Rumah Besar yang Sepi

foto: pinjem dari Google, karena saya tak bawa kamera

Sebenarnya saya tak pede sama sekali, tapi, tak tega juga menolak permintaan teman saya itu. Dia mengadakan pesantren kilat (sanlat) untuk anak-anak usia 6-12 tahun dan meminta saya jadi pengisi materi hafalan Quran dengan metode Rumah Qurani. Duh, saya hanya penulis, bukan praktisi. Apalagi, mengajar anak-anak, puluhan anak? Wow.. I don’t think I’m the right person! Tapi, akhirnya saya sanggupi dengan berbekal modal nekad.

Jadilah, selama dua hari, saya menginap di sebuah villa di Lembang bersama sekitar 40-an anak-anak peserta sanlat. Kirana dan Reza ditinggal di rumah, bersama si Papa yang super sabar mengurus anak. Alhamdulillah, lancar (ternyata modal nekad memang perlu:D).

Yang ingin saya ceritakan adalah villa tempat kami menginap itu. Besaaaaar… sekali. Saya sampai terbengong-bengong melihat rumah sebesar ini. Tapi, pas jalan-jalan bareng anak-anak dan para instruktur sanlat keliling kompleks villa, terlihat villa-villa lain yang lebih besar lagi. Saya langsung mikir, “Gimana ngepelnya yak?:D”. Maklum..di rumah kan saya ngepel sendiri.

“Orang lain butuh satu kamar untuk hidup aja, susah, ini ada orang-orang yang bisa bangun rumah segede ini. Padahal ditempatinya cuma sekali-sekali aja!” komentar salah seorang instruktur.

“Iya, yang enak pembantunya. Tinggal di rumah besar, fasilitas lengkap dan gratis. Kalau urusan bersih-bersih rumah, ya anggap aja bersihin rumah sendiri,” jawab yang lain.

Seorang panitia bercerita, rada susah mencari villa sewaan yang besar untuk acara sanlat. Ada beberapa villa yang cocok, tidak disewakan, padahal pemiliknya juga tidak memakainya. Alasannya takut rusak. Duh, kok villa jadi kayak mainan, disayang-dielus-elus… tak boleh dipinjam, padahal dipakai pun tidak.

Seorang instruktur nyeletuk, “Padahal itu villa kan gak bakal dibawa mati ya?”

Kembali ke villa sewaan acara sanlat, saya merenung sendiri. Ah, apa enaknya ya, tinggal di rumah sebesar ini. Bahkan untuk sekedar liburan sekalipun. Bayangkan, si Bapak ada di kamar di ujung sana, si Ibu di ujung sini, si anak entah di mana. Saking luasnya, jadi tak tahu keberadaan masing-masing anggota keluarga. Betapa sepinya.

Sungguh, ini bukan menghibur diri karena tak mampu. Tapi dari lubuk hati terdalam, saya lebih memilih rumah kecil kami yang hangat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s