Tangan Panas? Ah, Mitos Tuh!

Tangan panas, begitulah penilaian saya terhadap diri sendiri, dulu. Soalnya, dulu saya gak pernah berhasil menanam bunga. Eh, punya suami, ternyata juga menilai diri sendiri ’tangan panas’, dengan alasan yang sama. Akibatnya, delapan tahun pertama kami berumah tangga, tak pernah sekalipun kami mempunyai bunga hidup. Apalagi, kami memang dulu gak punya halaman. Di apartemen sempit kami di Teheran, yang ada hanya bunga plastik, itu pun yang murahan dan lebih sering berdebu daripada bersihnya.

Kini, kami punya lahan berukuran 5x3m di depan rumah. Waduh, saya keder banget. Mau diapain nih? Tanam bunga? Mimpi kali ye. Kan kami ber-’tangan panas’?! Awalnya saya udah berniat akan menyewa arsitek taman *gubraks*. Gak taunya, biaya renovasi yang membubung di luar perkiraan membuat kantong kami jadi sesak napas. Jadi gimana doooong??

Untunglah si Papi tercinta (Datuk-nya Kirana) yang hobi bercocok tanam datang ke Bandung, menengok kami. Adik saya, Rika (kerja di Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas Bogor), juga datang di akhir pekan sambil membawa bunga2an. Datuk membeli tanah subur dan pupuk kandang. Berdua dengan Rika, Datuk pun menanami lahan di depan rumah dengan pohon mangga, jeruk, lily paris, anthurium, baby rose…dll.

Setelah Datuk dan Rika pergi, saya pun mulai memberanikan diri beli-beli bunga *yang murah2 aja, di bawah 10ribuan*. Misalnya, bunga pukul sembilan, sebagai hadiah ulang tahun buat Kirana. Ketika dipindah ke pot gantung, kondisinya lunglai menyedihkan. Esok paginya, hoplaaaa! Dua kuntum bunga warna ungu mekar dengan sangat indahnya. Saya, Kirana, dan si Akang dengan takjub menatapnya dari balik jendela. Luar biasa. Ke-pede-an saya untuk bercocok tanam pun semakin tinggi. Ternyata ‘tangan panas’ itu hanya mitos belaka.


Tapi akibatnya, saya kok malah rada ‘kalap’ ya. Tiap lewat rumah orang, saya selalu melototin bunga-bunga di depan rumah itu. Kalau lihat yang bagus, selalu saja ada ‘tekad’ ah, nanti beli bunga kayak gitu juga. Untung ada si Akang yang menahan kekalapan saya. Kalo saya mau beli bunga yang mahal, dia langsung protes, hihihi.
Si Akang benar2 heran, kok mendadak istrinya jadi keranjingan beli bunga. Saya juga merasa, mengurusi bunga2 di taman sebagai salah satu obat stres dan sarana untuk terus-terus mengagumi-Nya. Akhir2 ini saya sedang tergila2 pada tumbuhan bernama Aifi. Ajaib, tiap daunnya punya bentuk berbeda dan teksturnya daunnya kayak dari plastik. Setiap kali saya menyirami pokok Aifi, saya selalu bergumam, ”Subhanallah, Allah hebat banget!”

Kata seorang mp-ers (Mbak Julia, ibujempol), dulu ibunya mengajarkan kepada anak2nya menanam bunga sebagai sarana belajar kesabaran dan kelembutan kepada anak. Wah… saya kayaknya sekarang bisa mempraktekkannya ya, ke Kirana dan Reza.

Reza?! Oh iya.. dia paling semangat dalam acara siram-menyiram. Sambil menjerit riang, dia tiap hari menyiram bunga-bunga di taman kami. Kalo Kakak Kirana, wah, dia selalu menganggap bunga itu makhluk hidup (ya iyalah). Kalo adek Reza memetik daun atau bunga, Kirana langsung nangis tersedu-sedu, kasihan bunganyaaaa!

Mudah2an kalian jadi anak yang sabar dan lembut ya Nak.

Foto: bunga pukul 9 di taman kami

Advertisements

One thought on “Tangan Panas? Ah, Mitos Tuh!

  1. 😦 saya juga sangat mengagumi bunga-bunga bu.. tapi mengapa, padahal saya sudah memberanikan diri meminta biji2 bunga ke teman2 tapi ketika ditanam belum jg tumbuh… sampai2 teman saya bilang kalau saya bertangan panas…
    saya juga skrg barusaja membeli bunga pukul 9 semoga tetap hidup. tapi kalau menanam biji kok blm jg tumbuh2 ya 😥 sedih banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s