Mabok

Beberapa minggu ini saya menghilang dari MP, satu alasan utama, karena sudah over kuota speedy, tapi ada juga alasan kedua, yaitu, sedang ngebut menyelesaikan buku. Alasan kedua ini terkait dengan alasan pertama, karena, untuk buku ini, saya harus connect ke internet, mendonlot ratusan makalah, mengobrak-abrik ratusan website. Berarti, kuota speedy akan semakin membengkak kalau ditambah ngempi.

Alhamdulillah bukunya selesai. Mudah2an bisa segera terbit.

Hari ini, niat mau ngempi lagi (kan sudah awal bulan baru nih), tapi kepala rasanya berat sekali. Padahal mau membaca blog2 teman2, mereply balik reply-an teman2.. Tapi kok kepala ini gak bersahabat ya…pusing..

Kayaknya, saya lagi mabok deh. Mabok internet. Saking kebanyakan internetan beberapa hari terakhir ini…. 😦

Jadi, ihiks, saya menghilang lagi ya…

Buku Murah Tapi Bajakan atau Mahal tapi Asli? (Tragedi Laskar Pelangi)

Buku Murah Tapi Bajakan atau Mahal tapi Asli? (Tragedi Laskar Pelangi)
Sebenarnya, apa sih definisi buku murah? Ada beberapa orang yang menilai buku saya (Pelangi di Persia) harganya kemahalan (Rp 63.000). Saya tidak bisa komen, soalnya, kan yang menetapkan harga penerbit, bukan saya. Penerbit juga menetapkan harga tidak asal-asalan, tapi diperhitungkan juga dengan biaya produksi. Iya kan? Lagi pula, buku Harry Potter yang
seratus ribuan juga laku kok. Jadi, mungkin, yang penting bukan harganya, melainkan “niat beli atau enggak”-nya.
Masih soal harga, terus-terang aja, saya juga menganggap harga Rp60 ribuan itu rada mahal (meski saya tetap beli Harry Potter yang harganya di atas itu, hehehe). Untung saja, di Bandung ada pasar buku yang menyediakan buku-buku dengan diskon besar, bahkan sampai 30%. Awalnya, saya seneng banget ke Palasari (takjub gitu loh, sama diskon-nya itu). Tapi..o..oooowww… rupanya Sang Pemimpi dan Edensor yang saya beli di sana (dengan harga miring) adalah bajakan! Saya baru sadar setelah sampai rumah (itupun setelah dikasih tau Ima yg kebetulan sedang nginep di rumah). Pengalaman ini mengajarkan saya kemampuan untuk mendeteksi mana buku asli dan mana yang palsu (buku asli biasanya di cover menggunakan huruf timbul).
Nah, hari Minggu lalu, saya kembali ke pasar buku Palasari untuk mencari Laskar Pelangi, untuk dikirim ke Dave yang penasaran berat pada buku ini. Sebenarnya sih, bisa aja beli ke toko yang agak lebih dekat dari rumah saya, tapi lumayan kan kalo ada diskon 30%. Harga resminya Rp 60.000.
Saya mendatangi beberapa toko dan meraba-raba dulu si Laskar Pelangi (tersayang:D). Ternyata saya dapati, covernya biasa aja, tidak pakai huruf timbul. Di satu toko, saya berterus-terang ke si penjual,
“Ah, ini mah bukan yang asli!” kata saya
“Mau yang asli? Harganya 45.000. Kalau yang ini
35.000.”
“Iya, gpp. Yang asli aja.”
Si Mas mengambilkan dari toko lain. Ternyata sama saja, tidak asli. Saya tinggalin aja tuh orang. Dia ngotot, “Teh, ini asli! Saya mah gak bohong!”
<span style="FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Arial; mso-ansi-language:
EN-US”>
Di toko lain, lebih parah.
“Berapa nih Mas?” tanya saya, sambil meraba cover. Bajakan juga ternyata.
“Rp 25.000.”
Saya diam saja dan beranjak pergi.
“Maunya berapa Teh? Rp20.000 mau?”
<span style="FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Arial; mso-ansi-language:
EN-US”>Sejujurnya, ada satu suara di hati yang berkata, “Beli aja…! Murah banget kan?”
Tapi… suara lain di hati saya juga berbisik, “Kamu kan juga penulis. Mau nggak bukumu dibajak begitu?!” Apalagi, saya dengar, Andrea mendedikasikan royalti yang diterimanya untuk pembangunan perpustakaan besar di Belitong.
Ihiks… Andrea… saya prihatin melihat bukumu dibajak begitu. Meskipun, itu artinya, bukumu memang luar biasa, makanya sampai dibajak (kalo buku yang biasa-biasa aja, siapa pula yang mau membajak, iya kan?”). Juga, kelak
di akhirat, pahalamu pasti berlipat ganda, iya kan? Selain itu, siapa tahu memang ada banyak orang di luar sana yang menganggap Rp60.000 itu mahal. Padahal mereka sangat ingin membaca bukumu. Dengan adanya buku bajakan, mereka bisa tercerahkan o
leh bukumu, iya kan?
Entahlah, apa ‘justifikasi’ saya ini benar atau salah ya. Yang jelas, Andrea, aku gak jadi beli bukumu di Palasari kok. Nanti kapan-kapan saya ke Gramedia aja deh.
———-
Catatan:
1. Tdk semua buku di Palasari bajakan… kebanyakan sih bukan bajakan. Kitanya aja yg musti jeli.
2. mohon maaf saya ga bisa mereply atau berkunjung ke blog teman2..soale MP diblokir..ihiks..ihiks… sedih banget deh. Ini posting via email.

