Milih Buku Atau Baju?

Baju-baju Kirana sudah ‘tua’, masih layak pakai sih… cuma saya merasa perlu membelikannya baju baru, soalnya kalau bepergian, bajunya itu-itu melulu. Kasihan juga. Selain baju, saya juga harus membelikannya buku-buku cerita baru. Kebetulan dia punya proyek pribadi menulis buku cerita tentang dunia laut, jadi saya pikir, dia harus banyak membaca buku terkait hal itu. Saya juga butuh baca buku cerita anak karena punya ambisi pribadi menulis cerita anak (ngotot deh, biar pun sudah dinasehati Mba Mamiek dan teh Ria:D).

Jadilah, hari Sabtu lalu saya pergi shopping. Niatnya ke Pasar Baru dulu, baru ke Gramedia (sekalian di sini janjian kopdar lagi sama Mbak Ratna). Tapi, saya berubah pikiran. Mending beli buku dulu, baru sisa dananya beli baju.

Tapi..olala… seperti biasa, kalau lihat buku saya sering kalap. Rencana saya, mau beli buku sedikit saja. Tapi, buku-buku yang ada sangat menggoda. Saya berjuang keras menyeleksinya. Beberapa judul yang sudah masuk ke keranjang, dikeluarin lagi. Dimasukin lagi. Ragu-ragu. Akhirnya, saya menyerah. Ya sudahlah, tak usah beli baju buat Kirana. Beli buku aja. Toh bajunya masih layak pakai. Glek, sampai kasir… lebih dari 400 ribu rupiah melayang.

Sampai rumah, sebelum diomelin si Akang, saya langsung membela diri, “Ini buat modal nulis Pa… Mama kan mau nulis buku cerita, Kirana juga. Kalau mau nulis kan harus banyak baca dulu?” (dengan pasang tampang polos memelas:D)

Si Akang pun diam tak berkutik 😀

Saya sebenarnya ada rasa bersalah juga sih. Kok kayak gak peduli sama penampilan anak. Tapi, melihat ekspresi senang Kirana dan melihatnya langsung tenggelam membaca buku-buku barunya (sambil sesekali menulis cerita, saat terpikir ide baru setelah membaca), rasanya saya sudah mengambil keputusan yang benar. Biarlah Kirana (sementara ini) tak punya baju baru. Buku lebih berharga untuknya.

Note: saya juga berniat beli buku-buku temen MP-ers misalnya ini atau ini, ternyata sold out… gak ada stok… wuih..berarti laris manis ya…:)

Advertisements

Honor Pertama Kirana

Lagi sibuk di dapur, bel pintu berbunyi. Dari jendela terlihat, yang datang Pak Pos. Kelabakan deh, cari-cari jilbab. “Sebentar ya Pak!” seru saya.

“Ya Bu. Di sini ada yang namanya Kirana kan?” jawab Pak Pos.

Hah? Kirana? “Iya Pak.”

Pas buka pintu, ternyata, ada WESEL buat Kirana, besarnya Rp 75.000, dari Harian Republika. Hah???

Dengan agak bengong, saya tandatangani resi-nya. Setelah lama mikir, baru inget, Kirana memang pernah mengirim gambar untuk rubrik KORCIL (Koran Cilik). Wow..berarti dimuat dan dapat honor! Sungguh di luar dugaan. Rasanya seneeeeeng.. banget!

Sekedar sharing, saya ingin cerita sedikit tentang menggambar dan menulis untuk anak. Kirana memang pernah saya ikutkan kursus gambar. Uniknya, di tempat kursus itu, anak-anak tidak ditangani secara klasikal, melainkan satu-persatu dibebaskan berkreasi. Menggambarnya pun di media yang aneh-aneh, misalnya di atas sendok sayur, di papan irisan, dll. Sebelum menggambar pun, anak-anak didongengi dulu oleh gurunya. Kirana baru tiga kali ikut kursus, lalu ngambek, karena dua kali kehujanan (soalnya perginya naik motor). Saya sempet nelangsa juga, dan berkhayal, “Duh, coba ada mobil ya…” Tapi ya sudahlah. Nanti kalau tidak musim hujan lagi, kan Kirana bisa diantar ke sana lagi.

