Bocah-Bocah di Surga

Semua ibu hampir pasti ‘tergila-gila’ pada bayi-bayinya sendiri. Bayinya adalah makhluk terindah dan terlucu di dunia. Hal ini juga terjadi pada saya. Saya memang tergila-gila pada Reza. Semua tingkahnya terasa lucu dan menggemaskan, membuat saya sering terheran-heran, apa yang sudah saya perbuat hingga Allah menganugerahi saya makhluk kecil yang luar biasa ini.

Tapiiiiiiiiiiiiiiiii….

Ada (sering, malah!) saat-saat di mana rasanya saya hampir meledak. Ketika Reza tantrum, ngamuk tanpa saya mampu menenangkannya. Ketika dia selalu menghalang-halangi saya mengetik di computer padahal ide sedang melimpah ruah. Ketika dia merebut buku yang saya baca padahal saya sangat penasaran ingin membacanya sampai tuntas. Ketika dia menjerit sekuat tenaganya saat dilarang melakukan sesuatu. Ketika dia menyusu sampai puluhan menit tanpa lelah, padahal saya sudah sedemikian pegal dan bete. Atau ketika dia menangis menggedor-gedor pintu WC, maaf, pada saat saya mules berat. Belum lagi bila saya mengingat berbagai impian saya yang harus ditunda (atau diabaikan) demi Reza.

Saat-saat seperti itu, rasanya benar-benar unbearable, tak tertahankan. Dan pada saat seperti inilah saya selalu teringat pada ucapan seorang teman perempuan Iran, “Allah menciptakan anak kecil sedemikian menggemaskan supaya kita para ibu punya daya tahan menghadapi masa-masa sulit dalam membesarkannya.”

Lalu, saya bertanya-tanya, “Mengapa Allah tidak menciptakan anak kecil itu menggemaskan saja, tanpa perlu menambahkan hal-hal yang menjengkelkan?”

Jawabannya, lagi-lagi dari si Akang. “Bocah-bocah yang menyenangkan dan menggemaskan saja (tanpa ada hal yang bikin jengkel), adalah bocah-bocah di surga. Gambaran kenikmatan yang dijanjikan Allah di surga adalah, “Mereka duduk bersandar saling berhadapan, dikitari oleh bocah-bocah yang selalu menjadi bocah (artinya: tdk tumbuh menjadi besar), bocah-bocah itu membawakan gelas-gelas minuman…”*

Duh Reza… Mama tahu, membesarkanmu dengan sebaik-baiknya adalah tiket Mama untuk bisa ke surga. Tapi kok susah ya Nak, hiks. Betapa beratnya jalan yang musti Mama tempuh agar bisa meraih hadiah bocah-bocah surga itu.

————–

*(QS 56:16-18), ini terjemahan spontan saja, terjemahan yg pas silahkan cari sendiri 😀

Advertisements

Kabad

“Teh*, hari Rabu pagi ada kajian tafsir, bagus banget. Ikutan yuk?”

“OK,” jawab saya spontan *glek, baru nyadar, Rabu kan jadwal senam?*

“Bu, Jumat sore bisa ikutan majlis taklim di RW kan?”

“Ya.”

“Mbak, bersedia nggak nulis buku tentang anu untuk kami terbitkan?”

“Baik, saya usahakan.”

“Mbak, proyek buku kita itu gimana kabarnya?”

“Waduh iya ya… OK, akan saya mulai segera.”

“Mbak, Rabu sore datang ya, ke forum kami.”

“Oh ya, saya senang sekali.”

“Iya deh, boleh” *hiks, Sabtu pagi pan juga jadwal senam?*

bla…bla… bla… *sederet tawaran lain, yang semua saya iya-kan*

Terakhir.. tadi malam,

“Ayo Bu, kita mulai mendirikan sekolah Quran balita di kompleks kita.”

“Iya, ayuk!”

Tidaaaak….!

Saya benar2 pusing. Saya ini maunya apa sih?! Kok semuanya di-iya-kan?! Padahal niat awal saya (setelah pulang ke Ina) kan konsentrasi di rumah, mengurus anak, dan menulis. Dengan semua aktivitas di luar program hidup saya semula ini, saya tidak punya energi lagi untuk menulis dan tekanan darah saya segera naik ketika Reza rewel sedikit saja.

Lagi-lagi, mengadu kepada si Akang. Dengan kalem ia mengutip ayat “Inna khalaqnaakum insaana fii kabad” [sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam keadaan kabad (bersusah payah)].**

Kabad. Manusia memang punya kecenderungan untuk berambisi banyak hal, bersusah payah untuk meraih banyak hal. Dia merasa mampu melakukan banyak hal, meraih semua mimpi. Ngoyo. Ketika gagal, dia akan berkeluh kesah, yaquulu maalal-lubadaa (lanjutan ayat tadi), “Padahal aku sudah menghabiskan begitu banyak uang (atau apa saja) untuk proyek ini.”

Jadi… yah… ikutin aja apa nasehat orang Jawa, ojo ngoyo, jangan ngoyo (hayo terjemahan tepat dari ngoyo apa ya?). Dengan kata lain, jangan kabad!

—————-

* Saya emang biasa dipanggil apa aja, teh,mbak, uni..dll 😀

*(QS 90:4)