Balada Rumah Pinky

Rumah kami dulu direnovasi (ala kadarnya) buru-buru, karena harus segera ditempati *daripada ngontrak*, jadi tukangnya pun asal comot aja. Ternyata, tukang pertama, ngaco. Dikasih tau harus A, dia melakukan B, jadi terpaksa dibongkar lagi (bener2 dibongkar, gila gak sih!). Sengaja banget gitu loh, supaya kerjaannya tambah lama dan dia dapat uang lebih banyak. Gak sadar tuh tukang, dia akan dgn gampang kami pecat.

Ganti tukang lagi, lumayan lah, kerjanya cepet. Tapi.. ternyata saking cepetnya, juga ngaco. Dia mengecat bagian luar rumah *dengan cat warna pink* dalam waktu hanya setengah hari, dgn cara cat tebal langsung dipoles ke dinding (kan harusnya tipis2 dulu, lalu diulangi lagi). Akibatnya, hanya 2-3 bulan, cat pinky langsung terkelupas di sana-sini, semakinlama semakin banyak bagian yg mengelupas. Awalnya sih, saya tahan-tahan aja. Rasanya baru kemarin capek ngeluarin uang buat tukang, jadi males manggil tukang lagi.

Akhirnya, lama2 sumpek juga, ngelihat rumah pinky yg menyedihkan karena catnya mengelupas di sana-sini. Ditambah lagi, rupanya si Akang juga tertekan pada warna pink. Katanya, “Aku merasa tidak punya eksistensi di rumah ini.” Huehehe… Belum lagi celaan dari mertua, “Meuni beureum!” (=“ih, kok merah!”) 😀

Sebenarnya saya ga ngotot sih, dinding luar dicat pink. Tapi, cat pilihan si Akang juga tidak bisa saya tolerir. Jadilah, cat itu dibalikin ke toko dan kebetulan pilihan yg bisa diambil saat itu hanya pink; mau cari ke toko lain, jauh.

Setelah dicat ulang, ibu tetangga depan rumah komentar, “Tuh, Bu, rumahnya sekarang keren. Saya tuh favoritnya biru, tapi kan gak bagus kalau dipakai untuk rumah, makanya saya pilih cat warna netral.”

Olala, si ibu rupanya selama ini juga kelilipan ngeliatin rumah pink-ku!

(buat yg belum nyambung: jadi, si ibu tetangga secara ga langsung bilang “iya bu, saya tahu favorit ibu warna pink, tapi jangan dipake buat ngecat rumah atuh!”)

[TIPS] Ancam Dikoranin Aja!

Satu setengah bulan lalu, saya dan seorang tetangga, sebut aja Ibu L, shopping ke sebuah swalayan besar di pusat kota Bandung. Lagi ada diskon untuk mebel. Kami memborong enam item. Saya sih cuma beli satu lemari buku dan satu meja komputer, sisanya barangnya Ibu L.

Singkat kata, pengantaran barang tertunda terus. Awalnya sih, petugas toko yang melayani kami masih nelpon ke Ibu L (saya mewakilkan semua urusan ini ke Ibu L), “maaf ya Bu..stok barang yang A, habis”. Lain kali, “Bu, barang A sudah ada, tapi barang C habis.” Aaaahhh..pokoknya makan ati deh!

Setelah sepuluh hari berlalu, Ibu L jauh-jauh ke swalayan tersebut melabrak petugas itu. Orangnya janji akan segera mengantar barang kami. Tapi, pas mau nganter, si petugas nelpon lagi, “Bu, lemari D belum ada, dan meja komputernya yang di display aja ya. Kalau ga suka, nanti kami tukar dgn yang masih di dus, kalo barangnya udah datang.”

Kami pun pasrah, mau gimana lagi. Ternyata, setelah satu setengah bulan berlalu sejak pembelian barang, si lemari D belum diantar dan meja komputer saya belum diganti dengan yang baru (yang diantar ke saya kan yang dipajang, udah cacat di sana-sini).