Rumput Tetangga Memang Selalu Terlihat Lebih Hijau, Ya?

Malam minggu, sambil menyiapkan makan malam, saya menerima curhatan secara berturut-turut bernada desperate dari dua ibu rumah tangga yang terserang rasa minder berat. *menerima telpon sambil masak, hebat kan:D:D:D*

“Aku ngiri sama kamu … tidak seperti aku yang berdiam diri di rumah.” (loh, padahal Dina kan juga di rumah mulu?)

“Aku iri sama Dina… *terusannya gak usah diceritain, kepanjangan*”

***

Saya sebenarnya heran pada kedua teman ini. Keduanya bersuamikan pria mapan dengan gaji besar (sampai delapan digit loh…kalau saya punya suami dgn gaji segitu..wah kayaknya bakal senyum-senyum sendiri tiap hari deh :))))), punya bbrp anak yang sehat-sehat dan lucu. Duh, kenapa harus bermuram durja dan mengirikan kehidupan orang lain? Padahal yang namanya Dina ini juga statusnya sama dengan mereka: full time mother (bahasa keren dari “ibu rumah tangga”). Saya pun sebisa mungkin memberi mereka pandangan positif dengan menyebut-nyebut keunggulan yang mereka miliki.

Saya bersyukur, memiliki kesempatan untuk intens internetan, bergaul dengan banyak orang di dunia maya, membaca begitu banyak pemikiran dan yang terpenting: mengenali pemikiran ‘back to home’ yang sedang menggejala di tengah kaum ibu karir. Rasa percaya diri saya untuk mengatakan “Saya ibu rumah tangga” bukan muncul begitu saja, tapi hasil banyak membaca buah pikiran orang lain tentang masalah ini. Bukannya merendahkan ibu karir loh ya.. tapi kenyataannya, ibu rumah tangga kan memang sering diremehkan (dan saya memang berasal dari lingkungan yang cenderung meremehkan ibu rumah tangga), jadi kalau saya berhasil dengan kepala tegak mendeklarasikan diri sebagai ibu rumah tangga, bagi saya adalah sebuah prestasi.

Btw, saya bukannya ingin membahas ibu RT versus ibu karir ya… Point saya lebih ke kebiasaan kita untuk cenderung melihat bahwa rumput tetangga lebih hijau. Secara harfiah maupun majazi. Secara harfiah, beneran, saya memang suka iri ngeliat rumput dan taman tetangga-tetangga yang keren-keren. Secara majazi, ‘rumput’ yang dimaksud adalah ‘kehidupan orang lain’. Sejujurnya, kepada salah satu ibu yang curhat ke saya itu, saya juga sempat menaruh rasa iri, “Duh, hidupnya meni lurus, lempeng… tamat kuliah, nikah, punya suami soleh, kaya, anak2 sehat…” Anehnya, kok sekarang beliau ini yang iri sama saya ya? Heran bin ajaib.

