Dua Istri Satu Suami


Suatu siang,
di ruang tamu rumah pinky kami…

beberapa ibu saling mengobrol riang, mulai dari agama, bumbu dapur, sampai menyentil masalah seks…

semua tertawa,
terbahak,
saling goda,
cekikikan…
akrab sekali,
tulus

mereka tak ada bedanya dengan para ibu di dunia ini,
yang kongkow-kongkow sejenak, melupakan urusan domestik yang melelahkan…

hanya satu yang beda:

dua di antara para ibu itu adalah istri dari lelaki yang sama,
dan mereka berdua tinggal serumah

Kopdar dengan Dua Uni

Sebenarnya ini posting terlambat, hiks. Kopdarnya udah lama, tapi baru sekarang sempat diposting. Yah, maklumlah, diriku ini seorang ibu dengan banyak urusan (sebagiannya urusan tak menentu,hiks).

Kopdar pertama, dengan UNI WIRDA…!!!

Horee.. akhirnya setelah sekian lama, bisa juga berjumpa dengan Uni-ku yang baik ini. Tanggal 6 Januari lalu, kami bertemu di Paris van Java, sebuah kompleks pertokoan besar di Bandung utara. Dalam kopdar di Paris van Java itu, berkumpul pula sekitar 10 anak2nya Uni Wirda yang tergabung dalam CAB (Club Anak Bunda). Wuih, si Uni rupanya punya anak gede2, buanyak pula, sampai 80-an ya Bun? Huebat.. kok bisa hapal nama-namanya, gitu loh. Saya sih gak mendaftar jadi anaknya Bunda Wirda.. mendaftar jadi adeknya aja deh. Tapi akibatnya, langsung daku dipanggil ‘tante’ sama bocah-bocah CAB. Hwaaa… gak mau ah dipanggil tante :D.

Anak2 Bunda Wirda rame dan heboh banget ya.. Kloplah, dgn bunda mereka yg baik hati dan sangat rmah itu 🙂 Senang berkenalan dgn mereka. Kita invite2-an yuk.. tapi plis jangan panggil aku tante :)) Pengennya posting foto2 lengkap, tapi saya motretnya pake henpon. Nah, mendonlot dari henpon ke computer ternyata tak semudah yang kukira *maklum henpon baru:D*. Entah di mana errornya. Walhasil, foto kopdar dengan Uni Wirda ini pun saya comot dari MP-nya Uni Wirda 🙂

Kopdar kedua, dengan UNI DESTI….!!!

Wow.. si Uni datang jauh-jauh dari Toronto, kita janjian ketemu di Starbucks BIP, Bandung, 13 Januari. Duh keren yak, seumur-umur baru pertama ini saya masuk Starbucks. Jadi ini toh, kafe ala Amrik 😀 . Selanjutnyaa, kita jalan2 ke gramedia dan BEC.

Bertemu Uni Desti, duh, kayak mimpi. Soalnya, kan blio tuh datang dari jauh. Situasi yang unik sekali. Saya dan Uni Desti saling kenal melalui multiply, waktu saya masih di Iran dan Uni di Toronto. Akhirnya, ketemu di Bandung. Duh, gemesnya lihat Maryam dan Khadija. Kalo sama Ilyas mah gak gemes, kan udah gede, hehe.. Salut deh sama Ilyas, benar2 anak yang santun dan bertanggung jawab ngurusin Ibu dan dua adiknya 😀 (Uni Desti pulang liburan ke Ina hanya berempat dengan anak2, berani ya?).

Hm, next, kopdar sama siapa lagi yaaaa?

[Behind the Scene] Pelangi di Persia: Menyusuri Eksotisme Iran

Disclaimer: Meskipun saya mengagumi buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, buku ini gak niru2 loh.. buku ini say atulis jauh sebelum saya baca buku Laskar Pelangi 😉

Karena pake acara travelling segala, bisa ditebak, modal penulisan buku ini pun lumayan gede. Penulisannya pun lama banget (maklum, kan sambil ngurusin bayi aktif en gak mau digendong orang lain selain mama-papa, yaitu si Reza ndut). Proses penulisan buku pun gak kalah heboh. Awalnya, saya berniat bikin dua buku. Satu berisi catatan ringan tentang seluk beluk kehidupan Iran (budaya, agama, sosial, politik). Satu lagi buku catatan perjalanan keliling Iran.