Selama berusaha meminta agar barang dikirim segera, Bu L berkali-kali dipermainkan, baik lewat telpon maupun ketika dia datang langsung. Pdhl dia udah berhubungan langsung dengan supervisor swalayan itu.

Akhirnya, krn jengkel banget pada swalayan itu dan kasihan pada Ibu L, saya mengambil langkah nekad: mengancam si supervisor. Saya SMS tuh orang, “Pak, kalau Jumat besok barang kami gak diantar juga, jangan salahkan saya kalau mengambil tindakan serius, seperti menulis di koran!”

SMS itu tak dijawab. Tapi, tanpa banyak basa-basi, hari Jumat (21/3), barang pun datang!

Tau begini, dari awal aja saya main ancam ya?

Jika Emak-Emak Pun Terbius Film Remaja (Review Film AAC)

Jangan salah. Demam film Ayat-Ayat Cinta (AAC) ternyata merebak bukan hanya di kalangan orang-orang yang ‘gaul’, anak muda, yang rajin baca novel, atau pecinta film. Bahkan ibu-ibu majleis taklim di kompleks saya pun beramai-ramai ke bioskop demi menonton film itu. Di kompleks sebelah—tempat tinggal kakak iparku—juga sama. Kalau tidak sempat ke bioskop, para emak inipun akan mencari-cari VCD (bajakan)-nya, lalu menonton di rumah bersama keluarga. Kemarin, pengajian keluarga kami juga berujung membahas film AAC, secara ipar-ipar saya (emak-emak juga) sudah menonton film itu. Sebagian besar para ibu yang saya kenal memuji-muji film itu. Tapi saya tetap tak tergoda.

Akhirnya saya nonton juga. Tak perlulah diceritakan berbagai keanehan yang saya tangkap di film itu. Yang jelas, saya jadi bisa memahami mengapa ibu-ibu pengajian sampai demam film ini dan saling mempromosikan satu sama lain. Secara umum, film ini memang menghibur (bila dilihat dari sudut pandang ibu-ibu sederhana yang tidak punya pretensi apa-apa). Dan rupanya, film ini memberikan titik berat pada masalah poligami. Gubraks banget deeeeeh!!! Seorang ibu pengajian pernah bilang ke saya, “Aduh subhanallah itu Aisha..cantik..kaya… tapi sabar waktu dimadu.” Sebagian dari mereka ikut menangis bersama Aisha saat adegan Fahri menikah lagi.

Emang sih kesian banget tuh, si Aisha, suaminya kawin lagi (meski dia yg maksa-maksa si Fahri supaya kawin lagi), lalu si istri muda dibawa ke rumahnya (kan Fahri ga punya rumah dan mereka tinggal di rumah Aisha). Jadilah ada adegan dimana Aisha memergoki Fahri ciuman dengan istri keduanya. Lalu Aisha tak tahan dan kabur ke rumah paman.

“Aku memang tak sempurna. Cinta ini tak dapat kucegah”, kurang lebih, ini kata-kata lagu soundtrack film ini (dinyanyikan pas adegan Aisha kembali ke rumah dan berpelukan dgn istri kedua). Rupanya Aisha tak sempurna, sehingga dia tak tahan dimadu. (artinya, perempuan sempurna itu kalo tahan dimadu doooong??? Hahaha… benar-benar simplifikasi yang keterlaluan.)

Ah, sudahlah, nonton sendiri aja deh. Yang jelas hepi ending kok. “Untung” aja si istri kedua meninggal, jadi kan Aisha ga perlu cemburu lagi:D

PS: heran deh, kok diberi titel film remaja ya….kan ini soal poligami:))))))

Ternyata Tak Cukup Hanya Dengan si Aifi

Masih ingat jurnal saya yang ini? Intinya, dalam menyikapi berita di tivi tentang berbagai musibah yang seolah tak ada putus-putusnya di negeri ini, saya memilih mematikan tivi dan menyibukkan diri dengan banyak kegiatan. Daripada ngeri sendiri, gitu loh.

