[Behind the Scene] Pelangi di Persia: Menyusuri Eksotisme Iran

Disclaimer: Meskipun saya mengagumi buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, buku ini gak niru2 loh.. buku ini say atulis jauh sebelum saya baca buku Laskar Pelangi 😉

Karena pake acara travelling segala, bisa ditebak, modal penulisan buku ini pun lumayan gede. Penulisannya pun lama banget (maklum, kan sambil ngurusin bayi aktif en gak mau digendong orang lain selain mama-papa, yaitu si Reza ndut). Proses penulisan buku pun gak kalah heboh. Awalnya, saya berniat bikin dua buku. Satu berisi catatan ringan tentang seluk beluk kehidupan Iran (budaya, agama, sosial, politik). Satu lagi buku catatan perjalanan keliling Iran.

Buku pertama draftnya saya tulis sedikit-sedikit, memakan waktu sekitar dua tahun (plis deh :D). Lalu, saya tawarkan draft itu via email ke 4 orang, tiga dari mereka mencuekin email saya (gak dibales sama sekali, huhuhu). Satu lagi dengan ketus menolak tawaran naskah saya dan bilang, ”Sudahlah, kamu nulis di blog aja lebih baik.” Yah gpp deh mas-mas en mbak, kayaknya insting kalian dalam menilai sebuah buku memang masih kurang tajam yak :D. Walopun saya akui, naskah yang saya tawarkan mereka memang masih mentah banget.

[Moral of the story: jangan pernah patah semangat dalam menulis]


Kemudian, ada dua penerbit yang menyatakan berminat pada draft saya itu, tapi karena sesuatu dan lain hal, batal. Akhirnya, saya serahkan draft itu ke penerbit yang menerbitkan buku pertama saya, dan sukses menembus angka 20.000 eks dalam 6 bulan (Mukjizat Abad 20, Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Quran, Wonderful Profile of Husein Tabataba’i).

Penerbit itu menyambut baik dengan catatan harus ada perombakan signifikan Pada saat yang sama, saya juga nanya ke mereka, kira2 buku travelling Iran menarik ga utk ditulis? Jawabannya: tidak, pasarnya kecil. Duh, sempat patah hati juga, soalnya saya bener2 ingin jalan2 keliling Iran dan menuliskannya dalam sebuah buku. Tapi, saya keukeuh tetap ingin jalan2 dan menulis buku itu. Biarlah, siapa penerbitnya, dipikirkan belakangan.

[Moral of the story: kalau mau nulis, jangan melulu mikirin pasar. Kata Pramoedya Ananta Toer (saya lupa kalimat persisnya): menulislah dulu, hal lain –penerbitan, dll—pikirkan belakangan.]

Nah… naskah awal saya tadi formatnya berupa catatan-catatan lepas yang harus dirombak lagi, dengan cara dicarikan satu benang merah yang menggabungkan semua catatan itu. Sementara itu, saya juga bilang kepenerbit *dalam rangka merayu* bahwa buku travelling saya itu bukan travel guide yang garing, melainkan catatan perjalanan yang -insya Allah- kaya dan menarik. Setelah diskusi panjang sama penerbit, akhirnya disepakati bikin buku satu saja. Jadi, catatan perjalanan itu akan “membungkus” atau “menyatukan” berbagai catatan saya tentang kehidupan orang-orang Iran (budaya, sosial, politik).

OK, segitu dulu sharingnya ya.. Mudah2an ada manfaatnya buat teman-teman yang ingin menulis.

———-

Endorsment di Cover Belakang Buku:

Dalam perjalanan itu, kami (saya dan keluarga) berjumpa orang-orang Iran dari berbagai etnis, budaya, dan agama. Kami menyaksikan keanggunan dan keningratan orang-orang Gilan di utara, militansi kesukuan orang-orang Kurdi di barat, kehangatan nyala api orang-orang Majusi di timur, hingga keramahan khas orang-orang etnis Arab di selatan Iran. Desa kuno berusia lima ribuan tahun di Abyaneh, kebun-kebun mawar yang air sulingan bunganya dipakai untuk mencuci Ka’bah, kebun teh di pinggir laut Kaspia, puing-puing perang di Khurramshahr, kuil sesembahan orang Persia kuno di pedalaman Shoush, kota kuno di Shoustar yang pernah diperebutkan pada era Khalifah Umar bin Khattab, masjid kaum Sunni di Sanandaj dengan beranda tuanya yang tenang, pegunungan Zagros yang membuat nafas tertahan, dan puing istana Persepolis yang menjadi bukti kemegahan peradaban Persia kuno, adalah di antara keeksotisan Iran yang kami saksikan dalam perjalanan itu.

Perjalanan mengelilingi Iran hanya dilakukan dalam rentang waktu dua bulan. Namun, yang tertuang di buku ini sejatinya adalah catatan tentang warna-warni pelangi yang selama delapan tahun saya saksikan di Iran. Semoga Anda pun menikmatinya.

[penulis, di pengantar buku]


Perjalanan Dina ke berbagai wilayah Iran yang sangat beragam itu membuka mata kita tentang latar belakang kultur/budaya yang sangat beragam di Iran, kesukuan/etnisitas, agama, sejarah, bahkan modernitas dan gaya hidup orang-orangnya, di kota maupun di desa-desa di pegunungan. Keindahan negara Iran juga digambarkan dengan saksama, menggoda kita untuk berangan-angan pergi ke sana pada suatu ketika.

[Sirikit Syah, penulis dan pengamat media, pendiri Media Watch]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s