Trik Menumbuhkan Minat Baca Anak

Trik Menumbuhkan Minat Baca Anak

Sudah lama saya mengkhawatirkan Kirana yang minat bacanya rendah sekali, dibandingkan dengan saya waktu kecil dulu. Apalagi, sekarang dia sudah kelas satu SD. Duh, dulu saya kelas 1 SD sudah mulai membaca Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu, yang saya tamatkan hanya dalam setengah hari.

Setelah putar otak, saya teringat pada cerita Kak Dian, intinya, supaya anak suka bca, harus dicarikan buku yang memang dia sukai. Tapi, buku apa yg disukai Kirana? Saya sudah membelikan berbagai macam buku cerita, gak ada yang menarik minatnya. Paling dibuka-buka sebentar lalu disimpan. Ketika ke Gramedia bbrp waktu lalu, kebetulan saya melihat buku cerita Barbie. Hey, Kirana kan memang suka (tepatnya, tergila-gila) pada segala hal yang terkait dengan Barbie? Segera saya beli dua judul (abis, harganya lumayan juga sih @25.000), salah satu diumpetin (nanti aja ngasihnya, dicicil, gitu loh), satunya langsung diserahkan ke Kirana.

Seperti saya duga, Kirana langsung khusyuk membaca buku Barbie-nya yang berjudul 12 Dancing Princesses itu. Dalam sekejap, buku itu tamat dibaca. Luar biasa, rekor dalam sejarah hidup si putri Kirana. 😀

Dan alhamdulillah, sejak saat itu, dia suka membaca. Di Gramed saya juga beli 10 judul buku lain yang lagi discount, nah buku-buku itu saya berikan satu-satu ke Kirana. Selalu saya janjikan, kalau sudah selesai dibaca ulang 3 kali, nanti dikasih buku lagi.

Jadi, trik utamanya: carikan buku yang memang disukai anak, dan ketika anak bisa merasakan asyiknya membaca, dia pun akan mencari buku lainnya.

Lalu, buat Reza gimana? Ah, dia kan masih bayi ya. Saya udah pernah belikan buku khusus bayi, tapi kayaknya gak minat sama sekali. Tapi… olala… kali ini ada keajaiban!

Begini, saya kan juga beli buku karya Beby yang judulnya Cica si Cecak Nakal. Rupanya Reza suka banget sama buku itu (dia memang tergila-gila pada cecak, hihihi). Entah berapa puluh kali sudah dia minta saya membacakan buku itu. Dan, setelah itu, menular pada buku lain milik Kirana (maksudnya, Reza ngambilin buku Kirana, minta dibacain juga). Hebat. Thank’s berat ya Beb!

OK, sekian dulu sharingnya ya… 🙂

Trik Menghilangkan Kebiasaan Buruk Anak

Kirana pernah suka bilang, “Cape deeeeh!” Entah menirukan siapa. Pertama sih terasa lucu juga. Tapi lama-lama kok rada ngeselin juga yak. Tiba-tiba… tanpa saya sadari kebiasaan itu hilang sendiri. Padahal saya nggak pernah menegurnya soal ini.

Sampai suatu saat, saya yang malah bilang, “Cape deeeh!”

Kirana langsung berseru, “Hapus bintangnya!”

Oh, baru saya sadar. Rupanya, kebiasaan Kirana mengucapkan “cape deh” itu hilang karena di sekolah, Bu Teti (guru Kirana) suka memberi hadiah bintang di papan tulis. Setiap perilaku baik yang dilakukan anak, dikasih satu bintang (jadi, di papan tulis digambar bintang kecil). Sebaliknya, kalau anak melalukan hal-hal yang kurang sopan, misalnya disuruh sesuatu oleh bu guru malah menjawab “cape deh”, makan sambil berdiri, naik ke meja, dll, bintang yang sudah pernah diraih si anak akan dihapus. Karena sudah menjadi ‘budaya’, maka, yang menjadi pengawas adalah anak-anak sendiri. Jika ada anak yang melakukan perilaku buruk, teman-temannya akan segera berteriak, “Hapus bintangnya!!!”