So, poinnya sih, bersyukur, bersyukur, bersyukur. Rumput hijaunya tetangga sebenarnya belum tentu hijau kok. Banyak saya temui, orang2 yang kelihatannya hepi2 aja, ternyata di dalamnya banyak problema.

Yang punya suami gak kaya, bersyukur “yang penting soleh”,

Yang punya suami kaya tapi… *pokoknya ada tapinya deh*, bersyukur bahwa “alhamdulillah rezeki lancar..banyak orang kelaparan di luar sana”,

Yang belum punya suami, bersyukur, “allhamdulillah sehat, diberi kecerdasan, memiliki pekerjaan…”

Yang jadi ibu karir, “alhamdulillah punya kerja, orang lain menganggur.”

Yang jadi ibu rumah tangga, “alhamdulillah nyaman tinggal di rumah, gak perlu cape2 cari uang.”

Ah, pokoknya cari2 ajalah, nilai positif dari kondisi kita masing-masing. Setuju nggak?

———————————————

Foto: illustrasi kayak di rumah saya… bayi main sendiri, ibu sibuk telpon2an dan internetan :))))))))

pinjem dari sini

Mau Memuji atau Merendahkan, Sih?

Hidup selama 8 thn di Iran, cukup banyak kebiasaan orang Iran yang membuat saya jengkel. Tapi, ada satu yang menurut saya patut dicontoh: gak pelit-pelit memuji orang dan kalau memuji, tak pernah ada ‘tapi’-nya. Kebiasaan mereka itu terasa ‘ngangenin’ buat saya setelah bbrp bulan kembali hidup di Indonesia. Pasalnya, saya berkali-kali ‘tergores’ (ga sampai tersinggung sih..) sama budaya memuji orang-orang Indonesia yang suka pakai ‘tapi’.

Misalnya, Kirana dipuji-puji oleh ibu-ibu teman-temannya di sekolah. “Pinter, sikapnya paling hideng (dewasa), rajin…”

Tapiiiiiiiiiii… “Ah, tapi kan Kirana umurnya sudah lebih besar dari teman-temannya, ya pantas aja!” (Kirana masuk SD umur 6 lebih 3 bln, sementara teman2nya ada yg baru 5 thn atau 6 thn kurang).

Atau, saya dipuji-puji. “Bu Dina bukunya bagus. Saya seneeeng… bacanya.”

Tapiiii….. “Itu ada yang bantuin ya Bu, nulisnya?”

Atau, Kirana dipuji, ”Duh, Kirana sih kalem ya, sukanya di rumah aja ….Gak pusing ngurusnya.”

Tapiiiiii…. “Tapi sekarang kok tambah item ya?”

[Saya ga problem anak saya mo item ato putih. Masalahnya, Kirana anak yg sensi banget. Waktu di Iran, kulitnya memang putih, pindah ke Rancaekek kok malah jadi item :D. Saking sering dikomentari ‘item’, dia sampai merasa dirinya ga cantik. Bahkan, dia pernah sampai minta diajak facial ke salon.]

Atau Reza. “Subhanallah..meni gendut….”

Tapiiiiiiiii… “Ah, tapi ini pasti susunya bukan ASI ya? Susu formula ya?”

Yang paling bikin sewot.

“Wow, HP-nya bagus ya…Ada kameranya ya? Beli berapa?”

“1,6 juta.”

Ah, sebenarnya harga delapan ratus juga udah bisa loh, beli hp yg ada kameranya!”

[Hah? Terserah saya dong, mau beli hp harga berapa aja?!]

Disclaimer: saya bukan mabuk pujian ato dipuji2..tapi bagi saya, mending ga usah dipuji deh, daripada dipuji lalu ada ‘tapi’-nya yang bernada merendahkan. Iya kan?