Tapi..kehadiran Ima di rumah kami bbrp waktu lalu, menyadarkan saya tentang perlunya kita semua mengambil langkah-langkah konkrit dalam menyelamatkan lingkungan hidup (duh, kalimatnya!).

Jadi ginih, ceritanya. Selama seminggu jalan bareng Ima (ketika Ima menginap di rumah kami awal tahun baru lalu), saya melihat, Ima selalu menolak dikasih tas kresek (kantong plastik). Katanya, di Inggris orang-orang sudah sadar bahwa kantong plastik itu berbahaya buat lingkungan, karena plastik tidak akan bisa terurai oleh tanah sampai puluhan tahun ke depan. Jadi, orang-orang di sono tuh, kalau belanja bawa tas sendiri. Ibu warung di depan rumah kami sampai takjub sama Ima, “Iya tuh, temennya Bu Dina, baik ya.. gak mau dikasih tas kresek. Saya sih seneng aja… kan plastik sekarang mahal Bu… Orang lain mah, belanja seribu perak aja minta dikresekin!”

Terus-terang saya jadi tergugah dan berusaha meniru Ima. Yah, biarlah, meski gak sanggup berjuang untuk mencegah musibah banjir atau menolong saudara-saudara kita yang sengsara ditimpa berbagai bencana, minimalnya saya melakukan langkah kecil demi lingkungan. Jadi… saya pun sebisa mungkin menolak diberi kantong plastik kalo belanja. Kantong2 plastik di rumah pun saya kumpulkan baik2, lalu diberikan ke ibu warung, supaya bisa dimanfaatkan kembali. Duh, si ibu warung seneeeng banget! Kebiasaan ini juga saya tularkan ke ipar-ipar saya yg kebetulan tinggal se-kompleks.

Akibatnya, meski kami (saya dan ipar2) jadi favorit ibu2 warung (karena menolak kantong plastik) tetep aja kami dianggap ‘aneh’ (terlihat dari tatapan keheranan ibu2 warung dan pembeli lain).

Masih lumayan cuma ditatap heran. Suatu saat, saya beli kerudung di Pasar Baru dan menolak kantong plastik. Si Mang menjawab, “Ga papa Bu, ga perlu bayar kok!” (?!!!)

Gambar minjem dari sini, You Have The Power, maksudnya, kita semua punya kemampuan dan kekuatan untuk menyelamatkan bumi 🙂

Travel Warning Buat yang Mau ke Iran

Seorang teman marah-marah sepulang jalan-jalan dari Iran. Banyak kekecewaan yang ia dapatkan, yang paling utama, perlakuan travel agent yang mengurusi mereka selama di Iran. Tentu saja, saya sangat prihatin dan kasihan pada si teman ini dan rombongannya (dan ikut geram sama Iranian travel agent itu). Mereka kan teman sebangsaku, gitu loh.

Di sisi lain, setelah menulis catatan perjalanan dan kenangan hidup selama delapan tahun di Iran, banyak orang yang menyatakan ke saya, “Duh..jadi pengen ke Iran!”

Nah… sebelum ada salah persepsi, harus saya klir-kan, saya tuh bukan agen pariwisata Iran. Saya menulis apa adanya. Sisi baik dan sisi menjengkelkan di Iran saya ceritakan. Terserah saja, orang mau pengen ke Iran atu malah kesel sama orang-orang Iran.

Cuma, sebagai orang yang kenal banget watak orang Iran, kayaknya saya harus juga kasih saran-saran buat orang-orang yang pengen ke Iran. Sebenarnya sudah banyak turis Indonesia datang ke Iran dan mereka baik-baik saja, dan bahkan ada yang bolak-balik ke Iran (sekali waktu datang sendiri, kali lain bawa keluarga, kali lain bawa saudara/teman). Nah.. kok bisa? Tapi kenapa teman saya yg saya ceritakan di awal sedemikian kecewanya?