Tapi, luar biasa, dengan hanya 3 kali datang itu saja, banyak kemajuan yang dia dapatkan. Pertama, tambah kreatif (dia jadi suka bikin kerajinan tangan). Kedua, gambarnya juga semakin bagus. Ketiga…ini nih.. yang paling saya suka: Kirana jadi suka menulis! Tentu saja, kemajuan ini tidak sama pada setiap anak ya… Saya melihatnya begini: mungkin Kirana sudah ada bakat sedikit, nah, guru menggambarnya mampu memberi stimulus yang jitu, sehingga bakat itu bisa ‘keluar’.

Ada teori yang saya dapatkan dari Kak Adhi, pendongeng yang juga guru di Rumah Qurani, bahwa manfaat dongeng antara lain adalah merangsang kemampuan menulis anak. Nah, teori ini ternyata benar juga. Saya sudah menyaksikan sendiri. Kemampuan menulis Kirana maju pesat setelah ikut kursus gambar (dgn metode dongeng) itu. (Tentu, relatif ya… Saya mengatakan ‘maju’ ini dengan membandingkan pada kemampuan Kirana sebelumnya, dia kan bahasa Indonesianya rada-rada kacaw karena sejak lahir sampai usia 6 thn tinggal di Iran).

OK, sekian dulu, sharingnya, siapa tahu ada yang terinspirasi:) Oya, sebentar lagi Kirana mau ikut lomba gambar, doain menang yaaaa…:)

Note: buat temen2 yg langganan Republika, boleh minta tolong ya… Saya gak tahu gambar Kirana itu dimuat di edisi kapan. Kalau ada yang masih menyimpan koran2 Republika edisi minggu, tolong dilihatin ya… Ngirim gambarnya sih, kalau ga salah ingat, sekitar 2 bln yll.

Kopdar dengan Mbak Yuni (Mesir)

Benar-benar kejutan besar.

Awalnya, Dini sms, minta alamat.

“Siapa yang mau datang? Dini?” balas saya

Tak ada jawaban.

Pagi ini, ada yang nelpon, “Saya mau datang, Mbak ada di rumah kan?”

“Ya ada. Ini siapa?”

“Yah, nanti juga tau.”

Duh, siapa ya…????

Ternyata… kejutaaaaannnn!!!! Mbak Yuni yang di Mesir itu loh… Duh, pantes gak muncul-muncul lagi di MP, ternyata sudah di Indonesia… di Bandung pulak!

Wow…senengnya….!!!

Makasih banyak atas kunjungannya Mbak Yuni, Abi, Muhammad, Ibrahim, dan Ismail. Hihihi…seperti yang sering diceritain Mbak Yuni di MP dan saat chatting, tiga serangkai jagoan Mbak Yuni memang heboooohhhhh!!!:)))

Jangan bosen-bosen main ke sini ya….!

Menjadi Kaya Belum Tentu Bahagia

Ah, sebenarnya kalimat “menjadi kaya belum tentu bahagia” sudah sering kita dengar dan sudah banyak dipercayai kebenarannya. Tapi, entah mengapa, sore kemarin, kata-kata klise ketika kembali diucapkan oleh seorang ustad di masjid dekat rumah kami, terasa benar-benar menyejukkan.

Si ustad cerita, salah seorang jamaahnya punya mobil Jaguar. Tapi pas ditanya, “Bahagiakah?”, orang itu menjawab tidak. Rupanya, untuk makan, dia harus keluar rumah dulu, mencari makanan yang sesuai seleranya. Selera orang ini sangat pemilih dan sukar dipuaskan. Kalau mau tidur, lamaaa.. baru matanya bisa terpejam, karena memikirkan kinerja perusahaannya, ulah pegawainya, ini-itu… Bayangkan, kata Pak Ustad, kita-kita orang sederhana ini, makan pakai ikan asin, lalap, dan sambal terasi aja udah nikmaaaat..banget, tak perlu repot-repot cari restoran dan terjebak kemacetan.