Wah, ide Bu Teti boleh juga ya 😉

Ide memberi poin bintang ini juga saya tiru di rumah. Kalau Kirana melakukan satu kebaikan (sholat, ngaji, baca buku), dia akan mendapat satu bintang. Kalau bintangnya sudah 100, Mama harus memberi hadiah, misalnya buku cerita atau uang buat dimasukin ke tabungan di sekolah (karena, sekolah Kirana memberlakukan aturan dilarang jajan, jadi dia gak punya uang jajan untuk ditabungin, hihihi).

Ok, sekian dulu sharingnya 😉

Menyikapi Berita Suram di Sekitar Kita dengan si Aifi

Apa boleh buat, tiap kita menyetel televisi Indonesia, dominasi berita adalah berita yang menyedihkan hati (saya istilahkan dengan “berita suram”). Banjir di sana-sini, kebakaran, sabu-sabu, aliran sesat ini-itu, kejahatan dan kriminalitas yang merajalela (bisa ditambahkan: infotainment yang isinya akhir2 ini kayaknya melulu soal cerai si anu atau si itu). Kepala kita seolah dibombardir oleh berita suram. Sepertinya, jurnalisme Indonesia memang mengedepankan berita suram yang dianggap punya daya jual tinggi. Lihat saja, berbagai kasus Al Qiyadah dikulik-kulik sedemikian rupa, sampai-sampai, berita-berita terkait kasus ini yang sebenarnya remeh dan tak penting pun dianggap penting. Energi para jurnalis seolah dihabiskan untuk itu. Bad news is good news, kata bisnismen di bidang jurnalisme.

Minimalnya, ada tiga reaksi menyikapi berbagai berita duka itu:

A. mengikuti terus berita2 itu, sambil bersyukur atas selamatnya kita dari berbagai kesuraman itu, dan instrospeksi diri.

B. memilih mematikan televisi dan mencari kegiatan lain yang membebaskan diri dari kesuraman dunia.

C. tidak peduli


Sikap A tentu saja sangat baik, dan sikap C harus kita hindari.

Tapi, saya cuma ingin cerita, bahwa saya memilih langkah B. Mengapa? Karena, buat saya, terus-menerus mendengar berita kesuraman hanya menjadikan saya pesimis dan ketakutan. Dunia (dalam hal ini Indonesia) seolah-olah tempat mengerikan dan tidak ada peluang untuk menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi. Bahkan, saya khawatir, nanti malah gak betah tinggal di Indonesia dan memilih balik lagi ke Iran (:D).

Jadi, saya pun mematikan tivi dan menyibukkan diri dengan apa saja. Saya mengikuti kegiatan perkumpulan ortu siswa di sekolah anak saya, sambil belajar bagaimana meningkatkan kesabaran dalam mendidik anak. Saya menulis dan belajar tentang banyak hal sambil menulis. Saya rajin ngaji, semoga dengan cara ini Allah menghilangkankan ke-stres-an dalam diri saya (hiks, bahkan ada tikus di rumah pun sudah cukup membuat saya uring2an) dan mengampuni dosa2 saya di masa lalu. Saya bergabung dengan pengajian ibu-ibu rumah tangga di kompleks, sambil belajar dari pengalaman mereka mengurus keluarga. Ikut grup senam… arisan kampung… ini-itu…

Terakhir, tentu saja, saya semakin rajin mengurus si Aifi tersayang, dan terus bergumam, “Subhanallah, Allah hebat banget!”

Moral of the story: optimislah! 😉

*renungan Ahad pagi*

Note: cerita si Aifi ada di jurnal sebelumnya. Foto: Aifi-ku.

Tangan Panas? Ah, Mitos Tuh!

