Ketika Kirana Tidak Ranking 1 Lagi

Kirana sampai di rumah sepulang sekolah biasanya pukul 14.20. Karena sekolahnya cukup dekat dengan rumah kami, mobil antar-jemput sekolah menjemput Kirana paling akhir, dan mengantarkannya paling awal. Jadi, untunglah, dia tidak capek di jalan.

Biasanya, pulang sekolah dia akan bersantai-santai, nonton VCD, main dengan Reza, dan membuat kerajinan tangan dari kertas warna. Jam 9 pas, dia tidur. Tapi kemarin, sejak jam 5 sore dia sudah tidur….sampai subuh ini, dia belum mau bangun. Duh, Nak, apa kamu cape sekali bersekolah?

Terus-terang, saya berusaha tidak membebaninya terlalu banyak. Habis maghrib, dia hanya saya suruh ngaji dan menghapalkan Al Quran beberapa ayat. Lalu didongengi oleh pendongeng terbaik di dunia (buat Kirana tentu), yaitu Papanya. Saya sama sekali tidak menyuruhnya mengulangi pelajaran di sekolah. Meski demikian, semester lalu dia berhasil jadi ranking satu. Tapi, semester ini, ada guru baru dan ada beberapa murid baru. Ibu guru sering menerapkan ranking harian (misalnya, siapa yang berhasil mengerjakan soal-soal paling cepat, dialah ranking 1 hari ini). Kirana melaporkan, dia tidak lagi ranking satu, paling banter ranking 2, kadang malah ranking 15.

Saya berusaha meneliti hatinya. Apa dia kecewa karena tidak ranking satu? Sepertinya dia tenang-tenang saja. Saya juga berusaha memperlihatkan ekspresi cuek dan tidak mengeluarkan komentar negatif. Ah, biarlah dia menjadi anak yang tidak peduli ranking. Biarlah dia menikmati masa main lebih banyak. Biarlah dia lebih banyak menggambar dan membuat berbagai kerajinan tangan, daripada melulu berkutat dengan buku pelajaran.

Saya ingat, dulu waktu SD, sedih sekali kalau gagal dapat ranking 1. Ranking seolah menjadi beban berat buat saya sehingga masa SD saya berlalu tanpa kenangan indah. Beda sekali dengan Papa-nya Kirana yang selama SD hobinya main dan baginya masa SD benar-benar menyenangkan. Mudah-mudahan, meski tak main layang-layang, tak menangkap belut di sawah, atau tak memanjat pohon mangga seperti Papanya dulu, Kirana tetap bisa menikmati masa kecilnya dengan cara: cuek pada ranking!

Catatan:

Btw, saya sebenarnya kurang yakin sih dgn metode saya ini.. mungkin ada di antara para ibu yg pernah baca buku2 parenting..gmn sih yg seharusnya menghadapi kondisi ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s