Saya pikir, ada beberapa poin yang harus diperhatikan untuk traveling ke Iran:

  1. Jangan berharap dilayani dan dimanjakan oleh orang Iran, sebagaimana misalnya kalau kita ke Thailand, misalnya, kan katanya di sana turis-turis dimanjain banget. Di Iran, turis dimanjain? Wow… gak ada ceritanya deh. Orang Iran tuh cuek banget, lu mau ke balik lagi ke negeriku ato enggak, emang gue pikirin.
  2. Jalan-jalan ke Iran harus berjiwa etnolog, bukan jiwa plesiran. Maksudku, dengan mental seorang etnolog (pemerhati suku-suku bangsa), kita akan tahan banting mau ngapain aja, mau menghadapi keanehan apa aja. Tapi kalau kita bertujuan plesiran, seneng-seneng, ya… pasti kecewa. Kupikir, Iran ga cocok buat plesiran, ga kayak Dubai,misalnya. Situs2 wisata yg ditawarkan adalah situs arkeologi yg letaknya jauh dari kota, jadi musti siap dg perjalanan jauh domestik.
  3. Saya tidak merekomendasikan pakai travel agent Iran, maaf aja. Lebih aman, pakai jasa pertemanan saja. Misalnya, cari orang Indonesia di Iran (contoh: mahasiswa Indonesia) untuk menemani kita jalan-jalan, atau ajak teman dari Indonesia yang pernah tinggal di Iran dan bisa berbahasa Persia. Insya Allah perjalanan Anda akan lebih murah dan nyaman.

OK, kayaknya segini dulu. Oya, kenapa poin2 di atas tidak saya tulis di buku Pelangi di Persia? Jawabnya: karena buku itu bukan iklan pariwisata!

Idih, Siapa yang Mau Jadi Artis?!

Saya memang (terpaksa) membatasi anak-anak untuk nonton TV. Abis ya..gimana lah, tau sendiri deh. Sayangnya, anak-anak saya udah terlanjur keranjingan TV (kebawa kebiasaan dari Iran dulu), huhuhu..sedih deh. Tapi, untung pada nurut kalau dilarang atau dialihkan dengan bermain atau menonton VCD. Ketika Kirana pulang sekolah jam 14.30, dia biasanya akan meminta diizinkan nonton TV. Jadilah si remote TV dipencet-pencet mencari channel yang ada acara anak. Kebetulan, tertekan channel RCTI dan sedang ada acara Idola Cilik. Kirana langsung berseru, “Mamaaa! Ini aja yaaa…?”

Saya izinkan sebentar *pengen tahu juga, gitu loh*. Ternyata duh, penampilan bocah2 yang mimpi jadi idola itu bener2 kayak orang dewasa, nyanyinya pun lagu orang dewasa. Saya protes, “Ih, beginian ditonton. Emang Kirana mau kayak gitu?”

“Idih, siapa yang mau jadi artis?! Kirana cuma seneng lihatnya aja kok, tapi gak mau jadi kayak mereka!”

Tapi….

Kan kata psikolog juga, sesuatu yang berulang-ulang disaksikan di televisi, lama-lama akan mengendap di otak dan menjadi paradigma, iya kan? Karena itulah saya melarang Kirana nonton Idola Cilik. Idola Cilik kok kayak gitu, nyanyi-nyanyi dengan gaya orang dewasa. Apa ingin membuat anak-anak Indonesia berparadigma bahwa idola itu yang kayak gitu?! Apa anak-anak Indonesia mau dicuci otak dengan tayangan-tayangan yang tak pantas buat mereka?

