Jika Emak-Emak Pun Terbius Film Remaja (Review Film AAC)

Jangan salah. Demam film Ayat-Ayat Cinta (AAC) ternyata merebak bukan hanya di kalangan orang-orang yang ‘gaul’, anak muda, yang rajin baca novel, atau pecinta film. Bahkan ibu-ibu majleis taklim di kompleks saya pun beramai-ramai ke bioskop demi menonton film itu. Di kompleks sebelah—tempat tinggal kakak iparku—juga sama. Kalau tidak sempat ke bioskop, para emak inipun akan mencari-cari VCD (bajakan)-nya, lalu menonton di rumah bersama keluarga. Kemarin, pengajian keluarga kami juga berujung membahas film AAC, secara ipar-ipar saya (emak-emak juga) sudah menonton film itu. Sebagian besar para ibu yang saya kenal memuji-muji film itu. Tapi saya tetap tak tergoda.

Akhirnya saya nonton juga. Tak perlulah diceritakan berbagai keanehan yang saya tangkap di film itu. Yang jelas, saya jadi bisa memahami mengapa ibu-ibu pengajian sampai demam film ini dan saling mempromosikan satu sama lain. Secara umum, film ini memang menghibur (bila dilihat dari sudut pandang ibu-ibu sederhana yang tidak punya pretensi apa-apa). Dan rupanya, film ini memberikan titik berat pada masalah poligami. Gubraks banget deeeeeh!!! Seorang ibu pengajian pernah bilang ke saya, “Aduh subhanallah itu Aisha..cantik..kaya… tapi sabar waktu dimadu.” Sebagian dari mereka ikut menangis bersama Aisha saat adegan Fahri menikah lagi.

Emang sih kesian banget tuh, si Aisha, suaminya kawin lagi (meski dia yg maksa-maksa si Fahri supaya kawin lagi), lalu si istri muda dibawa ke rumahnya (kan Fahri ga punya rumah dan mereka tinggal di rumah Aisha). Jadilah ada adegan dimana Aisha memergoki Fahri ciuman dengan istri keduanya. Lalu Aisha tak tahan dan kabur ke rumah paman.

“Aku memang tak sempurna. Cinta ini tak dapat kucegah”, kurang lebih, ini kata-kata lagu soundtrack film ini (dinyanyikan pas adegan Aisha kembali ke rumah dan berpelukan dgn istri kedua). Rupanya Aisha tak sempurna, sehingga dia tak tahan dimadu. (artinya, perempuan sempurna itu kalo tahan dimadu doooong??? Hahaha… benar-benar simplifikasi yang keterlaluan.)

Ah, sudahlah, nonton sendiri aja deh. Yang jelas hepi ending kok. “Untung” aja si istri kedua meninggal, jadi kan Aisha ga perlu cemburu lagi:D

PS: heran deh, kok diberi titel film remaja ya….kan ini soal poligami:))))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s