Buku pertama draftnya saya tulis sedikit-sedikit, memakan waktu sekitar dua tahun (plis deh :D). Lalu, saya tawarkan draft itu via email ke 4 orang, tiga dari mereka mencuekin email saya (gak dibales sama sekali, huhuhu). Satu lagi dengan ketus menolak tawaran naskah saya dan bilang, ”Sudahlah, kamu nulis di blog aja lebih baik.” Yah gpp deh mas-mas en mbak, kayaknya insting kalian dalam menilai sebuah buku memang masih kurang tajam yak :D. Walopun saya akui, naskah yang saya tawarkan mereka memang masih mentah banget.

[Moral of the story: jangan pernah patah semangat dalam menulis]


Kemudian, ada dua penerbit yang menyatakan berminat pada draft saya itu, tapi karena sesuatu dan lain hal, batal. Akhirnya, saya serahkan draft itu ke penerbit yang menerbitkan buku pertama saya, dan sukses menembus angka 20.000 eks dalam 6 bulan (Mukjizat Abad 20, Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Quran, Wonderful Profile of Husein Tabataba’i).

Penerbit itu menyambut baik dengan catatan harus ada perombakan signifikan Pada saat yang sama, saya juga nanya ke mereka, kira2 buku travelling Iran menarik ga utk ditulis? Jawabannya: tidak, pasarnya kecil. Duh, sempat patah hati juga, soalnya saya bener2 ingin jalan2 keliling Iran dan menuliskannya dalam sebuah buku. Tapi, saya keukeuh tetap ingin jalan2 dan menulis buku itu. Biarlah, siapa penerbitnya, dipikirkan belakangan.

[Moral of the story: kalau mau nulis, jangan melulu mikirin pasar. Kata Pramoedya Ananta Toer (saya lupa kalimat persisnya): menulislah dulu, hal lain –penerbitan, dll—pikirkan belakangan.]

Nah… naskah awal saya tadi formatnya berupa catatan-catatan lepas yang harus dirombak lagi, dengan cara dicarikan satu benang merah yang menggabungkan semua catatan itu. Sementara itu, saya juga bilang kepenerbit *dalam rangka merayu* bahwa buku travelling saya itu bukan travel guide yang garing, melainkan catatan perjalanan yang -insya Allah- kaya dan menarik. Setelah diskusi panjang sama penerbit, akhirnya disepakati bikin buku satu saja. Jadi, catatan perjalanan itu akan “membungkus” atau “menyatukan” berbagai catatan saya tentang kehidupan orang-orang Iran (budaya, sosial, politik).

OK, segitu dulu sharingnya ya.. Mudah2an ada manfaatnya buat teman-teman yang ingin menulis.

———-

Endorsment di Cover Belakang Buku:

Dalam perjalanan itu, kami (saya dan keluarga) berjumpa orang-orang Iran dari berbagai etnis, budaya, dan agama. Kami menyaksikan keanggunan dan keningratan orang-orang Gilan di utara, militansi kesukuan orang-orang Kurdi di barat, kehangatan nyala api orang-orang Majusi di timur, hingga keramahan khas orang-orang etnis Arab di selatan Iran. Desa kuno berusia lima ribuan tahun di Abyaneh, kebun-kebun mawar yang air sulingan bunganya dipakai untuk mencuci Ka’bah, kebun teh di pinggir laut Kaspia, puing-puing perang di Khurramshahr, kuil sesembahan orang Persia kuno di pedalaman Shoush, kota kuno di Shoustar yang pernah diperebutkan pada era Khalifah Umar bin Khattab, masjid kaum Sunni di Sanandaj dengan beranda tuanya yang tenang, pegunungan Zagros yang membuat nafas tertahan, dan puing istana Persepolis yang menjadi bukti kemegahan peradaban Persia kuno, adalah di antara keeksotisan Iran yang kami saksikan dalam perjalanan itu.

