Buku Murah Tapi Bajakan atau Mahal tapi Asli? (Tragedi Laskar Pelangi)

Buku Murah Tapi Bajakan atau Mahal tapi Asli? (Tragedi Laskar Pelangi)
Sebenarnya, apa sih definisi buku murah? Ada beberapa orang yang menilai buku saya (Pelangi di Persia) harganya kemahalan (Rp 63.000). Saya tidak bisa komen, soalnya, kan yang menetapkan harga penerbit, bukan saya. Penerbit juga menetapkan harga tidak asal-asalan, tapi diperhitungkan juga dengan biaya produksi. Iya kan? Lagi pula, buku Harry Potter yang
seratus ribuan juga laku kok. Jadi, mungkin, yang penting bukan harganya, melainkan “niat beli atau enggak”-nya.
Masih soal harga, terus-terang aja, saya juga menganggap harga Rp60 ribuan itu rada mahal (meski saya tetap beli Harry Potter yang harganya di atas itu, hehehe). Untung saja, di Bandung ada pasar buku yang menyediakan buku-buku dengan diskon besar, bahkan sampai 30%. Awalnya, saya seneng banget ke Palasari (takjub gitu loh, sama diskon-nya itu). Tapi..o..oooowww… rupanya Sang Pemimpi dan Edensor yang saya beli di sana (dengan harga miring) adalah bajakan! Saya baru sadar setelah sampai rumah (itupun setelah dikasih tau Ima yg kebetulan sedang nginep di rumah). Pengalaman ini mengajarkan saya kemampuan untuk mendeteksi mana buku asli dan mana yang palsu (buku asli biasanya di cover menggunakan huruf timbul).
Nah, hari Minggu lalu, saya kembali ke pasar buku Palasari untuk mencari Laskar Pelangi, untuk dikirim ke Dave yang penasaran berat pada buku ini. Sebenarnya sih, bisa aja beli ke toko yang agak lebih dekat dari rumah saya, tapi lumayan kan kalo ada diskon 30%. Harga resminya Rp 60.000.
Saya mendatangi beberapa toko dan meraba-raba dulu si Laskar Pelangi (tersayang:D). Ternyata saya dapati, covernya biasa aja, tidak pakai huruf timbul. Di satu toko, saya berterus-terang ke si penjual,
“Ah, ini mah bukan yang asli!” kata saya
“Mau yang asli? Harganya 45.000. Kalau yang ini
35.000.”
“Iya, gpp. Yang asli aja.”
Si Mas mengambilkan dari toko lain. Ternyata sama saja, tidak asli. Saya tinggalin aja tuh orang. Dia ngotot, “Teh, ini asli! Saya mah gak bohong!”
<span style="FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Arial; mso-ansi-language:
EN-US”>
Di toko lain, lebih parah.
“Berapa nih Mas?” tanya saya, sambil meraba cover. Bajakan juga ternyata.
“Rp 25.000.”
Saya diam saja dan beranjak pergi.
“Maunya berapa Teh? Rp20.000 mau?”
<span style="FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Arial; mso-ansi-language:
EN-US”>Sejujurnya, ada satu suara di hati yang berkata, “Beli aja…! Murah banget kan?”
Tapi… suara lain di hati saya juga berbisik, “Kamu kan juga penulis. Mau nggak bukumu dibajak begitu?!” Apalagi, saya dengar, Andrea mendedikasikan royalti yang diterimanya untuk pembangunan perpustakaan besar di Belitong.
Ihiks… Andrea… saya prihatin melihat bukumu dibajak begitu. Meskipun, itu artinya, bukumu memang luar biasa, makanya sampai dibajak (kalo buku yang biasa-biasa aja, siapa pula yang mau membajak, iya kan?”). Juga, kelak
di akhirat, pahalamu pasti berlipat ganda, iya kan? Selain itu, siapa tahu memang ada banyak orang di luar sana yang menganggap Rp60.000 itu mahal. Padahal mereka sangat ingin membaca bukumu. Dengan adanya buku bajakan, mereka bisa tercerahkan o
leh bukumu, iya kan?
Entahlah, apa ‘justifikasi’ saya ini benar atau salah ya. Yang jelas, Andrea, aku gak jadi beli bukumu di Palasari kok. Nanti kapan-kapan saya ke Gramedia aja deh.
———-
Catatan:
1. Tdk semua buku di Palasari bajakan… kebanyakan sih bukan bajakan. Kitanya aja yg musti jeli.
2. mohon maaf saya ga bisa mereply atau berkunjung ke blog teman2..soale MP diblokir..ihiks..ihiks… sedih banget deh. Ini posting via email.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s