Benar juga. Saya juga pernah ketemu dengan orang kaya model begini. Orang ini kayaaaa..banget. Nah, waktu jalan-jalan ke Iran (waktu itu saya masih di Iran), dia sampai harus berbekal makanan-makanan tertentu, karena dia tidak bisa makan ‘apa saja’.

Ajaibnya, saya dalam batas-batas tertentu, pernah loh, membuktikan sendiri situasi seperti ini. Waktu saya masih hidup dengan beasiswa, bisa makan masakan restoran, apalagi pizza (favoritku!), wow… rasanya nikmaaaat… banget. Eee… pas udah kerja dengan gaji berlimpah, sampai tak perlu lagi mikir panjang lebar saat merogoh kantong untuk makanan mahal… kok lidah saya jadi rewel banget?! Saya eneg dengan makanan restoran yang tiap hari “terpaksa” saya santap tiap siang. Saya bahkan bela-belain ke restoran mahal demi mencari makanan enak (yang pintu resto-nya dijaga petugas berseragam yang sigap membuka-tutup pintu, dengan pelayan di samping meja yang siap menerima perintah). Teteeeeuuup.. rasanya ada saja yang kurang. Beli pizza? Wah, jarang banget, soalnya rasanya tak senikmat ketika saya masih penerima beasiswa. Aneh sekali. Akhirnya, yang cocok di lidah saya waktu itu malah tempe, tahu, telor atau mie goreng plus sambel.

Sekarang, saat saya sudah tak kerja lagi dan keuangan harus diirit-irit..ee..ndilalah kok balik lagi tuh ke selera asal, kepengeeeen…. makan pizza anu, makan masakan restoran anu (apalagi kalo kebetulan nonton Wisata Kuliner-nya Bondan Winarno)… hwaa….mauuuuuuuuuuw….!

Tapi, saya tidak bermimpi “coba kalau banyak uang”. Soalnya, saya udah tau, kalaupun saya banyak uang, lidah saya malah jadi aneh. Jadi, mendingan kayak sekarang deh. Kalau ada rezeki lebih, atau ditraktir temen ke resto yang saya impikan, saya bisa merasakan yang namanya makanan nikmaaaat… Kenikmatan yang sama takkan saya dapatkan jika saya punya uang berlimpah dan bisa beli apa aja, kapan saja. Lebih bahagia begini kan?

Kehilangan…

Entahlah, akhir-akhir saya merasa kehilangan beberapa teman…

Apa karena sungkankah? Padahal saya tidak sedang mempersalahkan siapapun. Atau sibukkah? Yah, mungkin saja. Atau karena tulisan dan tempat di mana saya memposisikan diri rupanya tak disetujui sebagian orang? Tapi, bukankah ketika orang lain berposisi di seberang saya pun, saya tetap toleran dan tak pernah mempermasalahkan? Mengapa saya harus dijauhi kalau pendapat saya berbeda?

Tapi, ya sudahlah, buat apa dipikirin. Yang penting saya merasa selama ini bertindak sebaik mungkin. Kalau ternyata masih salah, ya mohon dimaafkan.

Mendingan saya berkebun. Seperti biasa, mengurus makhluk-makhluk Tuhan yang indah ini hati saya jadi tenang. Apalagi berkebunnya ditemani si Akang yang beberapa pekan belakangan ini sibuknya minta ampun. Reza juga lagi bobo (eh, apa hubungannya ya.. yah, maksudnya bisa berduaan di taman, gitu loh)

Irshad Manji, Dina, dan Azzikra:)

Hari ini saya mendapat kiriman istimewa, satu eksemplar majalah Azzikra terbitan Jakarta (manajemen majalah ini terkait dengan Ustad Arifin Ilham, cmiiw). Isinya, antara lain mengupas buku Irshad Manji “Beriman tanpa Rasa Takut” (versi e-book gratis bisa didonlot di internet). Buku ini disebut-sebut sebagai New York Times Best Seller dan diterbitkan ulang di 30 negara. Tentu saja, melihat kenyataan, kok buku ini bisa didapat gratis di internet, berarti penerbitnya ga takut rugi dan memang tak butuh uang, yang penting bukunya dibaca orang sebanyak mungkin (baca: ada misi, gitu loh). Juga, dilihat siapa yang menerbitkan di Indonesia (terkait dengan orang-orang Islib), bisa ditebak seperti apa isinya. Yak, tepat: mengkritik Islam dan mengajurkan reformasi berpikir dalam Islam.