Perjalanan mengelilingi Iran hanya dilakukan dalam rentang waktu dua bulan. Namun, yang tertuang di buku ini sejatinya adalah catatan tentang warna-warni pelangi yang selama delapan tahun saya saksikan di Iran. Semoga Anda pun menikmatinya.

[penulis, di pengantar buku]


Perjalanan Dina ke berbagai wilayah Iran yang sangat beragam itu membuka mata kita tentang latar belakang kultur/budaya yang sangat beragam di Iran, kesukuan/etnisitas, agama, sejarah, bahkan modernitas dan gaya hidup orang-orangnya, di kota maupun di desa-desa di pegunungan. Keindahan negara Iran juga digambarkan dengan saksama, menggoda kita untuk berangan-angan pergi ke sana pada suatu ketika.

[Sirikit Syah, penulis dan pengamat media, pendiri Media Watch]

Kopdar-Kopdar Akhir Tahun

Meski sudah 7 bulan menetap (kembali) di Indonesia, sayang sekali, baru sempat berjumpa alias kopdar dengan empat mp-ers. Yah, gimana lagi. Kami tinggal di Bandung coret sih, hehehe…

Kopdar pertama… dengan WINDA..!!! Terharu deh, melihat Winda mau jauh2 dan menembus kemacetan, ke Rancaekek. Thanks ya Win… Kami ngobrol sana-sini, terutama yang asyik, ttg korupnya pemerintah kita *gubraks* dan ttg kopdar (baksos) Mp-ers yang di Jakarta itu loh… Sayang ya, saya gak bisa ikutan baksos itu. Belum punya mobil sih (maksudnya, kan repot banget yak, ke Jkt naik bis bawa2 bayi pulak :D)

Kopdar kedua… dengan TITIM..!!! Aduhai, si Adek tersayang di dunia maya, akhirnya muncul juga di depan pintu rumah kami, basah kehujanan, hihihi. Thank’s ya Tim, jauh2 datang dari Jakarta. Jangan kapok datang lagi ya… (Tim, komen si Akang: “Titim itu pendiam banget ya?” :D)

Kopdar ketiga…. dengan Mbak RATNA…!!! Si Mbak satu ini salah satu supporter saya (sering ngasih semangat ketika saya punya keluhan, gitu loh). Pas ketemu, aduh kok malah minder ya, karena Mbak Ratna ternyata cantik dan sangat awet muda, pinter pulak. Apalagi melihat aktivitas nyata beliau untuk pemberdayaan kaum perempuan ekonomi lemah..duh.. kagum deh (bisa diintip di mutti.multiply.com).

Kopdar ketiga… dengan IMA…!!! *ini juga adek tersayang loh*Wah, kopdar yang satu ini heboh banget deh… seminggu penuh, hahaha… Maaf ya Ima.. sudah seminggu dikau di rumahku, cuma sekali diajak jalan2, itu pun jalan2 rusuh (karena kami harus cepat2 pulang, Reza yang ditinggal sama papanya di rumah udah rewel). Parahnya lagi, malam tahun baru hanya kita lewatkan dengan… tidur! Hehe.. maklumlah, saya en suami gak punya tradisi perayaan tahun baru (paling hanya ber-instrospeksi dalam hati aja). Lagipula, hujan sih… mau jalan2 juga repot. Acara mengasyikkan selama Ima nginep di rumah kami adalah… masak-memasak, hihihi… Sop buntut-nya Ima emang okeh banget!

Kopdar dengan Mbak Ratna terjadi dua kali, yang kedua bareng sama Ima, kita janjian di Gramedia BSM. Di sana, Ima yang dengan gaya wartawan membawa kamera Canon EOS-nya yang guede itu motretin saya bergaya dengan buku2 saya, Pelangi di Persia dan Doktor Cilik Hafal dan Paham AlQuran. Seneng sih… tapi maluwwww… abisnya, sampe diliatin para pengunjung dan petugas toko segala 😀 Foto2 di Gramed bareng Ima dan mbak Ratna ada di sini.

Ok, sekian sekilas info. Mudah2an pada kesempatan lain saya bisa ketemu dengan mp-er lain.. amiiiin…