Idola cilik itu … menurut saya nih… anak soleh, rajin belajar, rajin baca buku, nurut sama ortu, kreatif dalam bermain, belajar, berkarya (bukannya kreatif niru2 gaya orang dewasa). *hihihi…ini nulis jurnal ditungguin Kirana, dia juga baca jurnal ini*

Oleh sebab ituuuuuh…

Ayo kita tanda tangan petisi yang satu ini yuk… demi anak-anak bangsa ini..

Please sign this one: http://www.petitiononline.com/wrmindo/petition.html

gambar pinjem dari sini.

Mental Pecundang?

Terus-terang, saya sering iba pada orang-orang yang saya temui di sekitar saya. Ada bapak2 yang pagi2 harus jualan bubur, ada ibu2 yang harus memanggul gendongan jamu, ada tukang sol sepatu yang tiap hari berjalan berkilo-kilo… ada tukang-tukang pekerja kasar… Duh, miris hati ini bila mengingat susahnya hidup mereka.

Tapi…

Kadang saya berpikir, ada andil ‘kesalahan’ mereka juga kali ya. Misalnya, tukang bubur yang tiap pagi lewat depan rumah saya. Suatu saat saya beli porsi spesial dengan harga yang lebih mahal, dia bilang, “Tapi gak ada ati-ampelanya Bu? Gpp?” Ya udah terpaksa saya iyakan. Jadi, saya bayar mahal untuk porsi yang biasa, hanya buburnya dibanyakin dikit.

Tak lama kemudian, terdengar ibu tetangga teriak, “Mang, satu mangkok, pake ati ya!” Si Mang mengangguk. Loh, tadi katanya gak ada?! Apa karena saya orang baru kali ya, jadi dipikir bisa dibohongi?

Si Mbak tukang jamu juga sama. Dipikir saya orang baru, dia menerapkan tarif yang lebih mahal. Padahal, saya kan gaul juga je, sama ibu2 lain, jadi akhirnya saya tahu tarif aslinya.

Tukang yang kami pekerjakan juga sama, banyak ulah. Ya udah, pecat saja. Seorang tetangga melaporkan si tukang skrg nganggur, ga ada kerja.

Tukang sol sepatu, meminta tarif yang menurut saya kemahalan, tapi ya gpp-lah kasihan. Yang bikin saya jengkel, ternyata kerjaannya asal jadi, dan bahkan ada sebelah sandal saya yang gak dijahit!

Saya pikir, semua ini terkait dengan mental. Si Mang Bubur gak sadar, tukang bubur yang lewat depan rumah itu seabrek, jadi tindakan ambil untung sesaat-nya sebenarnya sudah membuat seorang calon pelanggan potensial *secara saya males masak* mundur teratur. Si Mbak Jamu juga sama. Begitu tau saya ditipu, ya saya langsung beli dari mbak2 lain yang banyak mondar-mandir di depan rumah. Si tukang, coba kalau rajin dan kerjanya bener, pasti tiap sebentar dapat kerjaan.

Di tivi sempat ada liputan, tukang becak, tukang ojek, dan pekerja-pekerja kasar lain, sebenarnya dapat penghasilan cukup lumayan. Misalnya si tukang ojek, dapat Rp40ribu sehari. Tapi…o..o…. dia habiskan setengahnya buat rokok! Yah panteslah kalau keluarganya hidup miskin.

Sebaliknya, ada banyak cerita tentang ibu-ibu penjual jajanan atau ibu-ibu penjual daun, yang bisa naik haji, atau menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana. Oya, baru inget, seorang tetangga lain, dulunya miskiiin..lalu jualan sayur kecil2an, tapi baik banget sama pelanggan, kalo nimbang suka dilebihin. Sekarang, subhanallah, punya rumah dan mobil dan tetap jualan sayur dan lauk-pauk.

Saya yakin, semua ini terkait dengan mental. Orang bermental pecundang akan selalu menjadi pecundang, dan orang bermental menang, akan menjadi pemenang.

photo, pinjem dari sini.