Nah, menariknya, majalah Azzikra mengupas buku ini dengan menampilkan wawancara eksklusif wartawannya Peter A. Walandouw, dengan Irshad Manji, lalu disusul dengan 3 tulisan kontra buku ini (tulisan saya, Mbak Sirikit Syah, dan Dr. Fahmi hamid Zarkasyi ) Jadi cover both sides gitu. Isi wawancara Manji kontroversial buanget deh. Ini saya ketik ulang sedikit ya…

Azzikra: Bagaimana kehidupan beragama Anda sebagai seorang lesbian?

Manji: Kenapa umat muslim selalu terobsesi dengan orientasi seksual? Bukankah manusia telah diciptakan sempurna oleh-Nya. Dalam beribadah, saya berpuasa, tak hanya di bulan Ramadhan, tapi setiap hari Jumat…

Azzikra: Seperti apa bentuk imperialisasi Arab ini di dunia Islam?

Manji: Baju yang saya kenakan atau Anda kenakan bisa saja menjadi pakaian muslim. Tapi jilbab bukanlah pakaian muslim tetapi Arab….

Saya tidak berkeinginan mewajibkan jilbab bagi semua orang. Saya juga sama sekali tidak memandang rendah orang tak berjilbab. Kita saling menghormati sajalah, ya kan? Tapi, Irshad Manji juga keterlaluan, masak di bukunya dia menyebut jilbab sebagai kondom yang membungkus kepala???!!! Banyak lagi deh, pernyataan-pernyataannya yang aneh-aneh, jadi karena itulah saya menulis artikel yang kontra.

Mohon maaf, tulisan saya belum bisa diupload, soalnya belum minta izin ke majalahnya. Jadi, kalau tertarik, beli aja ya, hehehe. Murah kok, cuma 15rb, padahal kertasnya luks dan foto2nya bagus2 dan artistik. Isinya juga bagus dan bermanfaat. Ini promosi bukan karena tulisan saya dimuat loh, hehehe. Btw, fyi, foto saya yg dimuat di Azzikra adalah foto andalan saya, hasil jepretan fotografer tersayang, Imazahra 😀

Tips Menyapih dengan “Paksa”

Jurnal ini saya tulis karena terkenang pengalaman buruk saat menyapih Kirana dulu. Wow, waktu itu…nightmare!! Maklum dulu kan tinggal di negeri asing, ga punya siapa2 (ada si Akang, tapi kan dia juga blm pengalaman juga). Huhu.. sedih banget. Jaman itu blm punya akses internet, nelpon ke Indonesia juga mahal banget..nasib..nasib… Nah, sekarang, menyapih anak kedua, saya lebih tenang dan situasi lebih terkendali.

Tips Menyapih dengan “Paksa”

Ada beberapa orang yang menyarankan agar tak menyapih anak dengan paksaan; tunggu sampai si anak ikhlas menolak sendiri disusuin (salah satu yg menyarankan begini: mertua saya, jadi anak-anak beliau nyusu sampai punya adik lagi..hwaa.. malah ada yang nyusu sampai 3-5 tahun!). Tapi, ada kalanya, kita tak bisa menunggu, dengan berbagai pertimbangan. Berikut ini tips-tipsnya.

1. Persiapan:
1. Sosialisasi
Sejak sebulan-dua bulan sebelum menyapih, beritahu anak dengan cara sederhana, supaya anak tak kaget saat disapih. Contohnya:
Mama: Reza, ini susu punya bayi. Reza kan sudah besar, minumnya pake gelas, ya? (saya pikir, sebaiknya jangan dikasih dot, karena nanti jadi bikin beban lagi, saat kita harus mengenyahkan dot dari si anak). Saat sedang bacain buku cerita pun, bisa kita plesetkan, “Tuh, ini bebeknya sudah besar, jadi nggak minum susu lagi sama Mama Bebek, minumnya pake apaaa? Gelaaaassss…”
Kalimat ini diulang-ulang terus, jangan bosen-bosen. Reza tuh gayanya masih bayi banget. Saya sempet kuatir dia gak akan paham. Ternyata….
Mama: Reza, ini susunya punya siapa?
Reza: ba-yi!
Mama: kalau Reza minum susunya pakai apa?
Reza: elash (=gelas)
Mama: sekarang Mama ambilin susu pake gelas ya?
Reza: ndak!!!!

