa pemerintah tidak bisa menyediakan kebutuhan yang menjadi hajat hidup orang banyak ini? Bila di negara yang kekayaan alamnya tidak sehebat Indonesia saja mampu menyediakan air keran yang sehat dan langsung bisa diminum, mengapa Indonesia tidak bisa?

Kembali ke sistem penjernihan air di rumah kami yang harganya 1,5 jt itu. Saya sama sekali tdiak berani mengetesnya dengan alat elektrolisa milik adik ipar. Biarlah, saya mengambil sikap sebagaimana yang juga diambil orang-orang biasa lainnya, “Mendingan nggak tau deh kualitas air kita kayak apa! Yang penting kelihatan jernih dan tidak berbau. Habis, kita kan nggak punya pilihan lain?!”

Seri Culture Shock (5)

TV or No TV

Sejak menempati rumah baru kami tanggal 8 Juli, ada “perjuangan” berat yang dihadapi Kirana dan papanya: berpisah dengan tivi. Ayah dan anak ini emang kecanduan tivi. Selama ini, mereka bahkan sering tidur di depan tivi. Pulang dari bepergian, kegiatan pertama yang dilakukan Kirana adalah: menyalakan tivi, meski mungkin dia tidak menonton. Sepertinya, apapun yang dia lakukan harus ditemani suara televisi. Namun selama ini saya merasa aman-aman saja karena tayangan televisi Iran memang aman untuk anak-anak.

Sampai di Indonesia..gubraakkkks…!!! Memang sih, yang ditonton Kirana adalah film anak, tapi kan ada iklannya? Di slot iklan itu ditayangkan pula cuplikan-cuplikan sinetron dewasa. Hanya dalam sebulan (selama ini kami kan numpang di rumah ortu, mertua, dan ipar sementara rumah direnovasi), Kirana sudah paham apa itu cinta. Perhatikan dialog berikut ini.

Mama: Paa… ini loh, Reza rewel, pengen digendong Papa!

Papa: kok maunya sama Papa terus sih?!

Mama: iya nih, kayaknya Reza terlalu cinta sama Papanya

Kirana: cinta?! Cinta itu kan antara anak laki-laki dan anak perempuan, bukan antara anak laki-laki dengan anak laki-laki?

(Rana bicara bhs Ina campur bhs Persia, dia menggunakan kata ‘dukhtar/pesar’ yg artinya anak perempuan/anak laki-laki)

Mama dan Papa: *bengong*

Kirana juga segera hapal berbagai dialog iklan. Berkali-kali dia nyeletuk gak nyambung.

Misalnya, “Mie Sedap, rasa mienya megang banget!” (Rana mengucapkan kata ‘megang’ dengan intonasi dan gaya yang persis si bintang iklan, Titi Kamal)

Saya tanya, “Kok mie megang? Apanya yang dipegang?”

Rana jawab gak nyambung, “Mie itu kan makannya pake sumpit, sumpit itu kan dipegang!”

Keprihatinan kami terhadap tayangan televisi Ina membuat kami mengambil keputusan ekstrim: NO TV at home!

Keputusan ini ternyata berat juga. Kirana terlihat murung. Dia bertanya, “Mama, kalau televisi itu jelek, kenapa ada televisi?” *coba, dijawab apa ya?*

Si Papa juga pusing. Gara-garanya, dia jadi kehilangan tayangan sepakbola *secara si Akang kan pecandu berat sepakbola*

Saya juga kehilangan berita-berita seputar politik Timur Tengah yang sangat saya minati dan sering menjadi inspirasi tulisan saya.

Akhirnya, kami memutuskan merogoh kantong dalam-dalam: membeli televisi plus parabola yang bisa mengakses televisi Iran. Yah, mumpung Kirana masih inget sama bahasa Persia, jadi dia bisa menikmati televisi yang aman. Suami, puas nonton sepakbola. Saya, ehm, mudah2an bisa melahirkan tulisan baru ttg kajian Timur Tengah di blog ini.