Tangan panas, begitulah penilaian saya terhadap diri sendiri, dulu. Soalnya, dulu saya gak pernah berhasil menanam bunga. Eh, punya suami, ternyata juga menilai diri sendiri ’tangan panas’, dengan alasan yang sama. Akibatnya, delapan tahun pertama kami berumah tangga, tak pernah sekalipun kami mempunyai bunga hidup. Apalagi, kami memang dulu gak punya halaman. Di apartemen sempit kami di Teheran, yang ada hanya bunga plastik, itu pun yang murahan dan lebih sering berdebu daripada bersihnya.

Kini, kami punya lahan berukuran 5x3m di depan rumah. Waduh, saya keder banget. Mau diapain nih? Tanam bunga? Mimpi kali ye. Kan kami ber-’tangan panas’?! Awalnya saya udah berniat akan menyewa arsitek taman *gubraks*. Gak taunya, biaya renovasi yang membubung di luar perkiraan membuat kantong kami jadi sesak napas. Jadi gimana doooong??

Untunglah si Papi tercinta (Datuk-nya Kirana) yang hobi bercocok tanam datang ke Bandung, menengok kami. Adik saya, Rika (kerja di Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas Bogor), juga datang di akhir pekan sambil membawa bunga2an. Datuk membeli tanah subur dan pupuk kandang. Berdua dengan Rika, Datuk pun menanami lahan di depan rumah dengan pohon mangga, jeruk, lily paris, anthurium, baby rose…dll.

Setelah Datuk dan Rika pergi, saya pun mulai memberanikan diri beli-beli bunga *yang murah2 aja, di bawah 10ribuan*. Misalnya, bunga pukul sembilan, sebagai hadiah ulang tahun buat Kirana. Ketika dipindah ke pot gantung, kondisinya lunglai menyedihkan. Esok paginya, hoplaaaa! Dua kuntum bunga warna ungu mekar dengan sangat indahnya. Saya, Kirana, dan si Akang dengan takjub menatapnya dari balik jendela. Luar biasa. Ke-pede-an saya untuk bercocok tanam pun semakin tinggi. Ternyata ‘tangan panas’ itu hanya mitos belaka.


Tapi akibatnya, saya kok malah rada ‘kalap’ ya. Tiap lewat rumah orang, saya selalu melototin bunga-bunga di depan rumah itu. Kalau lihat yang bagus, selalu saja ada ‘tekad’ ah, nanti beli bunga kayak gitu juga. Untung ada si Akang yang menahan kekalapan saya. Kalo saya mau beli bunga yang mahal, dia langsung protes, hihihi.
Si Akang benar2 heran, kok mendadak istrinya jadi keranjingan beli bunga. Saya juga merasa, mengurusi bunga2 di taman sebagai salah satu obat stres dan sarana untuk terus-terus mengagumi-Nya. Akhir2 ini saya sedang tergila2 pada tumbuhan bernama Aifi. Ajaib, tiap daunnya punya bentuk berbeda dan teksturnya daunnya kayak dari plastik. Setiap kali saya menyirami pokok Aifi, saya selalu bergumam, ”Subhanallah, Allah hebat banget!”

Kata seorang mp-ers (Mbak Julia, ibujempol), dulu ibunya mengajarkan kepada anak2nya menanam bunga sebagai sarana belajar kesabaran dan kelembutan kepada anak. Wah… saya kayaknya sekarang bisa mempraktekkannya ya, ke Kirana dan Reza.

Reza?! Oh iya.. dia paling semangat dalam acara siram-menyiram. Sambil menjerit riang, dia tiap hari menyiram bunga-bunga di taman kami. Kalo Kakak Kirana, wah, dia selalu menganggap bunga itu makhluk hidup (ya iyalah). Kalo adek Reza memetik daun atau bunga, Kirana langsung nangis tersedu-sedu, kasihan bunganyaaaa!

Mudah2an kalian jadi anak yang sabar dan lembut ya Nak.

Foto: bunga pukul 9 di taman kami