Menjadi Kaya Belum Tentu Bahagia

Ah, sebenarnya kalimat “menjadi kaya belum tentu bahagia” sudah sering kita dengar dan sudah banyak dipercayai kebenarannya. Tapi, entah mengapa, sore kemarin, kata-kata klise ketika kembali diucapkan oleh seorang ustad di masjid dekat rumah kami, terasa benar-benar menyejukkan.

Si ustad cerita, salah seorang jamaahnya punya mobil Jaguar. Tapi pas ditanya, “Bahagiakah?”, orang itu menjawab tidak. Rupanya, untuk makan, dia harus keluar rumah dulu, mencari makanan yang sesuai seleranya. Selera orang ini sangat pemilih dan sukar dipuaskan. Kalau mau tidur, lamaaa.. baru matanya bisa terpejam, karena memikirkan kinerja perusahaannya, ulah pegawainya, ini-itu… Bayangkan, kata Pak Ustad, kita-kita orang sederhana ini, makan pakai ikan asin, lalap, dan sambal terasi aja udah nikmaaaat..banget, tak perlu repot-repot cari restoran dan terjebak kemacetan.

Benar juga. Saya juga pernah ketemu dengan orang kaya model begini. Orang ini kayaaaa..banget. Nah, waktu jalan-jalan ke Iran (waktu itu saya masih di Iran), dia sampai harus berbekal makanan-makanan tertentu, karena dia tidak bisa makan ‘apa saja’.

Ajaibnya, saya dalam batas-batas tertentu, pernah loh, membuktikan sendiri situasi seperti ini. Waktu saya masih hidup dengan beasiswa, bisa makan masakan restoran, apalagi pizza (favoritku!), wow… rasanya nikmaaaat… banget. Eee… pas udah kerja dengan gaji berlimpah, sampai tak perlu lagi mikir panjang lebar saat merogoh kantong untuk makanan mahal… kok lidah saya jadi rewel banget?! Saya eneg dengan makanan restoran yang tiap hari “terpaksa” saya santap tiap siang. Saya bahkan bela-belain ke restoran mahal demi mencari makanan enak (yang pintu resto-nya dijaga petugas berseragam yang sigap membuka-tutup pintu, dengan pelayan di samping meja yang siap menerima perintah). Teteeeeuuup.. rasanya ada saja yang kurang. Beli pizza? Wah, jarang banget, soalnya rasanya tak senikmat ketika saya masih penerima beasiswa. Aneh sekali. Akhirnya, yang cocok di lidah saya waktu itu malah tempe, tahu, telor atau mie goreng plus sambel.

Sekarang, saat saya sudah tak kerja lagi dan keuangan harus diirit-irit..ee..ndilalah kok balik lagi tuh ke selera asal, kepengeeeen…. makan pizza anu, makan masakan restoran anu (apalagi kalo kebetulan nonton Wisata Kuliner-nya Bondan Winarno)… hwaa….mauuuuuuuuuuw….!

Tapi, saya tidak bermimpi “coba kalau banyak uang”. Soalnya, saya udah tau, kalaupun saya banyak uang, lidah saya malah jadi aneh. Jadi, mendingan kayak sekarang deh. Kalau ada rezeki lebih, atau ditraktir temen ke resto yang saya impikan, saya bisa merasakan yang namanya makanan nikmaaaat… Kenikmatan yang sama takkan saya dapatkan jika saya punya uang berlimpah dan bisa beli apa aja, kapan saja. Lebih bahagia begini kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s