2. Pilih waktu yang nyaman: anak-ibu sehat, si ayah (atau orang yang akan mendampingi saat penyapihan, nenek, baby sitter, ato siapa lah) ada waktu selama 2-3 malam untuk begadang.

3. Siapkan: kunyit bubuk atau bubuk kopi atau batrawali (sejenis tumbuhan yang getahnya pahiiiiit…sekali) dan obat penahan sakit untuk ibu (parasetamol/acetaminophen)

4. Siapkan juga: susu UHT dan gelas lucu buat anak

5. Berdoa 🙂

2. Pelaksanaan:
1. Payudara ibu diolesi kunyit dan kasih tau ke anak kalau payudara ibu sakit, ada darahnya (duh, bohong sih.. tapi mudah2an ini termasuk white lie:D). Anak biasanya akan jijik dan menolak nyusu. Tapi, ada jenis anak yang ngotot, tetap nyusu. Nah, kalau anaknya begini, coba diolesi dengan sesuatu yang pahit, misalnya kopi. Tapi ada anak yang bahkan diolesi batrawali pun (yang pahitnya top banget) tetap saja ngotot nyusu dan mampu menahan rasa pahit itu. Kalau sudah begini, ya, jangan biarkan anak nyusu. Nangis, pasti. Tapi dikompensasi dengan pelukan dan kasih sayang dari ayah.

2. Malam pertama adalah yang paling berat dan sulit. Anak akan menangis sepanjang malam. Paling tertidur sebentar, lalu tersentak lagi dan menangis, “Mau susu Mamaaaaa….!” Tapi, saat diperlihatkan payudara yang diolesi kunyit, dia akan menolak karena jijik. Rasanya sediiih…sekali. (Apalagi Reza ngotot gak mau diberi minuman apapun, padahal kelihatan banget dia haus.) Tapi, rasa sedih ini harus ditahan, kalau Ibu benar-benar berniat menyapih. Lagipula, esok hari, situasi akan semakin mudah, jadi jangan khawatir.

3. Esok harinya, curahkan perhatian semaksimal mungkin ke anak. Kehilangan ASI-nya dikompensasi sebisa mungkin dengan kasih sayang. Artinya, si Ibu juga harus stand-by di rumah, jangan kemana-mana dan meninggalkan anak ke pembantu. Tiap kali anak minta ASI, alihkan perhatian dengan cara mengajak main. Atau bila terpaksa, ya, perlihatkan lagi payudara yang sudah diolesi kunyit, “Tuh..kan… susu Mama ada darahnya, sakiiiit..deh. Minum susunya pake gelas aja yaaaa?” (intermezzo: kata Reza, “Darah cuci Maaaaa..!”, sambil mendorong-dorong saya ke kamar mandi:D)

4. Payudara Ibu pasti sudah terasa sakit, atasi dengan obat penahan sakit. Sabar saja, 2-3 hari lagi, biasanya sakit akan mereda.

5. Malam kedua, Ibu biasanya gak sanggup lagi gendong anak, karena payudaranya sakit banget. Nah…artinya, sepenuhnya si Ayah deh yang harus bergadang dan mengurus anak saat anak tersentak bangun minta ASI. Tapi biasanya, malam kedua, tidak separah malam pertama. Anak akan lebih banyak tidur (dibanding malam pertama).

6. Esok harinya dan malam selanjutnya.. ya seperti itu terus deh. Biasanya malam ke-3 atau ke-4, everything is under control. Anak tidur lebih tenang dan bahkan minta sendiri susu pake gelas! Payudara Ibu yang sangat bengkak pun perlahan akan mengempes dan hilang sakitnya.

OK, sekian dulu tips dari saya.Mudah-mudahan bermanfaat buat ibu-ibu yang akan menyapih ‘paksa’ anaknya:)